“Apakah Tetap Engkau Bunuh Dia Setelah Berucap ‘Laa Ilaaha Illa Allah’?”

KIBLAT.NET – Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari seorang sahabat mulia yang juga merupakan cucu angkat kesayangan Rasulullah SAW, yaitu Usamah bin Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhuma bahwa ia berkata:

بَعَثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْحُرَقَةِ مِنْ جُهَيْنَةَ قَالَ فَصَبَّحْنَا الْقَوْمَ فَهَزَمْنَاهُمْ قَالَ وَلَحِقْتُ أَنَا وَرَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ رَجُلًا مِنْهُمْ قَالَ فَلَمَّا غَشِينَاهُ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ قَالَ فَكَفَّ عَنْهُ الْأَنْصَارِيُّ فَطَعَنْتُهُ بِرُمْحِي حَتَّى قَتَلْتُهُ قَالَ فَلَمَّا قَدِمْنَا بَلَغَ ذَلِكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَقَالَ لِي يَا أُسَامَةُ أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّمَا كَانَ مُتَعَوِّذًا قَالَ أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ قَالَ فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا عَلَيَّ حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّي لَمْ أَكُنْ أَسْلَمْتُ قَبْلَ ذَلِكَ الْيَوْمِ

Dari Usamah bin Zaid bin Haritsah Radhiyallahu ‘anhuma ia berkata, “Rasulullah SAW mengutus kami dalam sebuah pasukan perang untuk menyerang orang-orang kafir Marga Huraqah, bagian dari suku Juhainah. Kami menyerang mereka di waktu pagi dan kami mengalahkan mereka. Saya dan seorang sahabat Anshar mengejar seorang anggota Bani Huraqah yang melarikan diri. Ketika kami mengepungnya, tiba-tiba ia mengucapkan ‘Laa Ilaaha Illa Allah’ (Tiada Ilah Yang berhak disembah selain Allah). Sahabat Anshar itu pun menahan dirinya. Adapun saya menusuk orang tersebut dengan tombakku sampai saya menewaskannya.”

Usamah bin Zaid melanjutkan ceritanya, “Ketika kami tiba di Madinah, berita tersebut sampai kepada Nabi SAW. Maka beliau bertanya kepadaku, ‘Wahai Usamah, apakah engkau tetap membunuhnya setelah ia mengucapkan Laa Ilaaha Illa Allah?’ Saya (Usamah) menjawab, “Wahai Rasulullah, ia mengucapkannya sekedar untuk melindungi dirinya.”

Namun beliau SAW tetap bertanya, “Apakah engkau tetap membunuhnya setelah ia mengucapkan Laa Ilaaha Illa Allah?”

Saya (Usamah) berkata, “Beliau SAW masih terus mengulang-ulang pertanyaan itu, sehingga saya berangan-angan andai saja saya belum masuk Islam sebelum hari itu.”

Dalam riwayat Muslim, Rasulullah SAW bertanya kepada Usamah bin Zaid:

أَقَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَقَتَلْتَهُ

“Apakah ia sudah mengucapkan Laa Ilaaha Illa Allah, namun engkau tetap saja membunuhnya?”

Maka Usamah bin Zaid menjawab:

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّمَا قَالَهَا خَوْفًا مِنْ السِّلَاحِ

“Wahai Rasulullah, dia mengucapkannya karena takut kepada senjata kami.”

Namun Rasulullah SAW bersabda:

أَفَلَا شَقَقْتَ عَنْ قَلْبِهِ حَتَّى تَعْلَمَ أَقَالَهَا أَمْ لَا

“Kenapa engkau tidak membelah dadanya, sehingga engkau mengetahui apakah hatinya mengucapkan Laa Ilaaha Illa Allah karena ikhlash ataukah karena alasan lainnya?”

Usamah berkata:

فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا عَلَيَّ حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّي أَسْلَمْتُ يَوْمَئِذٍ

“Beliau terus-menerus mengulang pertanyaan itu kepada saya sehingga saya berharap andai saja saya baru masuk Islam pada hari itu.” (HR. Bukhari: Kitab ad-diyat no. 6872 dan Muslim: Kitab al-iman no. 96)

Dalam riwayat yang lain, Imam Muslim meriwayatkan dari Jundab bin Abdullah Al-Bajali radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah SAW bertanya kepada Usamah:

لِمَ قَتَلْتَهُ

“Kenapa engkau membunuhnya?”

Usamah menjawab:

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَوْجَعَ فِي الْمُسْلِمِينَ وَقَتَلَ فُلَانًا وَفُلَانًا وَسَمَّى لَهُ نَفَرًا وَإِنِّي حَمَلْتُ عَلَيْهِ فَلَمَّا رَأَى السَّيْفَ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

“Wahai Rasulullah, ia telah menimbulkan luka-luka terhadap kaum muslimin, bahkan ia telah menewaskan fulan dan fulan.” Usamah menyebutkan sejumlah sahabat yang gugur di tangan orang itu. Usamah lalu berkata, “Saya menyerang orang itu, namun saat ia melihat pedang saya, ia mengucapkan Laa Ilaaha Illa Allah.”

BACA JUGA  Menag Minta MUI Jadi Teladan Soal Kesejukan dan Toleransi

Rasulullah bertanya lagi: “Apakah kamu telah membunuhnya?”

Usamah menjawab: “Ya.”

Rasulullah bertanya lagi:

فَكَيْفَ تَصْنَعُ بِلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ إِذَا جَاءَتْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Lantas bagaimana engkau akan menghadapi kalimat Laa Ilaaha Illa Allah jika datang kelak pada hari kiamat?”

Usamah berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ اسْتَغْفِرْ لِي

“Wahai Rasulullah, mintakanlah ampunan Allah untuk diri saya.”

Namun Rasulullah SAW justru kembali bertanya:

وَكَيْفَ تَصْنَعُ بِلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ إِذَا جَاءَتْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Lantas bagaimana engkau akan menghadapi kalimat Laa Ilaaha Illa Allah jika datang kelak pada hari kiamat?”

Usamah berkata:

فَجَعَلَ لَا يَزِيدُهُ عَلَى أَنْ يَقُولَ كَيْفَ تَصْنَعُ بِلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ إِذَا جَاءَتْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Beliau tidak melebihkan jawaban beliau selain senantiasa mengulang-ulang pertanyaan ‘Lantas bagaimana engkau akan menghadapi kalimat Laa Ilaaha Illa Allah jika datang kelak pada hari kiamat?’” (HR. Muslim: Kitab al-iman no. 97)

Pakar sejarah Islam, Imam Ibnu Sa’ad dalam Ath-Thabaqat Al-Kubra dan Ibnu Ishaq dalam Al-Maghazi, menyebutkan bahwa peristiwa yang dialami oleh Usamah bin Zaid di atas terjadi pada bulan Ramadhan tahun 7 Hijriyah. Pasukan tersebut dikomandani oleh sahabat Ghalib bin Ubaidullah Al-Laitsi. (Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, 12/202-203)

Hadits shahih di atas mengisahkan seorang tentara kafir suku Juhainah yang berperang melawan pasukan Islam, sehingga ia berhasil membunuh beberapa orang tentara muslim. Ketika ia dikejar oleh dua orang tentara Islam, ia terdesak, dan senjata tentara Islam sudah hampir menebas batang lehernya. Tiba-tiba dalam suasana genting tersebut, ia mengucapkan dua kalimat syahadat.

Salah seorang tentara Islam, Usamah bin Zaid, menganggap ucapan dua kalimat syahadat tersebut hanyalah taktik untuk menyelamatkan nyawanya dari serangan senjata tentara Islam. Berangkat dari asumsi tersebut, Usamah bin Zaid tetap menikam tentara Juhainah tersebut dengan tombaknya sampai tewas.

Ketika kembali ke Madinah dan berita itu sampai ke telinga Rasulullah SAW, beliau langsung meminta keterangan dari Usamah bin Zaid. Argumentasi Usamah sama sekali tidak diterima oleh Rasulullah SAW, dan beliau menegur Usamah dengan kalimat tegas yang diulang-ulang. Usamah sampai ketakutan dan sangat menyesal atas teguran keras berulang-ulang tersebut. Bahkan, Usamah sampai berangan-angan andai saja ia belum masuk Islam pada saat perang melawan suku kafir Juhainah tersebut.

Pelajaran dari Teguran Keras Rasulullah SAW

Para ulama Islam menjelaskan bahwa teguran keras Rasulullah SAW kepada Usamah bin Zaid tersebut mengandung pelajaran sangat berharga.

Imam Ibnu At-Tin berkata, “Dalam celaan Nabi SAW ini terdapat unsur pengajaran dan nasehat yang sangat mendalam, sehingga tidak ada lagi seorang pun yang berani membunuh orang yang mengucapkan dua kalimat tauhid.”

Imam Al-Qurthubi berkata, “Tindakan Nabi SAW yang mengulang-ulang teguran keras tersebut dan berpalingnya beliau sehingga tidak mau menerima udzur Usamah, mengandung peringatan sangat keras agar tidak melakukan tindakan seperti itu.”

Imam An-Nawawi berkata, “Sesungguhnya engkau hanya diperintahkan untuk beramal sesuai kondisi lahiriah dan ucapan lisan. Adapun urusan hati, engkau tidak akan mampu mengetahuinya. Maka Nabi SAW mengingkari tindakan Usamah yang tidak bertindak atas dasar apa yang nampak dari ucapan lisan. Maka beliau SAW bersabda ‘Kenapa engkau tidak membelah dadanya?’ sehingga engkau mengetahui apakah hatinya mengucapkan Laa Ilaaha Illa Allah karena ikhlash dan yakin ataukah karena alasan lainnya?’ Maksudnya, jika engkau tidak mampu mengetahui isi hati orang itu, maka hendaklah engkau mencukupkan diri dengan menerima ucapan lisannya.” (Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, 12/203-204 dan Shahih Muslim bi-Syarh An-Nawawi, 2/137-138)

BACA JUGA  Kiblatorial: Generasi 212, Generasi Al-Quran

Penyesalan Usamah

Teguran keras Rasulullah SAW yang berulang-ulang tersebut meninggalkan penyesalan yang sangat mendalam dalam diri Usamah bin Zaid. Usamah berkata: “Beliau terus-menerus mengulang pertanyaan itu kepada saya sehingga saya berharap andai saja saya baru masuk Islam pada hari itu.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata: “Usamah berharap masuk Islam pada hari tersebut, sebab masuk Islam akan menghapuskan dosa-dosa sebelumnya. Ia berandai-andai hari tersebut menjadi awal keislamannya, agar ia selamat dari dosa tindakannya tersebut.”

Imam Al-Qurthubi berkata, “Pernyataan Usamah tersebut mengesankan bahwa ia menganggap remeh amal-amal shalih yang telah ia kerjakan sebelum itu, dibandingkan besarnya dosa tindakan pembunuhan tersebut, ketika ia mendengar pengingkaran yang sangat keras tersebut.”

Imam Ibnu Bathal berkata, “Kisah ini menjadi sebab Usamah bersumpah untuk tidak pernah membunuh seorang muslim pun setelah hari itu. Oleh karenanya Usamah tidak menyertai Ali bin Abi Thalib dalam perang Jamal dan perang Shiffin.” (Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, 12/204)

Kesimpulan

  1. Rasulullah SAW adalah khalifah dan ulul amri kaum muslimin.
  2. Pasukan Ghalib bin Ubaidullah Al-Laitsi adalah pasukan Islam yang dikirim oleh Rasulullah SAW sekaligus khalifah kaum muslimin untuk memerangi orang-orang kafir suku Juhainah.
  3. Usamah bin Zaid sebagai anggota pasukan Islam membunuh seorang anggota pasukan musuh saat orang tersebut telah mengucapkan kalimat syahadat.
  4. Usamah membunuhnya karena menduga orang itu menjadikan kalimat syahadat sebagai perisai dari pembunuhan. Lebih dari itu, orang tersebut telah menewaskan sejumlah anggota pasukan Islam.
  5. Rasulullah SAW menegur keras Usamah bin Zaid atas tindakan pembunuhan tersebut. Teguran keras tersebut diulang-ulang.
  6. Rasulullah SAW tidak menerima argumentasi Usamah bin Zaid.
  7. Rasulullah SAW tidak memintakan ampunan Allah bagi Usamah bin Zaid atas tindakan pembunuhan tersebut. Beliau justru mengulang-ulang teguran tersebut.
  8. Seorang kafir yang mengucapkan dua kalimat syahadat dalam suasana perang tidak boleh dibunuh. Setelah perang selesai, perbuatan sehari-harinya akan menjadi bukti apakah ia masuk Islam karena ketaatan dan keikhlasan, ataukah semata-mata untuk menyelamatkan nyawanya.
  9. Jika orang kafir mengucapkan kalimat syahadat harus dilindungi nyawa dan hartanya, maka terlebih seorang muslim yang taat melaksanakan shalat dan ajaran-ajaran Islam lainnya.
  10. Di akhirat kelak, orang Islam yang dibunuh secara tidak benar tersebut akan menuntut si pembunuhnya. Si pembunuh tidak akan memiliki alasan yang kuat di sisi Allah untuk membela dirinya. Dua kalimat syahadat (dan amalan-amalan Islam lainnya) akan menjadi bukti kuat di pihak korban pembunuhan, yang tidak mungkin bisa diingkari dan dimanipulasi oleh si pembunuh.
  11. Lantas bagaimana jika korban pembunuhan adalah seorang muslim yang taat, dan pembunuhnya adalah orang kafir atau pasukan kafir yang membawa misi sekulerisme dan anti-Islam? Tentulah dosa dan pengadilannya di akhirat akan lebih berat.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Referensi:

Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Bukhari, Riyadh: Baitul Afkar Ad-Dauliyah, cet. 1, 1419 H.

Muslim bin Hajjaj An-Naisaburi, Shahih Muslim, Riyadh: Baitul Afkar Ad-Dauliyah, cet. 1, 1419 H.

Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, tahqiq: Abdul Qadir Syaibah Al-Hamd, Riyadh: cet. 1, 1421 H.

Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Shahih Muslim bi-Syarh An-Nawawi, Jizah: Muassasah Qurthubah, cet. 2, 1414 H.

 

Penulis: Ahmad Fauzan

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat