... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Khazanah

Mantan Budak yang Menjadi Ahli Fikih

Foto: Ilustrasi

KIBLAT.NET – Dalam sejarah salaf, pernah tercatat bahwa yang menjadi para ulama dan fuqaha pada waktu itu adalah mawâlî, para mantan budak. Mereka menjadi pewaris para Nabi dengan ilmu yang mereka miliki, dan ini sungguh menakjubkan; kemuliaan mereka di mata Allah dan di mata manusia melampaui derajat orang merdeka, bahkan melebihi derajat para raja.

Inilah kisah yang diabadikan oleh Ibnul Katsir dalam bukunya, Al-Bâ’itsul Hatsîts Syarh Ikhtishâr Ulûmil Hadîts (hal. 241) dan Ibnu Abdi Rabbih dalam Al-Iqdul Farîd (3/363-364) dan Ibnul Jauzi dalam Al-Muntazham (7/20-21). Kisah yang disebutkan oleh Ibnu Katsir adalah sebagai berikut:

Az-Zuhri menyebutkan bahwa Hisyam bin Abdul Malik bertanya kepadanya, “Siapakah yang menjadi ulama Mekah?’

Aku menjawab, “Atha’.” Jawabku.

“Kalau ulama penduduk Yaman?” tanya Hisyam.

“Thawus.”

“Ulama penduduk Syam?”

“Makhul.”

“Ulama penduduk Mesir?”

“Yazid bin Abu Habib.”

“Ulama penduduk Jazirah?”

“Maimun bin Mihran.”

“Ulama penduduk Khurasan?”

“Adh-Dhahhak bin Muzahim.”

“Ulama penduduk Bashrah?”

“Al-Hasan bin Abul Hasan.”

“Ulama penduduk Kufah?”

“Ibrahim An-Nakha’i.”

Kemudian disebutkan bahwa Hisyam bin Abdul Malik berkata kepada Az-Zuhri tentang daerah para ulama tersebut, “Apakah mereka semua itu dari kalangan Arab ataukah mawâlî?”

Az-Zuhri menjawab, “Minal mawâlî…, mereka semua berasal dari mawâlî.”

Ketika selesai, Hisyam berkata, “Hai Zuhri, demi Allah! Orang-orang mawâlî telah menjadi tuan atas orang-orang Arab sehingga mereka berkhutbah di atas mimbar-mimbar, sedang orang-orang Arab berada di bawahnya.”

Kemudian Az-Zuhri menjawab, “Yâ Amîral Mu’minîn, innamâ huwa ‘amrullâhi wa dînih, faman hafizhahu sâda waman dhayya’ahu saqatha…, wahai Amirul Mukminin, itu adalah urusan Allah dan agamanya. Barangsiapa yang menjaganya, dialah yang menjadi pemimpinnya. Siapa yang menyia-nyiakannya, dia akan tersungkur jatuh.”

Setelah menyebutkan kisah ini, Ahmad Muhammad Syakir berkomentar, “Ada sebagian orang Arab Badui yang bertanya kepada salah satu penduduk Bashrah, “Siapakah tuan di negeri ini?” ia menjawab, “Al-Hasan bin Abul Hasan.”  Lalu Badui tadi bertanya lagi, “Apakah ia maulâ?” “Ya.” Jawabnya. Badui tersebut kembali bertanya, “Tersebab apa ia menjadi tuan mereka?” ia menjawab, “Bihâjatihim ilâ ‘ilmihi wa ‘adamu ihtiyâjihi ilâ dunyâhum…, karena manusia membutuhkan ilmunya, sementara beliau tidak membutuhkan dunia mereka.” Orang Badui tersebut kemudian menyimpulkan, “Hâdzâ la’amru abîka huwas su’dad…, sungguh, inilah seorang tuan yang sesungguhnya.” 

Adapun kisah yang disebutkan Ibnu Abdi Rabbih dalam Al-Iqdul Farîd (3/363-364) adalah tentang kedudukan tinggi yang diraih oleh para mantan budak dengan ilmu mereka. Mereka menjadi sumber mata air ilmu yang menjadi rujukan manusia pada saat itu. Kisah ini berupa percakapkaan antara Ibnu Abi Laila dengan Isa bin Musa yang pada saat itu menjadi gubernur bani Abbasiyah  yang memiliki rasa ashabiyyah yang tinggi terhadap bangsa Arab.

Ibnu Abi Laila berkata, “Suatu ketika, Isa bin Musa yang memiliki ashabiyah yang tinggi bertanya kepadaku, “Man kâna faqîhul Bashrah…, siapakah yang menjadi ahli fikih penduduk Bashrah?”

“Al-Hasan bin Abul Hasan.” Jawabku.

“Tsumma man…, kemudian siapa?” tanya Isa bin Musa.

“Muhammad bin Sirin.”

“Siapakah mereka berdua?”

“Maulayâni…, mereka berdua adalah maula, mantan budak.”

“Faman faqîhu Makkah…, lalu siapa ahli fikih penduduk Mekah?”

“Atha’ bin Abi Rabbah, Mujahid bin Jabr, Sa’id bin Jubair dan Sulaiman bin Yasar.”

“Famâ hâ’ulâ’…, siapakah mereka?”

“Mawâli…, mereka adalah mantan budak.”

“Faman fuqahâ’ul Madînah…., lantas, siapa ahli fikih penduduk Madinah?”

“Zaid bin Aslam, Muhammad bin Munkadir dan Nafi’ bin Abi Najih.”

“Famâ hâ’ulâ’…, siapakah mereka?”

“Mawâli…, mereka adalah mantan budak.”

Mendengar jawabanku, wajah Isa bin Musa berubah.

Ia bertanya lagi,  “Faman afqahu Ahli Qubâ’…., siapakah yang ahli fikih dari penduduk Quba’?”

Aku pun menjawab, “Rabi’atur Ra’yi dan Ibnuz Zanad.”

“Famâ kânâ…., siapakah mereka berdua itu?”

“Minal mawâlî…, mereka termasuk mantan budak.”

Setelah itu, wajah Isa bin Musa semakin bermuka masam. Tapi, ia kemudian bertanya lagi, “Faman kâna faqîhul Yaman…, siapa ahli fikih penduduk Yaman?”

“Thawus dan anaknya, serta Hammam bin Munabbih.”

“Famâ hâ’ulâ’i…., siapakah mereka?”

“Minal mawâlî…., mereka juga termasuk mantan budak.”

Setelah jawabanku kali ini, Isa bin Musa semakin naik darah, dan berdiri dengan tegak. Kemudian ia bertanya lagi, “Faman faqîhul Khurâsân…., siapa ahli fikih penduduk Khurasan?”

“Atha’ bin Abdullah Al-Khurasani.”

“Famâ kâna Atha’ hâdzâ…, siapa Atha ini?”

“Maula…, mantan budak.”

Wajah Isa bin Musa semakin bermuka masam, dan semakin bertambah hitam (karena marah), sehingga aku takut karena menghawatirkan keselamatanku.

Kemudian ketika ia bertanya, “Faman kâna faqîhusy Syâm…, siapakah ahli fikih penduduk Syam?”

 Aku menjawab, “Makhul.”

“Famâ kâna Makhul hâdzâ…, siapakah Makhul ini?”

“Maula…, mantan budak.”

Isa bin Musa semakin bertambah murka dan marah.

Tetapi ia tetap terus bertanya, “Faman kâna faqîhul Jazîrah…, siapa ahli fikih penduduk Jazirah?”

“Maimun bin Mihran.”

“Famâ kâna…, siapa dia?”

“Maula…, mantan budak.”

Isa bin Musa mengambil nafas yang panjang. Tetapi ia melanjutkan tanyanya lagi, “Faman kâna faqîhul Kûfah…., siapakah ahli fikih penduduk Kufah?”

Ibnu Abi Laila melanjutkan, “Demi Allah, seandainya aku tidak menghawatirkan keselamatan diriku, pasti sudah aku jawab, ‘Al-Hakam bin Uyainah dan Ammar bin Abi Sulaiman, -keduanya adalah mantan budak.’ tapi karena aku melihat ada sesuatu yang buruk yang akan terjadi bila aku menjawab demikian, maka aku menjawab, “Ibrahim an-Nakha’I dan asy-Sya’bi”

Isa bin Musa bertanya, “Famâ kânâ…, siapakah mereka berdua?”

“’Arabiyyân…., keduanya adalah orang Arab.”

Isa bin Musa langsung berkata, “Allahu Akbar!” dan  jiwanya pun menjadi tenang seketika. Kisah ini selesai sampai di sini.

Sungguh, Allah benar-benar mengangkat derajat mereka, para mantan budak, karena ilmu yang ada pada mereka.

Penulis : Dhani El_Ashim

Sumber:

Al-Bâ’itsul Hatsîts  karya Ibnu Katsir

Al-Iqdul Farîd karya Ibnu Abdi Rabbih

Al-Muntazham karya Ibnul Jauzi

Balada Cinta karya Ibnu Abdil Bari


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Rusia

Perluas Definisi Terorisme, Rusia Desak Resolusi PBB Diperbaiki

Rusia mendesak PBB membuat resolusi baru yang melarang penyebaran berbagai bentuk "propaganda teroris" di seluruh dunia. Duta Besar Rusia untuk PBB Vitaly Churkin mengatakan telah menyampaikan hal itu kepada Dewan Keamanan PBB.

Rabu, 05/10/2016 15:00 0

Irak

Ulama Muslim: Sunni Irak Alami Pengusiran dengan Dalih ISIS

Kepada kantor berita Turki Anadolu Agency, Qarrah menegaskan bahwa warga Sunni mengalami berbagai tekanan dalam dua tahun terakhir dengan dalih memerangi ISIS. Mereka disuri dari kampung halaman dengan tujuan mengurangi jumlah dan mengubah demografi wilayah.

Rabu, 05/10/2016 14:10 0

Irak

Iraq Tolak Keterlibatan Turki dalam Perang Mosul

Kementerian Luar Negeri Iraq secara vokal menolak keterlibatan Ankara dalam pertempuran melawan ISIS di Mosul.

Rabu, 05/10/2016 13:21 0

Indonesia

Terkumpul Dana 3,1 Miliar, Akhirnya Masjid Chiba Jepang Dilunasi

Muslim Chiba kini telah memiliki masjid sendiri setelah bertahun-tahun mengontrak bangunan untuk dijadikan tempat ibadah. Aksi patungan online masyarakat Indonesia melalui situs crowdfunding kitabisa.com berhasil mengumpulkan dana Rp 3,1 miliar dari 7300 donatur bagi komunitas muslim di Chiba, Jepang.

Rabu, 05/10/2016 12:34 0

Turki

Bila Rusia dan AS “Adu Sikut”, Turki Akan Lindungi Kepentingan Sendiri di Suriah

Dikutip dari Anadolu Agency pada Selasa (04/10) bahwa Pemerintah Turki akan melindungi keuntungannya sendiri bila Washington dan Moskow saling berhadapan di Suriah.

Rabu, 05/10/2016 11:10 0

Turki

Turki: Kami Hanya Ingin Membersihkan Suriah dan Irak dari “Terorisme”

Juru bicara kepresidenan Ankara, Ibrahim Kalin mengatakan bahwa Turki akan mendukung operasi untuk menggempur ISIS di Raqqa.

Rabu, 05/10/2016 10:20 0

Wilayah Lain

Militan Kashmir Kembali Tewaskan Tentara India

Serangan terjadi di kamp Rashtriya Rifle 46 di Baramulla yang juga menjadi markas Pasukan Keamanan Perbatasan pada sekitar jam 10:30 malam waktu setempat, diikuti dengan kontak senjata antara militan Kashmir dengan tentara India. Rashtriya Rifles atau juga disebut National Rifles berada di bawah Angkatan Darat India, merupakan unit kontra-insurjensi & anti-teroris yang anggota-anggotanya direkrut dari satuan-satuan AD yang lain.

Rabu, 05/10/2016 09:45 0

Suriah

Mortir Pejuang Suriah Hantam Kedutaan Besar Rusia

Dikutip dari Anadolu Agency pada Selasa (04/10), mortir yang diluncurkan dari wilayah Jabhat Fateh al-Syam berhasil memukul kedutaan Moskow di Damaskus.

Rabu, 05/10/2016 08:45 0

Afghanistan

Lagi, Tentara AS Tewas di Afghanistan

Juru bicara Pentagon, Peter Cook, mengungkapkan kepada media bahwa pihaknya tengah menyelidiki insiden ini. Dia mengaku tidak mengetahui ada korban lainnya.

Rabu, 05/10/2016 07:57 0

Philipina

AS Tolak Jual Senjata ke Filipina, Duterte pada Obama: Pergilah ke Neraka!

Presiden Filipina Rodrigo Duterte pada Selasa, (04/10) menghina Presiden AS Barack Obama dengan ungkapan "pergilah ke neraka" dan mengatakan Amerika Serikat telah menolak untuk menjual beberapa senjata ke negaranya, tapi dia tidak peduli. Karena Rusia dan China telah bersedia menjadi pemasok senjata untuk Filipina.

Rabu, 05/10/2016 07:07 0

Close