Pencuri yang Pandai Berdalil

KIBLAT.NET – Imam Ibnul Jauzi meriwayatkan dengan sanad shahih sampai ke Ahmad bin Al-Mu’addil Al-Basri. Ia mengatakan, “Saya sedang menuju hutan yang terpencil di mana saya memiliki kebun di dalamnya. Ketika berada cukup jauh dari rumah-rumah warga, saya didekati seorang pencuri.

Ketika duduk di sebuah kebun, seseorang datang dan berkata:

Dia berkata, ‘Serahkan pakaianmu!’

Saya berkata (sambil mencoba untuk memberontak), ‘Mengapa saya harus menyerahkan pakaianku?’

Dia berkata, ‘Aku lebih berhak terhadap pakaian itu daripada dirimu.’

‘Mengapa?’

Dia berkata, ‘Karena saya adalah saudaramu. Engkau berpakaian, sedangkan aku tidak.’

‘Kalau begitu, saya akan memberimu uang.’

Dia berkata, ‘Tidak, yang saya butuhkan adalah pakaianmu. Sama seperti yang engkau kenakan.’

‘Kau ingin diriku telanjang dan menampakkan auratku?’

Dia berkata, ‘Tidak ada yang salah dengan hal ini (telanjang jika sendirian). Imam Malik meriwayatkan bahwa itu diperbolehkan bagi seorang pria untuk mandi dalam keadaaan telanjang.’

Saya berkata, ‘Tetapi, nanti orang-orang akan melihatku telanjang.’

Dia berkata, ‘Tidak ada orang di jalan ini. Setelah ini, aku pun akan pergi.’

‘Kau tampaknya cerdas. Kalau begitu saya akan pergi ke kebun, melepas pakaianku, dan memberikannya kepadamu.’

Dia berkata, ‘Tidak. Kau pasti ingin lari kemudian pelayanmu akan membawaku kepada Sultan (raja) yang akan memenjarakanku. Ia akan merobek kulitku, juga merantai kakiku.’

‘Tidak, saya bersumpah. Saya akan memenuhi janjiku dan tidak akan membahayakan dirimu.’

Dia mengatakan, ‘Tidak. Imam Malik meriwayatkan bahwa sumpah yang diberikan kepada pencuri tidak harus dipenuhi.’

‘Saya bersumpah bahwa saya tidak akan menggunakan sumpah saya untuk menipumu.’
Dia mengatakan, ‘Sama saja. Itu adalah sumpah yang diberikan kepada pencuri.’

‘Sudahlah, kita berhenti berdebat, izinkan saya pergi ke kebun dan saya berjanji akan memberikan pakaian ini dengan niat baik dan tidak ada niat jahat.’

Lalu, si pencuri berpikir sejenak dan berkata, ‘Apakah kau tahu apa yang kupikirkan?’

‘Tidak.’

Dia berkata, ‘Saya berpikir tentang kasus pencurian pada zaman Nabi hingga saat ini. Saya tidak ingat ada seorang pencuri yang mencuri dengan cara ini (memberi jeda waktu antara memalak dan menerima barang curian). Saya benci untuk berbuat bid’ah (yang tidak terdapat) dalam Islam, sebab saya akan menanggung dosanya pada hari Pembalasan. Oleh karena itu, serahkan pakaianmu, sekarang juga!’”

Penulis : Dhani El_Ashim

Diambil dari http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=118606

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat