Apakah Arah Kiblat Kita Sudah Tepat?

Assalamu’alaikum warahmatullah wa barakatuh

Beberapa waktu lalu beredar himbauan kepada kaum muslimin untuk membetulkan arah kiblatnya karena matahari tepat berada di atas Ka’bah. Kalau demikian, apakah arah kiblat kita selama ini salah? Sebenarnya bagaimana ketentuan menghadap kiblat? Apakah harus tepat sejajar dengan Ka’bah atau bagaimana? Jazaakumullah

Wa’alaikumussalam warahmatullah wa barakatuh

Saudara penanya yang dirahmati Allah, Istiqbalul Qiblah (menghadap kiblat) merupakan salah satu syarat sahnya shalat. Maknanya tidak sah shalat seseorang kecuali dengan menghadap kiblat. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa kiblat kaum muslimin adalah Ka’bah. Allah SWT berfirman :

….قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَام

“Kami telah melihat wajahmu berulang kali menegadah ke langit. Niscaya kami akan palingkan engkau (Muhammad) kea rah kiblat yang engkau ridhoi. Maka dari itu palingkanlah wajahmu ke arah masjidil haram…” (QS. Al-Baqarah : 144)

Ayat ini adalah perintah kepada Nabi Muhammad SAW untuk memalingkan kiblatnya ke arah Masjidil Haram setelah sebelumnya kurang lebih selama 16 bulan Nabi menghadap ke Baitul Maqdis. Bahkan perintah untuk menghadap Masjidil Haram diulang sebanyak 3 kali kepada Nabi dan 2 kali kepada umat Islam. Di dalam Bahasa Arab, pengulangan menandakan bahwa hal tersebut sangat ditekankan. Oleh karena itu wajib bagi orang yang hendak melaksanakan shalat untuk berijtihad dalam menentukan arah kiblat, agar shalatnya menghadap ke arah Ka’bah.

Akan tetapi beberapa tahun belakangan ini seiring adanya himbauan dari pihak-pihak terkait untuk “membetulkan” arah kiblat, kita melihat sebuah fenomena yang kurang baik terjadi di tengah masyarakat kita. Dengan adanya “pembetulan” arah kiblat tak jarang kira mendapati sebuah masjid dibomgkar dan dibangun ulang hanya karena arah kiblat yang menurut mereka salah. Kerancuan shaf dalam shalat-pun terjadi. Sering kita mendapati masjid yang shafnya serong dan miring sehingga mengurangi kapasitas masjid itu sendiri.

Batas Minimal Menghadap Kiblat

Fenomena di atas muncul karena kurang bijak dalam menyikapi fikih menghadap kiblat. Dalam fikih menghadap kiblat perlu diketahui bahwa yang wajib menghadap tepat ke Ka’bah adalah orang yang melihat langsung Ka’bah (Mu’ayin), adapun orang yang tidak melihat langsung Ka’bah maka cukup baginya menghadap arah (tidak harus tepat menghadap Ka’bah). Hal ini disebutkan oleh Imam Asy-Syaukani di dalam tafsir Fathul Qadir.

وقد حكى القرطبي الإجماع على أن استقبال عين الكعبة فرض على المعاين و على أن غير المعاين يستقبل الناحية و يستدل على ذلك بما يمكنه الاستدلال به

“Al-Qurtubi menyebutkan telah terjadi ijma’ bahwa wajib bagi orang yang melihat langsung ka’bah untuk menghadap ke bangunan Ka’bah, sementara orang yang tidak melihat langsung cukup baginya menghadap arah dengan menggunakan apa saja yang dijadikan sebagai penunjuk arah.” (Fathul Qadir 1/136)

Perkataan Al-Qurtubi di atas didukung oleh hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda :

ما بين المشرق و المغرب قبلة

“Antara timur dan barat adalah kiblat.” (HR. Tirmidzi)

Di dalam Tuhfatul Ahwadzi yang merupakan syarh Sunan At-Tirmidzi dinukil perkataan Imam Suyuthi yang mengatakan bahwa hadits di atas tidak berlaku umum bagi seluruh daerah, akan tetapi berlaku khusus bagi kota Madinah dan kota yang arah kiblatnya semisal dengan Madinah.

Hadits di atas menunjukkan bagaimana keluasan Islam dalam masalah menghadap kiblat. Hadits di atas disampaikan oleh Nabi bagi penduduk Madinah. Kalau kita melihat peta maka kita akan dapati bahwa Madinah berada di utara kota Mekah. Sehingga dapat dipahami dari hadits di atas bahwa jika kiblat agak serong ke barat atau agak serong ke timur dari arah Ka’bah maka tidak masalah karena itu masih termasuk arah kiblat sebagaimana yang disebutkan hadits.

Lantas bagaimana dengan kita yang berada di Indonesia? Jika ada yang ingin membangun masjid baru maka ukuran yang dipakai dalam “membetulkan” arah kiblat bisa dipakai. Adapun jika ada masjid yang sudah dibangun namun ternyata arahnya “salah” (tidak tepat ke arah Ka’bah) maka yang berlaku hadits di atas dan perkataan Al-Qurtubi. Karena hadits dan perkataan Al-Qurtubi adalah batasan minimal dalam menghadap kiblat.

Wallahu A’lam bis Shawab

Dijawab oleh Ustadz Miftahul Ihsan Lc

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat