... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Melakukan Safar di Hari Jum’at, Bolehkah?

Foto: Ilustrasi safar

KIBLAT.NET – Jum’at merupakan hari istimewa bagi orang mukmin. Di dalamnya terkandung banyak keutamaan dan pahala yang disediakan. Oleh karena itu, segala aktivitas yang menghambat seseorang untuk beribadah pada hari tersebut menjadi hal yang dimakruhkan, apalagi kalau menghalangi dirinya untuk melaksanakan kewajiban shalat Jum’at.

Sebagian ulama berpendapat bahwa haram hukumnya melakukan safar pada hari Jum’at bagi orang yang telah mendengar azan shalat Jum’at, dan ia termasuk orang yang berkewajiban melaksanakan shalat Jum’at.

Pernyataan ini merupakan pendapat yang paling kuat di antara beberapa pendapat yang ada. Sebab, orang yang bersangkutan terkena perintah shalat Jum’at dan ia wajib menunaikannya. Selain itu, ia juga tidak akan bisa menunaikan hal yang wajib tersebut, kecuali kalau ia mengurungkan safarnya.

Dalam kitab Al-Mughnî, Ibnu Qudamah menisbatkan pendapat ini kepada Imam Syafi’i, Ishak, dan Ibnul Mundzir. Namun, kalau seseorang menundanya akan tertimpa bahaya atau jatuh dalam kesulitan yang membelit, seperti khawatir jika tertinggal dari rekan-rekan perjalanannya atau yang semisalnya, ataupun bepergiannya itu karena suatu hal yang lebih wajib daripada shalat Jum’at, seperti berjihad di jalan Allah, ia boleh melakukan bepergian, meskipun waktu shalat Jum’at sudah masuk.

Asy-Syaukani juga mengutip perkataan Al-Iraqi dalam Syarh At-Tirmidzi, bahwa pendapat ini (Ibnul Arabi) ditopang dengan hujjah yang mengatakan, jika terjadi dua perkara yang wajib atau lebih, yang didahulukan ialah yang terpenting dari semuanya. Tidak bisa dipungkiri, berperang di jalan Allah lebih utama daripada shalat Jum’at berjamaah. Sebab, shalat Jum’at masih bisa diganti dengan shalat Zhuhur empat rekaat jika seseorang tidak dapat menunaikan shalat Jum’at. Akan tetapi, tidak demikian dengan berperang di jalan Allah secara khusus. Karena, kalau hukum berjihad sudah diwajibkan dan genderang perang sudah ditabuh, ia wajib didahulukan atas yang lainnya. (Nailul Authâr: III/229)

BACA JUGA  Ali Syari'ati: Pemikir Syiah yang Dibenci Syiah

Berikut rincian pendapat Ulama Mazhab dalam masalah ini:

  1. Mazhab Hanafi. Di dalam Tuhfatul-Mulûk100 karya Imam Ar-Razi, dikatakan, “Boleh melakukan perjalanan dan bepergian pada hari Jum’at sebelum dan sesudah tergelincir matahari.” Sebagian ulama di kalangan penganut mazhab ini menyebutkan, pembolehan ini terikat selagi waktunya belum keluar. Sebab menurut mereka, waktu kewajiban terletak pada akhir waktu. (Al-Bahrur-Râ`iq: II/164)
  2. Mazhab Maliki. Ibnu Jizzi mengatakan, “Boleh bepergian pada hari Jum’at sebelum matahari tergelincir, namun ada pula yang mengatakan makruh. Sementara itu, mereka semua sepakat bahwa bepergian menjadi terlarang setelah matahari tergelincir.” (Qawânînul-Ahkâm Asy-Syar’iyyah, hal; 56)

Kesepakatan yang dimaksud di sini ialah kesepakatan para penganut mazhab Maliki, bukan kesepakatan seluruh ulama kaum muslimin. Di dalam kitab Mukhtashar-nya, Khalil menyatakan, “Melakukan perjalanan dan bepergian setelah fajar pada hari Jum’at termasuk hal-hal yang makruh.”

  1. Mazhab Syafi’i. Di dalam pendapat qadim (mazhab ketika masih tinggal Irak), Imam Syafi’i mengatakan, “Bepergian pada hari Jum’at setelah fajar dan sebelum tergelincirnya matahari hukumnya boleh.” Al-Mawardi juga mengatakan, “Pendapat ini sebelumnya dikemukakan Umar bin Khaththab, Zubair bin Awwam, dan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, serta kebanyakan para tabi’in dan fuqaha.”

Sementara itu, qaul jadid (mazhab ketika tinggal di Mesir), Imam Syafi’i mengatakan, “Hal itu tidak diperbolehkan.” Di dalam Kitan Al-Majmu’, Imam Nawawi mengatakan, “Menurut kami—maksudnya para penganut mazhab Imam Syafi’i—pendapat (yang baru) inilah yang lebih absah.” (Al-Hâwî, karya Al-Mawardi: III/35–36, Al-Majmu’, karya An-Nawawi: IV/499)

  1. Mazhab Hanbali. Mazhab ini berpendapat, orang yang terkena kewajiban melakukan shalat Jum’at tidak diperbolehkan melakukan perjalanan setelah masuk waktunya. Namun, jika ia bepergian sebelum masuk waktunya, terdapat tiga riwayat. Ada yang melarang secara mutlak, ada yang membolehkan secara mutlak, dan ada yang melarangnya dengna pengecualian berjihad di jalan Allah. Sementara dalam kitab Al-Mughni, Ibnu Qudamah memilih riwayat yang membolehkan secara mutlak. Sebab, orang yang safar terbebas dari shalat Jum’at itu sendiri. (Al-Mughnî, karya Ibnu Quddamah: III/248)
BACA JUGA  Kedudukan Hari Asyura dalam Islam

Dengan demikian hukum melakukan safar pada hari Jum’at dapat dirincikan sebagai berikut:

Pertama, haram hukumnya apabila seseorang melakukan safar sementara dia sudah mendengar azan shalat Jum’at, dan ia termasuk orang yang berkewajiban melaksanakan shalat Jum’at.

Kedua, apabila dilakukan sebelum masuk waktu Jum’at, yaitu sebelum matahari tergelincir maka hal tersebut tidak mengapa, walaupun sebagian ulama tetap menggolongkannya sebagai amal yang dimakruhkan. Sehingga ketika seseorang bisa menghindari diri untuk melakukan safar pada hari Jum’at maka hal tersebut tentu lebih baik baginya. Walllahu a’lam bisshawab!

Penulis: Fakhruddin

Disadur dari “Jum’atan Bersama Nabi” Karya Syaikh Jabir As-Saidi, penerbit Aqwam, Solo

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Anggota Densus yang Hilangkan Nyawa Siyono Terancam Dipecat

KIBLAT.NET, Jakarta – Kadiv Humas Mabes Polri, Boy Rafli, mengungkapkan setidaknya ada empat tuntutan jaksa...

Jum'at, 29/04/2016 09:50 0

Suriah

Rezim Suriah Dikabarkan Rancang Operasi Besar di Aleppo

KIBLAT.NET, Damaskus – Surat kabar pro pemerintah rezim di Suriah mengatakan bahwa pasukan rezim Assad...

Jum'at, 29/04/2016 09:09 0

Indonesia

Sidang Etik Densus 88 Kembali Digelar Tertutup

KIBLAT.NET, Jakarta – Sidang kode etik kedua terkait pelanggaran prosedur oleh petugas Densus 88 yang...

Jum'at, 29/04/2016 08:33 0

Suriah

Milisi Kurdi Pertontonkan Jasad Pejuang FSA yang Berhasil Dibunuhnya

KIBLAT.NET, Ankara – Bentrokan yang meletus antara Tentara Pembebasan Suriah (FSA) dan milisi Kurdi PYD...

Jum'at, 29/04/2016 08:01 0

Turki

Erdogan Kritik Fragmentasi Umat dan Serukan Pembentukan Liga Islam

KIBLAT.NET – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengkritik fragmentasi dan kecenderungan sektarian dan rasisme yang...

Jum'at, 29/04/2016 05:44 0

Indonesia

KH Ali Musthofa Yakub Wafat, PBNU Instruksikan Gelar Shalat Ghaib

KIBLAT.NET, Jakarta – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengeluarkan instruksi kepada pengurus wilayah dan cabang...

Kamis, 28/04/2016 22:00 0

Suriah

Kontak Senjata ISIS VS Oposisi Suriah Masih Berlanjut di Perbatasan Turki

KIBLAT.NET, Aleppo – Setelah bentrokan sengit dengan para pejuang oposisi, militan Negara Islam (ISIS) dilaporkan...

Kamis, 28/04/2016 21:30 0

Indonesia

Ngeri, Kanker Anal Meningkat di Kalangan Pelaku Homoseksual

KIBLAT.NET, Jakarta – Perilaku homoseksual ternyata tak hanya terkait dengan penyakit mental. Neurosaintis menemukan fakta...

Kamis, 28/04/2016 21:00 0

Myanmar

Belasan Rohingya Ditemukan Terdampar di Belantara Thailand

KIBLAT.NET, Rakhine – Sejumlah warga Rohingya asal Myanmar ditemukan terkatung-katung di belantara hutan Thailand pada...

Kamis, 28/04/2016 20:30 0

Indonesia

Hampir Ricuh, Pos Jaga Pasar Sentral Poso Dirusak Orang Tak Dikenal

KIBLAT.NET, Poso – Pengrusakan pos jaga Pasar Sentral Poso oleh orang tidak dikenal membuat para...

Kamis, 28/04/2016 20:00 0

Close