Peneliti: Al-Qaidah Menuai Keuntungan dari Kegagalan Kebijakan AS di Suriah

KIBLAT.NET – Charles Lister seorang peneliti senior di Middle East Institute, yang berfokus pada terorisme, pemberontakan dan ancaman keamanan sub-negara di Timur Tengah melihat Al-Qaidah telah mendapatkan keuntungan utama dari kegagalan kebijakan Amerika Serikat di Suriah.

“Pewaris keuntungan utama dari kelangsungan hidup (rezim) Assad bukanlah Assad, atau Rusia, Iran, Hizbullah atau bahkan ISIS, melainkan Al-Qaidah,” katanya dalam artikel yang dimuat The Daily Beast hari ini (7/7).

“Setelah menghabiskan lima tahun terakhir menyatukan diri dalam kekuatan revolusioner yang lebih luas dan strategis memilih untuk membatasi dan sangat lambat mengungkapkan wajah ekstremisnya, afiliasi Al-Qaidah Suriah Jabhah Nusrah menuai hasil dari kegagalan kita untuk memecahkan krisis Suriah,” jelasnya.

Menurut sumber yang dekat dengan kelompok, Jabha Nusrah telah menerima lebih dari 3000 warga Suriah dari Idlib dan Aleppo selatan ke jajarannya sejak Februari saja. Menurut penilaian Lister, itu adalah perekrutan pada tingkat yang luar biasa dalam wilayah yang ia perkirakan seukuran Connecticut, negara di timur laut Amerika Serikat.

Menurutnya, perang dan diplomasi secara intrinsik terkait, namun kebijakan pemerintahan Obama di Suriah tidak menghasilkan apa-apa. Amerika Serikat mengedepankan negosiasi sebagai jalur penyelesaian satu-satunya untuk mengakhiri krisis Suriah. Namun fakta-fakta yang ada saat ini di lapangan tidak ada cara apa pun memungkinkan sebuah proses yang bermakna, apalagi solusi.

BACA JUGA  Lawan Tuduhan Radikal, MHH Muhammadiyah Advokasi Din Syamsudin

Penulis buku The Syrian Jihad itu menyimpulkan, Basyar Assad melihat proses politik sebagai sesuatu yang kurang menguntungkan baginya dalam permainan di Suriah. Ia lebih memilik untuk mengejek dan membunuh musuh-musuhnya, dan menarik sekutu-sekutunya untuk menggandakan dukungan terhadap rezimnya. Namun demikian, Assad tidaklah meraih keuntungan, tetapi Al-Qaidah.

Berdasarkan lintasan saat ini, Lister memprediksi, konflik di Suriah akan hampir pasti terus memburuk, dan mungkin akan berlangsung selama satu dekade atau lebih. Dalam situasi seperti ini, menurutnya ekstremis di semua sisi yang akan memanen keuntungan lebih banyak.

Peneliti yang mengaku pernah bertemu dengan 100 pemimpin oposisi di Suriah itu menilai, ISIS di teritorial Suriah dapat dikalahkan dalam waktu dekat, tetapi akan hidup untuk bertempur di lain wilayah. “Sementara itu, Al-Qaidah mungkin akan mewakili aktor teroris yang jauh lebih cerdas, lebih berakar dan ofensif lebih besar dari apa pun yang kita (AS) hadapi sampai sekarang,” katanya.

Al-Qaidah semakin berkembang di Suriah karena dua realitas: konflik yang konsisten, ketidakstabilan dan pembunuhan massal rezim terhadap warga sipil. Kedua, moderat sipil dan oposisi politik dan bersenjata yang kurang mendapatkan dukungan.

Reporter: Salem

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat