... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Jahatkah Syariat Jihad?

KIBLAT.NET – Orang mungkin lupa, bahwa urgensi belajar dan mengamalkan jihad itu seperti urgensi belajar dan mengamalkan tata cara mengurusi jenazah. Hukum memandikan jenazah, mengafani, menyolatkan dan menguburkannya adalah fardhu kifayah. Artinya, jika ada seorang Muslim yang meninggal dunia, maka harus ada di antara orang yang tinggal di situ—baik anggota keluarga si mayit sendiri atau tetangganya—yang mengurusi prosesinya hingga sampai penguburan.

Kalau sudah ada yang mengurusi, maka tetangga-tetangga yang lain telah gugur kewajibannya. Mereka tidak lagi berdosa karena si mayit sudah menerima haknya dari yang masih hidup. Namun kalau tidak ada yang peduli, dibiarkan begitu saja, maka semua orang yang tinggal di sekitar rumah si mayit akan berdosa. Pun demikian adanya syariat jihad. Hukum minimalnya adalah fardhu kifayah dan dalam kondisi-kondisi tertentu bisa berubah-ubah menjadi fardhu ‘ain.

Jika musuh menyerang wilayah tertentu, maka umat Islam yang tinggal di wilayah tersebut berkewajiban untuk mengangkat senjata demi menghadapi musuh. Dan, jika kekuatan Muslim sudah mampu mengalahkan musuh, maka kewajiban itu sudah tertunaikan. Artinya, umat Islam di belahan wilayah lainnya tidak terbebani untuk turut berjihad.

Sebaliknya, ketika kekuatan mereka belum mencukupi untuk mengusir musuh, maka kewajiban tersebut melebar kepada kaum Muslim yang tinggal di wilayah paling dekat dengan mereka. Demikian seterusnya hingga musuh benar-benar dapat dikalahkan. Kalau tidak ada yang peduli dengan kondisi wilayah yang diserang dan membiarkan saudara mereka terbunuh serta wilayahnya dikuasai musuh, maka dosanya akan terus melekat pada setiap Muslim selama belum ada yang berusaha untuk melawan musuh.

Tema jihad adalah salah satu bagian tak terpisahkan dari ajaran Islam. Ia merupakan salah satu konsekuensi dari konsep akidah al-wala` wal-bara` (loyalitas dan anti-loyalitas). Dalam ranah fikih, ketika kita mempelajari buku-buku fikih dalam bab-bab ibadah, muamalah (keperdataan), uqubat (kepidanaan), ahwal syakhshiyah (hukum keluarga), siyasah syari’yyah (ketatanegaraan), dan hukum internasional, pasti dalam lembaran-lembarannya kita akan sampai juga pada pembahasan mengenai jihad.

Karena pada dasarnya syariat jihad ini merupakan salah satu instrumen pendobrak rintangan-rintangan dakwah. Maka sangat wajar jika pihak-pihak yang berperan sebagai penghalang dakwah merasa gentar, khawatir dan berusaha mengeliminasi doktrin ini dari tubuh umat Islam. Saking takutnya, mereka mengalami jihadophobia, ketakutan yang sangat berlebihan terhadap jihad.

Namun anehnya, kini, penyakit alergi jihad itu justru menjangkiti umat Islam sendiri. Jika mau diurai, memang faktornya banyak sekali dan saling berkelit-berkelindan. Salah satu faktor eksternalnya bisa jadi adalah transfer ketakutan terhadap jihad dari orang-orang kafir kepada umat Islam. Upaya ini sangat efektif menjadikan sebagian umat Islam menolak mentah-mentah ajaran jihad. Tak berhenti sampai di situ, mereka juga menuduh jihad sebagai jahat, keji, bengis, intoleran dan sederet istilah lainnya yang membuat jihad terkesan bertolak belakang dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Apalagi, untuk konteks hari ini, jihad seakan melekat dan identik dengan ajaran teroris dan kaum radikal yang kejam. Hal ini membuat orang Islam tidak mau bahkan untuk sekedar belajar mengenai apa itu jihad. Itu karena mereka sudah antipati dan alergi terlebih dahulu mendengar kata jihad disebut. Ini adalah satu indikasi ketika mental kaum Muslim telah terbajak oleh hasutan musuh yang ingin menyudutkan Islam dengan mengaburkan ajaran jihad.

BACA JUGA  Umat Islam dan Sejarah 1965

Jihad Adalah Wujud dari Rahmatan lil a’lamin

Semestinya, kita harus jujur melihat bahwa adanya syariat jihad justru merupakan suatu rahmat tersendiri dari Allah bagi umat Islam, bahkan bagi orang-orang non-Islam. Sebab, jihad mengatur dengan detail tentang tata aturan teknis dalam perang. Sehingga adab, etika dan aturan dalam jihad akan dapat meminimalisasi korban perang atau bahkan mampu meniadakan tindakan-tindakan berlebihan, liar, brutal, sembarangan dan seenaknya sendiri yang sangat mungkin terjadi dalam suatu pertempuran.

Uniknya, aturan berperang secara detail ini hanya dimiliki oleh Islam dan tidak dimiliki oleh agama lain. Jika mau jujur, dalam sejarah umat manusia, agama-agama atau ideologi selain Islam yang katanya ‘tidak mengajarkan kekerasan’—sebagaimana mereka menuduh Islam sebagai agama pro-kekerasan karena mengajarkan jihad—ternyata korban kekejaman dan kejahatan mereka sungguh di luar batas akal sehat.

Sebut saja kaum Nazi di Jerman, Polpot dengan Khmer Merah-nya, pasukan Amerika Serikat yang kerapkali melakukan serangan-serangan jarak jauh—drone, misalnya—yang menelan korban ratusan ribu kaum Muslim tanpa dosa di kawasan Irak, Afghanistan, Yaman, Pakistan dan sebagainya. Atau, kekejaman koloni Amerika dari Eropa yang memusnahkan suku asli Indian di awal kedatangan mereka di benua Amerika.

Belum lagi dokumentasi kekejaman kaum penganut Syiah di Iran yang seenaknya membunuhi warga dan ulama Muslim, kebengisan Syiah Nushairiyah rezim Assad yang membantai ratusan ribu Muslim Syria, ethnic cleansing terhadap Muslim Bosnia, aksi-aksi brutal tentara penjajah Zionis Israel terhadap warga Muslim Palestina, serta deretan kekejaman lainnya yang memenuhi lembar-lembar kelam sejarah kemanusiaan.

Apalagi kalau mau menelusup ke belakang, ke sejarah gelap bangsa Tartar yang membantai kaum Muslim di setiap negeri yang mereka singgahi. Salah satu kisah pilu yang direkam sejarah ialah gambaran kebrutalan mereka ketika menumpahkan darah umat Islam di Baghdad hingga banjir darah menggenangi jalanan kota setinggi lutut kuda. Apalagi kalau sudi kiranya sejenak mengingat kekejaman penjajah Belanda di negeri tempat kita tinggal ini. Pastilah bertambah panjang saja daftar yang harus kita siapkan. Terlalu panjang dan melelahkan untuk diungkapkan memang.

Sementara, berkebalikan dengan itu semua, ketika pasukan Islam memasuki sebuah wilayah, bisa dilihat hasil kerja mereka. Alih-alih mengeksploitasi, mereka justru membangun dan memakmurkan wilayah tersebut. Membangun sumber daya manusia sekaligus alamnya. Sejarah berbicara demikian. Kalau mau jujur, itu adalah berkah syariat jihad yang sekarang ini banyak dicela dan dicibir. Berkah kekuatan pedang (besi, al-hadid) yang mengawal perjalanan ajaran luhur Al-Kitab (Al-Quran).

Makanya, selama ini, tidak ada orang yang menyebut ekspansi tentara Islam di wilayah-wilayah baru sebagai ‘penjajahan’. Sebab, mereka menyaksikan sendiri bagaimana Islam menyebar dari Jazirah Arab ke kawasan utara Afrika terus ke barat hingga membuka daratan Eropa melalui pintu Andalusia dengan membawa kemajuan dan peradaban agung. Ekspansi ke wilayah timur pun demikian adanya. Rekam jejaknya dengan mudah masih dapat kita temukan hingga kini. Sulit untuk dihapus dari memori sejarah.

Umat Islam sendiri pun menamakan ekspansi-ekspansi dakwah dan militer mereka sebagai futuhat (pembukaan). Artinya, membuka dan membebaskan keterkungkungan manusia di wilayah tersebut dari para penguasa lokal yang memperbudak rakyatnya. Menghapus penghambaan manusia kepada sesama manusia. Kemudian, oleh Islam, mereka dialihkan menuju kepada pengahambaan pada Allah semata, Penciptanya manusia. Inilah awal babak baru kehidupan mereka. Pintu gerbang menuju kemajuan peradaban besar telah terbuka lebar.

BACA JUGA  Mahfud MD: Penularan Covid-19 Tak Ditentukan Pilkada

Kemerosotan aktivitas jihad—baik secara kualitas maupun kuantitas—di tubuh umat Islam secara otomatis akan berimbas kepada kemerosotan peradaban umat manusia secara umum. Kalangan non-Islam yang selama ini menyerang ajaran jihad harus berkata jujur bahwa kemajuan ilmu dan teknologi yang mereka capai di dunia modern ini salah satunya adalah berkah dari adanya ajaran dan pelaksanaan jihad oleh umat Islam.

Karena pada kenyataannya jihad mampu menghadirkan sebuah milieu yang aman, nyaman dan kondusif untuk dimulainya proses peletakan dasar dan pengembangan ilmu pengetahuan. Kalau kini mereka berusaha mengeliminasi jihad dari umat Islam, sebenarnya mereka sedang bersiap-siap menuju jurang kehancuran peradaban mereka dan umat manusia secara keseluruhan.

Meluruskan Makna Jihad yang Diselewengkan Musuh

Dengan adanya kelengkapan variabel bernama jihad dalam bangunan Islam, mestinya umat Islam bangga dan bersyukur, bukannya minder, merasa tersudutkan dan berbalik membenci serta menyerang syariat jihad karena termakan oleh isu-isu miring tentang jihad yang dibuat oleh musuh-musuh Islam. Itu terjadi karena umat Islam belum faham tentang apa sebenarnya makna jihad, bagaimana status dan fungsinya dalam Islam, serta manfaat yang dihasilkan oleh jihad bagi kaum muslimin dan alam secara umum.

Efek dari ketidakfahaman ini, ketika mendengar kata jihad, maka yang terbayang di benak mereka adalah pemboman membabibuta di ruang-ruang publik, terorisme, kejahatan, kebengisan, kekejaman, dan serangkaian cacian keburukan lainnya.

Sebelum lebih jauh terseret kepada pemahaman keliru mengenai jihad, kita harus mempelajari dan meluruskan persepsi kita tentang ibadah ini. Kita tidak perlu merasa khawatir ketika akan mempelajari ilmu jihad. Apalagi baru sekedar di ranah ilmiah, belum juga praktik. Toh, meski sudah selesai mempelajari ini-itu tentang jihad dari A sampai Z pun, ibadah ini juga tidak serta merta dapat langsung dipraktikkan saat itu juga.

Persis seperti ibadah haji, ibadah jihad juga mensyaratkan adanya tempat yang tepat, waktu yang tepat dan kemampuan dari berbagai sisi. Bahkan, bisa dibilang biaya, waktu, tenaga dan energi pikiran yang tersedot untuk keperluan pelaksanaan ibadah jihad jauh lebih besar jika dibandingkan dengan ibadah haji.

Lalu, kalau semua aspek adab, etika dan teknis perang telah diatur dengan rapi dalam Islam sehingga memungkinkan terjadinya perang yang fair, apa sebetulnya yang ditakutkan dari jihad? Para kritikus jihad harus bisa memberikan penjelasan ilmiah sebelum melontarkan kecaman terhadap jihad. Pun demikian, umat Islam juga harus memahami dulu tentang konsepsi agung jihad sebelum ikut-ikutan alergi atau latah dengan mengejek dan mencerca syariat agung tersebut.

Sekali lagi, mengapa harus takut? Jihad bukan sebuah kejahatan, melainkan ibadah. Sama seperti shalat, shaum, zakat, haji, dan lain-lain. Malahan, jihad adalah ibadah paling puncak dalam Islam. Jika tidak ingin jihad ini dijadikan alat pukul oleh musuh untuk menikam umat Islam, maka kita harus mengupayakan imunitas internal dengan mempelajari dan mengenali seluk-beluk jihad menurut konsepsi Islam yang sejujurnya.*

Penulis: Herliawan Setiabudi

Editor: Fakhruddin


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Rohah

“Kumohon, Injaklah Wajahku Wahai Bilal!”

KIBLAT.NET, Jakarta – Abu Dzar al-Ghifary meletakkan kepalanya di tanah yang berdebu. Dilumurkannya pasir ke...

Sabtu, 09/07/2016 21:23 0

Amerika

Diikuti Ribuan Orang, Demonstrasi Menolak Kekerasan Polisi di AS Semakin Meluas

KIBLAT.NET, San Fransisco – Ribuan warga Amerika Serikat menggelar aksi demonstrasi di sejumlah kota besar, pada Jumat...

Sabtu, 09/07/2016 17:32 0

Amerika

Balas Dendam, Sejumlah Penembak Jitu Tewaskan 5 Polisi Amerika Serikat

KIBLAT.NET, Dallas – Kepolisian Dallas, Amerika Serikat, sejak Jumat (08/07) telah memburu salah satu dari beberapa...

Sabtu, 09/07/2016 17:01 0

Asia

Warga Kashmir Turun ke Jalan Berduka atas Gugurnya Komandan Muda Hizbul Mujahidin

KIBLAT.NET, Tral – Seorang komandan muda pejuang Kashmir dari Hizbul Mujahidin gugur bersama dua orang pejuang...

Sabtu, 09/07/2016 16:01 0

Rohah

Menangis Ketika Membaca Ayat Tentang Darah Wanita, Kok Bisa?

KIBLAT.NET – Abu Utsman Al-Jahidh meriwayatkan: Yahya bin Ja’far memberitahuku sebuah kejadian, “Dulu saya punya tetangga...

Sabtu, 09/07/2016 16:00 0

Indonesia

Wapres akan Hadiri Silaturrahim Akbar Wahdah Islamiyah di Masjid Istiqlal

KIBLAT.NET, Jakarta – Keluarga Besar Ormas Islam Wahdah Islamiyah Insya Allah akan menggelar Silaturrahim dan...

Sabtu, 09/07/2016 15:08 0

Afrika

Ethiopia Mendukung Keberadaan Israel di Uni Afrika

KIBLAT.NET, Addis Ababa – Perdana Menteri Ethiopia, Hailemariam Desalegn akan mendukung upaya Israel untuk mendapatkan...

Sabtu, 09/07/2016 15:00 0

Afghanistan

Islamic Spring IX: Kesetiaan Taliban dan Pengkhianatan Aliansi Utara

KIBLAT.NET – Untuk menekankan pentingnya Taliban sebelum peristiwa 11/9, al-Qaidah menampilkan sejumlah besar video klip...

Sabtu, 09/07/2016 14:00 0

Wilayah Lain

dr. Aiman Adz-Dzawahiri: Hijrah dan Jihad Mujahidin

KIBLAT.NET – Serial terbaru “Islamic Spring” produksi al-Qaidah juga berisi sejumlah narasi & argumentasi yang...

Sabtu, 09/07/2016 12:57 0

China

Adz-Dzawahiri: Rezim Ateis Cina Ingin Mengubah Agama Muslim di Xinjiang

KIBLAT.NET – Di bagian awal serial “Islamic Spring” episode IX, sayap media al-Qaidah as Sahab...

Sabtu, 09/07/2016 11:05 0

Close
CLOSE
CLOSE