... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Diaz Hendropriyono: Indonesia Tak Ingin Hambali Kembali dari Guantanamo

Foto: Diaz Hendropriyono

KIBLAT.NET, Jakarta – Staf Khusus Presiden, Diaz Hendropriyono menyatakan, hubungan Indonesia dengan Amerika perlu ditingkatkan, tidak hanya dalam bidang investasi tetapi juga kerjasama intelijen. Namun hubungan kerjasama itu, tidak saja dengan Amerika, tetapi juga dengan negara lain, harus didasarkan pada kepentingan Nasional kita.

“Dalam kunjungan terakhirnya di Amerika, Presiden Jokowi mendapat komitmen investasi. Namun kita harus mengembangkan kerjasama bilateral lainnya, misalnya, kerjasama masalah intelijen, terutama yang berhubungan dengan hal yang penting saat ini, seperti hal cyber. Sehingga ada banyak hal yang bisa ditingkatkan dalam hubungan bilateral antara Indonesia dan Amerika Serikat,” ujar Diaz Hendropriyono ketika menjadi pembicara dalam acara konferensi kebijakan luar negeri Indonesia, di Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, Sabtu, (17/9).

Tak hanya persoalan di bidang intelijen, staf khusus Presiden ini juga memberikan pandangan terkait kontroversi penutupan penjara Guantanamo Bay, Kuba. Penjara Guantanamo menjadi interest karena adanya Hambali disana.

Dalam kaitan dengan Pilpres yang sedang berlangsung di Amerika, Dia melihat, siapapun yang terpilih, apakah Donald Trump atau Hillary Clinton, tidak akan berpengaruh terhadap kelanjutan penjara Guantanamo.

Pasalnya, Donald Trump tidak berniat menutup Guantanamo dan Hillary Clinton yang juga berniat membawa tahanan Guantanamo ke pengadilan Federal, maka tidak ada perbedaan siapa yang terpilih dalam masalah ini karena pada akhirnya Hambali tidak akan kembali ke Indonesia.

BACA JUGA  Di Medan Perang, Lembaga Kemanusiaan Tak Bisa Dituding Membantu Teroris

“Namun, Indonesia tidak menginginkan Hambali untuk kembali ke Indonesia, seperti juga dikatakan oleh pak Luhut,” ujar putra AM Hendropriyono ini.

Diaz mengingatkan, meski dirinya saat ini sebagai Staf Khusus Presiden, tetapi apa yang disampaikan merupakan pendapat pribadi. “Ini tentu bukan sikap resmi pemerintah atau Istana, tetapi ini pendapat pribadi,” ujarnya usai acara.

Diketahui, Hambali yang diduga seorang WNI, merupakan satu dari ratusan tahanan yang masih mendekam di penjara Guantanamo per Desember 2014 silam.

Baca halaman selanjutnya: Kemitraan Trans Pasifik...

Halaman Selanjutnya 1 2
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Opini

Tuntaskan Kemiskinan Bukan Hanya Tinggal Ambil Dana Zakat

Secara sekilas, dalam kacamata sosial, yang demikian itu merupakan langkah awal akan kerja sama untuk mencapai kebaikan. Tapi jika mau diperhatikan lebih lanjut, ada modus simbisosis komensalisme di sana. Pemerintah dapat dana zakat dari umat Islam, tapi umat Islam dapat apa?

Ahad, 18/09/2016 17:16 0

Inggris

Ribuan Warga London Gelar Unjuk Rasa Sambut Pengungsi Suriah

"Katakan dengan keras, katakan dengan jelas, pengungsi diterima di sini,"

Ahad, 18/09/2016 07:39 0

Yaman

Di KTT Non Blok, Yaman Desak Iran Hentikan Intervensi

Pernyataan tersebut diungkapkan Menteri Luar Negeri Yaman Abdulmalak Al-Makhlafi dalam pidato yang disampaikannya dalam pertemuan persiapan KTT Gerakan Non Blok (BNB)

Ahad, 18/09/2016 06:25 0

Analisis

Lima Belas Tahun Serangan 9/11 Berlalu, Al-Qaidah Semakin Kuat (Bag3-Tamat)

“Selama kejahatan-kejahatan itu masih kalian lakukan, peristiwa 11 September akan terus berulang ribuan kali dengan izin Allah. Kami akan terus mengintai kalian sampai hari kiamat, Insya Allah, jika permusuhan kalian tidak berhenti,” tegas pemimpin al-Qaidah itu.

Sabtu, 17/09/2016 21:16 0

Munaqosyah

Demonstrasi Dalam Kacamata Ulama Kontemporer

Demonstrasi merupakan perkara baru di dalam syariat Islam. Oleh karena itu para ulama kontemporer berbeda pendapat pula dalam menghukumi hal tersebut. Ada yang membolehkan ada yang melarang dan ada yang merinci.

Sabtu, 17/09/2016 18:30 12

Amerika

Terbaru, Petinggi Hamas dan Jabhah Fath Syam Masuk Daftar Teroris Versi AS

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat pada Jum'at (16/09), memasukkan pemimpin kelompok pejuang asing Perancis di Suriah dan seorang pejabat senior Hamas sebagai teroris global. Dengan ini, aset-aset mereka akan dibekukan.

Sabtu, 17/09/2016 16:42 1

Opini

Radikalisme Sekuler Liberal, Bahaya Laten yang Masih Liar dan Eksis

Jelas, istilah paham dan kelompok radikal dikonotasikan negatif dan dianggap sebagai common enemy. Lalu dicanangkanlah deradikalisasi menjadi semacam proyek dan masuk dalam APBN dan dilaksanakan oleh lembaga-lembaga pemerintah bekerja sama dengan lembaga non pemerintah, LSM, ormas dan lain-lain. Pemerintah pun menyodorkan gagasan deislamisasi di Indonesia. “Islam moderat” maupun “Islam nusantara” menjadi arus utama yang dibangunnya dalam bingkai sistem sekuler-kapitalis-demokrasi.

Sabtu, 17/09/2016 16:16 2

Pakistan

Aparat India Tangkap Seorang Aktivis Kashmir

Polisi India mengatakan telah menangkap seorang aktivis Kashmir Jum'at (16/09) saat akan bepergian ke Jenewa.

Sabtu, 17/09/2016 16:01 0

Fikih

Hukum Mendoakan Orang Kafir dan Musyrik Menurut Pendapat Para Ulama

Satu hal yang sering membingungkan kaum muslimin ketika berinteraksi dengan orang kafir adalah tentang hukum mendoakan mereka. Terutama ketika menghadiri undangan, ketika melayat, menjenguknya ketika sakit, dan kondisi-kondisi lainnya.

Sabtu, 17/09/2016 14:23 0

Artikel

85 Tahun Eksekusi Mujahid Libya, Umar Mukhtar

Tahun 1931, Umar Mukhtar tertangkap. Sebuah pukulan telak kepada rakyat Libya. Beliau pun diadili dalam pengadilan yang tidak ada keadilan di dalamnya. Akhirnya, 16 September 1931 Umar Mukhtar mendapatkan karunia Ilahiyah yang mengabadikannya; tiang gantungan. Sebuah ikon paling penting dalam sejarah tirani abad ke-20. Simbol yang sangat akrab di telinga kaum muslimin khususnya.

Sabtu, 17/09/2016 14:00 0

Close