... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Titian

Berapa Rakaat Shalat Tarawih yang Benar?

Foto: Shalat Tarawih. (Akhbarturkiya)

KIBLAT.NET – Bagi sebagian orang, adanya perbedaan dalam masalah fikih sudah tidak masalah. Tapi berbeda dengan beberapa daerah yang masih erat mengamalkan ibadah dengan satu mazhab tertentu. Perbedaan sering menjadi ajang perdebatan yang tidak ada ujungnya. Dan tidak jarang hal itu berujung pada kerenggangan tali ukhuwah di antarar mereka. Padahal perbedaan dalam masalah fikih seharusnya menjadi rahmat yang bisa menumbuhkan rasa toleransi di antara sesama umat Islam.

Perbedaan jumlah rakaat shalat tarawih menjadi salah satu contoh. Di beberapa daerah, jamaah shalat tarawih terpaksa berpisah menjadi dua kubu yang berbeda. Masih dalam satu masjid, tetapi karena berbeda dalam memahami jumlah rakaat tarawih, akhirnya mereka membentuk jamaah masing-masing dengan imam yang berbeda dan dilaksanakan dalam satu waktu yang bersamaan. Fenomena yang memilukan ini, tentu terjadi karena adanya kesalahpahaman atau tidak utuh dalam memahami perbedaan fikih yang ada. Lalu bagaimana menyikapi perbedaan dalam masalah ini?

Adalah Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah, Ketika menjelaskan tentang orang yang shalat tarawih bersama imam sepuluh rakaat, lalu ia duduk menunggu shalat witir (sementara) dia tidak menyempurnakan shalat Tarawih bersama imam yang shalat dua puluh rakaat, beliau berkata,

“Sangat kami sayangkan, di tengah umat Islam yang kian terbuka, ada segolongan orang yang bertikai dalam masalah-masalah yang masih dibolehkan adanya perbedaan pendapat. Dan menjadikan perbedaan tersebut sebagai sebab hilangnya kesatuan hati. Perbedaan dalam tubuh umat ini telah ada sejak masa para shahabat. Walaupun demikian, hati mereka tetap menyatu.

Maka sikap yang harus dimiliki para pemuda khususnya, serta siapapun yang konsisten dalam memegang agama, hendaklah berada dalam satu langkah dan satu sikap. Karena di sana banyak musuh mereka yang mencari-cari kesempatan.” (lihat: As-Syarhu Al-Mumti’, 4/225)

Dua kelompok ekstrim dalam memahami masalah ini;

Pertama, kelompok yang mengingkari setiap orang yang menambah rakaat Tarawih lebih dari sebelas rakaat dan membid’ahkannya.

Kedua, kelompok yang mengingkari orang yang menunaikan tarawih sebelas rakaat saja. dengan alasan, mereka  telah menyalahi ijma’ atau konsensus para ulama.”

Menyikapi dua kubu ekstrem semacam ini, mari kita dengarkan nasehat dari Syekh Ibnu Utsaimin rahimahulllah, beliau berkata:

“Dari sini kami katakan, tidak layak bagi kita untuk bersikap berlebih-lebihan atau terlalu meremehkan. Sebagian orang berlebih-lebihan dalam memegang sunnah dari sisi bilangan rakaat tarawih, dia mengatakan, ‘Tidak boleh menambah bilangan melebihi apa yang telah ada dalam sunnah.’ Dia sangat mengingkari orang yang menambahnya sambil mengatakan, bahwa orang tersebut telah berbuat dosa dan maksiat.

Sikap seperti ini jelas keliru. Bagaimana orang itu dikatakan berdosa dan bermaksiat, padahal Nabi sallallahu’alaihi wasallam pernah ditanya tentang shalat malam, lalu beliau bersabda, “Dua (rakaat)-dua (rakaat)” tanpa menentukan bilangan.

Dapat dipahami bahwa yang bertanya tentang shalat malam tersebut jelas tidak mengetahui bilangannnya. Karena orang yang tidak tahu tata caranya, maka pasti tidak tahu juga bilangannya. Sedangkan dia bukan termasuk pembantu Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga ia bisa mengetahui apa yang terjadi dalam rumah beliau.

Maka, jika Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan kepadanya tata cara tanpa membatasi jumlah bilangannya, dapat dipahami bahwa masalah ini bersifat luas. Seseorang dibolehkan shalat tarawih seratus rakaat dan ditutup dengan shalat witir satu rakaat.

Secara umum, seyogyanya bagi seseorang tidak bersikap keras pada masalah yang sifatnya luas. Sehingga kami pernah melihat di antara saudara-saudara yang ekstrim dalam masalah ini, di antara mereka ada yang membid’ahkan para ulama yang berpendapat (bolehnya shalat malam) lebih dari sebelas rakaat. Lalu mereka meninggalkan masjid (sebelum shalat tarawih selesai) sehingga dia luput mendapatkan apa yang Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan:

BACA JUGA  Karantina Wilayah: Perlu tapi Pemerintah Belum Siap

“Sesungguhnya orang yang melakukan shalat bersama imam hingga selesai, maka akan dicatat baginya sebagai shalat malam.” (HR. Tirmizi, no; 806. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam shahih Tirmizi, no. 646)

Terkadang mereka duduk-duduk setelah menyelesaikan sepuluh rakaat, sehingga barisan shalat pun terputus karena duduknya mereka. Bahkan terkadang mereka juga saling berbicara sehingga mengganggu orang-orang yang sedang melaksanakan shalat. Kami yakin bahwa mereka menginginkan kebaikan, lalu mereka pun berijtihad. Akan tetapi tidak setiap orang yang berijtihad itu tepat.

Kelompok kedua, kebalikan dari kelompok pertama, yaitu mereka yang mengingkari siapa saja yang menunaikan shalat sebelas rakaat saja. Mereka berkata, “Kamu telah keluar dari ijma (konsensus para ulama), padahal Allah Ta’ala berfirman:

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa: 115)

Lalu mereka pun menuduh bahwa orang-orang sebelum kalian tidak mengenal bilangan rakaat tarawih selain dua puluh tiga rakaat. Sehingga dengan ekstrim juga mereka mengingkarinya (orang yang shalat sebelas rakaat). Ini juga suatu kesalahan.” (lihat; As-Syarhu Al-Mumti’, 4/73-75)

Sedangkan dalil kelompok yang mengatakan tidak boleh menambah lebih dari delapan rakaat dalam shalat Tarawih adalah hadits Abu Salamah bin Abdurrahman bahwa beliau bertanya kepada Aisyah radhiallahu’anha, “Bagaiamana tata cara shalat Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam pada bulan Ramadan?” Aisyah menjawab, “Beliau tidak pernah menambah di bulan Ramadan dan selain Ramadan dari sebelas rakaat. Beliau shalat empat (rakaat), jangan tanya bagus dan panjangnya. Kemudian beliau shalat lagi empat (rakaat), jangan tanya bagus dan panjangnya, kemudian beliau shalat tiga (rakaat). Maka aku (Aisyah) berkata: “Wahai Rasulullah! Apakah engkau tidur sebelum shalat witir? Beliau menjawab: “Wahai Aisyah sesungguhnya kedua mataku terpejam (akan tetapi) hatiku tidak tertidur.” (HR. Bukhari, no. 1909, Muslim, no. 738)

Mereka berdalil bahwa Hadits ini menunjukkan Rasulullah selalu melaksanakan demikian  dalam shalat malam, baik di bulan Ramadan maupun selain Ramadan.”

Para ulama menolak meraka yang menjadikan hadits ini sebagai dalil tidak bolehnya shalat malam lebih dari sebelas rakaat, sebab hal ini adalah perbuatan beliau sallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan perbuatan tidak menunjukkan kewajiban.

Di antara dalil yang jelas bahwa shalat lail, di antaranya shalat Tarawih, tidak ditentukan bilangan rakaatnya adalah hadits Ibnu Umar radhiallahu’anhuma. bahwasanya seseorang bertanya kepada Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam tentang shalat malam. Maka Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Shalat malam itu dua (rakaat) dua (rakaat), kalau di antara kalian khawatir (datang waktu) subuh, maka shalatlah satu rakaat untuk witir dari shalat yang telah dilaksanakan.” (HR. Bukhari, 946. Muslim, 749)

Dari pendapat para ulama dalam berbagai madzhab yang diakui, jelas bagi anda bahwa perkara  ini  luas. Maka tidak mengapa menambah rakaat lebih dari sebelas rakaat.

Imam As-Sarkhasi, salah satu tokoh dalam mazhab Hanafi, berkata: “Sesungguhnya (shalat malam) dalam (mazhab) kami adalah dua puluh rakaat selain witir.” (lihat: Al-Mabsuth, 2/145)

BACA JUGA  Heal the World, Make it Better Place

Ibnu Qudamah berkata: “Yang dipilih menurut Abu Abdullah (yakni Imam Ahmad) rahimahullah adalah dua puluh rakaat. Pendapat ini juga dipilih oleh Ats-Tsauri, Abu Hanifah dan Asy-Syafi’i. Sedangkan Imam Malik mengatakan, ‘Tiga puluh enam rakaat’.” (lihat: AlMughni, 1/457)

Imam An-Nawawi berkata: “Shalat Tarawih adalah sunnah menurut ijma (konsensus) para ulama. Dalam mazhab kami (shalat Tarawih) adalah dua puluh rakaat dengan sepuluh kali salam. Boleh melaksanakannya sendiri atau secara berjama’ah.” (Al-Majmu, 4/31)

Demikianlah pendapat ulama mazhab tentang bilangan rakaat dalam shalat Tarawih. Mereka semua mengatakan lebih dari sebelas rakaat. Kemungkinan di antara sebab-sebab yang menjadikan mereka mengatakan lebih dari sebelas rakaat adalah:

Mereka berpendapat bahwa hadits Aisyah tidak mengandung penetapan bilangan ini (sebelas rakaat).

Telah ada tambahan dari kebanyakan para ulama salaf. (lihat: Al-Mugni, 2/604 dan Al-Majmu, 4/32)

Sesungguhnya Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu shalat sebelas rakaat panjang sekali sampai memasuki sebagian malam. Bahkan sekali waktu Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam shalat Tarawih bersama para shahabat hingga beberapa saat sebelum terbit Fajar, sampai para shahabat khawatir tidak dapat melakukan sahur. Namun, mereka senang shalat di belakang Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak merasa panjang.

Maka para ulama berpendapat bahwa kalau  seorang imam shalat demikian panjang seperti ini, maka para makmum akan merasa berat, bahkan dapat menyebabkan mereka meninggalkannya. Akhirnya mereka berpendapat bahwa sebaiknya Imam meringankan bacaan dan menambah bilangan rakaat.

Kesimpulannya adalah barangsiapa yang shalat sebelas rakaat sesuai dengan sifat yang  dilakukan Nabi sallallahu ‘alaih wa sallam maka dia telah sesuai dengan sunnah. Dan barangsiapa yang meringankan bacaan dan menambah rakaat juga bagus. Dan tidak boleh mengingkari orang yang melakukan salah satu dari dua amalan.

Ibnu Taimiyah berkata, “Shalat Tarawih jika dilaksanakan seperti tata cara madzhab Abu Hanifah, Syafi’i dan Ahmad adalah dua puluh rakaat atau seperti madzhab Malik tiga puluh enam rakaat atau tiga belas atau sebelas, maka itu bagus. Sebagaimana telah dinyatakan oleh Imam Ahmad bahwa masalah ini bukan perkara baku, sehingga boleh memperbanyak atau menyedikitkan rakaat, sesuai dengan panjang dan pendeknya shalat malam.” (Al-Ikhtiyarat, hal. 64)

As-Suyuthi berkata: “Hadits-hadits shahih dan hasan dalam masalah qiyam Ramadan serta anjuran di dalamnya, tidak ada satu pun yang mengkhususkan bilangan. Dan tidak ada ketetapan bahwa Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam shalat Tarawih dua puluh rakaat. Akan tetapi beliau shalat waktu malam (dengan) shalat tanpa disebutkan bilangannya. Kemudian beliau terlambat (tidak datang) pada malam keempat, khawatir akan diwajibkan kepada umatnya, lalu mereka tidak mampu (menunaikannya).

Ibnu Hajar Al-Haistamy berkata, “Tidak ada hadits shahih bahwa Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam shalat Tarawih dua puluh rakaat. Riwayat yang menyatakan bahwa beliau shalat dua puluh rakaat adalah lemah sekali.” (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah, 27/ 142 – 145).

Dengan demikian, jangan heran wahai saudaraku bahwa shalat Tarawih dua puluh rakaat telah dilakukan sejak lalu oleh mereka para imam-imam dari generasi ke generasi. Dan pada masing-masing ada kebaikannya. Semoga dengan memahami permasalahan ini, kita bisa lebih bijak dalam menyikapi perbedaan yang terjadi di antara umat.

Penulis : Fakhruddin

Disadur dari artikel yang diunduh dari situs https://islamqa.info/ar/9036

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Artikel

AS Intensifkan Latgab Antiterorisme di Afrika, Ada Apa?

KIBLAT.NET, Tanzania – Menyusul serangkaian serangan di sejumlah hotel dan objek wisata lainnya yang memicu...

Sabtu, 11/06/2016 14:03 0

Indonesia

Jakarta Butuh Pemimpin dengan Kriteria Seperti Ini

KIBLAT.NET, Jakarta – KH. Didin Hafidhuddin mengatakan bahwa Jakarta membutuhkan pemimpin dari umat Islam, yaitu...

Sabtu, 11/06/2016 12:30 0

Amerika

AS Memperluas Peran Pasukannya di Afghanistan

KIBLAT.NET, Washington – Presiden Amerika Serikat Barack Obama dikabarkan menyetujui memberikan peran lebih besar bagi...

Sabtu, 11/06/2016 11:31 0

Indonesia

“Setelah Ada UU Terorisme Kok Terorisnya Mati Semua”

KIBLAT.NET, Jakarta – Ada satu kritik menarik yang dikeluarkan Wakil Pansus UU Terorisme, Hanafi Rais....

Sabtu, 11/06/2016 11:27 0

Wilayah Lain

Politikus Ini Ancam Bersihkan Umat Islam dari India

KIBLAT.NET, New Delhi – Aktivis Politik Hindu sekaligus aktivis perempuan di komunitas Hindu radikal India...

Sabtu, 11/06/2016 09:49 0

Indonesia

Pesantren Entrepreneur dan ACT Akan Bangun Rumah Tahfidz untuk Pengungsi Suriah

KIBLAT.NET, Jakarta – Pesantren Entrepreneur bersama dengan Aksi Cepat Tanggap (ACT) telah bekerja sama untuk...

Sabtu, 11/06/2016 09:09 0

Indonesia

Ada yang Samakan Islam dan Komunisme, UBN: Setidaknya Ada Dua Perbedaan Mendasar

KIBLAT.NET, Jakarta – Pernyataan mencengangkan seorang aktivis mahasiswa Islam yang menyamakan komunisme dengan Islam kini...

Sabtu, 11/06/2016 07:01 0

Indonesia

ACT Minta Pemerintah Serius Bantu Suriah Bukannya Hambat Kerja Kemanusiaan

KIBLAT.NET, Jakarta – Krisis Suriah semakin lama berkepanjangan hingga jumlah korbannya tak lagi terhitung. Menanggapi hal...

Sabtu, 11/06/2016 06:41 0

Wilayah Lain

Kedutaan AS di Negara Islam Gambia Ditutup

KIBLAT.NET, Washington – Kedutaan besar Amerika Serikat (AS) di Banjul ditutup kecuali untuk layanan penting...

Sabtu, 11/06/2016 06:32 0

Suriah

Bom ISIS Tewaskan Komandan Tinggi FSA di Suriah Selatan

KIBLAT.NET, Damaskus – Komandan tinggi oposisi Suriah di wilayah selatan dilaporkan tewas oleh serangan bom...

Jum'at, 10/06/2016 22:40 0

Close