... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Suara Pembaca

Anak Telantar, Korban Kemiskinan Sistemik

Foto: Ilustrasi

KIBLAT.NET – Kasus kemiskinan ternyata tak hanya memberikan kontribusi dalam bertambahnya angka pengangguran dan kasus kriminal di Indonesia, tetapi juga turut menambah jumlah anak terlantar yang seharusnya dipelihara oleh negara sebagai calon masa depan bangsa. Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengatakan, saat ini 4,1 juta anak terlantar di Indonesia. Data KPAI menyebut sekitar 18 ribu anak tereksploitasi, dan dari data Kementerian Sosial (Kemensos) terdapat 35 ribu anak.

Khofifah juga mengatakan bahwa pihak yang melakukan pemerasan terhadap anak jalanan dan terlantar, terancam dihukum sesuai dengan pasal 76 i yaitu “dipidana paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah)”, Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak (“UU 35/2014”), bahwa setiap orang dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan eksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual terhadap anak.

Pembahasan mengenai anak-anak terlantar juga ditegaskan oleh negara dalam pasal 34 ayat (1) UUD 1945, yang berbunyi “Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh Negara”.

Lalu, yang menjadi pertanyaannya adalah mengapa masih banyak anak terlantar di negara Indonesia? Padahal undang-undang jelas mengatakan bahwa anak-anak terlantar dipelihara oleh negara, dan pihak yang melakukan eksploitasi terhadap anak terlantar akan terancam hukuman.

BACA JUGA  Arab Saudi, Visi 2030, dan Sportswashing

Masalah ini sebenarnya adalah permasalahan sistemik, yaitu masalah yang muncul dari sistem negara yang mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan hingga berakibat pula terhadap meningkatnya jumlah anak terlantar di negara Indonesia. Pihak yang melakukan eksploitasi terhadap anak terlantar sebagian besar adalah mereka yang terjerat dalam masalah kemiskinan.

Negara yang menganut sistem kapitalis dimana semua sektor yang seharusnya menjadi milik publik akhirnya di privatisasi (kepemilikan individu) menjadi cerminan negara Indonesia. Masyarakat setuju bahwa Indonesia memiliki banyak sektor potensial yang dapat dikelola dan dimanfaatkan oleh negara untuk kepentingan umum (masyarakat). Seperti batu bara, minyak dan gas, pertambangan, kelautan, dan lain-lain.

Namun, karena sistem yang dianut oleh negara berupa cerminan dari sistem kapitalis, akhirnya sektor-sektor potensial yang seharusnya dikelola oleh negara untuk kepentingan umum kini dikelola oleh asing untuk kepentingan pribadi. Sehingga tidak heran jika semakin banyak angka kemiskinan yang menjadi titik awal bertambahnya jumlah anak terlantar di negara Indonesia.

Permasalahan seperti ini sangat memerlukan perhatian khusus dari pemerintah dan masyarakat, karena masalah ini bukan lagi permasalahan sosial yang dapat diatasi dengan bantuan-bantuan sosial yang berasal dari organisasi-organisasi tertentu. Melainkan hanya sistem negaralah yang mampu mengatasi masalah bertambahnya anak-anak terlantar di Indonesia melalui penghapusan sistem kapitalis yang saat ini berlaku dalam negara Indonesia.

Penulis: Nila Afila (Mahasiswa Manajemen Agroindustri Politeknik Negeri Jember, Aktivis Koperasi Mahasiswa, Penulis, sekaligus pemerhati sosial)


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Philipina

Buru Kelompok Abu Sayyaf, Filipina Kerahkan Regu Elite Tambahan 

KIBLAT.NET, Manila – Angkatan Bersenjata Filipina kembali mengerahkan pasukan anti-teror tambahan untuk memburu kelompok Abu...

Selasa, 12/04/2016 17:00 0

Munaqosyah

Ulil Amri yang Wajib Ditaati

KIBLAT.NET – Belakangan ini, tema ulil amri kembali hangat diperbincangkan di sosial media. Meski sudah...

Selasa, 12/04/2016 16:30 5

Indonesia

RDP Komisi III Soal Kasus Siyono: Penjelasan Kapolri Bertentangan dengan Temuan Komnas HAM

KIBLAT.NET, Jakarta – Komisi III DPR RI siang ini melakukan rapat dengar pendapat dengan Komnas...

Selasa, 12/04/2016 16:11 0

Indonesia

Ini Tanggapan Keluarga Terkait Hasil Autopsi Siyono

KIBLAT.NET, Klaten – Setelah melakukan uji labolatorium mikroskopik selama kurang lebih satu pekan, akhirnya hasil...

Selasa, 12/04/2016 14:48 0

Indonesia

Komisi III Pertanyakan Tanggung Jawab Kapolri atas Kematian Siyono

KIBLAT.NET, Jakarta – Kasus kematian Siyono usai ditangkap Densus 88 turut menjadi perhatian serius Komisi...

Selasa, 12/04/2016 14:30 0

Indonesia

BNPT: Autopsi Siyono Hanya Temuan Sementara, Tidak Bisa Menjelaskan Detail Peristiwa

KIBLAT.NET, Jakarta – Terkait autopsi yang dilakukan PP Muhammadiyah terhadap jenazah korban Densus 88 Siyono, Kepala BNPT...

Selasa, 12/04/2016 14:15 1

Suriah

Suriah dan Rusia Rencanakan Pertempuran Besar di Aleppo

KIBLAT.NET, Damaskus – Perdana Menteri Suriah Wail Al-Halqi, Ahad lalu (10/04), mengatakan bahwa militernya dan...

Selasa, 12/04/2016 13:30 0

Rusia

Rusia: Jabhah Nusrah Kerahkan Puluhan Ribu Pasukan ke Aleppo

KIBLAT.NET, Damaskus – Kepala Staf Umum Militer Rusia, Letnan Jenderal Sergei Rudskoy, mengatakan bahwa Jabhah...

Selasa, 12/04/2016 13:00 0

Indonesia

ISAC: Modus Penyiksaan Siyono Mirip dengan Nur Prakoso

KIBLAT.NET, Klaten- Islamic Sutdy and Action Centre ( ISAC ) memiliki data bahwa Nur Prokoso...

Selasa, 12/04/2016 12:30 1

Iran

Iran Terima Sistem Rudal Jarak Jauh S-300 dari Rusia

KIBLAT.NET, Teheran – Kementerian Luar Negeri Iran mengkonfirmasikan bahwa pihaknya telah menerima sistem rudal jarak...

Selasa, 12/04/2016 12:00 0

Close
CLOSE
CLOSE