Indahnya Islam Memperlakukan Tawanan (Bag. 1)

KIBLAT.NET – Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamiin, yaitu kasih sayang bagi seluruh makhluk. Islam memerintahkan umatnya untuk berkasih sayang dengan sesama umat Islam. Lebih dari itu, Islam juga memerintahkan umatnya untuk bersikap baik dan adil terhadap non-muslim. Bahkan Islam tidak memperbolehkan umatnya berbuat zalim terhadap orang kafir yang memerangi umat Islam sekalipun.

Salah satu bukti tak terbantahkan atas hal ini adalah Islam memerintahkan umatnya untuk memperlakukan tawanan perang (tentara kafir yang tertawan oleh pasukan Islam) dengan perlakuan yang baik dan manusiawi.

Berlaku Baik kepada Tawanan

Islam memerintahkan kaum muslimin untuk memperlakukan tawanan dengan cara yang baik, lemah lembut, tidak menyiksa mereka, dan tidak mencederai kehormatan mereka. Bahkan perlakuan baik itu dalam beberapa kondisi berwujud pengampunan, pembebasan tanpa syarat, pengobatan terhadap tawanan yang sakit, dan lain sebagainya.

Dalam perang Badar, pasukan Islam menawan sekitar 70 orang musyrik Quraisy. Dari jumlah tersebut, hanya dua orang saja yang dieksekusi mati karena besarnya kejahatan perang yang mereka lakukan. Keduanya adalah Nadhr bin Harits dan Uqbah bin Abu Mu’aith. Sisanya dibebaskan dengan tebusan harta, atau dengan mengajar baca-tulis bagi anak-anak Madinah. Sebagiannya bahkan dibebaskan tanpa syarat saat mereka tidak mampu menebus dengan harta maupun mengajar baca-tulis. (Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa An-Nihayah, 5/188)

Perlakuan baik tersebut mendorong sebagian tawanan masuk Islam, seperti kisah Tsumamah bin Utsal. Ia adalah seorang kepala suku musyrikin Bani Hanifah di wilayah Yamamah yang ditawan oleh kaum muslimin di Masjid Nabawi. Selama tiga hari menjadi tawanan, ia mendapatkan perlakuan yang baik dari Rasulullah SAW dan kaum muslimin. Pada hari keempat, ia dibebaskan tanpa syarat apapun. Atas kesadarannya sendiri, hari itu pula ia justru mengumumkan keislamannya.

Dari Abu Hurairah RA bahwasanya Rasulullah SAW mengirim pasukan berkuda ke arah Nejed, maka mereka menangkap seorang laki-laki dari Bani Hanifah bernama Tsumamah bin Utsal. Mereka membawanya dan mengikatnya pada salah satu tiang masjid Nabawi. Nabi SAW menemuinya dan bertanya, “Bagaimana keadaanmu, wahai Tsumamah?”

Tsumamah menjawab:

عِنْدِي خَيْرٌ يَا مُحَمَّدُ إِنْ تَقْتُلْنِي تَقْتُلْ ذَا دَمٍ وَإِنْ تُنْعِمْ تُنْعِمْ عَلَى شَاكِرٍ وَإِنْ كُنْتَ تُرِيدُ الْمَالَ فَسَلْ مِنْهُ مَا شِئْتَ

“Keadaanku baik, wahai Muhammad. Jika engkau membunuhku, maka engkau telah membunuh orang yang memiliki hutang darah. Jika engkau akan berbuat baik kepadaku, maka engkau telah berbuat baik kepada orang yang tahu berterima kasih. Namun jika engkau menginginkan harta tebusan, maka mintalah berapapun harta yang engkau inginkan!”

Nabi SAW membiarkannya. Beliau memerintahkan agar ia diperlakukan dengan baik. Keesokan harinya, Nabi SAW menemui Tsumamah dan menanyakan pertanyaan yang sama. Tsumamah juga memberikan jawaban yang sama.

Lalu Nabi SAW kembali membiarkannya. Keesokan harinya, Nabi SAW menemui Tsumamah dan menanyakan pertanyaan yang sama. Tsumamah juga memberikan jawaban yang sama. Maka Nabi SAW membiarkannya.

Keesokan harinya, Nabi SAW bersabda kepada para sahabat:

أَطْلِقُوا ثُمَامَةَ

“Lepaskanlah Tsumamah!”

Setelah dilepaskan, Tsumamah segera pergi ke sebuah kebun kurma di dekat masjid. Ia mandi di kebun tersebut, lalu kembali masuk ke dalam masjid. Ia lalu mengumumkan keislamannya:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ

“Aku bersaksi bahwasanya tiada Ilah (Tuhan yang berhak disembah) selain Allah dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah.”

BACA JUGA  Pengacara HRS: Putusan Hakim Tunggal Sesat Menyesatkan

Tsumamah lalu berkata:

يَا مُحَمَّدُ وَاللَّهِ مَا كَانَ عَلَى الْأَرْضِ وَجْهٌ أَبْغَضَ إِلَيَّ مِنْ وَجْهِكَ فَقَدْ أَصْبَحَ وَجْهُكَ أَحَبَّ الْوُجُوهِ إِلَيَّ وَاللَّهِ مَا كَانَ مِنْ دِينٍ أَبْغَضَ إِلَيَّ مِنْ دِينِكَ فَأَصْبَحَ دِينُكَ أَحَبَّ الدِّينِ إِلَيَّ وَاللَّهِ مَا كَانَ مِنْ بَلَدٍ أَبْغَضُ إِلَيَّ مِنْ بَلَدِكَ فَأَصْبَحَ بَلَدُكَ أَحَبَّ الْبِلَادِ إِلَيَّ

Wahai Muhammad, demi Allah, sebelum ini tiada satu wajah pun di muka bumi ini yang lebih aku benci daripada wajahmu. Namun kini wajahmu adalah wajah yang paling aku cintai. Demi Allah, sebelumnya tiada satu agama pun yang lebih aku benci daripada agamamu. Namun kini agamamu adalah agama yang paling aku cintai. Demi Allah, sebelumnya tiada satu negeri pun yang lebih aku benci daripada negerimu. Namun kini negerimu adalah negeri yang paling aku cintai.” (HR. Bukhari, Kitab Al-Maghazi: Bab Wafdi Bani Hanifah, hadits no. 4372)

Perlakuan yang baik telah mendorong pemimpin musuh Islam, Tsumamah bin Utsal, untuk masuk Islam secara sukarela. Seandainya ia diperlakukan secara kasar, buruk, disiksa, dan diintimidasi; ia tidak akan berfikir sedikit pun untuk masuk Islam.

Hal yang sama dilakukan oleh Al-Walid bin Abul Walid Al-Qurasyi Al-Makhzumi. Ia adalah seorang tokoh musyrikin Quraisy. Ia bersama pasukan musyrikin Quraisy berperang melawan pasukan Islam dalam perang Badar. Dalam perang itu ia tertawan dan diperlakukan dengan baik oleh kaum muslimin. Setelah keluarganya menebus dirinya dan ia kembali ke Makkah, ia mengumumkan keislamannya atas dasar kesadaran sendiri. Ia tidak mengumumkan keislamannya di Madinah, agar tidak disangka masuk Islam karena takut nasibnya sebagai tawanan perang.

Membebaskan Tawanan Tanpa Syarat

Perlakuan baik bahkan terkadang mencapai taraf membebaskan tawanan kafir tanpa syarat. Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW memberikan seorang tawanan perang sebagai budak kepada Abu Haitsam Malik bin Tihan Al-Anshari. Rasulullah SAW berpesan kepadanya untuk memperlakukan tawanan itu dengan baik. Berdasar pesan Rasulullah SAW tersebut, setelah sampai di rumah, Abul Haitsam berkata kepada budak itu:

أَنْتَ حُرٌّ لِوَجْهِ اللهِ فَإِنْ أَحْبَبْتَ أَنْ تُقِيمَ مَعَنَا نُطْعِمْكَ مِمَّا نَأْكُلُ وَنُلْبِسْكَ مِمَّا نَلْبَسُ وَلاَ نُكَلِّفْكَ مِنَ الْعَمَلِ إِلاَّ مَا تُطِيقُ وَإِنْ شِئْتَ فَاذْهَبْ حَيْثُ شِئْتَ

“Engkau aku bebaskan, semata-mata demi mengharap ridha Allah. Jika engkau mau, engkau boleh tinggal bersama kami, makan dari makanan yang kami makan, memamakai pakaian dari pakaian yang kami pakai, dan kami tidak akan membebanimu dengan pekerjaan kecuali sebatas yang engkau mampu kerjakan. Tapi jika engkau mau, engkau pun boleh pergi kemanapun yang engkau mau.” (HR. Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, 19/255-256 no. 569)

Salah satu bukti lainnya adalah kaum muslimin membebaskan tak kurang dari 100 keluarga musyrikin Bani Musthaliq yang telah mereka tawan. Bani Musthaliq adalah salah satu marga dalam suku besar Khuza’ah. Pada saat perang Khandaq, Bani Musthaliq bergabung dengan pasukan kafir Quraisy, Ghathafan, dan lainnya menyerang kaum Muslimin. Pasca kekalahan dalam perang Uhud, pemimpin Bani Musthaliq yang bernama Harits bin Dhirar, menyusun kekuatan untuk kembali memerangi kaum muslimin.

Sebelum rencana jahat Bani Musthaliq terlaksana, Rasulullah SAW bersama sekitar 700 pasukan Islam telah mendahului dengan melakukan serangan pendadakan. Peristiwa itu terjadi pada bulan Sya’ban tahun 5H. Kaum muslimin meraih kemenangan telak dalam perang tersebut. Mereka menewaskan banyak tentara Bani Musthaliq, menawan kaum wanita dan anak-anak mereka, serta membawa pulang harta dan ternak mereka ke Madinah.

BACA JUGA  Peristiwa 21-22 Mei dan Penembakan Laskar Dibawa ke ICC

Dari Aisyah RA, ia berkata, “Ketika Rasulullah SAW membagi-bagikan kaum wanita dan anak-anak bani Musthaliq yang tertawan, Juwairiyah binti Harits (putri pemimpin bani Musthaliq) jatuh sebagai bagian bagi Tsabit bin Qais bin Syamas. Juwairiyah mengajukan permohonan pembebasan dirinya dengan cara menebus sejumlah harta yang sangat besar. Ia adalah seorang wanita yang manis dan ramah. Tiada seorang pun yang melihat kepadanya, kecuali ia akan tertarik kepadanya. Juwairiyah mendatangi Nabi SAW untuk meminta bantuan pelunasan pembebasan dirinya.

Maka Nabi SAW bertanya kepada Juwairiyah, “Maukah engkau suatu tawaran yang lebih baik dari tawaranmu itu?”

Juwairiyah bertanya, “Apakah itu, wahai Rasulullah?”

Beliau bersabda, “Aku akan melunasi tebusan pembebasan dirimu dan aku akan menikahimu.”

Juwairiyah menjawab, “Ya, wahai Rasulullah, silahkan Anda lakukan.”

Lalu berita pun tersebar di antara kaum muslimin bahwa Rasulullah SAW telah menikahi Juwairiyah bintu Harits. Kaum muslimin saling berkata, “Kalau begitu, mereka (Bani Musthaliq) adalah besan Rasulullah SAW.” Kaum muslimin kemudian membebaskan seluruh penduduk Bani Musthaliq yang menjadi budak mereka.

Aisyah berkata, “Dengan menikahi Juwairiyah, Rasulullah SAW telah membebaskan seratus keluarga Bani Musthaliq. Demi Allah, aku tidak pernah melihat seorang wanita yang lebih besar berkahnya bagi kaumnya melebihi Juwairiyah binti Harits.” (Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah, 6/189-190)

Saat menaklukkan Makkah pada bulan Ramadhan tahun 8 H, Rasulullah SAW juga memaafkan dan membebaskan ribuan penduduk Makkah. Hanya beberapa penjahat perang saja yang dihukum mati. Padahal selama kurang lebih 15 tahun, kaum kafir Quraisy begitu getol memerangi Rasulullah SAW dan kaum muslimin. Ampunan dari Rasulullah SAW itu telah mendorong penduduk Makkah berbondong-bondong masuk Islam.

Tradisi memperlakukan tawanan dengan baik ini terus dipelihara oleh generasi sahabat setelah Rasulullah SAW wafat. Tidak ada riwayat sejarah yang menyebutkan kaum muslimin pada zaman itu menyiksa, mengintimidasi, dan melecehkan kehormatan tawanan.

Bahkan terhadap panglima perang Imperium Persia yang bernama Hurmuzan, kaum muslimin tetap memperlakukannya dengan baik. Padahal Hurmuzan berulang kali mencederai perjanjian damai dengan pasukan Islam, memimpin pasukan Persia memerangi pasukan Islam, dan membunuh dua orang sahabat yang mulia yaitu Barra’ bin Malik dan Majza’ah bin Tsaur radhiyallahu ‘anhuma.

Saat Hurmuzan tertawan oleh pasukan Islam dalam perang Tustar II pada tahun 16 H, ia dibawa menghadap khalifah Umar bin Khathab di Madinah. Hurmuzan sama sekali tidak mengalami intimidasi, pelecehan, dan penyiksaan. Ia bahkan mendapatkan jaminan keamanan dari khalifah, diberi uang 2000 dirham dan diberi tempat tinggal di Madinah. (Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa An-Nihayah, 10/61-64)

Demikianlah, sejarah Islam membuktikan kepada dunia betapa Islam memperlakukan musuh-musuh Islam yang tertawan dengan perlakuan yang baik, layak, dan manusiawi.

Referensi:

Ibnu Hisyam, As-Sirah An-Nabawiyyah, tahqiq: Umar Abdus Salam Tadmuri, Beirut: Dar Al-Kitab Al-Arabi, cet. 3, 1410 H.

Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa An-Nihayah, tahqiq: Abdullah bin Abdul Muhsin At-Turki, Jizah: Dar Hajar, cet. 1, 1417 H.

Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, Riyadh: Baitul Afkar Ad-Dauliyah, cet. 1, 1419 H.

Ath-Thabarani, Al-Mu’jam Al-Kabir, tahqiq: Hamdi Abdul Majid As-Salafi, Kairo: Maktabah Ibni Taimiyah, cet. 2, 1404 H.

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat