... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Ini Jihad Santo

Foto: Santoso

KIBLAT.NET – Sore itu masihlah sore yang sama dengan yang lalu-lalu. Lima tahun sudah berlalu, namun hutan Gunung Biru masih saja tak bersikap ramah kepada mereka. Tak pernah dia sajikan untuk mereka sebuah sore yang indah, sebuah sore yang menyisipkan ketenangan dan ketentraman dalam jiwa-jiwa yang hidup sebelum menjalani istirahat malamnya.

Sore bagi mereka adalah metafora. Memperbincangkan sore dengan mereka akan seperti memperbincangkan berapa jumlah awan yang akan melintas besok sore, atau berapa jumlah semut yang tenggelam hari ini, tak lagi bermakna. Bagi mereka sore hanyalah sebuah titik transisi warna alam, dari yang serba cerah menuju yang serba gelap. Kini rasa takjub tak lagi sendiri, kengerian, kepedihan, dan kegetiran telah menjajah dan mencabik-cabik jiwa mereka. Setiap sore kepala mereka selalu diteror oleh pertanyaan yang sama.

“Apa lagi hari ini ? Siapa lagi hari ini?
Sedang apa kita di sini ? Sudah benarkah kita di sini?”

Sejak tahun 2011, puluhan orang memutuskan untuk naik ke kawasan hutan yang belum terjamah manusia di kaki Gunung Biru. Mereka tak cuma membawa keluarga, harta benda, dan senjata. Mereka juga membawa sejuta tanya dalam kepala, yang sebagian besarnya diawali dengan kata “kenapa”, yang kesemuanya berujung pada satu kata; keadilan. Di sinilah mereka mempertanyakan keadilan, berharap menemukan jawabannya di tengah rerimbunan pohon yang belum terjamah tangan.

Sore itu kengerian serta kepedihan semakin menyelimuti mereka. Tak terkecuali Santo sang pimpinan, dia yang biasanya memompa semangat anak buahnya untuk tetap pantang menyerah, sore itu justru tampak seperti orang yang akan paling gampang menyerah. Dipeluk erat-erat M16 rakitan kesayangannya, ingatannya kembali menerawang, mejelajah menuju masa-masa yang telah dilaluinya, momen-momen serta peristiwa yang membawanya ke tengah-tengah hutan ini.

Rasa bangga kembali memenuhi rongga dadanya. Sepuluh tahun lalu dirinya harus menghuni sebuah sel pengap, karena aksinya bersama M, F, G, dan U dalam sebuah kasus penembakan mobil box di Sausu. Kini mereka sudah tak menemaninya, M telah menjadi kontraktor bonafid di Poso yang dikenal sebagai anak emas penguasa Poso periode lalu. Sementara F, G dan U masih setia mengurus beberapa pohon cokelat di Poso Pesisir, dan Santo malah terjebak di hutan ini. Terjebak bersama mimpinya yang bahkan Santo sendiri tak tahu kapan akan terwujud.

Hari semakin sore. Sisa-sisa air wudhu di pipi Santo kini telah bercampur dengan keringat yang mengalir semakin deras. Disekanya keringat di dahi dengan lengan kanannya, lengan kirinya masih erat memeluk M16 rakitan itu.

Dipandanginya satu persatu anak buahnya, kesetiaan anak buahnya selalu memancing dilema. Terkadang terbersit keinginan untuk menyerah mengakhiri semua ini, membiarkan mereka menempuh hidup yang lebih baik dan indah. Namun mereka tak jauh beda dengan dirinya, keindahan dan kebaikan hidup telah bergeser maknanya, setidaknya menurut kebanyakan manusia. Bagi mereka, kebaikan dan keindahan hakiki hanya akan hadir ketika keadilan ditegakkan.

Sebagai korban konflik horizontal Poso enam belas tahun silam, lelah sudah raga Santo menunggu datangnya keadilan yang tak kunjung mampir untuk sekedar mengetuk pintu rumahnya.

Pelaku pembunuhan terhadap belasan anggota keluarga Santo di Sintuwu Lemba seolah tak dapat dijangkau oleh hukum hingga hari ini. Demikian pula pembantaian di Buyung Katedo dan beberapa tempat lain di Poso, hingga kini para pelaku tetap berlenggang kangkung karena bisa mengangkangi hukum.

Kehadiran pejabat senior itu memang sempat memberi harapan kepada kaum muslimin di Poso. Meskipun tubuhnya pendek serta rambutnya mulai memutih terserang uban, namun nyalinya tinggi. Dia mencoba memediasi kedua pihak yang bertikai hingga terciptalah deklarasi Malino. Namun deklarasi tetaplah deklarasi, manis di mulut, nyaring di telinga, namun pahit dijalani.

Deklarasi Malino ditafsirkan secara keliru oleh berbagai pihak sehingga dijadikan sebagai sarana impunitas bagi pelaku kejahatan, padahal seingat Santo masih ada hukum yang berlaku di negeri ini, dia pernah membacanya dulu ketika masih duduk di bangku sekolah dasar. Kekecewaan demi kekecewaan akhirnya bertumpuk menjadi kesumat, namun kehidupan dunia tidak selalu matematis, selalu ada jawaban alternatif untuk setiap pertanyaan.

Kakek tua itu pun hadir, dengan penuh welas asih dia mengulurkan tangannya menawarkan bantuan kepada Santo. Seluruh penjuru negeri ini mengenal kakek tua itu, senyumannya selalu membuat malu pemuda muslim manapun yang masih malas berbuat dan berkorban untuk Islam, kata-kata yang terucap dari lisannya selalu seputih warna rambutnya, nasehat-nasehatnya tak pernah bengkok seperti punggung rentanya.

Tindak tanduk, ucapan, serta ungkapan yang bersumber dari sang kakek tua terakumulasi dalam sebentuk inspirasi yang merasuki jiwa Santo. Rasa takut mulai tercabut dari hatinya perlahan digantikan oleh semangat loyalitas yang dirasa sepadan, lagi-lagi demi keadilan.

Pembunuhan dua perwira polisi di Tamanjeka pada November 2012 bukanlah sebuah titik akhir, pembunuhan tersebut bagaikan sebuah sebab antara yang nantinya akan melahirkan akibat antara, lalu akibat tersebut kembali menjadi sebab. Begitu seterusnya hingga hembusan nafas terakhir.

Semenjak hari itu Santo memutuskan naik gunung, membangun basis kekuatan di pegunungan Tamanjeka. Pertempuran demi pertempuran melawan pasukan gabungan TNI-POLRI dilalui, korban tewas maupun luka dari kedua belah pihak tentu tak dapat dihindari. Seperti ucapan masyhur seorang tokoh, “Semakin kau hebat, semakin banyak pula pembencimu”. Tak jarang kaum muslimin di negeri ini yang gemar mencibir aktivitas kelompok pimpinan Santo, dicap sebagai kelompok teroris, anti nasionalis, bughat, dan tak lupa melakukan aksi kekerasan atas nama jihad.

Namun Santo tak acuh dengan hal-hal remeh seperti itu. Hanya kakek tua itu yang dia dengar, dua tahun lalu ketika kakek tua itu memutuskan untuk berbaiat kepada Daulah Khilafah pimpinan Caliph Ibrahim, kelompoknya pun memutuskan untuk bergabung juga. Sontak hal ini memicu segalanya menjadi lebih serius, lingkup peperangan tak lagi sebatas masalah nasional. Kini kelompoknya telah masuk dalam peta peperangan internasional.

Akhirnya pada 22 Maret 2016, menyusul sumpah setia yang dilakukannya kepada Caliph Ibrahim, Santo dikenakan sanksi oleh Departemen Keuangan Amerika Serikat. Sanksi ini secara garis besar adalah membekukan semua aset yang dimiliki atau yang berhubungan dengan Santo. Tentu saja hal itu tidak menciutkan nyali Santo, baginya ini hanyalah bagian kecil dari konsekuensi memperjuangkan keadilan. Yang perlu dilakukan hanyalah berjuang terus ke depan, Santo telah mencapai titik di mana sudah tidak ada lagi jalan untuk kembali.

Semua itu bukan hanya untuk dirinya semata. Semua untuk Sunil yang ditembak mati oleh oknum polisi di terminal Kasintuwu kota Poso, Ahmad Sutomo pemuda tujuh belas tahun yang tewas ditembak oleh oknum polisi juga di Mapane Poso Pesisir, Safruddin Buhaeli yang masih berusia enam belas tahun, harus meregang nyawa karena ditembak polisi di Bonesompe Poso Kota, begitu juga Amisudin yang wafat ditembak oknum polisi di Tabalu Poso Pesisir. Mereka ditembak mati tanpa sebuah alasan, mereka semua bukan pelaku kriminal, bukan teroris, bukan pula kelompok orang yang tergolong DPO.

Sore semakin mendekati sang malam, mentari mulai bersiap-bersiap terbenam. Keringat mulai bercucuran tak terkendali, tubuh Santo mulai gemetar tak beraturan. Dipeluknya M16 kesayangannya lebih erat, lalu ada dua orang pengikutnya yang berlari memasuki gubuknya. Dengan napas yang tersengal mereka mencoba berteriak, memberi peringatan kepada penghuni gubuk.

“MEREKA MENUJU KE SINI !!! TEMPAT PERSEMBUNYIAN KITA TELAH DIKETAHUI !!!”

Santo pun segera mengintruksikan seorang wanita dan tiga orang pria untuk bersiap menemaninya, dan dia menyuruh anggotanya yang lain untuk menyelamatkan diri ke tempat yang masih aman. Mereka berlima pun meneriakkan takbir lalu menerjang maju tanpa secuil pun rasa takut di hati mereka.

Pada tanggal 18 Juli 2016, tepatnya pukul 17.00 waktu indonesia bagian tengah. Terjadi baku tembak selama tiga puluh menit antara satgas Tinombala yang merupakan satgas gabungan TNI-POLRI dengan kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Abu Wardah Santoso. Baku tembak tersebut berakhir ketika timah panas menembus bagian perut dan punggung Santoso.

Sore telah berganti malam, mentari telah benar-benar tenggelam digantikan oleh bulan yang belum sempurna. Meskipun hari telah gelap namun angin tak pernah berhenti bertiup, dengan penuh kelembutan angin menghembuskan pesan ke segala arah, menyusup ke dalam rongga-rongga kalbu kaum muslimin, kalbu yang senantiasa indah dengan hiasan-hiasan dzikrullah. Malam itu angin menyampaikan pesan titipan dari Santo, yang tersenyum dalam kepergiannya.

 

Ditulis oleh: Rusydan Abdul Hadi, penulis kini aktif sebagai Sekjen lembaga dakwah mahasiswa Islam.


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Suriah

Rusia Imbau Warga Suriah Tinggalkan Aleppo Sebelum Dibombardir

KIBLAT.NET, Aleppo – Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu mengatakan pihaknya akan mengadakan operasi kemanusiaan besar...

Sabtu, 30/07/2016 13:25 0

Amerika

Jet Tempur AS Meledak di California, Pilot Tewas

Sebuah jet tempur F/A-18C Hornet jatuh dan meledak di dekat wilayah California, Amerika Serikat.

Sabtu, 30/07/2016 13:22 0

Indonesia

Kerusuhan Antar Etnis di Tanjungbalai, 8 Kelenteng dan 2 Vihara Dibakar Warga

KIBLAT.NET, Tanjungbalai – Berikut ini kronologis kerusuhan antara warga Tanjungbalai dengan masyarakat etnis Tionghoa pada...

Sabtu, 30/07/2016 13:09 0

Rohah

Wanita Mulia yang Syahid di Kediamannya

Nabi berkata kepadanya, “Wahai Ummu Waraqah, tinggallah di rumahmu. Allah akan memberi kesyahidan di rumahmu.”

Sabtu, 30/07/2016 13:00 0

Profil

Zainab Al-Ghazali, Srikandi Islam Asal Mesir (1/2)

Sebuah ketegaran dan ketegasan yang patut diteladani. Karakter seperti inilah yang akan mengantarkan Islam kembali pada kejayaannya. Selain kisah-kisah keberaniannya, wanita Mesir ini juga mempunyai cerita-cerita ketika mendapatkan karamah dari Allah. Siapakah gerangan wanita pemberani ini? Tokoh yang disebut-sebut syaikh Abdullah Azzam dalam ceramahnya ini adalah Zainab Muhammad Al-Ghazali al-Jibili atau lebih dikenal dengan nama Zainab Al-Ghazali.

Sabtu, 30/07/2016 11:46 0

Suriah

AS Selesai Bangun Pangkalan Militer di Utara Suriah

Pangkalan militer itu akan digunakan koalisi internsional pimpinan Amerika Serikat dalam pertempuran di Manbij

Jum'at, 29/07/2016 23:36 0

Suriah

Bashar Assad Tawarkan Pengampunan Bagi Pejuang Oposisi Jika Menyerahkan Diri

Pengampunan yang dijanjikan Bashar Assad itu tertuang dalam surat keputusan yang dikeluarkan pada Kamis (28/07)

Jum'at, 29/07/2016 20:49 0

Wilayah Lain

Partai Rakyat Denmark Usulkan Pelarangan Imigran Muslim

"Kita perlu jeda setelah serangan teroris baru-baru ini di Eropa," kata wakil presiden partai Soeren Espersen.

Jum'at, 29/07/2016 19:34 0

Yaman

Syiah Hutsi Resmi Jalin Aliansi dengan Mantan Presiden Yaman

Pemberontak Syiah Hutsi mengumumkan aliansi resmi dengan mantan presiden terguling Yaman, Ali Abdullah Saleh pada Kamis (28/07).

Jum'at, 29/07/2016 17:33 0

Turki

Erdogan Ingin Langsung Pegang Kendali Militer dan Intelijen Turki

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menginginkan angkatan bersenjata dan badan intelijen nasional secara langsung berada di bawah kendali presiden.

Jum'at, 29/07/2016 16:37 0

Close