Apakah Bagian Tubuh yang Diamputasi Harus Disholatkan?

Pertanyaan :

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh

Redaksi Kiblat.net, Bagaimana hukum bagian tubuh yang diamputasi, apakah harus diselenggrakan sebagaimana jenazah seorang muslim atau bagaimana ustadz? Jazakumullah khairan.

Jawaban :

Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh

Saudara penanya yang dirahmati Allah, untuk permasalahan tersebut Imam An-Nawawi menjelaskan beberapa hukum terkait anggota badan yang terputus. Beliau berkata :

فَأَمَّا إذَا قُطِعَ عُضْوٌ مِنْ حَيٍّ كَيْدِ سَارِقٍ وَجَانٍ وَغَيْرِ ذَلِكَ فَلَا يُصَلَّى عَلَيْهِ

Artinya : “Adapun jika anggota badan orang hidup terputus, seperti maling yang dipotong tangannya atau pelaku kriminal dan lain sebagainya, maka (bagaian yang terpotong) tidak disholatkan.” (Al-Majmu’ Syarh Al-Muhazzab 5/254)

Dari penggalan petikan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa bagian tubuh yang diamputasi tidak disholatkan sebagaimana seorang muslim.

Masih di bab yang sama Imam An Nawawi memberikan penjelasan tambahan, beliau berkata :

وَنَقَلَ الْمُتَوَلِّي رَحِمَهُ اللَّهُ الِاتِّفَاقَ عَلَى أَنَّهُ لَا يُغَسَّلُ وَلَا يُصَلَّى عَلَيْهِ فَقَالَ لَا خِلَافَ أَنَّ الْيَدَ الْمَقْطُوعَةَ فِي السَّرِقَةِ وَالْقِصَاصِ لَا تُغَسَّلُ وَلَا يُصَلَّى عَلَيْهَا وَلَكِنْ تُلَفُّ فِي خِرْقَةٍ وَتُدْفَنُ

Artinya : “Al-Mutawalli –rahimahullah- menukil kesepakatan (para ulama) bahwa anggota badan yang terpotong tidak dimandikan dan tidak disholatkan. Dan dia berkata bahwa tidak ada perbedaan antara tangan yang terpotong karena kasus pencurian dan yang terpotong karena penerapan hukum qishash. Hukumnya tidak dimandikan, tidak disholati akan tetapi dibungkus dengan kain dan dikuburkan.” (Al-Majmu’ Syarh Al-Muhazzab 5/254)

Masih di dalam pembahasan yang sama, Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa hukum menguburkan bagian yang terpotong itu adalah sunnah.

قَالَ أَصْحَابُنَا رَحِمَهُمُ اللَّهُ وَالدَّفْنُ لَا يَخْتَصُّ بِعُضْوِ مَنْ عُلِمَ مَوْتُهُ بَلْ كُلُّ مَا يَنْفَصِلُ مِنْ الْحَيِّ مِنْ عُضْوٍ وَشَعْرٍ وَظُفْرٍ وَغَيْرِهِمَا مِنْ الْأَجْزَاءِ يُسْتَحَبُّ دَفْنُهُ وَكَذَلِكَ

Artinya : “Dan ulama-ulama kami (dari mazhab Syafi’i) –rahimahumullah- berpendapat bahwa penguburan tidak hanya terkhusus pada anggota badan orang yang sudah meninggal saja, akan tetapi segala sesuatu yang terpisah dari orang hidup, baik itu berupa anggota badan, rambut, kuku dan selainnya, maka disunnahkan untuk dikuburkan.” (Al-Majmu’ Syarh Al-Muhazzab 5/254)

Syaikh Abdul Azis bin Baz juga pernah ditanya dengan pertanyaan yang sama beliau menjawab :

الأمر واسع فليس لها حكم الإنسان ؛ ولا مانع من أن توضع في النفاية أو تدفن في الأرض احتراماً لها فهذا أفضل ، وإلا فالأمر واسع والحمد لله كما قلنا فلا يجب غسله ولا دفنه إلا إذا كان جنيناً أكمل أربعة أشهر.

Artinya : “Masalah ini cukup longgar, karena bagian yang terputus tersebut tidak bisa disamakan dengan hukum manusia. Maka tidak masalah jika ditaruh di tempat pembuangan sampah atau lebih baiknya dikubur sebagai bentuk pemuliaan bagi anggota tubuh itu. Walaupun tidak dikubur tidak masalah. Sebagaimana yang telah saya katakana bahwa tidak wajib dimandikan dan dikubur kecuali jika itu adalah janin yang berumur lebih dari 4 bulan.” (Majmu’ Fatawa wa Maqolaat Mutanawwi’ah Li Syaikh Abdul Azis bin Baz 9/436)

Dari pemaparan di atas maka dapat disimpulkan bahwa bagian yang diamputasi karena penyakit memiliki hukum yang berbeda dengan manusia hidup. Sehingga hukum yang berlakupun berbeda. Tidak dimandikan, tidak disholati dan disunnahkan untuk dikubur. Disunnahkan untuk dikubur didasarkan pada hukum asal pemuliaan terhadap anak Adam yang termaktub dalam surat  Al-Isra ayat 70.

Wallahu a’lam bishshowab

Dijawab oleh : Ust Miftahul Ihsan Lc

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat