... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Rebut Kembali Rutbah, Milisi Syiah Bakari Masjid dan Rumah Sunni

Foto: Anggota Milisi Syiah Al-Hasd Al-Syakbi di Irak/ilustrasi

KIBLAT.NET, Anbar – Milisi Syiah Al-Hasd Al-Syakbi kembali merebut Kota Rutbah, Provinsi Anbar Barat, pada Selasa (25/10). Pasukan Daulah Islamiyah atau lebih dikenal ISIS sebelumnya merebut kota strategis itu untuk mengurangi tekanan di Mosul.

Seorang tokoh suku di Rutbah, Syaikh Ashim Al-Kubaisi, mengatakan, milisi Syiah melampiaskan kemarahan kepada ISIS dengan menargetkan warga Ahlussunnah. Warga Sunni diserang dengan dalih mendukung gerakan pimpinan Al-Baghdadi itu.

“Milisi Al-Hasd Al-Syakbi meledakkan Masjid Agung dan membakar sejumlah rumah sipil di pusat kota Rutbah,” kata Kubaisi kepada Anatolia, seperti dinukil Arabi21.com, Rabu.

Tidak hanya itu, lanjutnya, milisi-milisi yang diakui sebagai bagian dari pasukan pemerintah itu juga membakar mobil-mobil milik warga. Generator penghasil listrik milik warga dicuri setelah rumah mereka diserbu.

“Kota Rutbah saat ini menyaksikan operasi penyerbuan besar-besaran dari milisi Syiah menargetkan sipil setelah mereka menuduh warga Rutbah pendukung ISIS,” ujarnya menambahkan.

Perlu diketahui, pasukan Irak dengan didukung milisi Syiah berhasil merebut kembali Rutbah pada Selasa malam. Sebelumnya, ISIS menduduki kota strategis itu selama dua hari.

Meski tak lama menduduki Rutbah, kemenangan ini termasuk keberhasilan ISIS paling penting dalam beberapa hari bulan terakhir. Seperti diketahui, ISIS mengalami banyak kemunduran di berbagai wilayah.

Sementara itu, Amerika Serikat menganggap serangan ke Rutbah ini sebagai upaya ISIS untuk mengurangi tekanan yang dihadapi basis utama mereka di Mosul. Selain Rutbah, ISIS juga menyerang Kirkuk dengan tujuan memecah konsentrasi pasukan pemerintah.

BACA JUGA  Bom Lukai Lima Pasukan Khusus Italia di Irak, Satu Kehilangan Kaki

Reporter: Suhli El-Izzi
Sumber: Arabi21

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Opini

12 Tahun Peringatan Tragedi Tak Bai: Ketika Demonstrasi Damai Dibalas Pembantaian

25 Oktober 2004 merupakan tanggal bersejarah yang tidak akan pernah bisa dilupakan kaum Muslimin Patani. Tepat 12 tahun lalu terjadi sebuah peristiwa yang disebut media sebagai Tragedi Tak Bai. Peristiwa ini terjadi di depan kantor polisi Daerah Tak Bai, Wilayah Narathiwat pada 25 Oktober 2004, bertepatan dengan bulan Ramadhan 1425 H.

Selasa, 25/10/2016 17:23 0

Video Kajian

Halaqoh : Mengenal Khawarij [Ust. Muhajirin Ibrahim, Lc.]

KIBLAT.NET – Istilah Khawarij tentu sudah sering singgah di telinga kita. Namun, tentu tidak semua...

Selasa, 25/10/2016 16:58 0

Rohah

Cara Nabi Membalas Perkataan Keji

“Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah sangat benci dengan kata-kata keji dan kotor. Tidakkah engkau mendengar jawabanku tadi? Sungguh tadi aku katakan kepada mereka, “Wa’alaikum” (Bagimu atas apa yang kalian ucapkan). Mereka mengatakan, “As-Sâmu’alaika,” maka aku menjawab, “Wa’alaikum.” (HR Al-Bukhari, lihat Shahîh Al-Jâmi’ Ash-Shaghîr 1877)

Selasa, 25/10/2016 14:19 0

Indonesia

Pemuda Muhammadiyah Apresiasi Pemanggilan Ahok

"Pemeriksaan Ahok untuk pertama kalinya sebagai terlapor di Bareskrim Polri tadi pagi (Senin, 24 Oktober 2016) patut diapresiasi. Kepolisian memang sudah seharusnya memeriksa Ahok karena sudah dilaporkan sejak lama," katanya kepada Kiblat.net Senin (24/10).

Selasa, 25/10/2016 08:15 0

Opini

Paradigma Hukum Progresif dalam Menyikapi Penodaan Agama

Melihat cara berhukum yang positivistik, Satjipto Rahardjo memperkenalkan gagasan hukum progresif. Hukum progresif merupakan antithesis dari ajaran ilmu hukum positif (analytical jurisprudence) yang dipraktikkan di Indonesia, warisan kolonial Belanda. Hukum progresif melampui pikiran sesaat dan karena itu juga memiliki nilai ilmiah tersendiri. Hukum progresif bertumpu pada paradigma holistik. Sifat holistik dalam hukum progresif terlihat dalam pandangan Satjipto Rarhardjo yang menyatakan bahwa hakekat hukum tidak saja berkaitan dengan perundang-undangan, tetapi juga lingkungan, manusia, alam, dan orde kehidupan yang lebih besar. Memasukkan studi hukum ke dalam orde yang lebih besar bertujuan untuk menghilangkan pemisahan antara hukum dan kehidupan manusia. Menurutnya, inilah yang dinamakan mengembalikan hukum ke dalam keutuhan.

Senin, 24/10/2016 18:13 0

Indonesia

Nusron Kembali Singgung Tafsir Al-Maidah 51, Netizen: Istighfar, Nus!

Ketua BNP2TKI, Nusron Wahid kembali berkomentar soal Surat Al-Maidah ayat 51. Ia mengatakan bahwa dalam ayat tersebut tidak ada yang memaknai mutlak dengan kata pemimpin.

Senin, 24/10/2016 17:45 1

Opini

Analisis Yuridis Perlunya Izin Presiden dalam Proses Hukum Ahok

Proses hukum ahok oleh Bareskrim “semakin jelas ketidakjelasannya”. Di sisi lain dukungan masyarakat demikian kuat agar Bareskrim segera melakukan langkah-langkah hukum terkait penistaan agama dan penghinaan terhadap ulama yang dilakukan oleh petahana. Berbagai spekulasi mulai bermunculan terkait dengan pengajuan izin kepada Presiden dimaksud.

Senin, 24/10/2016 16:11 0

Artikel

Tiga Kelompok Manusia yang Paling Dibenci Allah

Ada tiga golongan manusia yang paling dimurkai oleh Allah. mereka adalah pertama: orang yang melakukan dosa besar di tanah haram, kedua; orang yang menginginkan tradisi jahiliyah padahal telah masuk Islam, ketiga; memburu darah seseorang tanpa alasan yang dibenarkan untuk menumpahkan darahnya.

Senin, 24/10/2016 15:00 0

Indonesia

Ini Penjelasan Kata ‘Auliya’ dalam Mushaf Al-Quran Terjemahan Kemenag

“Pada kata wali diberi catatan kaki: wali jamaknya auliya, berarti teman yang akrab, juga berarti pelindung atau penolong. Catatan kaki untuk kata wali pada QS. Ali Imran/3: 28 berbunyi: wali jamaknya auliya, berarti teman yang akrab, juga berarti pemimpin, pelindung atau penolong,” jelas Muchlis.

Senin, 24/10/2016 14:01 0

Opini

Refleksi 2 Tahun Jokowi-JK: Antara Janji Manis dan Realitas

Lalu bagaimanakah hasil kinerja Jokowi-JK? Sudahkah sesuai antara realitas dan janjinya selama kampanye? Di bidang ekonomi, kesulitan ekonomi masih membelit masyarakat, tingginya harga kebutuhan pokok membuat daya beli masyarakat semakin rendah, lapangan kerja pun semakin sulit diperoleh. Janji Jokowi-JK untuk membuka 10.000 lapangan kerja pun tak terealisir, pengangguran semakin banyak. PHK sebagai dampak krisis keuangan akibat tingginya nilai tukar rupiah terhadap dolar, menambah tinggi jumlah pengangguran di Indonesia.

Senin, 24/10/2016 13:39 0

Close