... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Titian

Demonstrasi Dalam Kacamata Ulama Kontemporer

Foto: demosntrasi (maidaninews)

KIBLAT.NET – Masih segar dalam ingatan kita sebuah statement ‘pedas’ (kalau tidak boleh dikatakan ngawur) dari salah seorang dai negeri ini. Dalam pernyataannya, sang dai mengatakan bahwa masyarakat yang melakukan demonstrasi adalah sampah masyarakat. Lebih jauh lagi, keluar ‘fatwa’ dari lisannya akan kebolehan menumpahkan darah para demonstran. Selain karena menentang penguasa, juga bisa menjadi alternatif mengurangi kepadatan penduduk.

Fenomena di atas tentu sangat disayangkan, karena keluar dari sosok yang seharusnya menjadi pembimbing umat. Sebenarnya bagaimana Islam memandang masalah demonstrasi? Kiranya risalah pendek ini bisa menjadi ‘zakat’ ilmu, agar kelak di akhirat tidak mendapat murka, karena sikap diamnya kita terhadap syubhat yang ada di tengah-tengah masyarakat.

Islam Memandang Demonstrasi

Demonstrasi  menjadi lokomotif yang digemari rakyat secara umum sebagai sarana dalam memprotes (amar makruf nahi munkar) terhadap berbagai problematika publik.  Islam sendiri membolehkan aksi protes dalam perkara hukum (politik) maupun non hukum (non-politik), bahkan antar teman sendiri atau orang di sekelilingnya, apalagi bila ia dalam keaadan terzholimi, maka ia boleh untuk menyangkalnya (protes) dengan berbagai sarana atau media yang diperlukan asalkan tidak membalasnya dengan bentuk kezholiman yang lain atau justru akan  merugikan yang lain, dan seorang muslim seharusnya melakukan aksi protes dengan segala sarana yang bukan kategori dosa.[1]

Dalam aksinya, banyak hal yang menjadi polemik dalam demonstrasi itu sendiri. Kerusuhan, anarkis, arogan, perusakan transportasi umum  dan hal-hal negatif sering dikaitkan dengan aksi demonstrasi, namun disisi lain ada beberapa problematika rakyat yang bisa terselesaikan lebih cepat dengan cara berunjuk rasa.

Para ulama tidak ketinggalan dalam menyikapi urusan penting ini, terjadi pro-kontra antar ulama terkait hukum boleh atau tidaknya demonstrasi, mengingat bahwa demonstrasi digunakan masyarakat sebagai sarana dakwah (amar makruf nahi munkar) terhadap masyarakat luas atau terhadap penguasa.

Di Indonesia, secara konstitusional demonstrasi merupakan hak yang harus dilindungi oleh pemerintah. Namun di sisi lain, orang yang melakukan demonstrasi juga harus mentaati peraturan perundang-undangan lainnya yang berlaku.

Demonstrasi adalah fenomena modern yang umumnya terjadi hanya di negara-negara yang menganut sistem demokrasi, oleh karena itu demonstrasi tidak diizinkan dan tidak terjadi pada negara-negara otoriter yang berada dibawah penguasa diktator, kerajaan, dan komunisme seperti Arab Saudi, China, Korea Utara, Mesir sebelum revolusi, dan Indonesia pada era pra-reformasi.

Perbedaan pendapat terjadi karena perbedaan sistem yang diterapkan pada tiap negara. Ada tiga perbedaan pendapat ulama’ mu’ashirin terkait hukum dan tata cara beramar ma’ruf nahi munkar (demonstrasi).

Pendapat Ulama yang Melarang Demonstrasi

Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin, Syaikh al-Albani, Syaikh Sholih al-Fauzan, Syaikh bin Baaz, dan seluruh ulama yang berada jajaran Hai’ah Kibaril Ulama’ atau dewan fatwa tertinggi yang berada di Saudi Arabia adalah yang paling keras dalam pelarangan demonstrasi bahkan mencela perbuatan ini. Jika ditelusuri, alasan penolakan amar makruf nahi munkar dengan cara unjuk rasa bermuara pada tiga poin.[2]

Hai'ah Kibaril Ulama (almaghreb-today)

Hai’ah Kibaril Ulama (almaghreb-today)

Pertama, demonstrasi merupakan perkara yang baru (bid’ah). Bila demonstrasi dikategorikan sebagai sarana da’wah, maka harus jelas hujjahnya, karena tidak terjadi pada masa Nabi ﷺ, juga pada masa khulafa’ rasyidun.

Kedua, demonstrasi merupakan bentuk tasyabuh terhadap orang (adat) kafir, sebab demonstrasi adalah produk barat yang tidak sesuai dan tidak pernah ada pada masa awal islam (generasi salaf).

Ketiga, demonstrasi merupakan sebuah bentuk keluar (pembelotan) atau ketidakpatuhan terhadap pemerintah yang sah, dan hal ini tidak boleh dilakukan kecuali bila telah nampak kekafiran yang diperbuat mereka secara terang-terangan.

Tidak diragukan lagi bahwa aksi demo adalah sebagai pemicu dari kerusuhan yang terjadi selama ini dan berakibat pada kerusakan yang akan meluas.[3]

Kelompok ini berpendapat bahwa bentuk kegiatan meng-ishlah penguasa yang baik adalah dengan cara mendatanginya dan menasehatinya secara empat mata atau diam-diam agar wibawa pemimpin tidak jatuh dimata rakyatnya. Juga untuk senantiasa mendoakan kebaikan kepadanya  agar mendapatkan ampunan dan hidayah dari Allah ﷻ.

Pendapat yang Membolehkan Demonstrasi

Banyak ulama yang membolehkan, diantaranya Syaikh Dr. ‘Ali al-Qardaghi[4], Ustadz Dr. Abdurrazaq Abdurrahman As-Sa’diy, dan salah satu ulama yang paling terkenal dalam membela pendapat dibolehkannya demonstrasi adalah Syaikh Yusuf Qardhawi, seperti dalam salah satu fatwanya , “Tidak diragukan lagi bahwa demonstrasi (aksi damai) adalah sesuatu yang disyariatkan, karena termasuk seruan dan ajakan kepada perubahan (yang lebih baik) serta sebagai sarana untuk saling mengingatkan tentang haq, juga sebagai kegiatan amar makruf nahi munkar.”[5]

syaikh-yusuf-qardhawi

syaikh-yusuf-qardhawi

Adapun dalil yang membolehkan aksi demo adalah :

Dalil dari Alqur’an

لا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلا مَنْ ظُلِمَ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا

“Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nisa : 148)

Dalam tafsirnya, Imam asy-Syaukani berkomentar tentang ayat ini, “Para ahli ilmu berbeda pendapat mengenai tatacara “al-jahru bi as-suu’” (mengucapkan suatu keburukan seseorang dengan terang-terangan) yang diperbolehkan untuk yang terzholimi. Ada yang menyatakan hendaknya mendoakannya. Ada juga yang berpendapat, tidak mengapa mengucapkan kepada khalayak bahwa “Fulan telah menzholimi saya.” atau “Si fulan telah berbuat zholim.”, atau ucapan semisalnya. Allah lebih menyukai (berpihak) terhadap orang yang terzholimi dari pada yang pelaku kezholiman.[6]

Dalil dari As-Sunnah

Diantara dalil yang digunakan oleh kelompok yang membolehkan demonstrasi adalah hadits dari Abu Hurairah, bahwasanya ada laki-laki yang mendatangi Rasulullah ﷺ lalu berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh aku mempunyai tetangga yang (kebiasaannya) menyakitiku.” maka Nabi ﷺ menjawab, “Sabarlah!” (beliau mengucapkan tiga kali). Namun lelaki tersebut mengulangi lagi aduannya. Maka beliau bersabda, “Lemparkanlah perabotan rumahmu kejalan!” Maka lelaki tersebut melakukannya, kemudian manusia berkerumun karena hal tersebut, lalu mereka berkata, “Apa yang terjadi denganmu?” dia menjawab, “Aku mempunyai tetangga yang (selalu) menyakitiku.” kemudian dia menceritakan masalahnya. Lantas mereka berkata, “Semoga Allah melaknatnya.” Maka tetangga (yang menyakiti) mendatanginya dan berkata kepadanya, “Pulanglah kerumahmu, demi Allah, aku tidak akan menyakitimu lagi selamanya.” [7]

Pendapat yang Merinci Hukum Demonstrasi[8]

Ini adalah pendapat mufti Irak Syaikh Dr. Abdul Malik As-Sa’di. Telah banyak pertanyaan yang diajukan kepada beliau mengenai hukum berunjuk rasa, terutama dengan realita yang menimpa kaum muslimin. Beliau berkata, “Fatwa bolehnya unjuk rasa secara mutlak adalah salah, juga fatwa yang melarangnya secara mutlak pun salah, yang benar adalah merincinya.” Perinciannnya sebagai berikut:

Di bawah ini adalah alasan-alasan yang menjadikan demonstrasi haram :

  1. Jika tujuan demonstrasi untuk mengokohkan atau membela kezholiman seseorang, dan membelanya agar tidak diturunkan dari jabatannya.
  2. Jika hanya membela kepentingan suatu golongan tertentu saja dengan menjatuhkan golongan yang lain.
  3. Jika tidak ada sebab yang mendesak atau tanpa alasan yang dibenarkan.
  4. Jika demo dimaksudkan untuk menyerang penguasa hingga menyebabkan kacaunya stabilitas ekonomi bahkan tertumpahnya darah dari para demonstran.[9]

Kemudian beliau menjelaskan alasan tentang syarat dibolehkannya melakukan demonstrasi atau unjuk rasa bisa menjadi suatu hal yang wajib dilakukan, diantaranya :

  1. Apabila orang-orang kafir memerangi atau menggugat syariat Allah, maka hukumnya menjadi wajib.
  2. Jika pemerintah sudah meremehkan, mengekang, serta merampas hak-hak rakyat terutama yang menyangkut dhoruriyatu al-khomsah.
  3. Apabila seorang hakim lebih mengutamakan dan lebih mementingkan kaumnya, madzhabnya, atau bahkan partainya dalam perkara hak dan kewajiban.
  4. Apabila pemerintah lemah dalam kepemimpinannya, terkhusus dalam urusan darah (jiwa) seseorang.
  5. Menelurkan kebijakan guna melanggengkan kursi kekuasaannya.
  6. Memimpin untuk mengenyangkan perut semata.
  7. Penguasa membiarkan, bahkan menyuruh perangkat pemerintahan untuk mengaganggu atau meneror rakyat.
  8. Menghendaki negara lain (Negara Islam) agar tunduk pada hegemoni penjajah atau barat.[10]

Kesimpulan

Sebagaimana pisau, bahwa demonstrasi hanyalah sebuah sarana yang bisa digunakan untuk ber-amar makruf wa nahyu munkar atau justru untuk aksi kejahatan, tergantung aktor yang memainkannya. Islam membolehkan gerakan massa yang tidak menimbulkan kerusakan namun sangat mencela tindakan destruktif. Dikarenakan, apapun yang menimbulkan mudharat tidak dibenarkan, meskipun tujuannya adalah untuk menghilangkan kedzoliman. Hal tersebut sejalan dengan kaidah,  “Kemudharatan tidak boleh dihilangkan dengan kemudharatan.” Sehingga yang ditolerir oleh hukum islam adalah gerakan yang bertujuan untuk menghilangkan kemungkaran atau mengoreksi pemerintah yang keluar dari prinsip-prinsip kepemerintahan Islam tanpa menimbulkan perusakan.

Masalah demonstrasi merupakan ranah khilafiyah, masing-masing pendapat tentu telah melalui proses kajian yang mendalam. Bolehlah kita berpegang pada salah satu diantaranya, yang kita anggap dan yakini sebagai pendapat yang terkuat, namun jangan pernah menghujat mereka yang bersebrangan dengan kita, selama masih dalam lingkup perbedaan ulama.

Salah seorang murid senior Imam Malik, Sahnun bin Sa’id pernah ditanya suatu persoalan. Pemahaman ilmunya begitu mengagumkan, terbukti dalam permasalahan tersebut, beliau hafal delapan perbedaan pendapat ulama. Akan tetapi sikap hati-hatinya membuat beliau berucap, “Aku tidak tahu.” Tentu yang dimaksud adalah beliau tidak tahu pendapat mana yang paling kuat. Bukan karena kebodohan, tapi sikap hati-hati dan tawadhu yang beliau miliki.

Permasalah di atas bukan perkara yang besar, bukan pula tentang urusan darah kaum muslimin. Sehingga sangat disayangkan ada seorang dai yang begitu gampangnya menghalalkan darah kaum muslimin, hanya karena ikut demonstrasi. Bukankah sikap menggampangkan darah kaum muslimin adalah salah satu ciri Khawarij?

Padahal ulamapun masih berbeda pandangan akan boleh tidaknya melakukan demonstrasi. Kalaupun ulama sepakat keharaman demonstrasi, apakah mereka menganggap para demonstran kafir? Seandainya mereka telah jatuh pada kekafiran, apakah kita bisa menjatuhkan vonis kafir pada tiap personalnya (secara ta’yin)? Jawabannya tentu tidak, banyak pertimbangan lain yang harus dikaji.

Sebagai penutup, kami bawakan perkataan Ibnu Mas’ud, ulama sahabat yang keilmuannya tentu tak layak kita bandingkan dengan para da’i zaman ini. Beliau berkata,

وَ اللّهِ إِنَّ الَّذِيْ يُفْتِي النَّاسَ فِيْ كُلِّ مَا يَسْأَلُونَهُ لَمَجْنُوْنٌ

“Demi Allah, sesungguhnya orang yang ketika ditanya setiap persoalan dia selalu menjawab (menggampangkan dalam berfatwa), maka dia benar-benar orang gila.” (Syarhu as-Sunnah, Imam al-Baghowi, 1/209). Wallahu a’lam.

Ditulis oleh: Feri Nuryadi,  mahasiswa Ma’had ‘Aly An-Nur Sukoharjo, Jawa Tengah

Editor : Miftahul Ihsan Lc

 

[1] Fiqhu al-Iihtijaj, Dr. Raisuni, hal. 41

[2] Mudzaharah Sya’biyah, Dr. Hudzaifah Abud Mahdi As-Samirai, hal.34.  Tahdzir Asy-Syabab min Fitnah al-Khuruj wa al-Mudzaharat wal-Irhab Muhammad bin Nashir al-Uroini

[3] Tahdzir Asy-Syabab min Fitnah al-Khuruj wa al-Mudzaharat wal-Irhab, hal.36

[4] Ulama ahli maqashid dari Maroko

[5] www.qaradawi.net

[6]Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad Asy-Syaukani, Fathul Qadir,( Darul Ma’rifah, Beirut, juz 1, 1997 cet-3) hal . 677.

[7] Shahih Ibnu Hibban, kitab Al-Birr wal Ihsan, bab tetangga juz 2. hal. 278. Berkata muhaqqiq; Syaikh Syu’aib al-Arnauth, “Sanadnya kuat.” Perkataan ini hanya darinya saja.

[8] Muzhaharah Sya’biyah, hal.43

[9] Muzhsaharah Sya’biyah, hal.43

[10] ibid

... shares
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

7 comments on “Demonstrasi Dalam Kacamata Ulama Kontemporer”

  1. Qo'qo' Abdurrahman

    Umat akan semakin hancur ketika para da’i lebih senang membahas apa yang menarik bagi mereka, bukan apa yang penting dan dibutuhkan masyarakat.

  2. alman

    artikel tidak netral, tidak di sebutkan dalil2 alquran dan hadis nabi dari ulama arab saudi yg melarang demo, hanya menapilkan dalil 2 dr tokoh yg membolehkan demo, sungguh tidak adil.

  3. kalau saya mengambil pendapat yang membolehkanm, apalagi kalau dilihat sekarang ibukota dipimpin oleh orang nonmuslim, tentu cara terbaik untuk melengserkannya adalah dengan ikut demokrasi,

    karena menurut saya, kudeta bukanlah cara yang baik, bagaimana menurut admin?

  4. Qo'qo' Abdurrahman

    Tidak dipaparkannya dalil-dalil mereka yang melarang dikarenakan makalah ini memang makalah ringkas. Selain itu pendapat yang melarang demonstrasi sudah masyhur di tengah umat.Jikalau kita searching, pasti didapatkan hampir semua artikel maupun tulisan memaparkan pendapat & dalil yang melarang.
    Berangkat dari situ, penulis ingin memahamkan masyarakat, bahwasanya ulama tidak sepakat akan keharaman demonstrasi.
    Ini juga diharapkan menjadi sumbangsih ‘keadilan media’ dalam berdakwah.

  5. Qo'qo' Abdurrahman

    Dalam menentukan boleh tidaknya suatu perkara, tidak cukup hanya dengan mengkaji satu dua nash. Akan tetapi, sangat perlu bagi kita mengetahui dan mempertimbangkan mashlahat-madhorot.
    Secara tekstual, boleh2 saja bahkan wajib melengserkan pemimpin non muslim. Namun ketika hal tersebut menimbulkan kerusakan yang lebih besar, disinilah tugas para ulama robbani memainkan perannya.
    Kajian pada makalah ini hanya membahas permasalahan boleh tidaknya demonstrasi. Sedangkan persoalan kudeta, perlu dikaji secara khusus terlebih dahulu dengan mempertimbangkan waqi’ negeri ini.

  6. afwan mau tanya. kebetulan ana lebih setuju dengan pendapat yang merincikan hukum demonstrasi. kira2 ada referensi lain tidak ya, selain Muzhsaharah Sya’biyah? sebab kemaren ana cari tapi ndak nemu.

  7. menurut saya, kudeta bukanlah cara yang baik, bagaimana menurut admin?

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Amerika

Terbaru, Petinggi Hamas dan Jabhah Fath Syam Masuk Daftar Teroris Versi AS

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat pada Jum'at (16/09), memasukkan pemimpin kelompok pejuang asing Perancis di Suriah dan seorang pejabat senior Hamas sebagai teroris global. Dengan ini, aset-aset mereka akan dibekukan.

Sabtu, 17/09/2016 16:42 1

Opini

Radikalisme Sekuler Liberal, Bahaya Laten yang Masih Liar dan Eksis

Jelas, istilah paham dan kelompok radikal dikonotasikan negatif dan dianggap sebagai common enemy. Lalu dicanangkanlah deradikalisasi menjadi semacam proyek dan masuk dalam APBN dan dilaksanakan oleh lembaga-lembaga pemerintah bekerja sama dengan lembaga non pemerintah, LSM, ormas dan lain-lain. Pemerintah pun menyodorkan gagasan deislamisasi di Indonesia. “Islam moderat” maupun “Islam nusantara” menjadi arus utama yang dibangunnya dalam bingkai sistem sekuler-kapitalis-demokrasi.

Sabtu, 17/09/2016 16:16 2

Pakistan

Aparat India Tangkap Seorang Aktivis Kashmir

Polisi India mengatakan telah menangkap seorang aktivis Kashmir Jum'at (16/09) saat akan bepergian ke Jenewa.

Sabtu, 17/09/2016 16:01 0

Fikih

Hukum Mendoakan Orang Kafir dan Musyrik Menurut Pendapat Para Ulama

Satu hal yang sering membingungkan kaum muslimin ketika berinteraksi dengan orang kafir adalah tentang hukum mendoakan mereka. Terutama ketika menghadiri undangan, ketika melayat, menjenguknya ketika sakit, dan kondisi-kondisi lainnya.

Sabtu, 17/09/2016 14:23 0

Artikel

85 Tahun Eksekusi Mujahid Libya, Umar Mukhtar

Tahun 1931, Umar Mukhtar tertangkap. Sebuah pukulan telak kepada rakyat Libya. Beliau pun diadili dalam pengadilan yang tidak ada keadilan di dalamnya. Akhirnya, 16 September 1931 Umar Mukhtar mendapatkan karunia Ilahiyah yang mengabadikannya; tiang gantungan. Sebuah ikon paling penting dalam sejarah tirani abad ke-20. Simbol yang sangat akrab di telinga kaum muslimin khususnya.

Sabtu, 17/09/2016 14:00 0

Opini

Stop Human Trafficking! Save TKI!

Jika kita telaah lagi, penderitaan yang menimpa TKI bukan karena lemahnya proteksi negara terhadap TKI, seharusnya negara menghentikan pengiriman TKI dan mensejahterakan rakyat di negeri sendiri dengan membuka lapangan kerja seluasnya dan memenuhi hajat hidup rakyat. Bukan justru menerapkan sistem ekonomi kapitalis, pasar bebas, dan terus mengeksploitasi TKI dengan memberi mereka label penyumbang devisa.

Sabtu, 17/09/2016 13:43 0

Rohah

Syaikh Abdullah Azzam VS Orang Sekuler

Dalam konferensi Ukazh yang diadakan oleh pers Arab yang saya ikuti; saya menyampaikan tentang persekongkolan dunia yang bermaksud memaksa para pemimpin yang tidak menganut ideologi yang diyakini bangsanya. Di samping itu, saya juga berbicara sedikit mengenai sekulerisme. Kemudian seusai konferensi, salah seorang penulis di salah satu surat kabar kecil datang menemui saya dengan perasaan suka cita dan berseri-seri wajahnya. Ia mengatakan, “Jazakumullah Khairan, Anda telah berbicara tentang sekulerisme. Pembicaraan itu membuat marah mereka dan menarik jakun di tenggorokan mereka.”

Sabtu, 17/09/2016 11:47 0

Amerika

Pentagon Klaim Lumpuhkan Menteri Media ISIS

Juru bicara Pentagon, Peter Cook menyatakan bahwa serangan pasukan koalisi internasional pada 7 September lalu telah menewaskan Dr Wa'il di Raqqah, Suriah.

Sabtu, 17/09/2016 09:43 0

Somalia

Al-Shabab Serbu Pangkalan Tentara Nasional Somalia

Baku tembak pertama dilaporkan pecah di kota el-Wak di wilayah Somalia (barat daya Gedo dekat perbatasan Kenya) ketika para pejuang al-Shabaab melakukan penyerangan ke pangkalan militer SNA.

Sabtu, 17/09/2016 09:00 0

Turki

Turki Minta Bantuan Pasukan Khusus AS untuk Amankan Perbatasan dari ISIS

Juru bicara Jeff Davis menuturkan bahwa pasukan Washington tengah beroperasi dengan tentara Turki dan pasukan oposisi Suriah atas permintaan pemerintah Turki.

Sabtu, 17/09/2016 08:25 0