... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Titian

Kapan Seorang Pemimpin Boleh Dilengserkan?

Foto: Ilustrasi

KIBLAT.NET – Dalam perspektif Islam, kepemimpinan (imamah) didefinisikan sebagai pelanjut tugas kenabian dalam menjaga eksistensi agama Islam dan mengatur urusan dunia dengan aturan hukum agama Islam. Seorang pemimpin harus memiliki komitmen untuk mewujudkan dua pokok tujuan di atas, yakni; menjaga eksistensi agama Islam dan mengatur urusan dunia (baca: mengambil kebijakan politik) sesuai dengan petunjuk agama Islam. (lihat: Al-Ahkamus Sulthaniyah, 1/ 3, Ghiyatsul Umam, hal. 15, Nihâyat al-Muhtaj ila Syarh al-Minhaj, 7/289)

Tanggung jawab pemimpin tidak hanya menjaga stabilitas negara sesuai dengan pandangannya semata. Lebih daripada itu, ia juga memiliki kewajiban pokok lain yang cukup mendasar, yaitu mewujudkan kesejahteraan rakyat sesuai tuntunan syariat Islam dan menjaga eksistensi Islam dari serangan musuh. Karena itulah kemudian umat Islam diperintahkan untuk berbaiat kepada imam (khalifah) dan dilarang keras memberontak kepadanya, selama imam mampu menjalankan tugasnya sesuai aturan hukum Islam.

Selama pemimpin menjalankan kewajiban yang dibebankan ke pundaknya, memiliki kemampuan untuk terus mengurus persoalan rakyak, dan berlaku adil kepada mereka, maka ia tidak boleh dimakzulkan dan rakyat tidak boleh memberontak terhadapnya. Demikian juga seorang Imam tidak boleh dimakzulkan karena kesalahan-kesalahan kecil. Sebab, kesempurnaan hanya milik Allah semata dan tidak ada satu pun yang terlepas dari kesalahan selain orang yang dijaga Allah.

Namun demikian, ada beberapa perkara besar yang apabila dilakukan oleh seorang pemimpin bisa menyebabkan kedudukannya harus dimakzulkan. Perkara besar yang dimaksudkan di sini adalah segala sesuatu yang bisa menghalangi terwujudnya tujuan dari kepemimpinan itu sendiri, serta dapat berdampak negatif pada eksistensi agama dan kemaslahatan hidup kaum muslimin. Di antara tindakan- tindakan tersebut ialah:

Pertama: Kafir dan Murtad dari Islam

Dalam hadits riwayat Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

دَعَانَا النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فَبَايَعْنَاهُ فَقَالَ فِيمَا أَخَذَ عَلَيْنَا أَنْ بَايَعَنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا وَأَثَرَةٍ عَلَيْنَا ، وَأَنْ لاَ نُنَازِعَ الأَمْرَ أَهْلَهُ إِلاَّ أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنَ اللهِ فِيهِ بُرْهَانٌ

“Kami membaiat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam untuk mendengar dan menaati baik kami dalam keadaan semangat maupun terpaksa, kami dalam keadaan sulit maupun lapang, bahkan atas para pemimpin yang mementingkan diri mereka atas diri kami, serta kami tidak akan merebut kekuasaan dari orang yang memegangnya.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Kecuali apabila kalian melihat kekufuran yang nyata dan kalian memiliki buktinya dari Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tekstual hadits di atas menunjukkan, ketika imam melakukan sesuatu yang menyebabkan kafir, ia wajib dipecat. Inilah kewajiban paling ringan bagi umat terhadap imam yang murtad atau kafir, karena pada dasarnya imam yang murtad wajib diperangi dan darahnya halal, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam dalam hadits riwayat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma,

مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ

“Siapa mengganti agamanya maka bunuhlah dia.” (HR. Bukhari)

Imam Yahya bin Syaraf An-Nawawi Asy-Syafi’i (wafat tahun 676 H) berkata, “Mencopot pemimpin karena kekufuran merupakan ijma’ para ulama. Maka wajib bagi setiap muslim untuk melakukan hal tersebut. Barang siapa yang mampu melakukannya, maka ia mendapatkan pahala. Barang siapa yang tidak mau melakukannya (padahal dia mampu), maka ia mendapatkan dosa. Dan barang siapa yang lemah (tidak memiliki kemampuan), maka ia harus berhijrah meninggalkan negeri tersebut.” (Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, 13/123)

Al-Qadhi Iyadh bin Musa Al-Yahshabi Al-Maliki (wafat tahun 544 H) menukil ijma’ tentang kewajiban melengserkan penguasa yang melakukan perbuatan kufur. “Para ulama telah berijma’ bahwa kepemimpinan (negara Islam) haram dilimpahkan kepada orang kafir. Jika di tengah masa jabatannya, seorang penguasa melakukan kekafiran, atau mengganti syariat, atau melaksanakan kebid’ahan (bid’ah kufriyah), maka kepemimpinannya gugur, ia tidak wajib ditaati,” jelas Imam Al-Qadhi.

“Maka wajib bagi umat untuk melengserkan penguasa tersebut dan menggantikannya dengan penguasa adil, jika mereka memiliki kemampuan.

Jika yang memiliki kemampuan untuk melengserkannya hanya sekelompok orang, maka kelompok tersebut wajib melengserkan penguasa kafir itu,” kata Al-Qadhi Iyadh lebih lanjut. (Shahih Muslim bi-Syarh An-Nawawi, 12/317-318)

Maka dari sini seluruh para ulama sepakat bahwa orang kafir tidak boleh diserahi kekuasaan atas muslim dalam keadaan apapun. (Ahkamu Ahli Dhimmah, hal. 237)

Kedua: Tidak Menegakkan Shalat

Pemimpin yang tidak menegakkan shalat, entah karena malas atau mengingkari kewajiban shalat, harus dicopot dari jabatan. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Auf bin Malik. Ia berkata, saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah pemimpin yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian.Kalian mendoakan mereka dan mereka mendoakan kalian. Seburuk-buruk pemimpin kalian adalah pemimpin yang kalian benci dan mereka membenci kalian. Kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian. Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bolehkah kita menyatakan perang kepada mereka ketika itu?’ beliau menjawab:

لَا، مَا أَقَامُوا فِيكُمُ الصَّلَاةَ لَا، مَا أَقَامُوا فِيكُمُ الصَّلَاةَ

‘Jangan! Selama mereka mengerjakan shalat di tengah-tengah kalian. Selama mereka menegakkan shalat di tengahtengah kalian’.” (HR. Muslim)

Makna hadits tersebut adalah ketika penguasa meninggalkan shalat, maka mereka boleh ditentang dan diperangi. Tetapi perlu diketahui perang merupakan cara terakhir untuk mencopot penguasa tersebut.

Ketiga: Tidak Menerapkan Hukum Allah

Pemimpin yang tidak menerapkan hukum Allah harus dicopot. Pemerintahannya tidak sah. Hal ini berdasarkan hadis dari Ummul Husain Al-Ahmasyiah bahwa dia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

إِنْ أُمِّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ مُجَدَّعٌ – حَسِبْتُهَا قَالَتْ – أَسْوَدُ يَقُودُكُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ تَعَالَى فَاسْمَعُوا لَهُ وَأَطِيعُوا

“Meskipun kalian dipimpin oleh seorang budak yang terputus hidungnya lagi hitam legam kulitnya, selama dia memimpin kalian dengan menerapkan Kitabullah, maka taatilah ia dan dengarkanlah ia!” (HR. Muslim)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا، وَإِنْ أُمِّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ مُجَدَّعٌ مَا أَقَامَ فِيكُمْ كِتَابَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Wahai umat manusia! Bertakwalah kepada Allah! Dengarlah dan taatilah pemimpin meskipun kalian dipimpin oleh seorang budak Ethiopia yang putus hidungnya, selama ia melaksanakan Kitab Allah di tengah kalian.” (HR. Ahmad)

Hadits ini jelas menunjukkan bahwa syarat untuk didengar dan ditaati adalah pemimpin yang mengatur pemerintahannya dengan Kitab Allah. Jika pemimpin tersebut tidak menegakkan syariat Islam maka dia tidak layak untuk didengar dan ditaati bahkan dia harus dicopot dan diganti.

Pernyataan Syaikh Abdullah bin Abdul Hamid Al-Atsari mengenai penguasa yang tidak menerapkan syariat Islam patut disimak. Pernyataan itu ditulis dalam bukunya Al-Wajiz fi ‘Aqidah As-Salaf Ash-Shalih Ahl As-Sunnah wa Al-Jama‘ah. “Adapun para pemimpin yang meniadakan syariat Allah dan tidak berhukum kepadanya, akan tetapi berhukum kepada selainnya, maka mereka tidak mendapatkan hak ketaatan dari kaum muslimin,” terang Syekh Abdullah bin Abdul Hamid

Tidak ada ketaatan bagi mereka dari rakyat, karena mereka menyia-nyiakan fungsi-fungsi imamah yang karenanya mereka dijadikan pemimpin dan berhak ditaati serta tidak diberontak. Karena,” ujar Syekh Abdullah, ”pemimpin tidak berhak mendapatkan itu, kecuali menunaikan urusan-urusan kaum muslimin, menjaga dan menyebarkan agama, menegakkan hukum, menjaga perbatasan, berjihad melawan musuh-musuh Islam setelah mereka diberidakwah, berwala’ kepada kaum muslimin, dan memusuhi musuh-musuh agama.”

Apabila dia tidak menjaga agama atau tidak menunaikan urusan-urusan kaum muslimin, maka hilanglah hak imamah darinya dan wajib atas umat— yang diwakili oleh ahlul halli wal aqdi dimana mereka menjadi rujukan dalam menentukan masalah seperti ini—untuk menurunkannya dan menggantinya dengan orang lain yang siap mewujudkan fungsi imamah,” jelas beliau lebih lanjut.

Keempat: Melakukan kefasikan, kezaliman, dan kebid’ahan

Orang fasik tidak layak menjadi pemimpin. ulama sepakat bahwa imamah tidak berlaku bagi orang fasik sejak awal. Al-Qurthubi berkata, “Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama bahwa haram mengangkat orang fasik sebagai pemimpin.” (Al-Qurtubi, Al-Jami’ Li Ahkami al-Qur’an, 1/270)

Namun jika imamah dipegang oleh imam adil, kemudian setelah itu ia berubah menjadi fasik, bagaimana hukumnya? Ulama berbeda pendapat terkait hal ini.

Sebagian berpendapat; imam fasik layak dipecat dan baiatnya batal. karena ketika imam berubah menjadi fasik, tujuan utama imamah hilang sudah. Al-Qurthubi menisbatkan pendapat ini pada jumhur ulama. Ia menyatakan, “Jumhur ulama berpendapat: Kepemimpinan imam fasik adalah batal dan ia dimakzulkan karena kefasikan. Sebab, seperti diketahui, seorang imam diangkat adalah untuk menegakkan hudud, menunaikan hak-hak, menjaga harta benda anak-anak yatim dan orang-orang hilang akal serta mengurus mereka. Maka, ketika seorang imam menjadi fasik, ia tidak bisa lagi menjalankan tugas-tugas tersebut.” (Al-Jami’ li Ahkamil Qur`an, 1/271)

Namun sebagian lain berpendapat; akad imamah tetap berlaku selama kefasikan tidak sampai meninggalkan shalat atau kafir. Al-Qadhi Iyadh berkata, “Mayoritas Ahlus Sunnah wal Jamaah dari kalangan fuqaha, ahli hadits, dan ahli ilmu kalam berpendapat bahwa imam tidak dimakzulkan karena kefasikan, kezaliman, dan pengabaian hak-hak. Tidak diperbolehkan memberontak imam karena kefasikan yang ia lakukan. Adapun hal yang harus dilakukan adalah menasihati dan membuat si imam takut.” (Syarh An-Nawawy ‘ala Shahih Muslim, 12/318)

Pendapat ini juga dikuatkan oleh Abu Ya’la dalam kitab Al-Ahkâm As-Sulthaniyyah,Kefasikan tidak menghalangi imam untuk terus memegang imamah, baik kefasikannya berkenaan dengan perbuatan anggota badan, seperti; melanggar larangan dan melakukan kemungkaran karena menuruti syahwat, ataupun berkenaan dengan keyakinan, maksudnya menakwilkan nash karena syubhat yang menyalahi kebenaran.” (Al-Ahkam As-Sulthaniyyah, Abu Ya’la, hal. 20)

Kelima: Cacat dari Segi Keberlangsungan Kerja

Hal ini terjadi karena pemimpin disetir atau ditawan. Jika pemimpin disetir oleh orang-orang yang di sekitarnya, namun masih bisa menjalankan pemerintahannya dengan adil maka dia tidak dicopot. Tetapi jika tugas-tugasnya terbengkalai, maka dia harus dicopot. Demikian juga jika pemimpin ditawan musuh maka ahlul halli wal ‘aqdi harus mengangkat pemimpin baru. Sebagaimana halnya jika terjadi kudeta maka pemimpin lama menjadi batal. (lihat: Al-Ahkam As-Sulthaniyyah, Al-Mawardi, hal. 20)

Keenam: Hilang Akal atau Mengalami Cacat Serius

Apabila seorang pemimpin mengalami cacat fisik ringan pada masa pemerintahannya, dia tidak boleh dicopot. Namun jika mengamali cacat fisik dalam kategori berat, dia harus dicopot. Misalnya hilang akal, buta, tuli, bisu atau hilangnya sebagian anggota badan yang dapat mengganggu kerja. (Lihat: Abdullah bin Umar bin Sulaiman Ad-Dumaiji, Al-Imamah Al-‘Uzhma ‘Inda Ahl As-Sunnah wa Al-Jama‘ah, hal. 468- 485)

Keenam poin di atas menunjukkan bahwa hak kepemimpinan hanya diberikan kepada sosok yang bisa mewujudkan tujuan dari kepemimpinan itu sendiri, yaitu menjaga eksistensi agama dan mengatur roda pemerintahan dengannya. Ketika seorang pemimpin menyimpang dan melakukan sesuatu yang bisa berdampak pada hilangnya kemaslahatan rakyat serta nilai-nilai hukum Islam dalam tatanan hidup masyarakat, maka ia boleh dilengserkan dan diganti dengan pemimpin lain yang lebih layak untuk mewujudkan pemerintahan yang adil sesuai dengan tuntunan Syariat Islam. Wallahu a’lam bish-shawab!

Penulis: Fakhruddin

Editor: Fauzan

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Ini Kronologi Kontak Senjata Tim Alfa 29 Raider dengan Santoso

“Ya, sebenarnya pekerjaan ini sudah mulai kita garap tanggal 9/07/2016 kemudian kita kejar terus dan dapat hari ini,”

Rabu, 20/07/2016 08:08 0

Indonesia

Polisi: Identifikasi Luar Pastikan Itu Jenazah Santoso

"Nah tadi, berdasar identisikasi luar atau identifikasi cici-ciri fisik yang satu bisa kita pastikan Santoso kemudian kita lakukan lagi identifikasi luar atau fisik dengan mengundang kerabat dan keluarga dan semua mengatakan itu adalah Santoso"

Rabu, 20/07/2016 07:24 0

Turki

Erdogan-Obama Bahas Kemungkinan Ekstradisi Fethullah Gulen

“Apakah Anda memiliki bukti ketika mengumpulkan para tersangka di Guantanamo? Mengapa Anda bersikeras meminta bukti tentang Fethullah Gulen, sedangkan insiden (upaya kudeta) sangat jelas, dan bukti-bukti terlihat dengan mata kepala? Sementara itu, Anda tidak pernah mencari bukti untuk Bin Laden."

Rabu, 20/07/2016 06:34 0

Video Kajian

Sabar Dalam Taat (Ust. Abu Rusydan) Bag 1

KIBLAT.NET – Derajat sabar yang paling tinggi adalah sabar atas taat kepada Allah SWT. Yaitu...

Rabu, 20/07/2016 06:05 0

Qatar

Pesan Yusuf Al-Qaradawi Untuk Rakyat Turki Dalam Kudeta

Ketua Persatuan Ulama Muslim Dunia itu menulis akun resminya di Twitter: "Saya menyerukan kepada rakyat Turki untuk terus ribath di lapangan untuk menyempurnakan kemenangan .. dan kesedihan berlalu."

Rabu, 20/07/2016 05:47 1

Palestina

Bantuan Kemanusiaan Turki untuk Gaza Mulai Disalurkan

KIBLAT.NET, Gaza – Kementerian Urusan Sosial Palestina mulai mendistribusikan bantuan kemanusiaan dari Turki. Dimulai pada...

Selasa, 19/07/2016 23:25 0

Indonesia

Suhardi Alius akan Dilantik Sebagai Kepala BNPT

KIBLAT.NET, Jakarta – Komisaris Jenderal Pol Suhardi Alius dikabarkan akan dilantik sebagai kepala Badan Nasional...

Selasa, 19/07/2016 23:02 0

Indonesia

Wakaops Tinombala: Basri dan Istri Santoso Berhasil Lolos dari Penyergapan

KIBLAT.NET, Poso – Pihak keluarga dan kerabat jenazah yang ditembak di Poso telah mengkonfirmasi kedua...

Selasa, 19/07/2016 22:19 1

Suriah

160 Warga Sipil Suriah Terbunuh oleh Serangan Udara Koalisi AS

KIBLAT.NET, Manbij – Rakyat sipil Suriah tak hanya menjadi sasaran pasukan tempur rezim dan Rusia....

Selasa, 19/07/2016 21:20 0

Turki

Erdogan Bantah Tudingan Kudeta Hanya Sandiwara

KIBLAT.NET, Ankara – Paska upaya kudeta gagal yang dilakukan oleh sekelompok kecil tentara Turki, muncul...

Selasa, 19/07/2016 20:47 0

Close