Ini Reaksi Mabes Polri Soal Pelaporan Uang Dua Gepok ke KPK

KIBLAT.NET, Jakarta – Ketua Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak bersama ICW, KontraS, LBH Jakarta, YLBHI, juga ketua tim pengacara dari UMY pada Kamis (19/05) lalu mendatangi kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk melaporkan uang 100 juta yang diberikan kepada Suratmi dari Densus 88. Uang tersebut diduga mengandung unsur gratifikasi.

Dalam hal ini, Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Mabes Polri Brigjen Agus Rianto mengatakan uang itu berasal dari kantong pribadi Kepala Densus 88 Antiteror Mabes Polri Brigjen Eddy Hartono yang diberikan kepada Suratmi, istri dari Siyono, warga klaten yang tewas sesaat setelah ditangkap oleh Densus 88.

Agus menegaskan bahwa uang yang diberikan pada keluarga Siyono bukan hasil gratifikasi. Uang tersebut disebutnya sebagai uang kerohiman yang diberikan kepada keluarga yang telah ditinggalkan almarhum Siyono.

“Itu dari beliau (Kadensus), dia memberikannya ikhlas,” kata Agus di Mabes Polri kepada wartawan, Jum’at (20/05).

Ia mengatakan bahwa pihak Polri akan terus memantau proses pelaporan tersebut di lembaga anti korupsi tersebut. “Kita monitor saja ya dari KPK bagaimana tindak lanjut dari teman-teman KPK terkait tindak kasus tersebut,” ujarnya.

Agus kembali mengatakan bahwa sejak adanya kasus Siyono ini, Polri sudah menyampaikan bahwa uang tersebut merupakan uang duka.

“Kita sudah sampaikan sejak awal bahwa uang tersebut adalah uang duka yang diberikan oleh Kadensus terkait dengan peristiwa yang terjadi beberapa waktu sebelumnya. Kita tinggal ikuti saja nanti bagaimana perkembangan dari hasil pelaksaan tugas dari teman-teman KPK,” sambung dia.

BACA JUGA  Lawan Tuduhan Radikal, MHH Muhammadiyah Advokasi Din Syamsudin

Lalu ketika mengomentari jumlah besaran uang Rp100‪ juta tersebut, apakah sudah dalam kategori wajar dalam rangka pemberian uang duka, ia mengomentari bahwa hal itu tergantung dari Kadensus dan sifatnya relatif.

“Oh itu kan relatif, itu kan Kadensus, beliau memberikan uang itu dengan ikhlas. Jumlahnya itu relatif. Beliau memberikan pada saat itu jumlahnya itulah pertimbangan beliau pada saat itu,” jelasnya.

 

Sebagaimana diketahui, keluarga Siyono menerima uang dua gepok dari Densus 88 setelah pemulangan jenazah Siyono. Awalnya pihak keluarga tidak berani membuka gepokan uang itu, hingga akhirnya dilaporkan ke pihak Muhammadiyah. Bersama Komnas HAM dan lembaga bantuan hukum lainnya, dua gepok uang itu dibuka dan diketahui berjumlah 100 juta rupiah.

Dalam hal ini, Direktur An-Nasr Institute, Munarman menyampaikan jika Densus 88 beralasan bahwa uang yang diberikan pada istri Almarhum Siyono sebagai uang kerahiman maka hal itu tak bisa diterima. Ia menilai jika Densus berkeyakinan melakukan tindakan yang benar, maka uang kerohiman itu tidak diperlukan.

“Kalau ada uang kerahiman berarti Densus merasa bersalah dong, kalau ia merasa benar ia gak perlu ngasih, ya kan?” ujar dia.

 

Sumber: Okezone
Penulis: Jundi Karim

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat