... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Titian

Ketika ISIS dan Taliban Bersaing di Afghanistan

Foto: Sebuah peta menggambarkan kontrol di Afghanistan, 12 April 2016. Foto: Institute For The Study Of War

KIBLAT.NET – Kelompok Negara Islam, juga dikenal sebagai ISIS, adalah pendatang baru di Afghanistan. ISIS menyatakan kehadirannya dengan membentuk cabang Khorasan pada bulan Desember 2014. Deklarasi itu datang pada saat yang rentan bagi Taliban, yang baru saja mengkonfirmasi kematian pendiri dan pemimpin spiritualnya, Mullah Muhammad Umar. Mullah Akhtar Manshur dipilih untuk menggantikannya, dengan dukungan dari pemimpin global Al-Qaidah, Aiman Azh-Zhawahiri.

Sebagai pendatang baru, daya tarik utama bagi orang-orang untuk bergabung dengan ISIS adalah ingin menjadi bagian dari kekhalifahan. Untuk kelangsungan kelompok, ISIS perlu mengontrol wilayah dan menang atas dukungan penduduk setempat. Tetapi strategi ISIS ini belum efektif di Afghanistan. Taliban yang telah mengontrol wilayah sejak lama masih dominan. Mereka yang bergabung dengan ISIS kebanyakan adalah orang-orang yang membelot dari Taliban, karena tergiur deklarasi khilafah. Bagaimana pun Taliban telah membangun sistem cukup lama.

Taliban memerintah hampir seluruh wilayah Afghanistan pada 1996-2001. Kontrol Taliban berlanjut sampai AS memimpin invasi untuk menggulingkannya dan membentuk pemerintahan boneka di Kabul. Sejak itu, tujuan utama Taliban adalah menggulingkan pemerintah saat ini dan menyingkirkan pasukan asing. Setelah Presiden Barack Obama mengumumkan pada 2014 bahwa AS akan perlahan-lahan akan menarik pasukannya dari Afghanistan, kelemahan pemerintahan Kabul memungkinkan Taliban untuk mengkonsolidasikan kembali posisinya.

ISIS belum begitu sukses. Meskipun telah melakukan operasi besar-besaran pada Januari dalam serangan terhadap konsulat Pakistan di Jalalabad, kelompok ini belum mampu mengamankan wilayah atau dukungan yang diperlukan untuk mengalahkan pesaingnya yang lebih mapan.

BACA JUGA  Dr. Anung Al-Hamat: Ada Dua Makna Jihad, Jika Dipahami Satu Saja Pincang

Pejuang Taliban terdiri dari anggota suku yang keras. Mereka dilatih dan dididik oleh para pemimpin kelompok sejak kecil. Berbeda dengan ISIS, siapa pun dengan mudah bergabung, asalkan mau berjanji setia kepada pemimpinnya, Abu Bakar Al-Baghdadi. Taliban tidaklah demikian. Seorang individu tidak bisa hanya memutuskan untuk bergabung dengan Taliban begitu saja. Bagi Taliban, ISIS adalah entitas asing yang mencoba untuk mengendalikan Afghanistan. Ini adalah sesuatu tidak akan dibiarkan Taliban.

Abu Umar Maqbul, mantan juru bicara Taliban Pakistan, berbaiat kepada ISIS pada 26 Januari 2015. Foto: Khurasan Media

Abu Umar Maqbul, mantan juru bicara Taliban Pakistan, berbaiat kepada ISIS pada 26 Januari 2015. Foto: Khurasan Media

Pekan lalu, Taliban mengeluarkan pernyataan bahwa beberapa anggota yang sebelumnya membelot kepada ISIS telah bergabung kembali dengan Taliban. Alasan mereka karena kebijakan buta dan ambigu ISIS. ISIS tidak memiliki obat untuk luka Afghanistan, kata pernyataan itu.

Di lapangan, Taliban dapat diterima komunitas akar rumput. Laporan akhir tahun 2015 dari desa Qara Ghaily yang direbut oleh kelompok anti-Taliban menguatkan hal ini. Kelompok yang dipimpin Ghulam Faruq merebut desa itu setelah lima tahun di bawah kontrol Taliban.

Desa terpencil itu berada di barat laut Afghanistan yang berbatasan Turkmenistan. Desa itu menjelaskan sekilas kehidupan di bawah kekuasaan Taliban dan merangkum kegagalan pemerintahan Kabul.

Faruq menggambarkan Taliban sebagai kelompok garis keras. Mereka terus membatasi masyarakat di bawah aturan Syariat, termasuk larangan musik, mencukur jenggot dan gaya rambut Hollywood.

BACA JUGA  Membaca itu Menyehatkan, Mulailah dan Rasakan Manfaatnya!

Tetapi meskipun visi “keras” mereka tentang Islam, Taliban mendapatkan dukungan atas upaya mereka mewujudkan ketertiban di desa melalui sistem peradilan syariah yang berjalan efektif. Ini telah mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh pemerintah yang didukung Barat yang dipandang tidak kompeten dan korup.

Berbeda dengan sistem hukum resmi pemerintahan Kabul, yang dibangun dengan jutaan dolar dari bantuan luar negeri, pengadilan resmi Taliban memberikan layanan keadilan yang cepat dalam semua hal. Terutama kasus perzinaan dan perampokan.

Satu hal khususnya, yang membedakan mereka dari para pejabat pemerintah Kabul, mereka tidak pernah menuntut uang suap.

“Jika Anda pergi ke pengadilan kota, hakim akan mengambil uang Anda, petugas akan mengambil pakaian Anda dan para penjaga akan mengambil apa pun yang tersisa,” kata seorang warga desa, yang meminta tidak disebutkan namanya karena takut pembalasan.

“Orang-orang lebih memilih untuk mentolerir kekejaman Taliban daripada keadilan keadilan dan segala sesuatu yang mereka miliki dirampok,” tambahnya.
Reporter: Salem
Sumber:
1. www.ibtimes.com/talibans-differences-isis-are-key-its-success-afghanistan-2356690
2. www.tribune.com.pk/story/1019313/freed-afghan-village-reveals-key-to-taliban-success/

... shares
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

2 comments on “Ketika ISIS dan Taliban Bersaing di Afghanistan”

  1. frederik

    TAHUKAH ANDA BHW “ISIS” ITU SUDAH DIBUBARKAN
    SECARA RESMI SEJAK 1 TAHUN LALU………….????

    ISIS SUDAH BERUBAH MENJADI “IS”
    (ISLAMIC STATE) ATAU “DAESH” (DAULAH
    ISLAMIYYAH)………….

    KRN IS SEKARANG BUKAN HANYA DI
    2 NEGARA IRAQ & SURIAH SAJA……….!!!!

    SPT LIBYA, SOMALIA, FILIPINA, MIT POSO,
    KAUKASUS, AFGHANISTAN, SINAI MESIR, DLL

  2. Abu Jandal

    IS, Daesh, ISis, Khilafah pengkhayal, ngaku tamkin tapi pemimpinnya sendiri tidak merasa aman di wilayahnya, ape itu yg namanye tamkin??

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Saksi: Ditembak dan Jatuh, Terduga Anggota Santoso Masih Ditembak Lagi Tiga Kali

KIBLAT.NET, Poso — Kembali, satu orang terduga anggota Santoso, tewas ditembak, pada Ahad (24/04) lalu....

Rabu, 27/04/2016 22:07 0

Indonesia

Ombudsman Minta Polri Buka-bukaan dalam Kasus Siyono

  KIBLAT.NET, Jakarta — Perkembangan kasus dugaan pembunuhan Siyono (32) oleh Densus 88 mendapat sorotan dari Ombudsman...

Rabu, 27/04/2016 21:09 0

Arab Saudi

Ulama Puji Syaikh Ath-Tharifi dan Desak Pemerintah Membebaskannya

KIBLAT.NET, Riyadh – Sejumlah ulama Arab Saudi, Selasa (26/04), meramaikan kampanye solidaritas terhadap Syaikh Abdul...

Rabu, 27/04/2016 19:00 0

Suriah

Rusia Gelontorkan Rp 12 Triliun untuk Pemulihan Infrastruktur Suriah

KIBLAT.NET, Moscow – Rusia telah menandatangani kesepakatan dengan Suriah untuk pemulihan infrastruktur di negara yang...

Rabu, 27/04/2016 18:30 0

Wilayah Lain

Afiliasi Al Qaidah Disebut Bertanggung Jawab Atas Tewasnya Aktivis Gay Bangladesh

KIBLAT.NET, Dhaka – Sebuah kelompok yang berafiliasi dengan Al Qaidah disebut bertanggung jawab atas pembunuhan...

Rabu, 27/04/2016 18:00 0

Amerika

Mayoritas Pejabat AS Desak Negara Berikan Dana Militer untuk Israel

KIBLAT.NET, Washington – Lebih dari 80% dari Senator AS telah menandatangani surat berisi desakan kepada...

Rabu, 27/04/2016 17:00 0

Suriah

Puluhan Warga Sipil Tewas dalam Serangan Terbaru Rezim Suriah di Aleppo

KIBLAT.NET, Damaskus – Serangan intensif terus melanda Aleppo, Suriah. Sedikitnya 30 warga sipil tewas dalam...

Rabu, 27/04/2016 16:30 0

Wilayah Lain

DK PBB Tolak Klaim Israel atas Dataran Tinggi Golan

KIBLAT.NET, New York – Dewan Keamanan PBB menolak klaim Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang...

Rabu, 27/04/2016 16:00 0

Turki

Kurdi PKK Siap Perang Habis-habisan Lawan Turki

KIBLAT.NET, Ankara – Pemimpin kelompok Partai Pekerja Kurdistan (PKK) Cemil Bayik menyatakan siap menghadapi serangan...

Rabu, 27/04/2016 15:30 0

Myanmar

Pemimpin Muslim Myanmar: Biksu Budha dan Muridnya Kerap Memicu Kekerasan

KIBLAT.NET, Rakhine – Para biksu di Myanmar dan murid-muridnya kerap membuat provokasi agar timbul kekerasan....

Rabu, 27/04/2016 14:30 0