... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

[Wawancara] Abu Tholut: Bersama BNPT Hadapi ISIS, Di Mana Salahnya?

Foto: Abu Tholut dalam acara Silaturahmi Masyarakat Poso yang digagas BNPT.

KIBLAT.NET, Semarang – Sejak bebas dari LP Kedungpane Semarang pada Oktober 2015 lalu, nama Ustadz Abu Tholut alias Imron Baihaqi kerap menjadi sorotan media. Sosoknya semakin dikenal oleh publik bukan hanya atas keterlibatannya dalam pelatihan militer di Aceh, tetapi karena belakangan beliau kerap menjelaskan bahaya Daulah (ISIS) bersama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Hal ini jelas menimbulkan kontroversi di tengah umat. Di satu sisi, paham ekstrem Daulah Islamiyah (ISIS) menimbulkan madharat bagi gerakan jihad global. Di sisi lain, BNPT juga punya memiliki daftar catatan yang kelam bagi aktivis Islam di Indonesia.

Pada Sabtu (17/06) lalu, Kiblat.net menampilkan berita saat Abu Tholut hadir dalam acara Silaturahmi Masyarakat Poso yang juga digagas oleh BNPT. (Baca juga: Ramadhan ini BNPT ke Poso, Apa Oleh-olehnya?) Untuk mengetahui lebih jauh apa motivasi dan tujuan Abu Tholut terlibat dalam acara itu, Kiblat.net mengutus Redaktur Pelaksana, Fajar Shadiq untuk mewawancarai beliau.

Kiblat.net diterima Abu Tholut di Musholla Al-Barokah, Jalan Kedondong Dalam I, Semarang pada Sabtu, (25/06) lalu. Berikut petikan wawancaranya.

FS: Beberapa waktu lalu, Ustadz ada agenda silaturahmi bersama BNPT dan ikhwan-ikhwan Poso. Saya ingin menanyakan kepada Ustadz, acara itu acara apa, duduk perkaranya seperti apa, kemudian apa yang sebenarnya terjadi di sana? Tafadhol, Ustadz.
AT: Alhamdulillah, washolatu wassalamu ‘ala rasulillahi shallallahu‘alaihi wa sallam, wa ‘ala ‘alihi wa shahbihi wa ma walahu, amma ba’d. Sebelumnya ya mungkin ini sebagai tausiyah, karena saya sudah mendapatkan ini tersebar di medsos, dari seorang ikhwan. Dia mengutip dari Kiblat.net sudah memberitakan tentang itu sebelum tabayyun dengan saya. Jadi, (tabayyun) ini kan sebelumnya. Forum kita ini seharusnya sebelum antum menulis dan menyebarkan. Urutannya kan yang benar begitu. Jangan sebarkan dulu, baru tabayyun. Sepatutnya kan begitu.

FS: Kalau (berita) kemarin sih kami melihatnya bahwa ini ada kejadian, ada peristiwa, kemudian kontributor kami melaporkan. Apakah ada kutipan-kutipan yang kurang tepat?
AT: Betul itu kutipannya. Tapi itu bukan menceritakan fakta, tapi sudah bercampur dengan opini. Kalau saya baca itu sudah tercampur dengan opini. Apalagi dinukil juga terjemahannya fatwa Syaikh Abu Qatadah tentang “Bersama Amerika Memerangi ISIS”, jadi digandengkan dengan itu. Lha menurut saya kan ini opini. Menilai apa yang saya kerjakan sebelum tabayyun dengan saya. Ini kan kurang bagus. Okelah, yang itu sudah lewat, ini insyaAllah untuk masa mendatang saja.

Berkenaan dengan yang di Poso itu, pertama tentu akan saya mulai dengan kronologi. Jadi, saya diundang oleh pihak BNPT. Dengan undangan yaitu silaturahmi bersama dengan ikhwan-ikhwan mantan istilahnya “napi teroris” lah, yang di Poso. Kenapa saya diundang? Pertimbangannya karena dulu saya pernah terlibat di konflik Poso. Dan yang hadir itu mayoritasnya kenal dengan saya. Artinya dulu bersama saya lah ya. Jadi ada korelasinya kenapa saya diundang. Saya terima alasan itu, kan masuk akal. Terus saya tanya, di sana saya sebagai apa? Pihak BNPT mengatakan saya sebagai narasumber, sebagai pembicara. Apa yang harus saya bicarakan? BNPT bilang, kami mohon penjelasannya tentang ISIS. Jadi, materi ISIS itu bukan dari saya. Bukan saya inisiatif. Tetapi BNPT minta saya menjelaskan tentang ISIS. Tadi dikatakan bahwa sejalan dengan BNPT segala macam, saya kira itu kurang tepat, karena BNPT selama ini tidak pernah menjelaskan tentang ISIS. BNPT belum pernah membicarakan ISIS di forum-forum BNPT, itu yang harus digaris bawahi. Jadi, tidak benar kalau dikatakan saya bersama BNPT, misalnya katakanlah seakan-akan ada kesepakatan, atau saya seakan-akan disuruh oleh BNPT untuk bersama-sama menghadapi ISIS. Ini tidak benar.

FS: Sejak kapan Ustadz sudah menaruh perhatian dengan fenomena ISIS?
AT: Saya sebelum ketemu dengan BNPT, sejak dalam LP, saya sudah berbicara tentang menolak ISIS. Sejak saya di LP Kedungpane, tepatnya 2013, ada seorang ikhwan berkunjung ke LP Kedungpane dan dia minta pendapat saya tentang konflik di Suriah antara ISIS di satu pihak dengan mujahidin di luar ISIS di pihak lain, dalam hal ini Al Qaidah dan lain-lain. Saya waktu itu nggak punya informasi. Saya bilang: saya blank, saya berada di LP, jadi tolong berikan saya data tentang yang pro dan kontra ISIS, waktu itu ISIS belum memproklamirkan Khilafah, masih ISIS.

BACA JUGA  Ulama Dikriminalisasi, Fahri Hamzah : Penegak Hukum Terapkan War On Terror

Beberapa hari kemudian, saya diberikan beberapa data, dari pihak pro ISIS, dan dari yang kontra ISIS. Setelah itu, saya dapat data lain dari ikhwan yang lain sedemikian rupa banyaknya, lebih kurang selama sebulan lebih, saya pelajari di dalam itu, yang sampai pada kesimpulan bahwa ISIS ini adalah suatu kelompok yang munharif (menyimpang), ghulat (ekstrem), dholun (sesat), dan juhal (bodoh).

Itulah kalimat-kalimat di antara beberapa syaikh. Di antaranya Syaikh Al Maqdisi, dalam bayannya di Mimbar Tauhid wal Jihad. Syaikh Abu Qotadah juga mengatakan hal yang sama, bahkan beliau mengatakan bahwa hari ini, tanzhim yang sifat-sifat kilabu finnar (khawarij -anjing neraka) ada padanya adalah ISIS. Waktu itu, keduanya masih dalam penjara. Keduanya masih dalam penjara mengeluarkan bayan seperti itu. Ditambah lagi dengan Syaikh DR. Hani Assiba’i, DR. Thariq Abdul Halim. Kemudian ditambah lagi keterangan Syaikh Aiman Adh-Dhawahiry, Syaikh Al Muhaisini, Syaikh Sulaiman Ulwan. Ini semua bermuara pada apa yang saya katakan tadi, bahwasanya yang namanya ISIS itu adalah tanzhim yang menyimpang bahkan Kadzab, banyak bohongnya. Itulah yang saya jelaskan di LP.

FS: Kemudian, apa yang terjadi setelah Ustadz mendapati bahwa ISIS adalah kelompok menyimpang?
AT: Tentunya apa yang saya katakan ini tidak disenangi oleh pihak pro-Daulah. Dia tidak terima. Dalam LP, kita menjadi terpecah dua, ada yg pro-Daulah, ada yang tidak. Saya mengajak yang pro-daulah, argumen antum apa, mari kita diskusi. Ini temuan saya. Ternyata mereka tidak berani beradu argumen dengan saya, dengan alasan tidak punya kapasitas untuk diskusi dengan saya. Saya katakan, ya silakan undang orang yag di luar, kunjungi ke LP sini, untuk adu argumen, diskusi dengan saya. Hingga saya bebas, tidak ada orang tersebut yang dimaksud.

Kemudian, sejak dalam LP, saya juga katakan, saya kira banyak pula ikhwan di LP jadi saksi, nanti sekiranya saya ditakdirkan bebas oleh Allah SWT, saya akan bicara tentang ini. Karena di dalam fatwa ulama tadi itu, bukan sekedar saya dapati penilaian tentang ISIS, tapi juga amanat dari fatwa untuk menyebarkan itu. Karena umat yang tidak mengerti, menyangka bahwa ISIS ini adalah juga mujahidin Ahlussunnah yang harus didukung. Sehingga untuk mencegahnya, para ulama selain memberikan sifat-sifat tadi, juga menyeru kepada siapapun juga yang sudah memahami fatwa itu untuk menyebarkan fatwa tersebut dan mencegah supaya faham daulah ini tidak tersebar.

Setelah saya bebas, Oktober 2015, saya menjalankan apa yg sudah saya azzamkan tersebut. Tidak ada hubung kaitnya dengan BNPT. Ini saksinya pertama kali di Semarang, Masjid Mujahidin (di Jalan Patriot), itu adalah forum pertama kali saya di publik bicara tentang kesesatan Daulah. Ini saksinya ikhwan-ikhwan Semarang. Itu yang pertama, kemudian ke kota lain. Lebih kurang semuanya ada saya hitung 16 tempat. Di Jawa maupun luar Jawa. Ini sebelum Poso ya, Jawa: Semarang, Solo, Bekasi, Jakarta, Sumedang, Bandung, Jawa Timur, Kalimantan.

F: Itu merupakan inisiatif pribadi atau merupakan instruksi dari sebuah jama’ah, Ustadz?
AT: Saya sampai sekarang bicara tentang itu tidak mengatasnamakan tandzim manapun juga. Saya bicara atas nama pribadi, bukan mengatasnamakan satu tandzim pun. Cuma memang bekerja sama dengan ikhwan-ikhwan. Itu yang perlu digarisbawahi. Dalam perjalanan saya seperti itu, tentu karena ini terbuka, diketahuilah oleh pihak BNPT, bahwa saya aktivitasya seperti itu. Sebagai mantan napi teroris, tentu bukan hanya saya, yang lain pun akan dimonitor oleh BNPT apa kegiatannya, termasuk saya. Maka BNPT mengetahui kegiatan saya bahwa kegiatan saya kemana-mana bicara tentang ISIS. BNPT kemudian menangkap ini.

FS: Kalau dari pihak BNPT yang biasanya mengundang siapa?
AT: Selama ini yang saya alami dari Direktur Pencegahan ada, dari Direktur Penindakan ada.

Redaktur Kiblat.net Fajar Shadiq tengah mewawancarai Ustadz Abu Tholut di Semarang pada Sabtu, (25/07).

Redaktur Kiblat.net Fajar Shadiq tengah mewawancarai Ustadz Abu Tholut di Semarang pada Sabtu, (25/07).

FS: Boleh tahu sejak kapan undangan dari BNPT itu sampai pada Ustadz?
AT: Kalau gak salah bulan Januari. Januari atau Desember saya agak lupa, yaitu di Borobudur Hotel, itu pertama kali. Pertama kali saya diundang oleh BNPT di Hotel Borobudur itu, dengan tema tentang ISIS. Tapi itu tidak dihadiri oleh umat secara terbuka. Jadi waktu itu ada pihak BNPT, Densus, Detasemen anti teror di berbagai kesatuan TNI juga ada, terus kita. Kita itu maksudnya adalah mantan napi. Khairul Ghozali, saya, Abdurrahman Ayyub, Toni Togar, Nasir Abbas, satu lagi dari NII, mantan NII, saya lupa namanya.

BACA JUGA  Pakar: Teroris Sebenarnya Adalah Orang yang Membuat Rakyat Terlunta-lunta

Di dalam forum itu, kita diminta bicara satu persatu, untuk menyampaikan apa pendapat kita tentang ISIS. Masing-masing tentu mengatakan apa yang dialami masing-masing. Ada persamaan, ada perbedaan. Saya menyampaikan apa yang saya fahami tentang ISIS. Artinya, murni bicaranya itu. Selesai kita 6 orang bicara, acara ditutup, foto bersama, lalu pulang.

Jadi dari 16 itu tidak semuanya bersama BNPT. Bahkan kebanyakannya itu bersama ikhwan-ikhwan. Dengan BNPT, resmi undangan BNPT itu dua kali saja. Ini sama yang terakhir berarti ya nambah ni, sama yang di Poso, mungkin ada sekitar 4 atau 5 kali ya. Saya kurang ingat, 4 atau 5 kali.

FS: Apa alasan yang mendasari Ustadz mau menerima undangan BNPT untuk menyampaikan kesesatan ISIS, bersama ikhwan-ikhwan di dalam forumnya BNPT?
AT: Untuk Poso, ada alasan tersendiri bagi saya. Kita tahu lah ya, di Poso itu ikhwan-ikhwan juga terpecah dua. Ada yang kontra dan pro-Daulah. Santoso dan kelompoknya termasuk yang pro bahkan baiat kepada Daulah. Dan ada beberapa lagi yang tidak di atas gunung, yaitu di bawah, adalah pro-Daulah, artinya simpati dengan Santoso. Nah, saya merasa perlu untuk menjelaskan persoalan ini di Poso. Karena ini fakta bahwa di sana ada yang menganut faham Daulah. Jadi saya terdorong untuk menjelaskan, karena saya punya husnudhon mereka yang ikut Daulah terutama yang di Poso ini ikutnya tanpa pengetahuan. Ikut-ikutan. Saya tahulah kapabilitas mereka itu. Sehingga saya berharap, dengan penjelasan yang ilmiah, fakta-fakta tentang Daulah mudah-mudahan mereka bisa mencerna, bisa mengkaji dengan obyektif. Tetapi sebelumnya saya tidak punya kesempatan untuk ke Poso.

Pertama, saya sendiri jelas secara pribadi tidak mampu saya ke sana. Kan ke sana perlu biaya dan segala macam. Yang kedua, pihak Poso pun tidak ada yang memfasilitasi saya untuk mengundang saya bicara itu di sana. Tidak ada. Lain dengan zaman konflik dulu. Yang ketiga, ini yang paling penting, saya posisinya sekarang sebagai napi yang sedang proses Pembebasan Bersyarat (PB). Artinya tidak bisa sembarangan ke sana kemari, bahkan dalam klausul pernyataan ketika saya ngurus PB itu istri sama anak saya, menandatangani surat pernyataan di atas materai yang isinya antara lain adalah supaya ikut menyetujui/menyepakati saya tidak boleh keluar kota kecuali ijin dari BAPAS. Saya tidak boleh sembarangan ke sana ke mari. Itu posisi saya. Saya bukan posisinya orang yg merdeka penuh. Sehingga, begitu ada tawaran BNPT untuk ngomong di Poso, jelas ini bagi saya suatu kesempatan, karena kalau saya sendiri melakukan di Poso tidak bisa.

FS: Artinya perjalanan itu semua difasilitasi?
AT: Ya jelas. Bukan cuma masalah itu yg saya jadikan patokan, perizinan ke luar kota itu menjadi kurang penting, karena BNPT kan institusi negara, nggak mungkin dipertanyakan oleh BAPAS. Kan gitu. Jadi artinya saya ke Poso itu tidak ada halangan (kalau) lewat BNPT. Salahnya di mana? Kalau saya ini orang merdeka bisa ke sana sendiri, mungkin saya salah. Itu persoalannya.

Yang kedua, menilai suatu tindakan benar atau salah tentu patokannya hukum syariat. Hukum syariat ini maknanya adalah dalil yang sharih, dari ayat dan hadits yang menjelaskan bahwa perkataan/perbuatan seseorang itu salah atau benar. Sekarang persoalannya adalah perbuatan saya untuk memenuhi undangan BNPT untuk bicara ISIS di Poso, pertanyaannya, secara hukum syar’i salahnya di mana? Saya melihat tidak ada salahnya. (bersambung)

Simak penjelasan Ustadz Abu Tholut terkait program deradikalisasi BNPT dan kelompok Santoso pada halaman selanjutnya.

Artikel bersambung | Menuju halaman selanjutnya

... shares
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

One comment on “[Wawancara] Abu Tholut: Bersama BNPT Hadapi ISIS, Di Mana Salahnya?”

  1. @NewEraJihadi

    Abu toghut, abu toilet abu tulalit

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Yaman

Bentrokan Meletus Saat Digelar Pembicaraan Damai Konflik Yaman di Kuwait

KIBLAT.NET, Kuwait – Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon mendatangi pembicaraan damai terkait konflik Yaman di...

Senin, 27/06/2016 22:28 0

Indonesia

Lagi, 7 Orang WNI Jadi Korban Penyanderaan

KIBLAT.NET, Jakarta – Warga Negara Indonesia (WNI) kembali menjadi korban penyanderaan. Kali ini tujuh orang...

Senin, 27/06/2016 21:48 0

Indonesia

Daging Ilegal Beredar di Batam, MUI Imbau Umat Islam Waspada

KIBLAT.NET, Batam – Ketua MUI Kota Batam Kepulauan Riau, Usman Ahmad mengimabau agar warga kota...

Senin, 27/06/2016 20:19 0

Malaysia

Kerinduan Rahmat pada Tanah Kelahirannya di Arakan

KIBLAT.NET, Kuala Lumpur – Sore itu, sekitar pukul 15.00 waktu Kuala Lumpur, seorang pemuda tanggung...

Senin, 27/06/2016 17:18 0

Suriah

Jaisyul Islam Umumkan Tembak Jatuh Helikopter di Ghautah, Damaskus

KIBLAT.NET, Damaskus – Gerakan pejuang Suriah Jaisyul Islam mengumumkan berhasil menjatuhkan helikopter militer rezim Suriah...

Senin, 27/06/2016 16:00 0

Artikel

Bolehkah wanita I’tikaf ?

KIBLAT.NET – I’tikaf adalah salah satu amalan yang dibiasakan oleh Nabi Muhammad di sepuluh hari...

Senin, 27/06/2016 15:30 0

Indonesia

Tim Medis IMS Bantu Korban Longsor Purworejo

KIBLAT.NET, Purworejo – Lembaga kesehatan Nasional milik ormas Hidayatullah, Islamic Medical Service (IMS) menurunkan tim...

Senin, 27/06/2016 15:00 0

Konsultasi

Berapa Waktu Minimal I’tikaf?

Assalamualaikum Ustadz. Berapakah patokan waktu minimal dalam melaksanakan i’tikaf? Apakah sah i’tikaf seseorang yang dilakukan...

Senin, 27/06/2016 14:30 0

Malaysia

Misi Kemanusiaan Road For Peace Dorong Persatuan Pemuda Muslim Rohingya

KIBLAT.NET, Kuala Lumpur – Misi kemanusiaan Road for Peace (R4P) bersama Rohingya dan Patani pada...

Senin, 27/06/2016 14:03 0

Asia

Gabung Road For Peace, Misi Medis Sosial Bantu Muslim Rohingya dan Patani

KIBLAT.NET, Kuala Lumpur – Misi Medis Sosial dan Kemanusiaan, yayasan yang menaungi Misi Medis Suriah...

Senin, 27/06/2016 12:50 0