... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Penerapan Al-Wala’ wal Bara’ dalam Pandangan Ahlussunnah

Foto: Al-Wala' Wal Bara'

KIBLAT.NET – Secara definisi, makna wala’ wal bara’ adalah kesesuaian antara keinginan seorang hamba dengan Rabbnya terhadap segala sesuatu; baik yang dicintai-Nya dan diredai-Nya atau pun yang dimurkai-Nya dan dibenci-Nya; baik berupa ucapan, perbuatan, keyakinan, dan terhadap person atau benda tertentu.

Wala’ wal bara’ merupakan salah satu di antara tuntutan syahadat yang diikrarkan oleh seorang mukmin. Ia adalah bagian dari makna kalimat tauhid, yaitu berlepas diri dari setiap sesuatu yang diibadahi selain Allah. Bagi seorang mukmin, ikatan wala’ wal bara’ merupakan ikatan iman yang paling kokoh yang dimiliki oleh dirinya. Sebagaimana yang ditegaskan oleh Nabi SAW dalam sabdanya:

“Sungguh katan keimanan yang paling kokoh adalah kamu mencintai karena Allah dan membenci karena Allah.” (HR. Ahmad)

Namun sayangnya, sebagian umat Islam masih ada yang salah kaprah dalam menerapkan konsep akidah yang satu ini. Sehingga tidak jarang hal tersebut menjadi pemicu timbulnya problem dalam tataran sosial. Di antara penyebabnya adalah munculnya penyempitan makna wala’ wal bara’ oleh sebagian kelompok. Siapa pun yang berada dalam jamaahnya maka harus didekati dan dicintai. Demikian pula sebaliknya, siapa pun yang berada di luar jamaahnya maka berhak untuk dimusuhi dan dijahui.

Lalu bagaimana seharusnya seorang mukmin menerapkan konsep wala’ wal bara’ dalam kesehariannya. Dan siapa sajakah yang layak dia cintai dan siapa pula yang layak dia musuhi. Berikut ulama ahlus sunnah wal jamaah menerangkan konsep akidah tersebut.

Konsep Wala’ Wal Bara’ Menurut Ahlus Sunnah Wal Jamaah

Dalam kitab Majmu’ Fatawa, Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyah menerangkan, “Seorang Mukmin harus bermusuhan karena Allah dan berteman karena Allah. Terhadap orang Mukmin lainnya, ia harus memberikan loyalitas meskipun ia menzaliminya. Sebab, kezaliman tidak bisa memutuskan pertemanan yang berdasarkan iman. Bukankah Allah Ta’ala telah berfirman:

وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا

‘Dan jika ada dua golongan dari orang-orang Mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya.’ (Al-Hujurat: 9).

Allah Ta’ala tetap menjadikan mereka bersaudara meskipun di antara mereka terjadi peperangan dan penzaliman, dan Allah Ta’ala tetap memerintahkan agar mendamaikan mereka. Oleh sebab itu, setiap Mukmin harus selalu ingat bahwa seorang Mukmin wajib dicintai dan dibantu meskipun ia menzalimi dan menyakitimu. Sebaliknya, orang kafir wajib dimusuhi meskipun ia memberi dan berbuat baik kepadamu.

Sesungguhnya Allah Ta’ala mengutus para Rasul dan menurunkan beberapa Kitab supaya seluruh agama hanya menjadi milik Allah. Dengan begitu, kecintaan hanya diberikan kepada wali-wali-Nya; dan kebencian hanya diberikan kepada musuh-musuh-Nya. Penghormatan dan penghargaan hanya diberikan kepada wali-wali-Nya; penghinaan dan siksaan hanya terhadap musuh-musuh-Nya.

BACA JUGA  Di Balik Pekik Takbir Bung Tomo

Apabila pada diri seseorang terhimpun kebaikan dan keburukan, kemaksiatan dan ketaatan, sunnah dan bid’ah, maka ia berhak dibantu, dicintai dan dihargai sesuai kadar kebaikan yang ada pada dirinya. Pada saat yang sama, ia juga berhak dimusuhi dan dihukum sesuai kadar keburukan yang ada padanya. Oleh sebab itu, boleh jadi pada diri seseorang terhimpun faktor-faktor yang membuatnya harus dihargai dan dihinakan sekaligus.

Sebagai contoh, seorang pencuri harus dipotong tangannya karena mencuri, namun di sisi lain ia disantuni dari baitul mal untuk mencukupi kebutuhannya. Inilah prinsip yang disepakati oleh Ahlus Sunnah wal Jamaah, tetapi orang-orang Khawarij dan Mu’tazilah serta orang-orang yang sejalan dengan mereka tidak menyetujuinya.” (lihat: Majmu’ Fatawa, XXVIII/208-209)

Mengingat al-wala’dan al-bara’ terbangun di atas pondasi cinta dan benci, maka dalam pandangan Ahlus Sunnah wal Jamaah, manusia terbagi menjadi tiga kelompok berdasarkan kadar cinta dan benci, al-wala’dan al-bara’ mereka, yaitu:

  1. Orang yang wajib dicintai secara utuh

Mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, dan teguh menjalankan kewajiban-kewajiban Islam serta teguh menegakkan pondasi-pondasinya yang agung dengan ilmu dan keyakinan. Di samping itu, mereka senantiasa mengikhlaskan seluruh amal, perbuatan, dan perkataannya hanya untuk Allah. Tunduk kepada seluruh perintahNya, dan menjauhi larangan-Nya serta larangan Rasul-Nya.

Mereka mencintai karena Allah, ber-wala’ karena Allah, membenci karena Allah, dan memusuhi juga karena Allah. Mereka lebih mendahulukan perkataan Rasulullah SAW daripada perkataan seseorang, siapa pun dan bagaimana pun dia.

  1. Orang yang dicintai dari satu sisi dan dibenci dari sisi yang lain

Yaitu Muslim yang mencampur perbuatan baik dan perbuatan buruk. Orang yang seperti ini harus diberi wala’sesuai kadar kebaikan yang ada padanya, namun di sisi lain juga harus dibenci dan dimusuhi sesuai kadar keburukan yang ada padanya. Apabila hati seseorang tidak menerima ketentuan ini, maka ia lebih banyak merusak daripada memperbaiki.

Berikut ini Abdullah bin Himar, seorang shahabat Rasulullah nyang masih suka minum khamr. Ketika dihadapkan kepada Rasulullah, ada orang yang melaknatnya, “Betapa banyak (dosa) yang telah ia perbuat.” Kemudian Rasulullah bersabda, “Jangan melaknatnya, karena sesungguhnya ia masih mencintai Allah dan Rasul-Nya.” (HR.Bukhari)

Padahal dalam riwayat lain Rasulullah SAW telah melaknat khamer, peminumnya, penjualnya, pemerasnya, yang minta untuk diperaskan, pembawanya dan yang meminta untuk dibawakan. (HR Abu Daud dan Ibnu Majah).

  1. Orang yang dibenci secara utuh

Yaitu orang yang kafir kepada Allah, Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, dan hari akhir serta tidak beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk, serta tidak mau memercayai bahwa semua yang ada itu terjadi atas qadha’ dan qadar Allah. Mengingkari hari kebangkitan setelah kematian. Atau meninggalkan salah satu rukun Islam yang lima.

BACA JUGA  Isu Radikalisme Ibarat Menggaruk yang Tak Gatal

Dengan demikian, Ahlus Sunnah wal Jamaah ber-wala’ dengan perwala’-an yang sempurna kepada Mukmin yang lurus mengikuti agamanya; mencintai dan menolongnya dengan pertolongan yang sempurna pula. Di sisi lain, Ahlus Sunnah wal Jamaah berlepas diri dari orang-orang kafir, ateis, musyrik, dan murtad. Mereka memusuhi dan membenci mereka dengan permusuhan dan kebencian yang sempurna pula.

Adapun bagi orang yang mencampur amal saleh dengan amal buruk, maka Ahlus Sunnah wal Jamaah memberikan wala’nya kepadanya sesuai kadar keimanan yang dimilikinya, dan memusuhinya sesuai kadar keburukan dan kejahatan yang dilakukannya.

Dalam kesempatan yang berbeda, Ibnu Taimiyyah menerangkan lebih lanjut bahwa ikatan wala’ wal bara’ harus dibangun atas dasar petunjuk wahyu itu sendiri dan tidak diikat atas dasar kelompok atau jamaah tertentu. Beliau berkata, “Pujian dan celaan, kecintaan dan kebencian, persahabatan dan permusuhan itu dilakukan berdasarkan sesuatu yang dengannya Allah menurunkan kekuasaan-Nya. Dan yang dimaksud “kekuasaan-Nya” adalah Kitab-Nya. Maka barang siapa yang beriman, wajib dibantu dan dicintai tanpa memedulikan dari kelompok mana pun ia. Sebaliknya, barang siapa yang kafir, maka wajib dimusuhi dan dibenci tanpa mempertimbangkan dari golongan mana pun ia.” Lalu Ibnu Tamiyah menyentil beberapa ayat dari Al-Qur’an, di antaranya:

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman setia(mu), mereka satu sama lain saling melindungi.” (Al-Ma’idah: 51).

“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain.” (At-Taubah: 71).

Kemudian beliau berkata, “Barang siapa yang dalam dirinya terhimpun keimanan dan kefajiran, maka wala’ diberikan kepadanya sesuai dengan kadar keimanannya. Dan di sisi lain, ia juga dibenci sesuai dengan kadar kefajirannya.” (Majmu’ Fatawa, 28/209)

Demikianlah keterangan dari para ulama tentang bagaimana seharusnya kita dalam menerapkan akidah wala’ wal bara’. Semoga dengan memahami petunjuk di atas, kita mampu membedakan siapa kawan yang harus kita cintai dan siapa lawan yang harus kita musuhi. Sehingga penerapan konsep wala’ wal bara’ dapat mengokohkan tali keimanan kita serta memperkuat tali persaudaraan kita di  antara sesama muslim. Wallahu A’lam bi Shawab!

Penulis : Fakhruddin

Disadur dari kitab “Wala’ Wal Bara’ Fil Islam” Karya Muhammad bin Sa’id al-Qahthani

 

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Afrika

Kehadiran Militer Barat dan Eropa Kian Meningkat di Libya

Sumber Arabi21 di barisan pasukan Khalifa Haftar beberapa pekan lalu mengungkapkan bahwa pertempuran di Libya adalah “pertempuran minyak”. Seperti diketahui, katanya, Italia dan Prancis memiliki perusahaan minyak di daerah tersebut.

Jum'at, 12/08/2016 09:26 0

Suriah

15 Militan Syiah Hizbullah Meregang Nyawa di Aleppo

Dengan demikian, menurut sumber Al-Jazeera, total anggota Hizbullah yang tewas di Aleppo dalam sepekan terakhir bertambah menjadi 15 militan. Para aktivis juga menyebutkan nama ke-15 militan tersebut di internet.

Jum'at, 12/08/2016 08:50 0

Irak

Pemimpin Senior ISIS Dikabarkan Tewas Dalam Perebutan Minyak di Irak

KIBLAT.NET – Pasukan koalisi militer Irak, Kurdi, dan Amerika, menewaskan seorang pemimpin senior ISIS saat...

Jum'at, 12/08/2016 08:37 0

Suriah

Khawatir Blokade Terulang, 15 Dokter Aleppo Minta AS Campur Tangan

KIBLAT.NET – Dokter-dokter Suriah di distrik oposisi Aleppo mengirim pesan kepada AS, atas ketidakpeduliannya dalam...

Jum'at, 12/08/2016 08:16 1

Video Kajian

Bedah Buku: Mengenal Ahlus Sunnah Wal Jamaah

KIBLAT.NET – Banyak kita dengar istilah Ahlus Sunnah Wal Jamaah dirongrongkan oleh banyak kelompok. Merekapun...

Jum'at, 12/08/2016 07:33 0

Afghanistan

Militer Afghanistan Klaim Berhasil Hadang Taliban di Helmand

“Kami berhasil mengamankan daerah di sekitar kota Lashkar Gah. Distrik Nawa yang terletak sangat strategis juga direbut pasukan nasional Afghanistan,” klaim juru bicara Dephan Afghanistan, Daulat Waziri, seperti dilansir Al-Jarida, Kamis.

Jum'at, 12/08/2016 07:24 0

Turki

Erdogan Ultimatum AS: Turki atau FETO [Teroris]

KIBLAT.NET – Presiden Recep Tayyip Erdogan memberi ultimatum kepada AS dan mengulang permintaan Ankara untuk...

Jum'at, 12/08/2016 06:55 0

Turki

Turki dan Rusia Setuju Presiden Suriah Berikutnya Harus Inklusif

"Kami berpikir sama seperti Rusia pada masa depan Suriah. Pemerintah selanjutnya di Suriah harus inklusif dan mencakup semua orang," katanya, menambahkan pemerintahan baru di Suriah, "harus menjadi sekuler."

Jum'at, 12/08/2016 05:42 0

Suriah

Militer Suriah Jatuhkan Birmil Bercampur Gas Beracun di Aleppo

Sumber medis meyakini itu merupakan serangan gas beracun. Hal itu dilihat dari bau dan kondisi para korban.

Kamis, 11/08/2016 21:00 0

Suriah

Rusia Umumkan Gencatan Senjata Palsu di Aleppo

Muhammad Rasyid, juru bicara faksi Jaisyul Anshar mengatakan militer Suriah dibantu serangan udara Rusia terus bergerak Kamis pagi menyerang posisi pejuang. Hal itu dikatakannya saat ditanya pada pukul 10.45, atau waktu gencatan senjata yang diumumkan Rusia.

Kamis, 11/08/2016 20:04 0

Close