... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Meski Sudah Shalat, Tetap Diperintahkan Shalat Lagi, Kok Bisa?

Foto: Ilustrasi

KIBLAT.NET – Di beberapa masjid, yang biasa dipakai untuk tempat bersinggah orang-orang yang sedang melakukan safar, kita mungkin pernah melihat orang yang duduk santai di depan masjid, sementara di dalamnya sedang berlangsung shalat jamaah. Saat ditanya mengapa tidak melaksanakan shalat, mungkin ia akan menjawab sudah dijamak atau sudah shalat di tempat lain.

Sekilas tidak ada yang salah, tapi hal yang demikan ternyata menyelisihi tuntunan Rasulullah saw. Karena termasuk etika masuk masjid adalah ketika seseorang sudah shalat di tempat lain, lalu masuk masjid saat shalat berjamaah sedang berlangsung, ia dianjurkan untuk shalat bersama mereka untuk mendapatkan keutamaan shalat berjamaah, baik saat itu berada pada waktu terlarang untuk shalat maupun tidak, dan shalat tersebut menjadi nafilah untuknya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi saw:

Diriwayatkan dari Yazid bin Aswad Al-Amiri, ia menuturkan, “Aku ikut shalat Shubuh bersama Nabi saw di Masjid Khaif. Seusai shalat, beliau berlalu, kemudian beliau bertemu dengan dua orang di belakang kaum yang belum shalat. Beliau kemudian berkata, ‘Suruh keduanya kemari.’ Keduanya pun dibawa menghadap kepada beliau, keduanya menggigil ketakutan. Beliau bertanya, ‘Apa yang menghalangi kalian berdua untuk tidak shalat bersama kami?’ ‘Wahai Rasulullah, kami sudah shalat di rumah kami,’ jawab keduanya. Beliau kemudian bilang, ‘Jangan begitu! Kalau kamu berdua sudah shalat di rumah, lalu datang ke masjid dan sedang didirikan shalat jamaah, shalatlah bersama mereka, karena shalat tersebut sebagai nafilah untukmu berdua’.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa`i)

صَلِّ الصَّلَاةَ لِوَقْتِهَا ، فَإِنْ أَدْرَكَتْكَ الصَّلَاةُ مَعَهُمْ ، فَصَلِّ ، وَلَا تَقُلْ إِنِّي قَدْ صَلَّيْتُ ، فَلَا أُصَلِّي

“Tunaikanlah shalat pada waktunya, lalu jika mendapati shalat berjamaah, shalatlah (bersama mereka), jangan katakan, ‘Aku sudah shalat, sehingga tidak perlu shalat (lagi).’” (HR. Muslim)

An-Nawawi menjelaskan, “Hadits ini menunjukkan, boleh mengulang shalat Shubuh, Ashar, dan Maghrib, sama seperti shalat-shalat lainnya, karena Nabi memerintahkan untuk mengulangi shalat secara mutlak, tanpa membedakan antara shalat yang satu dan yang lain. Inilah yang sahih dalam mazhab kami. Tetapi, kami punya alasan bahwa shalat Ashar dan Shubuh tidak boleh diulang, karena pengulangan shalat adalah nafilah, dan setelah Shubuh dan Ashar tidak ada shalat nafilah. Shalat Maghrib juga tidak boleh diulang, alasannya agar jumlahnya tidak menjadi genap. Hanya saja pendapat ini dhaif.” (Syarh Nawawi, V/154).

BACA JUGA  Haluan Ekonomi Masyumi

Ibnu Rusyd menyebutkan dalam Bidâyatul Mujtahid, “Berpedoman pada dalil umum lebih kuat.” (Bidâyatul Mujtahid, I/179)

At-Tirmidzi menuturkan, “Demikian pendapat sejumlah ahlul ilmi. Pendapat ini juga dianut oleh Sufyan Ats-Tsauri, Syafi’i, Ahmad, dan Ishaq. Mereka menyatakan, jika seseorang sudah shalat sendiri, kemudian menjumpai jamaah, maka ia harus mengulangi shalat lagi bersama jamaah; semua shalat. Jika seseorang sudah shalat Maghrib sendiri, kemudian menjumpai jamaah, mereka menyatakan, ia tetap shalat bersama jamaah, kemudian menambahkan satu rakaat lagi agar jumlahnya genap. Dan menurut mereka, shalat yang dilakukan sendirian oleh orang yang bersangkutan adalah shalat wajib.” (Jâmi’ At-Tirmidzi, I/426).

As-Sanadi menuturkan, “Sabda Nabi saw, ‘Shalatlah bersama mereka,’ sabda ini secara tegas menyebutkan perintah secara umum untuk mengulang shalat, termasuk pada waktu-waktu terlarang, dan menghapus pengkhususan hukum untuk selain waktu-waktu terlarang. Sebab, fuqaha sepakat, mengecualikan sisi umum suatu dalil hukumnya tidak boleh, dalam hal ini adalah shalat fajar.” (Hâsyiyat As-Sanadi, II/113)

Disebutkan dalam ‘Aunul Ma’bûd, “Tekstual hadits ini membantah kalangan yang melarang pengulangan semua shalat. Bukankah Nabi bersabda, ‘Apabila salah seorang dari kalian sudah shalat di rumah, kemudian bertemu dengan imam sementara ia belum shalat, shalatlah bersamanya,’ tanpa mengecualikan shalat tertentu.’” (‘Aunul Ma’bûd, II/284), baca juga; Majmû’ Fatâwâ Ibnu Taimiyah, XXIII/188)

Imam Ahmad bin Hanbal memfatwakan demikian. Abu Dawud mengatakan, “Aku mendengar Ahmad menjawab ketika ditanya seseorang, ‘Jika aku masuk masjid, sementara aku sudah shalat Ashar, dan saat itu iqamat shalat Ashar dikumandangkan, apa yang harus aku lakukan?’ ‘Shalatlah bersama mereka,’ jawab Ahmad. ‘Zhuhur juga?’ tanya orang itu. ‘Semua shalat,’ jawab Ahmad. Abu Dawud bertanya kepada Ahmad, ‘Ketika aku sudah shalat Maghrib di rumah lalu ikut shalat Maghrib lagi secara berjamaah di masjid, apakah aku harus menambahkan satu rakaat?’ ‘Ya,’ jawab Ahmad.’” (Masâ`il Al-Imam Ahmad, Abu Dawud, hal: 48)

BACA JUGA  Haluan Ekonomi Masyumi

Disebutkan dalam Al-Mughnî,“Apabila seseorang mengulangi shalat Maghrib, harus ditambahi satu rakaat sehingga genap empat rakaat. Demikian yang dinyatakan Ahmad, karena shalat tersebut adalah nafilah, dan shalat nafilah tidak boleh berjumlah ganjil selain shalat witir. Dengan demikian, lebih baik ditambah satu rakaat daripada tidak sempurna, agar tidak berpisah dengan imam sebelum menyelesaikan shalat.” (Al-Mughni, II/521)

Sabda Nabi saw dalam hadits Yazid, “Jika kalian berdua mendatangi masjid yang didirikan jamaah,” secara tekstual khusus berlaku untuk shalat jamaah yang diselenggarakan di masjid, bukan di tempat lain. Karena itu, jika ada seseorang menjumpai jamaah yang shalat di rumah karena suatu uzur dan dia sudah shalat, ia tidak perlu shalat bersama mereka. Dalil mutlak yang disebutkan dalam riwayat-riwayat hadits terkait, diartikan seperti itu. (Nailul Authar, III/107)

Pengulangan shalat ini ada sebabnya, yaitu menghadiri jamaah. Tidak ada bedanya, apakah shalat yang pertama dilakukan sendirian maupun bersama jamaah. Juga tidak ada bedanya apakah ketika yang bersangkutan masuk masjid ketika iqamat dikumandangkan, ataukah jamaah sedang melakukan shalat. Karena dalil-dalil umum terkait pengulangan shalat, agar orang-orang tidak berburuk sangka padanya ketika yang lain shalat sementara dia hanya duduk saja di masjid, atau orang-orang memperbincangkan harga dirinya karena dikiranya tidak shalat. Wallahu a’lam bis shawab!

Penulis : Fakhrudin

Dringkas dari buku “Ensiklopedi Shalat” karya Abu Abdirrahman Adil bin Sa’ad, Penerbit Ummul Qura, Solo


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Iran

Iran Akhirnya Akui Banyak Warganya yang Bertempur di Suriah

KIBLAT.NET, Teheran – Garda Revolusi Iran (IRGC) mengakui banyak warga Iran menjadi milisi bayaran di...

Kamis, 19/05/2016 12:00 0

Indonesia

TNI Butuh Sukhoi SU-35 untuk Jaga Laut Cina Selatan

KIBLAT.NET, JAKARTA – Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengaku dalam pengamanan wilayah Indonesia di seputar...

Kamis, 19/05/2016 11:45 1

Rohah

“Hanya Dua Hal, Kemenangan atau Syahadah”

KIBLAT.NET – Abu Aqil, seorang shahabat Anshar, adalah di antara yang pertama terluka pada hari...

Kamis, 19/05/2016 11:06 0

Indonesia

Soal Bendera Israel di Papua, Mantan Ketua MK: Negara Jadi Tak Punya Wibawa

KIBLAT.NET, Jakarta – Sabtu (14/05) lalu, warga Abepura, Jayapura, Papua melakukan pawai sambil membawa bendera...

Kamis, 19/05/2016 10:30 0

Amerika

AS: Rusia Bangun Pangkalan Militer di Palmyra

KIBLAT.NET, Washington – Pemerintah Amerika Serikat menuding Rusia akan melakukan intervensi militer jangka panjang di...

Kamis, 19/05/2016 09:50 0

Wilayah Lain

Gagalnya Pembicaraan Wina Terkait Konflik Suriah Buat AS “Frustrasi”

KIBLAT.NET, Wina – Buntunya pembicaraan Wina terkait transisi politik di Suriah membuat Amerika Serikat untuk...

Kamis, 19/05/2016 09:10 0

Afghanistan

Operasi Taliban Meningkat di Utara, Militer Pemerintah Tertekan

KIBLAT.NET, Kabul – Mujahidin Imarah Islam (Taliban) dilaporkan telah mengepung pasukan nasional Afghan di Baghlan...

Kamis, 19/05/2016 08:40 0

Indonesia

Hamdan Zoelva: Bangsa yang Buruk Adalah Bangsa Pengekor

KIBLAT.NET, Jakarta- Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Dr Hamdan Zoelva, S.H., M.H., mengatakan bahwa jika...

Kamis, 19/05/2016 08:10 0

Indonesia

Deputi Kemenko Polhukam Sebut Bendera Israel di Papua Lambang Gereja

KIBLAT.NET, Jakarta – Deputi VII Bidang Koordinasi Kominfotur Kemenko Polhukam, Agus R. Barnas, menyatakan bahwa...

Kamis, 19/05/2016 07:41 0

Suriah

Arab Saudi Sebut Plan B, Jika Bashar Assad Tak Patuhi Gencatan Senjata

KIBLAT.NET, Wina – Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel Al Jubeir mengatakan bahwa jika Bashar...

Rabu, 18/05/2016 22:25 0

Close