... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

[Wawancara] Jika Diajak Bahas ISIS Bareng BNPT Lagi, Abu Tholut: Saya Lihat-lihat Dulu

Foto: Ustadz Abu Tholut alias Imron Baihaqi saat dijumpai Kiblat.net pada Sabtu, (25/06).

KIBLAT.NET, Semarang – Sejak bebas dari LP Kedungpane Semarang pada Oktober 2015 lalu, nama Ustadz Abu Tholut alias Imron Baihaqi kerap menjadi sorotan media. Sosok yang disebut sebagai Mantan Ketua Jamaah Islamiyah ini semakin dikenal oleh publik bukan hanya atas keterlibatannya dalam pelatihan militer di Aceh, tetapi karena belakangan beliau kerap menjelaskan bahaya Daulah (ISIS) bersama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Hal ini jelas menimbulkan kontroversi di tengah umat. Di satu sisi, paham ekstrem Daulah Islamiyah (ISIS) menimbulkan madharat bagi gerakan jihad global, namun BNPT juga punya daftar catatan yang kelam bagi aktivis Islam di Indonesia.

Berikut lanjutan wawancara Redaktur Kiblat.net, Fajar Shadiq (FS) bersama Ustadz Abu Tholut (AT) pada Sabtu, (25/06) lalu di Semarang. (Ini adalah artikel lanjutan, baca laman sebelumnya: [Wawancara] Abu Tholut: Bersama BNPT Hadapi ISIS, Di Mana Salahnya?)

FS: Ada sebagian kalangan yang keberatan dengan tindakan Ustadz bersama BNPT?
AT: Bagi mereka yang melihat ada salahnya, tolong saya dinasehati, berikan dalil syar’i dari ayat atau hadits yang sharih bahwa perbuatan saya itu menyalahi hukum syariat. Itu yang saya tanyakan. Karena ada tokoh-tokoh yang lebih baik dari saya, mujahidin yang jauh lebih utama dari saya melakukan hal yang saya kira lebih daripada itu. Saya pakai contoh misalkan dahulu ketika jihad di Afghanistan, mujahidin mengirim para wakil-wakilnya ke berbagai tempat, memenuhi undangan ke berbagai negara.

Sebagai contoh Gulbuddin Hekmatyar hafidhahullah. Dia pernah diundang berbicara di depan PBB menjelaskan tentang jihad Afghanistan melawan Uni Sovyet. Kita tahu lah PBB itu kepunyaan siapa. Bandingkan dengan BNPT. Nggak ada apa-apanya BNPT. Toh mujahidin juga tetap mendatangi itu.

Kemudian, ada Maulawi Yunus Kholis, salah satu amirul mujahidin pada waktu itu, memenuhi undangannya Presiden Amerika Bill Clinton ke Gedung Putih. Kita tahu siapa Bill Clinton, siapa pemerintah Amerika. Yunus Kholis itu seorang Amir Mujahidin pada era jihad Uni Sovyet. Ketika era Taliban, beliau bersama Taliban. Bahkan salah satu anak buah beliau, Maulawi Dzul Haqqoni, sempat menjadi Menteri Pertahanan Taliban. Hingga sekarang jaringan Haqqani adalah salah satu jaringan yg menjadi tulang punggung Taliban.

Bandingkan dengan saya yang hanya menghadiri undangan BNPT. Di mana letak masalahnya? Kalau saya salah, tentu lebih salah lagi Yunus Kholis, lebih salah lagi Hekmatyar, lebih salah lagi seluruh mujahidin yang menghadiri undangan tokoh-tokoh tertentu yang menurut penilaian ulama itu thoghut lah, kafir lah, dan segala macamlah. Kalau saya disalahkan, salahkan dulu itu pendahulu-pendahulu saya para mujahidin itu, salahkan mereka dulu. Karena apa yg saya perbuat ini nggak ada apa-apanya dibanding yang mereka perbuat.

Kemudian persoalan bersama dengan BNPT sama-sama menghadapi ISIS, salahnya di mana? Tadi sudah saya terangkan bahwa sebelum BNPT ngajak saya, saya sudah punya azzam (tekad) untuk bicara tentang kesesatan Daulah berdasarkan fatwa ulama. Sejak saya dalam LP sudah saya katakan saya seperti itu. Dan itu sudah saya laksanakan, dan sedang saya laksanakan terus. Adapun dengan BNPT itu di tengah jalan ketemu. BNPT punya pandangan yang sama tentang ISIS. Itu urusan mereka. Apakah kesamaan ini menyebabkan saya kemudian bisa dinilai kerja sama dengan BNPT? Tentu tidak adil.

Jadi kesamaan menghadapi sesuatu itu bukan dalil untuk menilai sesuatu itu kerja sama. Lebih kuat lagi misalkan Rasulullah SAW membangun sekutu dengan kabilah musyrikin Arab yaitu Bani Khuza’ah menghadapi kafir Quraisy. Karena kesamaan ini, menghadapi musuh yang sama, apakah bisa dinilai Rasulullah serba sama dengan Bani Khuza’ah, aqidahnya, manhajnya? Na’udzubillahi mindzalik. Tentu tidak kan? Jadi, kesamaan dalam suatu front ini adalah masih muhtamal sifatnya, mengandung multi makna.

BACA JUGA  Buku 'Ancaman dan Strategi Penanggulangan Terorisme' Dibedah di UI

FS: BNPT selama ini mengusung agenda deradikalisasi, bagaimana pandangan Ustadz terhadap deradikalisasi, kemudian dalam forum-forum bersama BNPT, apakah Ustadz menyampaikan pandangan Ustadz tentang deradikalisasi dan agenda-agenda BNPT yang selama ini menyudutkan umat Islam?
AT: Selama saya dengan BNPT, itu tidak ada urusannya dengan saya. Saya tidak bicara hal-hal yang sampai jauh seperti itu. Tidak ada. Saya menyampaikan kepada BNPT radikalisasi itu bisa bermakna dua. Seperti di (Hotel) Borobudur, saya sampaikan radikal itu ada dua. Ada radikal yang bermuatan positif, ada yang bermuatan negatif. Hati-hati (BNPT) menggunakan istilah deradikalisasi, ketika Anda menggunakan istilah deradikalisasi. Itu akan dinilai sebagian pihak sebagai negatif. Bernilai buruk. Karena ada yang menafsirkan istilah BNPT deradikalisasi sama dengan deislamisasi. Maka saya memberikan masukan kepada BNPT jangan menggunakan istilah deradikalisasi. Itu pernah saya sampaikan di Borobudur. Sangat disayangkan kalau kita menilai orang tanpa tahu rincian yang terjadi di sana. Itu kan menjadi tuduhan. Itu persoalannya.

FS: Belum lama ini, PBB membuat sebuah agenda bernama Counter Violent Extremism (CVE) di Semarang, salahsatunya rekomendasinya adalah mengeksploitasi perdebatan di antara pendukung Al-Qaidah dan pendukung ISIS sehingga masing-masing saling menyerang kelemahan lawannya. Bagaimana pandangan Ustadz?
AT: Ya itu kan agenda mereka. Bukan agenda mujahidin. Artinya mereka berkeinginan untuk mengambil manfaat dari konflik ini. Kita sebagai orang yang bukan bagian dari mereka harus punya agenda sendiri secara syari, apa yang harus kita lakukan berkenaan dengan Daulah ini. Itu dulu yang harus kita susun.

Pertama, kita harus ada keyakinan dulu, ISIS itu Daulah Ahlusunnah atau menyimpang bahkan khawarij. Kajian kita itu dulu seharusnya. Ketika disimpulkan bahwa ISIS itu adalah ahlusunnah, bagian dari mujahidin juga. Ya kita gak bisa lagi bicara selanjutnya. Tapi faktanya kan tidak. Bagi orang yang menganggap ISIS sama dengan Ahlusunnah, ini adalah fitnah antar mujahidin, dia tidak akan bicara tentang ISIS. Dia akan bersikap berusaha di tengah-tengah. Dia tidak akan bicara ISIS dia tidak akan bicara Al-Qaidah. Ini konsekuensi dari sikapnya tadi.
Kedua, kalau petanya seperti itu. Mujahidin lain di luar Al-Qaidah, seperti Ahrarusyam, Jaisyul Islam, Imarah Kaukasus, dengan Daulah di sisi lain tidak bisa disamakan dengan pertempuran Ali dengan Muawiyah. Tidak bisa disamakan juga pertempuran antara Ali dengan Aisyah dalam perang Jamal. Seringkali orang di sini tersalah. Dengan berdalil tidak pada tempatnya. Ada satu dalil yang sering dipakai untuk membenarkan sifat diam ini. Antara lain hadis nabi yang maknanya: “Jika fitnah itu dari kaum muslimin ambillah pedang dari kayu”.

Dalil ini sering diambil orang tidak pada tempatnya oleh orang yang tidak ingin bicara persoalan Daulah ini. Untuk membenarkan sikap diamnya, sikap abstainnya. Padahal hadis itu berkenaan dengan konflik seperti perang Shifin dan Perang Jamal. Beda jauh. Padahal kalau kita ingin menyamakan, pertempuran antar mujahidin di luar Daulah dengan Daulah/ISIS ini lebih mirip pertempuran antara Ali dengan Khawarij, terhadap Haruriyah. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu ketika perang Shifin dan perang Jamal tidak gembira, tetapi sedih. Karena ia berhadapan dengan para sahabatnya. Sehingga beliau memuji para sahabat yang berada di tengah-tengah. Beliau tidak memaksa mereka ke dalam pertempuran. Tetapi ketika menghadapai khawarij beliau bergembira ria. Bahkan ketika selesai menghadapi pertempuran di Nahrawan, beliau meminta seseorang untuk mencari jasad seseorang yang bernama Dzu Saddiyah yang namanya disebut oleh Nabi SAW. Yang tangannya cacat itu. Ternyata ada di antara mereka, Ali sujud syukur. Artinya tindakan beliau itu adalah sesuai dengan titah Nabi SAW, jika bertemu dengan mereka faqtuluuhum (maka bunuhlah mereka, red).

Abu Tholut dalam bedah buku "Mudah Mengkafirkan". (Sumber: kabartauhid.wordpress)

Ustadz Abu Tholut (tengah) dalam bedah buku “Mudah Mengkafirkan”. (Sumber: kabartauhid.wordpress)

Kalau perang Shiffin dan perang Jamal berada di tengah-tengah itu benar. Tapi dengan ISIS ini tidak pada tempatnya. Kemudian bahwa ada kelompok di luar ISIS dan Al-Qaidah, dari pihak Barat yang tadi Anda sebut. Punya agenda sendiri. Sekali lagi bahwa kesamaan dalam menghadapi sesuatu tidak bisa dijadikan dasar penilaian.
Bukan tidak bisa kemudian kita menjatuhkan vonis kepada mereka yang berhadapan dengan ISIS/Daulah itu satu barisan dengan agenda CVE. Itu vonis yang ceroboh, Karena kalau langsung vonis seperti itu bisa banyak yang tekena bahkan Rasulullah SAW bisa terkena. Jadi hati-hati dalam membuat penilaian. Karena penilaian-penilaian itu kan lahir dari satu kaidah. Kalau memang begitu penilaiannya yang bersangkutan berarti sama juga dalam menilai Rasul SAW dan ini jelas ngawur dan salah. Itu berarti mirip dengan aliran sesat seperti khawarij. Khawarij pun tidak menempatkan dalil pada tempatnya. Mirip, walaupun dengan hal yang berbeda. Yaitu memvonis orang bilmuhtamal, bil maalaat, bizunun, ini adalah ciri aliran sesat. Kalau seorang memvonis dengan 3 hal ini berarti dia bukan ahlusunnah.

BACA JUGA  KPAI Dukung Penguatan Peran BNPT dalam Revisi UU Terorisme

FS: Dalam pertemuan di Poso dan saya pernah baca berita sebelumnya Ustadz pernah menganjurkan agar Santoso menyerah dan turun gunung. Bagaimana penjelasan Ustadz terkait hal ini?
AT: Saya tidak pernah menganjurkan atau menyerukan Santoso untuk menyerah. Tidak pernah. Itu kalimat yang dibuat orang lain mengatasnamakan diri saya. Saya tidak pernah mengatakan hal itu. Wallahi.

Baca juga: Teroris Santoso di Mata Mantan Pimpinan JI Abu Tholut

Baca juga: Abu Tholut: Aparat Harusnya Bisa Cepat Tangkap Santoso

FS: Ke depan kalau ada tawaran dari BNPT lagi untuk berbicara masalah ISIS apakah Ustadz akan penuhi atau melihat-lihat dulu?

AT: Oh jelas melihat-lihat dulu. Jadi kan gini, sebagaimana saya katakan tadi saat saya ke Poso, saya ini jelas tidak punya kemampuan untuk berangkat secara pribadi ke Poso, saya tidak punya kemampuan. Kemampuan finansial, transport ke sana kan cukup besar. Perizinan ke BAPAS segala macam. Kemudian di sana itu kan masih daerah konflik. Santoso kan orang saya sebenarnya. Tentu akan muncul kecurigaan kalau saya ujug-ujug muncul di Poso.

Wajar kalau pemerintah mencurigai. Kalau katakanlah saya di suatu tempat pernah berbicara tentang ISIS secara terbuka, terus BNPT ngundang saya lagi di tempat yang sama, saya gak mau. buat apalgi kan sudah saya sampaikan. Tidak ada faidahnya. Jadi benar Anda, saya akan melihat-lihat dulu.

Sebelum saya diundang BNPT saya akan tanya dulu, acaranya apa, audiesnnya siapa. Saya selalu bertanya kepada BNPT sebelum saya mengkonfirmasi. Tentu dilihat juga harinya bertabrakan tidak dengan agenda saya. (Tamat)

Ini adalah artikel lanjutan | Baca halaman sebelumnya.

 

Reporter/Editor: Fajar Shadiq

... shares
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Yaman

Bentrokan Meletus Saat Digelar Pembicaraan Damai Konflik Yaman di Kuwait

KIBLAT.NET, Kuwait – Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon mendatangi pembicaraan damai terkait konflik Yaman di...

Senin, 27/06/2016 22:28 0

Indonesia

Lagi, 7 Orang WNI Jadi Korban Penyanderaan

KIBLAT.NET, Jakarta – Warga Negara Indonesia (WNI) kembali menjadi korban penyanderaan. Kali ini tujuh orang...

Senin, 27/06/2016 21:48 0

Indonesia

Daging Ilegal Beredar di Batam, MUI Imbau Umat Islam Waspada

KIBLAT.NET, Batam – Ketua MUI Kota Batam Kepulauan Riau, Usman Ahmad mengimabau agar warga kota...

Senin, 27/06/2016 20:19 0

Malaysia

Kerinduan Rahmat pada Tanah Kelahirannya di Arakan

KIBLAT.NET, Kuala Lumpur – Sore itu, sekitar pukul 15.00 waktu Kuala Lumpur, seorang pemuda tanggung...

Senin, 27/06/2016 17:18 0

Suriah

Jaisyul Islam Umumkan Tembak Jatuh Helikopter di Ghautah, Damaskus

KIBLAT.NET, Damaskus – Gerakan pejuang Suriah Jaisyul Islam mengumumkan berhasil menjatuhkan helikopter militer rezim Suriah...

Senin, 27/06/2016 16:00 0

Artikel

Bolehkah wanita I’tikaf ?

KIBLAT.NET – I’tikaf adalah salah satu amalan yang dibiasakan oleh Nabi Muhammad di sepuluh hari...

Senin, 27/06/2016 15:30 0

Indonesia

Tim Medis IMS Bantu Korban Longsor Purworejo

KIBLAT.NET, Purworejo – Lembaga kesehatan Nasional milik ormas Hidayatullah, Islamic Medical Service (IMS) menurunkan tim...

Senin, 27/06/2016 15:00 0

Konsultasi

Berapa Waktu Minimal I’tikaf?

Assalamualaikum Ustadz. Berapakah patokan waktu minimal dalam melaksanakan i’tikaf? Apakah sah i’tikaf seseorang yang dilakukan...

Senin, 27/06/2016 14:30 0

Malaysia

Misi Kemanusiaan Road For Peace Dorong Persatuan Pemuda Muslim Rohingya

KIBLAT.NET, Kuala Lumpur – Misi kemanusiaan Road for Peace (R4P) bersama Rohingya dan Patani pada...

Senin, 27/06/2016 14:03 0

Asia

Gabung Road For Peace, Misi Medis Sosial Bantu Muslim Rohingya dan Patani

KIBLAT.NET, Kuala Lumpur – Misi Medis Sosial dan Kemanusiaan, yayasan yang menaungi Misi Medis Suriah...

Senin, 27/06/2016 12:50 0