Selama Ramadhan 1437, 6 Anak Suriah Tewas dalam Sehari

KIBLAT.NET, Damaskus – Dalam sepuluh hari pertama Ramadhan tahun ini, The Syirian Network for Human Rights (SNHR) telah medata 362 kematian warga sipil, 314 diantaranya merupakan korban serangan pasukan rezim Suriah.

Dilansir dari All4Syiria pada Jum’at (17/06), dari jumlah tersebut tercatat 55 anak-anak dan 23 wanita yang menjadi korban. Dapat disimpulkan, 6 orang anak meregang nyawa dalam sehari. Pendataan dimulai sejak Senin 6 Juni sampai Kamis 16 Juni 2016.

Sementara itu 314 sipil tewas di tangan Assad. SNHR menegaskan terdapat puluhan kasus kejahatan perang terkait besarnya jumlah kematian tersebut. Petunjuk dan bukti didapatkan dari ratusan saksi mata, bahwa lebih dari 90% dari serangan sengaja menyasasar penduduk sipil.

Laporan itu juga menyebutkan bahwa milisi Kurdi PKK telah menewaskan 10 sipil, ISIS menewaskan 14 sipil, Koalisi Internasional menewaskan 5 sipil, serta oposisi menewaskan 8 sipil. Sedangkan terdapat 11 kematian warga sipil yang tidak teridentifikasi pelakunya.

Laporan ini menekankan bahwa pasukan rezim dengan milisi syabihahnya telah melanggar ketentuan hukum hak asasi manusia internasional yang melindungi hak untuk hidup.

Untuk itu, SNHR menyerukan kepada Dewan Keamanan dan lembaga internasional untuk ikut tanggung jawab dan menekan pemerintah Suriah agar menghentikan penembakan disengaja dan tanpa pandang bulu terhadap warga sipil.

SNHR juga turut menyalahkan sekutu dan pendukung pemerintah Suriah, seperti Rusia, Iran dan China karena telah memberi pasokan material dan terlibat dalam memerangi warga Suriah.

Di sisi lain, SNHR mengaku kesulitan untuk mendata jumlah korban dari kalangan oposisi Suriah yang sebagian besar terbunuh di medan pertempuran. Oleh sebab itu, data yang terkumpul jauh lebih sedikit dari yang sebenarnya.

Begitu pula, tidak mungkin untuk mengakses informasi tentang korban tewas dari pihak pasukan pemerintah atau ISIS. Pasalnya, tingkat kesalahan dimungkinkan terlalu tinggi jika mendata jumlah korban tersebut, lantaran minimnya akses dan dokumentasi.

Reporter : Syafi’i Iskandar
Editor : Muhammad Rudy

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat