Kisah Syuhada yang Dikuliti Hidup-Hidup

“Jika saya punya sepuluh tombak, saya akan melempar satu ke Roma, dan sembilan lainnya ke arah Fatimiyah.”

(Abu Bakr An-Nabulsi)

KIBLAT.NET – Dia adalah Abu Bakr Muhammad bin Ahmad bin Sahl bin Nasr Ar-Ramli. Orang-orang mengenalnya dengan An-Nabulsi. Dia seorang hamba yang taat dan saleh, serta tidak tertarik harta dunia. Dia selalu berdiri kokoh membela kebenaran. Dia berpuasa setiap hari, dan hal tersebut berpengaruh terhadap orang-orang di sekitarnya.

Dia adalah seorang ahli fikih dan hadits. Ia termasuk salah satu ulama hadits besar pada masanya. Sebab, ia meriwayatkan hadits dari para ulama seperti At-Tabrani dan Ibnu Qutaibah. Selain itu, ia mengajari Ad-Daraqutni, Al-Midani, dan Ali bin Umar Al-Halabi. Di sisi lain, Ubaydillah Al-Mahdi mendirikan negara Fatimiyah, dan merebut kota Al-Mahdiyyah yang setelah itu dipakai sebagai ibukotanya.

Kota ini terletak di pantai Tunisia sekitar 16 mil tenggara kota Qayrawan. Kemudian, anak-anak Ubaydillah al-Mahdi melanjutkan kebijakan ekspansi sampai Abu Tamim bin Isma’il — juga dikenal sebagai Al-Mu’iz li-Dinillah– penakluk Mesir. Ia masuk pada hari Jumat, 8 Ramadhan 362 H, dan mendirikan kota Kairo.

Para penguasa negara Fatimiyah ini berideologi Syiah, sementara orang-orang Mesir dan Palestina adalah sunni.
Kesengsaraan yang disajikan oleh dinasti Fatimiyah adalah cobaan besar bagi umat Islam. Ketika mereka menjajah Palestina, orang-orang yang saleh dan miskin melarikan diri dari Yerusalem karena Fatimiyah akan memaksa ulama Muslim mengutuk semua shahabat Nabi n selama mereka pidato dan khotbah.

Salah seorang ulama yang lolos dari kejaran Fatimiyah adalah Al-Imam An-Nabulsi, yang melarikan diri ke Damaskus. Ketika al-Mu’iz liDinillah tiba di Suriah dan menaklukkannya, ia mulai menyerukan ideologi sesatnya. Ia melarang orang shalat Tarawih dan Dhuha, serta memaksa mereka untuk Qunut selama shalat Dhuhur.

Adapun an-Nabulsi, ia berasal dari Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah. Ia menganggap ini adalah kewajiban untuk melawan rezim Fatimiyah. Dia mengatakan kepada penguasa Fatimiyah, “Jika saya punya sepuluh tombak, saya akan melempar satu ke Roma, dan sembilan lainnya ke arah Fatimiyah.”

Ketika penguasa Damaskus -Abu Mahmud Al-Kitami- mampu mengalahkan Qaramitah (yang merupakan musuh Fatimiyah), ia menangkap al-Imam An-Nabulsi dan memenjarakannya di bulan Ramadhan. Ketika komandan tentara Al-Mu’iz li-Dinillah tiba di Damaskus, An-Nabulsi diserahkan kepada mereka dan dibawa ke Mesir.

Ketika tiba di Mesir, ia dibawa menghadap Al-Mu’iz li-Dinillah. Al-Mu’iz berkata kepada An-Nabulsi, “Saya mendapat info bahwa kau berkata jika seorang memiliki sepuluh tombak, maka ia harus melempar satu ke Roma, dan sembilan sisanya kepada kami!”

An-Nabulsi berkata, “Saya tidak mengatakan itu.”
Penguasa Fatimiyah tersenyum, ia menganggap imam ini akan menarik kembali pernyataannya. Lalu ia bertanya:
“Lantas, apa yang kau katakan?”
An-Nabulsi menjawabnya dengan penuh keberanian, “Jika seseorang memiliki sepuluh tombak, maka dia harus melempar sembilan tombak kepadamu dan yang kesepuluh juga kepadamu!!!”

Al-Mu’iz terkejut dan bertanya, “Mengapa begitu?”
Lalu, An-Nabulsi menjawab dengan berani, “Sebab, kau telah mengubah agama Ummah. Kau membunuh orang-orang saleh. Kau mengusir ulama, cahaya Ilahi. Dan kau merebut apa yang bukan milikmu.”

Penguasa Fatimiyah tersebut lalu memerintahkan penjaga membawa An-Nabulsi ke depan publik. Keesokan harinya, ia dicambuk dengan hebat. Pada hari ketiga, An-Nabulsi dipaku dan disalib, kemudian tukang daging Yahudi dibawa untuk menguliti dagingnya –karena tukang daging Muslim menolak untuk melakukannya. Pada saat daging itu dikupas dari atas kepala ke wajahnya, beliau masih mengingat Allah dan mengulang-ulang ayat
Al-Qur’an, “… Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh)” (QS. Al-Isra’: 58)

Ketika tukang daging menguliti tangan An-Nabulsi, ia memutuskan untuk mengakhiri penderitaannya karena tidak tahan melihatnya. Ia mengambil pisau kemudian menusukkan pisau itu ke jantung An-Nabulsi, seketika itu pula beliau meninggal.

Kemudian, banyak saksi mata melaporkan bahwa ketika jenazah An-Nabulsi masih berada di tiang salib, bacaan Al-Qur’an masih bisa didengar dari jenazah tersebut. Ibnu Ash-Sha’sha Al-Misri meriwayatkan bahwa ia melihat
An-Nabulsi dalam mimpi setelah ia terbunuh.

Mimpi itu sungguh indah dan dipenuhi kegembiraan. Ia bertanya, “Apa yang telah Allah berikan kepada engkau?”

An-Nabulsi menjawab:
Allah mencintaiku dengan kemuliaan yang abadi
Dia menjanjikanku kedekatan dan persahabatan kepada-Nya
Dia membawaku sangat dekat kepada-Nya
Dia berkata, “Bersenang-senanglah dalam kehidupan abadi di sisi-Ku.”

Penulis : Dhani El_Ashim

Disadur dari buku Golden Stories karya Abdullah bin Abdurrahman

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat