... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Sekongkol di Cikokol

Foto: Insiden penyerangan polisi di Cikokol.

KIBLAT.NET – Ada-ada saja ulah netizen Indonesia. Bukannya takut dan tercekam, setiap kali peristiwa (yang dianggap) teror terjadi, selalu saja ada meme-meme guyon. Tak terkecuali dalam insiden penusukan beberapa anggota polisi oleh Sultan Aziansyah (SA) di Cikokol kemarin, 20/10/2016. Akun facebook Wawat Kurniawan, misalnya, mengatakan pelaku ternyata adalah orang yang “taat” hukum dari berbagai segi. Taat pajak, karena punya NPWP; taat lalulintas, karena punya SIM C; bahkan tinggal di asrama Polri.

Wawan sepertinya ingin menunjukkan sisi kontradiktif yang ia tangkap dari peristiwa ini. Ketika cap anggota ISIS langsung disematkan kepada SA hanya gara-gara memiliki stiker logo kelompok pimpinan Al-Baghdadi itu, bukti SIM, NPWP dan fakta bahwa pelaku ternyata tinggal di lingkungan Polri adalah temuan yang berbeda dari sosok-sosok ISIS yang dikenal (atau dicitrakan) sebelumnya.

Jadi, stempel sekonyong-konyong ISIS untuk setiap aksi teror, adalah dogma yang terlalu dipaksakan. Lha wong mengaitkan sebab munculnya radikalisme atau terorisme dengan agama tertentu saja, belum ada konsensus di antara para ahli kontra-teror. Bila dalam beberapa tour-nya BNPT yakin seyakin-yakinnya bahwa terorisme berawal dari radikalisme, dan radikalisme muncul dari interpretasi tertentu terhadap agama (Islam), sebaliknya dengan akademisi Barat.

John Horgan, misalnya, menyebut, “Anggapan bahwa radikalisme menjadi penyebab terorisme adalah mitos terbesar yang pernah ada dalam riset tentang terorisme.” Senada dengan Horgan, Marc Sageman yakin bahwa ada kesalahan besar bila ada yang mengatakan ada proses yang serius dalam radikalisasi atau indoktrinasi. Kedua orang itu bukan sosok baru dalam studi tentang terorisme. Horgan adalah Direktur Pusat Studi Terorisme di Pennsylvania State University. Sedangkan Marc Sageman adalah seorang psikater forensik dan mantan operator CIA di jihad Afghan era 80-an.

BACA JUGA  Isu Radikalisme Ibarat Menggaruk yang Tak Gatal

Horgan sendiri menolak keras setiap teori yang mengaitkan radikalisme sebagai sumber utama tindak terorisme. Alasannya, mayoritas orang yang berpikiran radikal tidak terlibat dalam kekerasan (violent extremism). Contoh teori Horgan di negeri ini, ribuan orang yang terlibat dalam demo menuntut hukuman atas Ahok (16/10 lalu), mungkin, dianggap sebagai kelompok radikal. Nyatanya, mereka bukan teroris. Sementara, semakin banyak orang-orang yang disebut sebagai pelaku tindak terorisme yang tidak berpikiran radikal. Lalu dari mana asal-usul pemaksaan kaitan radikalisme dengan agama tertentu?

Sejak tahun 2004, pemerintah Eropa dan AS mulai membuat teori bahwa sumber utama terorisme adalah pikiran radikal. Sayangnya, teori seperti ini hanya digagas oleh pejabat, tidak ditemani oleh konsep-konsep yang dirumus para akademisi. Pemerintah baru menggelontorkan sejumlah dana riset, itu pun untuk mendukung teori mereka sebelumnya, bahwa pikiran yang radikal akan membuahkan tindak terorisme. Namun, semakin dalam meriset, para akademisi itu mendapati bahwa penyebab terorisme itu kompleks dan beragam. Tidak hanya pikiran radikal atau keyakinan agama tertentu.

Radikalisasi harus dipahami sebagai sebuah proses yang bersifat relational dan constructed. Dengan demikian, ia adalah sebuah proses yang tidak hanya melibatkan keyakinan dan aksi dari kelompok perlawanan namun juga negara yang terlibat konflik dengannya. Kekerasan adalah hasil dari interaksi antara dua pihak dan persepsi yang mereka bangun atas tindakan satu sama lain. Bukan sekadar produk dari ideologi salah satu pihak.

BACA JUGA  Ubah Indonesia Jadi Lebih Baik, K.H. Ma’ruf Amin Ingin Teladani Perjuangan Rasulullah

Sama halnya dengan definisi terorisme, no global consensus tentang kaitan pemikiran radikal dan terorisme. Munculnya kaitan agama atau kelompok tertentu dalam sebuah tindak teror yang terjadi lebih didasari pada asumsi dan subyektifitas pemilik kekuasaan semata. Asumsi tersebut semakin mendapatkan lahan subur untuk tumbuh dan berkembang dalam opini publik yang dibentuk oleh media.

Potongan foto atau video terus ditayangkan berulang-ulang dengan tafsiran tunggal dari aparat keamanan. Untuk menyempurnakan persekongkolan ini, tak lupa, media juga langsung memberikan panggung bagi badut-badut deradikalisasi. Satu sama lain saling berlomba berceloteh adu fasih mengurai sesuatu berdasarkan perasaan dan kemauan, namun fakir nilai akademis.

Penulis: Tony Syarqi

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Irak

Kurdi Klaim Rebut 15 Desa di Timur Laut Mosul dari ISIS

KIBLAT.NET – Pasukan Peshmerga, Kamis (20/10) merebut kontrol beberapa desa sebelah timur laut Mosul, menurut...

Jum'at, 21/10/2016 07:31 0

Philipina

Rangkul China, Filipina Umumkan Cerai dari Amerika Serikat

KIBLAT.NET – Presiden Filipina Rodrigo Duterte hari Kamis (20/10) mengumumkan pemisahan negaranya dari Amerika Serikat...

Jum'at, 21/10/2016 07:01 0

Suriah

Turki Latih Suku Suriah Untuk Bertempur Dengan ISIS di Raqqah

KIBLAT.NET – Militer Turki melatih ratusan warga suku Suriah, yang disiapkan untuk bertempur dengan ISIS...

Jum'at, 21/10/2016 06:21 0

Rohah

Weleh! Sapi Ini Jalani Persidangan karena Diduga Membunuh Orang

Seekor sapi betina harus berhadapan dengan pengadilan Jerman karena membunuh seorang wanita berusia 57 tahun. Sapi bernama Verona itu diduga membunuh seorang wanita yang tengah berjalan-jalan di dekat kota Greinfenstein bersama anjingnya pada tahun 2011.

Kamis, 20/10/2016 20:30 0

Manhaj

Nahi Munkar, Harga Mati!

amar makruf nahi munkar menjadi wajib bagi setiap umat ini. Bahkan barometer kebaikan umat ini sangat bergantung pada komitmen mereka dalam menjalankan kewajiban tersebut.

Kamis, 20/10/2016 20:00 0

Indonesia

Mahasiswa IKIP Angkatan 66 Minta Ahok Ditangkap

"Ahok menghina agama, makanya Ahok harus dihukum karena menghina agama. KPK juga harus bertindak soal Sumber Waras," tuturnya.

Kamis, 20/10/2016 19:29 0

Opini

Menelisik Siapa Sesungguhnya yang Membodohi Umat

Wajar jika usai sidang di Mahkamah Konstitusi, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya alias Ahok tiba-tiba saja diteriaki’gila’ oleh Habib Novel, karena tak terima Ahok yang dianggap telah mempermainkan ayat suci Al Quran, di mana sebelumnya Ahok setelah menyapa warga kepulauan Seribu, Ahok sempat menyebut kalau warga dibohongi dengan menggunakan Surat Al Maidah ayat 51 untuk tidak memilih dirinya.

Kamis, 20/10/2016 18:50 0

Mesir

Demonstrasi di Mesir, Rakyat Tuntut As-Sisi Mundur

Ribuan orang turun ke jalan-jalan di Mesir pada Selasa (18/10) malam untuk memprotes meningkatnya biaya perumahan di negara tersebut.

Kamis, 20/10/2016 18:06 0

Lebanon

Belum Genap Sebulan, 12 Militan Syiah Hizbullah Tewas di Aleppo

Sejumlah media Lebanon loyalis Hasan Nasrallah, pemimpin Hizbullah, mengatakan dua anggota Hizbullah bernama Ala Hasan Najmah dari kota Adlun dan Hasan Muhammad Ghandur dari kota Nabthiyah Al-Fuqa tewas di Aleppo.

Kamis, 20/10/2016 17:30 0

Munaqosyah

Berlepas Diri dari Kekafiran, Konsekuensi Akidah yang Diajarkan Al-Quran

Sayid Quthbmenggambarkan tentang konsekuensi perjalanan perasaan dan hati orang yang mengucapkan kalimat syahadat. Kalimat syahadat yang menghasilkan ketundukan dan kepatuhan absolut kepada Allah sembari meninggalkan kekufuran dan pelaku kekufuran

Kamis, 20/10/2016 16:43 0

Close