... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Suara Pembaca

Lucuti Kesombonganmu dengan Jurus ‘Lapisan Langit’

Foto: Ilustrasi

KIBLAT.NET – Meski telah dilabeli sebagai makhluk nan lemah (dhaif), nyatanya tidak sedikit manusia yang merasa dirinya sosok perkasa, lebih unggul, dari sesamanya. Hal ini memberi potensi tumbuh suburnya bibit kesombongan dalam diri.

Karena begitu besarnya kecondongan itu (menyombongkan diri), agama Islam sangat tegas lagi keras memberi ancaman agar segenap manusia jangan sekali-kali menggunakan ‘pakaian’ ini. Tujuannya jelas, agar manusia bisa mengerim, karena mempertimbangkan besarnya resiko yang akan diterima bila masih tidak mengindahkan apa menjadi batas-batas Allah dan Rasul-Nya.

Bayangkan; Siapa yang tidak ngeri atau merinding mendengar, bila berperilaku sombong diancam neraka selama-lamanya, meski besarnya kesombongan itu hanya sebiji atom.

Lalu apa yang menyebabkan manusia mudah melakukan kesombongan? Alasannya karena mereka telah merasa berkecukupan (istaghna), sehingga tidak membutuhkan pihak di luar dirinya, termasuk juga Allah.

Karena ini adalah sumbernya, maka kunci untuk meredamnya, hilangkan rasa ‘berkecukupan’ itu. Kemudian, mari menata diri, bahwa kita merupakan sosok yang penuh kekurangan lagi merupakan pribadi yang senantiasa butuh pertolongan, terutama Allah, sehingga tidak pantas sedikitpun untuk menyombongkan diri.

Apa yang mau disombongkan, bila diri ini sangat memahami tidak kuasa apa-apa? Apa yang hendak disombongkan, bila kita menyadari, bahwa kita sejatinya tidak memiliki apa-apa.

Ini adalah di antara langkah ‘metafisik’ (hati) bagaimana mengubur kesombongan dalam diri; mengosongkan diri dari merasa memiliki apa yang ada di genggaman.

BACA JUGA  Entah Apa yang Merasuki Sukmawati

Rumus Lapisan Langit

Bila kiranya diri ini begitu sukar menjalankan tips pertama di atas untuk meredam kesombongan, masih ada cara lain, terkhusus bagi mereka yang belum mampu. Apa itu? Menggunakan jurus ‘lapisan langit’.

Apa yang dimaksud dengan jurus satu ini??

Dalam konteks ke-Indonesia-an, kita tentu sangat akrab dengan pribahasa yang menyatakan ‘di atas langit masih ada langit’.

Maksud dari pribahasa ini, mengajak pembacanya untuk menghilangkan rasa sombong dengan apa yang telah dimiliki, dengan langkah menyadari bahwa di luar dirinya, masih banyak terdapat sosok-sosok yang lebih hebat. Dan ini tidak bisa disangkal.

Bila memiliki kemampuan menulis, misalnya, dan telah telah tembus beraneka ragam media massa; cetak maupun on-line, tahan diri jangan keburu sombong dengan prestasi itu.

Yakinlah bahwa di luar diri ini, masih ada penulis-penulis lebih handal yang karya tulisnya sangat fenomenal, monumental serta diakui dunia.

Lha, kalau tahu kayak gini, karya tulis apanya yang mau disombongkan. Masih beranikah menyombongkan diri sebagai sosok penulis handal, kalau tetangga rumah kita saja, bahkan keluarga kita, tidak mengenal bahwa kita sosok penulis. Apa lagi membaca karya kita. Ini baru masuk aspek kuantitas tulisan. Belum masuk ke ranah kualitasnya.

Lalu modal apa untuk digunakan untuk berperilaku sombong. Sangat tidak layak. Begitu juga terhadap profesi atau kemampuan yang lainnya.

BACA JUGA  Merenda Nalar di Balik Cadar

Dan kalaulah kita telah mampu tampil sebagai sosok terpakar dalam satu profesi dsn dunia pun ‘angkat topi’. Juga belum bisa menjadi modal kita untuk berperilaku sombong. Sebab, kepakaran kita hanya dalam satu jenis profesi saja. Sedangkan di luar diri kita, masih terdapat ribuan profesi yang kita buta terhadapnya. Jadi, kita tetap bukanlah ‘the special one’.

Semakin kita menyadari bahwa diri ini masih belum apa-apa dibanding sosok-sosok di luar sana, maka bisa menjadi wasilah perontokan kesombongan dalam diri. Nah, pada titik ini juga, nampak pentingn ‘menengok’ alam raya. Sehingga tidak merasa paling hebat, karena hanya ‘mengeram’ di kawasan itu-itu saja.

Istilah pribahasanya; “Bagai katak dalam tempurung.” Sebuah gambaran akan orang yang tidak memiliki pengetahuan luas atau sangat sedikit pengetahuannya, kurang luas pandangannnya. Semoga Allah melindungi kita dari sifat buruk yang berpotensi menyelakakan kita ini. Amiin.

 

Penulis: Khairul Hibri, Ketua PENA Jawa Timur

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Suara Pembaca

Lemahnya Pemerintah Atas Peredaran Obat dan Pelayanan Kesehatan

KIBLAT.NET – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menemukan vaksin palsu di sejumlah daerah. Temuan...

Sabtu, 13/08/2016 13:28 0

Timur Tengah

Nasehat Abu Qatadah Al-Filistini kepada Mujahidin Jabhah Fath Syam

Jabhah Nushrah sudah tidak ada lagi di Suriah, berganti nama menjadi Jabhah Fath Syam. Sebagai seorang ahli ilmu yang konsen memperhatikan perkembangan jihad dan mujahidin, Syaikh Abu Qatadah Al-Filastini memberikan nasehat berharga kepada para mujahidin yang tergabung dalam kelompok yang terbentuk di akhir Juli 2016 tersebut.

Sabtu, 13/08/2016 13:05 0

Suriah

21 Warga Sipil Terbunuh oleh Serangan Udara Rusia di Aleppo dan Idlib

Selain di wilayah Aleppo, jet tempur rezim Assad dan Rusia juga menyerang wilayah pedesaan yang dikuasai pejuang oposisi di provinsi Idlib. Pemboman pada Jum'at (12/08) ini sendiri telah membunuh sebelas warga sipil dan melukai 20 orang lainnya.

Sabtu, 13/08/2016 11:35 0

Turki

Turki dan Iran Perkuat Kerja Sama terkait Krisis Suriah

Keduanya berjanji untuk meningkatkan kerjasama dan mengedepankan dialog terbuka meskipun terjadi perbedaan sikap terkait krisis yang terjadi sejak 2011 lalu.

Sabtu, 13/08/2016 11:05 0

Artikel

Larangan itu Tidak Hanya dari Al-Qur’an Saja

Mereka lalu berkumpul dan Nabi mengimami mereka shalat. Setelah shalat, beliau berdiri dan bersabda, ‘Apakah ada salah seorang dari kalian yang cuma berbaring di ranjangnya seraya menganggap dan mengira bahwa sesungguhnya Allah tidak mengharamkan sesuatu kecuali apa yang ada di dalam Al-Qur’an?

Sabtu, 13/08/2016 10:15 0

Turki

Gulen Meminta Dilakukan Penyelidikan Internasional terhadap Kudeta Turki

Fethullah Gulen (75) yang dituding mendalangi kudeta Turki menyerukan penyelidikan internasional yang independen atas kudeta di Turki bulan lalu. Ia pun siap bertindak kooperatif jika memang penyelidikan itu mengharuskannya diekstradisi ke Turki.

Sabtu, 13/08/2016 09:45 0

Amerika

HRW Salahkan Umat Islam terkait Larangan Aktivitas LGBT di Indonesia

HRW menuding umat Islam bertanggung jawab atas larangan LGBT di Indonesia.

Sabtu, 13/08/2016 08:59 0

Indonesia

Terdakwa Pembunuh Mertua Daeng Koro Akui Seluruh Keterangan Saksi

“Benar pak, tidak ada tanggapan saya,” ujar Fandi dengan nada suara kecil.

Jum'at, 12/08/2016 19:48 0

Indonesia

Sidang Pembunuhan Mertua Daeng Koro: Dua Pengacara Menolak Jadi Kuasa Hukum Terdakwa

“Saya baru tahu hari ini setelah mendengar bahwa yang menjadi korban itu adalah tante saya ibu Nafisa, saya merasa kurang enak menjadi pengacara terdakwa,” ungkap pengacara itu.

Jum'at, 12/08/2016 19:35 0

Foto

Sadis! Begini Cara Iran Eksekusi Mati Tahanan

Cara seperti ini juga dilakukan oleh ISIS di Raqqah di Suriah dan Mosul di Irak.

Jum'at, 12/08/2016 19:00 0

Close