Hati-hati Menasihati Orang yang Sedang Jatuh Hati

KIBLAT.NET – Abdul Malik bin Quraib Al-Asma’i berkata, “Saya pernah berjalan di desa. Ketika saya melewati sebuah batu, seseorang telah menulis di atasnya:

Wahai kekasih. Demi Allah, katakan padaku
Jika seorang pemuda dilanda dengan cinta,
apa yang harus dia lakukan?

Lalu, saya menulis di bawahnya:

Biarkan dia mengekang syahwatnya
lalu sembunyikan rahasianya
Dan mengaku salah kemudian minta maaf
kemudian berserah diri kepada Tuhannya

Saya kembali keesokan harinya dan saya temukan tertulis
tulisan di bawahnya:

Tapi bagaimana hal tersebut dapat dilakukan ketika keinginan
itu menimbulkan perkelahian di antara manusia
Dan setiap hari hatinya terasa diterkam?

Lalu saya menulis di bawahnya:

Jika ia tidak mampu untuk bersabar
dengan menyembunyikan rahasianya
Maka tidak ada baginya kecuali kematian
yang akan menguntungkannya

Saya kemudian kembali pada hari ketiga ternyata kutemukan seorang pemuda tergeletak tak bernyawa di batu. Tapi apa yang terjadi, lâ hawla wa lâ quwwata illa billâhil-’Alī’l-’Adhīm saya menemukan bahwa ia telah menulis sebelum kematiannya:

Kami telah mendengar dan kami telah mematuhi; sekarang kami telah meninggal maka beritahu semua orang.
Salamku untuk orang yang mencegah diriku untuk meraihnya.  (HR Al-Abshīhī, Al-Mustatrif (1/410))

Jadi saudara-saudaraku, jika kita memberikan nasihat kepada orang-orang dimabuk cinta, ingatlah bahwa engkau sedang berhadapan dengan hati penuh cinta, bukan bejana yang penuh batu.

Penulis : Dhani El_Ashim

Diambil dari Salaf Stories, Abdullah bin Abdurrahman

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat