... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

5 Tahun Revolusi Suriah: Bagaimana Strategi Al-Qaidah Bekerja?

KIBLAT.NET – Komandan Jabhah Nusrah, Syeikh Abu Muhammad al-Jaulani pada Kamis, 17 Maret 2016, merilis sebuah pernyataan memperingati tahun kelima revolusi rakyat Suriah menentang rezim Bashar Assad.

“Kami mengucapkan selamat kepada segenap ahlu al-Syam (rakyat Suriah) dan umat Muslim seluruh dunia yang telah melewati lima tahun revolusi & jihad mereka yang diberkati,” kata al-Jaulani seperti yang dilaporkan oleh situs SITE Intelligence Group.

Di bagian akhir pernyataannya, al-Jaulani menyampaikan narasi penting bahwa mujahidin bersama rakyat Suriah. “Karena kita dari rakyat di Bumi Syam dan Syam dari kita, maka tidak ada yang bisa memisahkan kita …dari rakyatnya kecuali kematian, Insya Allah,” imbuhnya.

Banyak pengamat menilai, keberhasilan maupun kegagalan proyek al-Qaidah di Suriah dalam skala makro sangat bergantung pada sosok al-Jaulani yang dalam berbagai kesempatan publik menunjukkan sebagai pribadi yang kuat.

Jabhah Nusrah sendiri yang kini bisa dengan mudah merekrut ribuan pejuang merupakan cabang resmi al-Qaidah di Suriah. Bukti-bukti menunjukkan bahwa selama lima tahun terakhir di lapangan revolusi dan jihad rakyat Suriah,

Jabhah Nusrah secara luas sangat dihormati di kalangan pejuang oposisi. Mereka memiliki kantong-kantong perlawanan, dan Barat tidak punya strategi yang riil untuk mengekang laju dukungan tersebut. Barat (Amerika & Eropa) juga tidak memiliki cara untuk mengeliminir atau paling tidak mengurangi pengaruh al-Qaidah terhadap para pejuang oposisi, kecuali bombardir sana sini yang justru kontrapoduktif. Dan bisa jadi, hingga saat ini mustahil bagi Barat untuk melakukan hal itu.

Walaupun demikian, terdapat sejumlah peristiwa selama periode dua pekan terakhir yang mengkritisi al-Qaidah di mana mereka sendiri telah lama berusaha untuk meminimalisasinya. Sejumlah warga berunjuk rasa turun ke jalan-jalan di beberapa wilayah dan mencela JN. Meski nampaknya aksi tersebut bukan merupakan aksi demo yang besar dan berskala luas, namun tetaplah penting dijadikan catatan dalam mengamati perjalanan JN di tengah dinamika revolusi Suriah.

Di awal bulan ini, JN terlibat baku tembak dengan Divisi 13, faksi FSA yang bermarkas di Maarrat Nu’man, sebuah kota kecil di bagian barat laut propinsi Idlib. Beberapa hari kemudian, para pengunjuk rasa berdemo menentang JN dan Jundul Aqsa, afiliasi al-Qaidah lainnya. Kedua organisasi jihadis ini menyerbu markas FSA Divisi 13 di Maarrat al Nu’man pada pertengahan Maret lalu, dan menawan sejumlah pejuang FSA beserta senjata-senjata mereka.

Sebuah akun Twitter @JANViolation mendokumentasikan aksi yang dianggap pelanggaran oleh JN tersebut, memposting foto-foto dan video demonstrasi di Maarrat al Nu’man pada tanggal 18 Maret lalu, sehari setelah pernyataan al-Jaulani dipublikasikan secara online. Terkait insiden dengan Divisi ke-13 FSA, dilaporkan kedua belah pihak sepakat merujuk ke Mahkamah Syariat untuk menyelesaikannya.

Sejumlah foto memperlihatkan para pejuang JN dan Jundul Aqsa sedang melihat/mengamati dari atas rumah saat sedang terjadi aksi protes. Memang sulit jika hanya menggunakan satu sumber media sosial untuk mengukur seberapa besar dan signifikan sebuah aksi protes itu berlangsung. Namun paling tidak, foto-foto dan video itu menunjukkan bahwa di sana ada ketidakpuasan terhadap pasukan gerilya al-Qaidah di wilayah-wilayah di mana sejumlah faksi tempur lainnya juga secara signifikan eksis di situ.

Tak mau kalah, JN juga mengorganisir aksi demonstrasi masyarakat sipil dalam peringatan lima tahun revolusi. Akun Twitter resmi JN memposting sejumlah foto dokumentasi aksi demonstrasi tersebut di Idlib, Aleppo, dan di beberapa tempat lainnya di mana bendera-bendera hitam al-Qaidah terlihat berkibar bersama bendera nasional Suriah di antara para demonstran. Foto-foto itu menguatkan persepsi bahwa JN masih merupakan bagian integral gerakan revolusioner rakyat Suriah. Dan memang, pesan dan persepsi semacam inilah yang diinginkan al-Qaidah.

BACA JUGA  Peran Alim Ulama di Tengah Wabah Corona

Narasi Kuat Hubungan JN-Al Qaidah
Menyinggung soal hubungannya dengan al-Qaidah yang oleh sebagian orang dianggap sebagai penghalang lengsernya Bashar Assad, secara tegas al-Jaulani menjelaskan dengan sebuah pertanyaan retoris: seandainya hari ini atau besok JN mengumumkan berlepas diri dari al-Qaidah, apakah Bashar Assad akan lengser? Maka, masalah utamanya bukan seperti itu.

Pengelompokan Amerika dan dunia internasional terhadap kelompok atau negara yang dianggap teroris bukan karena mereka memiliki hubungan dengan al-Qaidah, melainkan karena keluar dari hegemoni internasional.

Sebagai contoh, Saddam Hussein (Iraq) dan Kuba, bahwa kedua orang tersebut jelas tidak memiliki hubungan dengan al-Qaidah, namun tetap dimusuhi. Di samping itu, juga terletak pada ideologi yang dibawa oleh sebuah kelompok atau entitas, maka dalam hal ini JN tidak mungkin bisa bertemu dengan Barat dalam bentuk apapun. Baik bersama al-Qaidah ataupun tidak, JN tidak akan mengorbankan prinsip dan pokok ajaran Islam. JN menyatakan bahwa mereka akan tetap menegakkan Syariat Islam, dan akan terus berusaha untuk itu.

Seorang wartawan TV Al Jazeera bertanya, jika seluruh faksi oposisi yang berjihad di Suriah bersatu sesuai dengan tujuan JN dan mewujudkan visi JN, apakah JN akan melepaskan baiat dari al-Qaidah? Dengan taktis dan cerdas al-Jaulani menjawab, sebagaimana yang disampaikan Syeikh Aiman hafidzahullah, “jika Syam berhasil ditaklukkan dan kaum Muslimin berkumpul di bawah pemerintahan Islam yang lurus dan menerapkan Syariat Allah, baik secara global maupun terperinci, maka kami (JN juga al-Qaidah) akan pertama kali menjadi tentara bagi pemerintahan ini dan kami akan tunduk dan patuh. Demikian juga Dr. Aiman akan menjadi tentara pemerintahan ini.”

Abu Muhammad Al-Jaulani (kiri) bersama sejumlah wartawan Timur Tengah dalam sesi wawancara eksklusif.

Abu Muhammad Al-Jaulani (kiri) bersama sejumlah wartawan Timur Tengah dalam sesi wawancara eksklusif.

Terkait tudingan mengapa JN mengingkari sejumlah faksi oposisi karena memiliki hubungan dengan luar negeri, sementara di waktu yang sama JN juga memiliki hubungan dengan pihak di luar Syam, dalam hal ini di Afghanistan (Khurasan)? Al-Jaulani secara elaboratif mengatakan bahwa JN tidak begitu mengakui hubungan berdasarkan negara. Tetapi mereka mengikuti kelompok dari umat Islam yang membela kaum Muslimin, meskipun mereka berada di luar Syam.

Ketika JN mengingkari faksi-faksi tersebut, yang sejatinya diingkari adalah hubungan mereka dengan negara-negara yang berada di bawah hegemoni Amerika, di mana perjalanan perjuangan mereka hanya akan menguntungkan Barat. Adapun hubungan JN dengan al-Qaidah, karena al-Qaidah merupakan kelompok Islam yang membela kaum Muslimin. Mereka membantu permasalahan-permasalahan umat dan bahkan mempersembahkan darah mereka untuk umat.

Model Revolusi Rakyat ala Al-Qaidah
Seperti laporan TLWJ dalam berbagai kesempatan, al-Qaidah ingin menanamkan ideologi Salafi-jihadi mereka ke tengah masyarakat Suriah. Sebagai agen perubahan, organisasi jihadis ini memanfaatkan situasi konflik untuk membangun lebih dalam dukungan luas masyarakat terhadap perjuangan mereka. Seperti juga ISIS, JN bertujuan menerapkan Syariat Islam dan mendirikan pemerintahan Islam. Meski demikian, al-Qaidah dan ISIS masing-masing menempuh strategi dan garis perjuangan yang berbeda untuk meraih tujuan tersebut.

Kelompok Daulah Islam (ISIS) merupakan sebuah organisasi otoriter yang mengadopsi model pendekatan “top-down”. Para loyalis al-Baghdadi secara sepihak mengklaim bahwa mereka telah menghidupkan kembali kekhilafahan yang secara resmi sudah dinyatakan bubar pada tahun 1924. ISIS juga secara eksplisit mempromosikan gambar-gambar eksekusi dan mutilasi yang mereka klaim sebagai bentuk hukuman menurut Syariat Islam. Mereka mengatakan bahwa hukuman-hukuman semacam itu adalah sah.

BACA JUGA  Romo Syafii: Darurat Sipil Bentuk Ketidakpedulian Pemerintah Terhadap Rakyat

Menurut perspektif ISIS, setiap Muslim yang tidak menerima legitimasi mereka sebagai Khilafah akan diteror hingga mereka tunduk mengakui. Setiap Muslim yang menentang ISIS, bahkan termasuk sesama para jihadis akan dicap sebagai murtad atau kafir.

Sebaliknya, al-Qaidah menerapkan strategi “bottom-up” yang lebih memihak kepada rakyat. Menurut perspektif al-Qaidah, rezim Bashar Assad harus dilengserkan terlebih dahulu sebelum mendirikan sebuah negara Islam yang kuat dan stabil. Perwakilan al-Qaidah telah memulai menerapkan model pemerintahan Islam di wilayah-wilayah yang dikuasai JN dan sekutu-sekutu dekatnya. Tetapi al-Qaidah tidak akan mendeklarasikan secara terbuka bahwa sebuah entitas negara atau pemerintahan Islam telah berdiri di Suriah hingga bisa dipastikan bahwa situasi dan kondisi tertentu bisa terus dipertahankan.

Berbeda dengan model Daulah milik al-Baghdadi, JN juga telah membaur dan meleburkan diri secara intensif di dalam gerakan revolusioner rakyat Suriah yang menentang Bashar Assad dan sekutu-sekutunya. Hal itu membuat Barat dan sekutu-sekutunya sulit untuk memisahkan al-Qaidah dari faksi-faksi oposisi lainnya. JN juga kerap terlibat kerja sama dengan kelompok-kelompok lain meski untuk tujuan dan agenda tertentu secara terbatas.

Jabhah Nusrah tidak memproduksi propaganda yang menonjolkan penerapan hukuman hudud secara demonstratif. Cabang al-Qaidah ini sengaja menjauhi gaya propaganda ala-ISIS karena tidak ingin menyinggung atau menakut-nakuti Muslim yang barangkali merasa terintimidasi dengan metoda keras ala-ISIS tersebut.

Abu Firas as-Sury, seorang veteran al-Qaidah yang sekaligus anggota tim manajemen JN menjelaskan, bahwa JN bahkan membuat kesepakatan dengan faksi-faksi lainnya terkait masalah hukum yang akan diterapkan atau menunda penerapan hukum hudud di wilayah-wilayah yang telah dibebaskan dari rezim Assad. Dalam pandangan al-Qaidah, banyak Muslim hidup di negara-negara di mana Dienul Islam yang benar –murni– tidak pernah wujud selama berpuluh-puluh tahun. Oleh karena itulah, al-Qaidah ingin melakukan edukasi publik terkait dengan hukum atau Syariat Islam sebelum menerapkannya di tengah-tengah masyarakat.

ISIS meraih kemajuan signifikan setelah menyatakan berpisah dengan al-Qaidah pada tahun 2013 dan 2014, dan mengikuti model “top-down” dalam melaksanakan jihad dan pemerintahan di suatu wilayah. Tetapi kehadiran al-Qaidah di Suriah selama ini mereka remehkan. Sementara dalam hal keterampilan berperang, al-Qaidah telah berhasil memberdayakan potensi atau sumber daya kelompok-kelompok oposisi lainnya untuk meraih banyak kemenangan, terutama di bagian barat daya Suriah. Dan kelompok-kelompok oposisi yang memusuhi JN juga bisa dengan cepat di-eliminir. Sementara, ideologi jihadis telah menyebar sedemikian luas di Suriah, dan memang inilah yang diinginkan oleh al-Qaidah.

Saat ini faksi-faksi oposisi tidak mungkin mampu menjatuhkan JN. Bahkan faksi FSA Divisi 13 sendiri pernah bekerja sama dengan JN sebelum kedua kelompok itu terlibat bentrok beberapa pekan yang lalu. Dan Divisi ke-13 FSA yang menerima dukungan dari AS dan sekutu-sekutunya ini terbukti bukan lawan seimbang para pejuang al-Qaidah dalam hal kemampuan bertempur. Setelah lima tahun berjalan perang di Suriah, Amerika dan Barat tidak memiliki strategi untuk mengalahkan JN. Justru sebaliknya, di lapangan kelompok-kelompok dukungan Barat tersebut malah bahu membahu bertempur bersama para pejuang afiliasi al-Qaidah.

Alhasil, ada banyak benarnya pernyataan al-Jaulani tersebut, bahwa para mujahidin itu berasal dari rakyat di berbagai wilayah di Suriah. Barangkali memang tidak 100% ada di seluruh wilayah, dan memang tidak harus seperti itu. Kini, menjelang 15 tahun pasca serangan Black September 11/9, al-Qaidah telah berhasil membangun pasukan gerilya di Suriah, sementara ribuan jihadis saat ini menyatakan bahwa mereka adalah representasi rakyat Suriah.

 

Penulis: Yasin Muslim
Sumber: The Long War Journal

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Artikel

Heli Maut dan Persaingan TNI-Polri di Poso

KIBLAT.NET — Dalam kisah-kisah mitos dan cerita takhayul, angka 13 adalah angka pembawa sial. Namun,...

Selasa, 22/03/2016 17:23 0

Artikel

Bertamu ke Rumah Alm. Siyono

KIBLAT.NET, Klaten — Sudah lebih dari dua pekan jasad almarhum Siyono (34) beristirahat selamanya di...

Selasa, 22/03/2016 16:30 0

Yaman

AQAP Gelar Aksi Damai Pertemuan Umum di Mukalla Yaman

KIBLAT.NET – Sebuah kelompok media yang dikelola mujahidin AQAP merilis puluhan foto terbaru dari kota...

Selasa, 22/03/2016 16:01 0

Indonesia

Dinilai Tak Jelas, ICT Watch Usul Pasal Pencemaran Nama Baik Dihapus

KIBLAT.NET, Jakarta – Direktur Eksekutif  Information and Communication Technology (ICT) Watch, Donny B.U, menilai pasal...

Selasa, 22/03/2016 15:58 0

Indonesia

MIUMI Kutuk Tindakan Densus Hilangkan Nyawa Siyono

KIBLAT.NET, Jakarta – Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) mengutuk tindakan yang dilakukan Densus...

Selasa, 22/03/2016 15:13 0

Rohah

Hanyutnya 50.000 Hadits

KIBLAT.NET – Para ulama salaf memang terkenal dengan kewara’annya. Mereka enggan memasukkan barang-barang syubhat atau...

Selasa, 22/03/2016 14:59 0

Indonesia

Komnas HAM Investigasi Kasus Terbunuhnya Siyono

KIBLAT.NET, Jakarta – Tim Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) RI kini tengah melakukan...

Selasa, 22/03/2016 14:30 0

Suriah

Begini Sulitnya Oposisi Suriah Bernegosiasi dengan Rezim

KIBLAT.NET, Jenewa – Ketua Delegasi oposisi Suriah, Mohamed Alloush menyatakan bahwa pihaknya selalu merespon dan...

Selasa, 22/03/2016 14:10 0

Wilayah Lain

Kuwait Usir Simpatisan Organisasi Teroris Hizbullah Lebanon

KIBLAT.NET, Kuwait – Pihak berwenang Kuwait mendeportasi sebanyak 11 warga asing yang menetap di negaranya...

Selasa, 22/03/2016 13:41 1

Close