Eye In The Sky: Kabut Gelap Operasi Drone Amerika

KIBLAT.NET – Tahun 2016 ini, Hollywood baru saja merilis film fiksi berjudul “Eye in the Sky”. Ini merupakan film yang bercerita mengenai pengintaian yang dilakukan oleh militer Inggris untuk mengintai gerak gerik militan Muslim di Kenya. Operasi ini dilakukan dengan menggunakan sebuah drone rahasia yang bisa dipersenjatai dengan peluru kendali. Petinggi militer Inggris, Kolonel Katherine Powell (diperankan oleh Helen Mirren) memimpin operasi ini dari London serta melibatkan pilot Amerika di ruang kendali drone di Texas, AS, yang bernama Steve Watts (diperankan Aaron Paul).

Awalnya, misi yang akan dilakukan adalah melakukan penangkapan terhadap para militan yang disebut sebagai teroris, namun semua berubah ketika Kolonel Katherine Powell menemukan bahwa mereka ingin melakukan aksi bom bunuh diri. Film tersebut menceritakan tentang operasi intelijen yang melibatkan tiga negara dengan kecanggihan teknologi masa kini. Konflik terjadi ketika Kolonel Powell harus mengalami proses berliku untuk mendapatkan legitimasi menghancurkan sasaran dengan menembakkan rudal yang dibawa drone. Baiklah, Hollywood bisa bikin film apa saja, tapi bagaimana cerita sesungguhnya soal drone di alam nyata?

Eye in the Sky Whussa 2016

Pada 1 Juli 2016, Pemerintah Obama baru saja merilis angka-angka jumlah korban akibat serangan drone negara adidaya tersebut yang dilancarkan selama kurun waktu 2009 hingga 2015. Laporan itu memberi kesan seolah-olah pemerintah AS sudah bertanggung jawab memenuhi transparansi dan akuntabilitas publik dengan memberikan data yang mendekati kenyataan.

Washington mengumumkan bahwa selama dua periode pemerintahan Obama, serangan drone di berbagai negara termasuk Iraq, Afghanistan, dan Suriah telah memakan korban sipil non-kombatan antara 64 dan 116 orang. Ini adalah angka maksimal korban sipil yang diakui, sementara korban dari kalangan militan diklaim sebanyak 2.581 orang.

BACA JUGA  Hakim Tunggal Anggap Penahanan dan Penersangkaan HRS Sah

Di samping merilis angka resmi jumlah korban, Presiden Obama juga mengeluarkan sebuah ‘executive order’ yang dampaknya secara efektif memerintahkan kepada presiden berikutnya untuk melakukan seperti apa yang telah ia (Obama) lakukan. Bahkan, Obama juga mempublikasikan data tersebut sebagai pijakan dasar pengambilan keputusan perang ke depan.

Meskipun banyak pihak merasa skeptis dengan kecilnya angka tersebut –terutama jumlah korban sipil yang diakui, namun ini adalah sebuah perubahan yang luar biasa. Selama bertahun-tahun, berbagai media dan kelompok-kelompok hak asasi manusia terus mencari informasi mahal semacam ini. Sebelumnya, Washington selalu menolak membeberkan data tersebut dengan dalih untuk menjaga keamanan nasional.

Alih-alih mau secara terbuka memberikan data rinci mengenahi jumlah korban, justru pemerintah AS malah membocorkan sejumlah detil mengenahi keterlibatan pribadi Presiden Obama dalam proses membuat keputusan serangan drone.

Saat itu, publik Amerika diminta untuk mempercayai presiden mereka yang juga seorang profesor hukum. Dengan demikian, publik jadi tahu bahwa ia (Obama) bukan hanya seorang pembunuh kejam berdarah dingin, namun juga memposisikan dirinya sebagai hakim tukang vonis, juri penilai, sekaligus sebagai eksekutor yang berlumuran darah.

Dilema Obama
Dilema Obama

Preseden berbahaya
Pengumuman tanggal 1 Juli itu barangkali merupakan cerminan bahwa Obama tidak mempercayai penggantinya sebagaimana yang ia yakini selama ini. Tidaklah penting bagaimana orang melihat kredibilitas dan akurasi data itu, karena satu hal yang pasti bahwa “presiden tidak punya kewenangan untuk membunuh orang lain secara rahasia.”

Faktanya, Obama telah menciptakan preseden berbahaya di mana dengan kebijakannya itu ia melancarkan serangan-serangan mematikan secara rahasia dalam suatu arena pertempuran global yang areanya meluas dari Pakistan, Yaman, Somalia, dan mungkin juga ke wilayah-wilayah lain yang kita tidak tahu. Kini, Washington mulai membongkar warisannya sendiri yang berbahaya.

BACA JUGA  Ustadz Abu Bakar Baasyir Bebas Jumat Pekan ini

Adanya ‘executive order” baru itu berarti akan mempersulit presiden berikutnya jika mau membunuh dengan cara yang rahasia sama sekali. Setelah Obama meninggalkan Gedung Putih nanti, pengaruh kebijakannya akan tetap terasa kecuali jika presiden selanjutnya membatalkan perintah itu.

Namun demikian, pemerintah AS harus tetap berkomitmen untuk merilis jumlah korban setiap tahun, dengan konskuensi bagi presiden berikutnya adanya kewajiban menjelaskan alasan detil kepada Kongres yang barangkali akan bersikap kritis, atau sekedar haus informasi tentang bagaimana lembaga eksekutif atau pemerintahan itu melaksanakan operasi kontra-terorisme.

Justifikasi Sesat Operasi Rahasia
Pengumuman tanggal 1 Juli itu barangkali akan berdampak juga pada puluhan negara-negara lainnya yang sudah mengantre untuk mendapatkan teknologi drone. Penggunaan teknologi mesin pembunuh secara berlebihan oleh Obama selama tujuh tahun terakhir telah menciptakan sebuah preseden terjadinya bencana secara global, bahwa “penggunaan teknologi baru senjata pembunuh telah dijadikan pembenaran untuk membunuh secara rahasia dengan tidak menghormati hukum internasional”.

Berbagai perkembangan hari ini merupakan sebuah tambahan, namun tetap menjadi langkah penting bagi kita untuk menjauhkan gagasan bahwa teknologi baru bisa dijadikan justifikasi bagi operasi rahasia. Di balik kecanggihan teknologi drone terdapat sisi gelap bahwa data yang digunakan bisa sama sekali menyesatkan, sekaligus dijadikan dasar legitimasi bagi pembunuhan yang tidak sah.

Sementara, lembaga-lembaga non pemerintah termasuk Amnesty Internasional belum mengkompilasi seluruh data pembunuhan oleh drone, kita melihat paparan sang presiden yang juga profesor hukum tersebut, paling maksimum, hanyalah satu bagian dari kebenaran dan tidak mencerminkan kebenaran secara keseluruhan.

Artikel bersambung | Baca lanjutannya (Drone Amerika Bunuh Ribuan Orang, Apa Dasar Hukumnya?)

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat