... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Pemberontakan Kaum Merah di Silungkang

Foto: Tentara KNIL yang datang ke Silungkang bersama orang-orang yang ditahan. Sumber foto: Koleksi online Tropen Museum

Pemberontakan diawali di Silungkang. Massa bergerak saat tengah malam tahun baru 1927. Namun persiapan yang tak matang membuat pemberontakan itu dapat dipatahkan.

KIBLAT.NET – Sebelum Silungkang, pemanasan’ menuju pemberontakan bukan terjadi di Sumatera Barat saja. Tetapi sampai ke Aceh. Di Aceh propaganda komunisme, juga menempuh kisah yang sama.

Marxisme tak banyak diminati masyarakat Aceh kecuali bagi sejumlah orang non Aceh atau yang tak sepenuhnya berdarah Aceh di perkotaan. Namun ketika propaganda komunisme mengawinkan antara komunisme dengan Islam, dengan tujuan membebaskan orang-orang dari pajak dan kerja paksa serta menggelorakan penghancuran kompeni di seluruh Aceh dan Sumatera, oleh Partai Komunis, masyarakat segera menoleh.

Tahun 1924 terjadi pemberontakan Bakongan di satu kecamatan kecil di Selatan Aceh dan menewaskan 119 orang aceh dan 21 serdadu Belanda. Dua Pemimpinnya T. Raja Tampo dan Pang Karim diburu oleh Belanda. Di penghujung tahun 1925, sekitar 18 orang Aceh ditangkap setelah mereka berusaha menyerang transportasi Belanda di Blang Kejeren.

Di bulan Juni 1926, tangsi militer di Blang Kejeren menjadi direncanakan diserang, namun berhasil digagalkan. 62 orang ditangkap. Apa yang terjadi di Aceh segera disusul dengan lebih dahsyat di Minangkabau, tepatnya di Silungkang, tempat propaganda komunisme atau Islam revolusioner tumbuh subur.

Silungkang adalah wilayah di Sumatera Barat yang menjadi penghubung antara Padang dengan Sawah Lunto. Jarak dari Silungkang ke Padang 105 km, sedangkan dari Silungkang ke Sawah Lunto hanya 6 km saja. Sawah Lunto adalah sebuah wilayah pertambangan batubara Ombilin. Sawah Lunto menikmati posisi sebagai wilayah yang dilalui oleh jalur kereta api dari tambang Ombilin ke Teluk Bayur. Penduduk Silungkang sebagian berdagang dan menjadi maju. Para pedagang inilah yang kemudian menjadi orang-orang pertama yang menerima Sarekat Islam dan bergerak di dalamnya.

Gambar 3.2 Tambang batubara di Ombilin, 1890 – 1905. Sumber foto: Koleksi online Tropen Museum

Gambar 3.2 Tambang batubara di Ombilin, 1890 – 1905. Sumber foto: Koleksi online Tropen Museum

Sarekat Islam memiliki pengaruh yang kuat di Silungkang. Sebuah kebijakan pilih kasih pemerintah kolonial dalam soal pengangkutan beras pernah membuat SI Silungkang bergerak memboikot kereta api demi membantu rakyat yang mengalami krisis pasokan beras. Peristiwa ini begitu melekat di benak rakyat sehingga SI Silungkang mendapat dukungan masyarakat Silungkang.

Pada tahun 1924, SI Silungkang berubah menjadi Sarekat Rakyat. Meski Sarekat Rakyat sebenarnya secara struktural adalah organ di bawah PKI, namun rakyat Silungkang tak peduli. Dalam benak mereka, Sarekat Rakyat adalah Sarekat Islam. Bagi mereka yang terpenting adalah menolak pemerintah kolonial yang memberatkan dengan segala pajak dan penindasannya. Di bawah kondisi tertindas inilah, propaganda menuju pemberontakan menemui lahannya yang subur di Silungkang. Dan meletupnya pemberontakan hanya soal waktu saja.

Sabtu, 31 Desember 1926. Pasar Silungkang ramai. Salah satu rumah orangi terkaya di Silungkang, Muhammad Yusuf Gelar Sampono Kayo sedang menggelar hajatan. Tamu-tamu memenuhi sekitar rumah tersebut. Namun ada yang berbeda. Semua tamu adalah laki-laki. Yang memasak pun laki-laki. Dan banyak tamu membawa parang, kelewang, kapak, dan linggis. Hari itu massa sudah berkumpul. Di dalam rumah, pemimpin sedang berembuk. Mereka menunggu kabar dari kerabat mereka, Limin, yang sejak kemarin sore diutus untuk bertemu Arif Fadhilah, tak jelas rimbanya.

Gambar 3.3 Stasiun Silungkang. Sumber foto: Koleksi online Tropen Museum

Gambar 3.3 Stasiun Silungkang. Sumber foto: Koleksi online Tropen Museum

Penentuan nasib pemberontakan pun ditetapkan. Sabtu, malam minggu, 31 Desember 1926, pemberontakan diputuskan akan berlangsung malam itu juga. Pukul 00.00, pemberontakan dilakukan. Massa diberikan selendang merah dan senjata tajam. Sebagian memakai ‘pisau ubi’ (pistol). Massa dibagi menjadi barisan inti dan barisan cadangan. Barisan inti sebagian terdiri dari anggota garnisun militer yang membelot, di bawah kendali Mayor Pontoh. Ikut bersama mereka anggota Sarekat Rakyat.

Mereka dipersiapkan untuk menyerang gedung-gedung pemerintahan dan Societeit kota Sawah Lunto. Barisan lain dipersiapkan untuk menyerang Muara Kalaban, sebuah nagari diantara Sawah Lunto dan Silungkang. Sisanya tetap di Silungkang, untuk membunuh pejabat pemerintah, kepala nagari dan orang-orang yang dianggap loyal pada pemerintah.

Kepala Nagari Silungkang menjadi yang pertama dibunuh. Selanjutnya tiga orang menyusul tewas. Massa kemudian menyerang kepala Stasiun Silungkang. Namun ia berhasil melarikan diri. Seorang petugas karcis kereta api menjadi sasaran. Stasiun Silungkang juga tak luput dari sasaran. Pukul 03.00 massa kemudian kembali ke rumah Muhammad Yusuf. Tak lama mereka kemudian diperintahkan untuk membunuh Tuan Leurs, kepala Departemen Pekerjaan Umum, satu-satunya calon korban kulit putih malam itu. Ia pun berhasil dibunuh. Namun istri dan anak-anaknya tak disentuh. Massa kemudian membubarkan diri. Sebagian kembali ke rumah Muhammad Yusuf, sebagian lain ke rumah masing-masing. Pemberontakan di Silungkang tersebut menewaskan tujuh orang.

Gambar 3.4 Korban pemberontakan Silungkang, dibunuh pada 2 Januari 1927. Sumber foto: Koleksi online Tropen Museum

Gambar 3.4 Korban pemberontakan Silungkang, dibunuh pada 2 Januari 1927. Sumber foto: Koleksi online Tropen Museum

Di lain tempat, barisan yang menuju Sawah Lunto sudah bergerak sejak pukul 22.00. Rombongan sebanyak 300 orang berjalan kaki menuju ke Sawah Lunto melewati Muara Kalaban. Di Muara Kalaban sebagian rombongan terjebak oleh kecurigaan petugas. Sebagian lain di bawah pimpinan Abdul Muluk Nasution tetap menuju ke Sawah Lunto. Tak lama Abdul Muluk heran karena terdengar suara ledakan dan tembakan dari arah Muara Kalaban. Padahal seharusnya serangan ke barak polisi Muara Kalaban dilakukan tepat pukul 12 malam.

Baca halaman selanjutnya: Abdul Muluk kemudian mengingat...

Halaman Selanjutnya 1 2
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Palestina

Israel Tuding Enam Warga Palestina Gabung ISIS

Pemerintah Israel menahan enam warga Palestina karena dituding bergabung dengan kelompok ISIS dan merencanakan sejumlah serangan di Israel, terutama di Yerusalem.

Senin, 03/10/2016 16:01 0

Opini

Politisasi Masjid

Melihat vitalnya fungsi masjid bagi persatuan dan pertahanan kaum muslimin, kaum munafikin sebagai antek kaum kafirin senantiasa mencoba untuk membajaknya. Perkara ini pernah terjadi pada zaman Rosululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam-. Mereka (kaum munafikin) berupaya membangun masjid berdekatan dengan masjid Quba demi memecah belah dan menyimpangkan kaum muslimin dari petunjuk Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam.

Senin, 03/10/2016 15:13 0

Turki

Diduga Terlibat Kudeta, Polisi Turki Tangkap Saudara Gulen

Sebelumnya, polisi anti-teror Turki mulai mencarinya di distrik Gaziemir. Setelah menerima informasi dari pihak intelijen, Kutbettin ditangkap di rumah seorang kerabatnya.

Senin, 03/10/2016 13:45 0

Suriah

Dibantu Kurdi, Pasukan Assad Serang Oposisi di Aleppo

Pasukan gabungan itu mengklaim telah menebar ancaman kepada oposisi untuk meninggalkan posisi, sembari menjanjikan bala bantuan dan perlengkapan.

Senin, 03/10/2016 12:52 0

Inggris

Media Inggris Ungkap Jumlah Pasukan Khusus Turki dalam Operasi Efrat Shield

Terkait operasi itu, surat kabar Inggris, The Independent, mengungkapkan jumlah pasukan khusus Turki yang terlibat dalam operasi Efrat Shield di wilayah utara Suriah yang berbatasan dengan Turki tersebut. Demikian dikutip dari El-Dorar, Ahad (02/10).

Senin, 03/10/2016 12:30 0

Wilayah Lain

Lagi, Umat Islam Jerman Diteror dengan Bangkai Kepala Babi

Polisi Postdam mengatakan, aksi teror pada Ahad itu (02/10) diketahui setelah seorang wanita melapor. Dia melihat potongan kepala babi yang ditinggalkan di depan pintu utama masjid.

Senin, 03/10/2016 11:17 0

News

Kisah Haru Yahya Selamatkan Bayi Mungilnya dari Bawah Reruntuhan

Jet tempur rezim Suriah pada Kamis (29/09/2016) pukul lima sore menggempur komplek sipil di Idlib. Akibatnya, sejumlah rumah warga hancur, termasuk rumah Yahya. Lembaga pengawas HAM melaporkan, sedikitnya enam korban tewas, empat di antaranya anak-anak, akibat serangan itu.

Senin, 03/10/2016 10:33 0

Rohah

Khasiat Surat Al-Zalzalah

Abdullah bin Amru bin Ash mengisahkan, “ Seorang lelaki pernah menemui Rasulullah lalu berkata, ‘Bacakanlah untukku (ajarilah aku) wahai Rasulullah.’

Senin, 03/10/2016 10:30 0

Profil

Muhammad Zia-ul Haq, Sosok Pemimpin Shalih Pembela Islam

Dia berkata, “Saya tidak tahu atas dasar apa kita menyanjung dan memberikan pujian kepada Rusia. Rusia adalah pencuri yang masuk sebuah rumah, membakar harta benda yang ada di dalamnya dan membunuh penghuninya. Lantas pantaskan seorang pencuri mendapatkan pujian?”

Senin, 03/10/2016 10:00 2

Irak

Bayang-Bayang Pembantaian Hantui Warga Mosul Jelang Operasi Militer

“Sedikitnya 23 sipil tewas, 17 di antaranya wanita dan seorang anak kecil, akibat serangan udara yang menargetkan sebuah rumah di lingkungan An-Najar di pusat kota Mosul. Serangan ini diluncurkan jet tempur AS,” lapor sumber medis kepada Al-Araby Al-Jadid.

Senin, 03/10/2016 09:05 0

Close