... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Masa Depan Al-Qaidah & ISIS (3-Habis): Strategi & Adaptasi Jihadis Ke Depan (Bag. 3 Habis)

Foto: Jihadis 3

Tulisan ini sambungan dari halaman sebelumnya.

Dua organisasi jihadis al-Qaidah & ISIS yang tampil dominan di berbagai wilayah di dunia Islam, dianggap oleh sejumlah pihak bahwa mereka sama-sama telah mengambil keuntungan dari situasi kekacauan di bidang sosial, politik, dan keamanan akibat gerakan revolusi rakyat Arab-Springs, namun dengan mengambil jalan atau garis perjuangan yang berbeda. Akankah kedua strategi yang berbeda itu akan bisa saling bertemu, ataukah sebaliknya akan tetap terus bergesekan dan saling bersaing? Strategi mana di antara keduanya yang lebih baik saat ini? Dan juga, perubahan politik apa yang kira-kira bakal terjadi dalam tahun-tahun mendatang yang akan mempengaruhi peta persaingan mereka dalam kepemimpinan jihad global?

Dunia jihad internasional telah mengalami gejolak selama beberapa tahun terakhir, dan sekarang efeknya mulai terasa. Munculnya ISIS sebagai sebuah kelompok jihadis transnasional yang memposisikan sebagai rival bagi al-Qaidah telah ikut mewarnai  dinamika jihad global yang semakin kompetitif. Fenomena ini memperbesar tingkat ancaman serangan-serangan teroris di Barat, di samping juga mengintensifkan kebutuhan bagi dua gerakan tersebut untuk menunjukkan nilai masing-masing di berbagai medan pertempuran lokal. Trilyunan dolar telah dihabiskan untuk memerangi al-Qaidah di Afghanistan-Pakistan, dan al-Qaidah di Iraq, namun ancaman para jihadis hari ini jauh melebihi dari yang terlihat di tahun 2000 dan 2001.

Sebagaimana terjadi dalam beberapa kasus, al-Qaidah sepertinya tidak lagi menjadi sebuah gerakan transnasional yang paling besar/dominan, tetapi lebih merupakan sebuah jaringan longgar kelompok-kelompok bersenjata yang bersifat semi-independen yang tersebar di seluruh dunia. Uniknya, meskipun kepemimpinan pusat al-Qaidah terlihat semakin terisolir dan terputus dari dunia luar, dan itu terlihat dari seringnya mereka memerlukan waktu beberapa minggu untuk secara terbuka merespon kejadian-kejadian penting, kata-kata pimpinan pusat al-Qaidah masih terasa sangat kuat bagi kelompok-kelompok afiliasi mereka. Sebagai contoh,  sebuah surat rahasia dari Dr. Ayman adz-Dzawahiri kepada Jabhat Nusrah cabang resmi al-Qaidah di Suriah di awal 2015 silam terbukti efektif mendorong kelompok pimpinan al-Jaulani itu  menghentikan rencana serangan-serangan di luar Suriah.

Pada saat gelombang revolusi Arab Spring pada tahun 2010 membalikkan pandangan al-Qaidah yang menganggap bahwa kekerasan adalah jalan satu-satunya bagi sebuah perubahan politik, kebijakan represif rezim-rezim diktator Arab dan efek ketidakstabilan akibat revolusi itu telah memberikan peluang bagi al-Qaidah. Apa yang terjadi kemudian adalah sebuah masa di mana al-Qaidah meninjau kembali dan melakukan perubahan kebijakan strategis. Di mulai dengan “proyek” Ansharus Syariah di Yaman (pada tahun 2010 dan 2011), kemudian AQIM (al-Qaida in the Islamic Maghreb), Ansharud Dien, dan MUJAO (Movement for Unity and Jihad in West Africa) di Mali (2012), al-Qaidah terus mengembangkan sebuah strategi baru yang berfokus pada pembinaan masyarakat yang notabene masih belum stabil dan juga masih rentan untuk disiapkan menjadi cikal bakal basis negara Islam oleh al-Qaidah. Meskipun ujicoba penerapan Syariat Islam menyebabkan sejumlah proyek mengalami kegagalan di Yaman dan Mali, namun aktifitas-aktifitas al-Qaidah di Suriah dan Yaman telah menyempurnakan pola baru pendekatan “permainan jangka panjang” tersebut.

Di Suriah dan Yaman, al-Qaidah mengambil manfaat dari keadaan negara yang lemah yang mengalami ketidakstabilan akut di bidang sosial-politik, sehingga kemudian mereka membaur dan menanamkan agen-agennya ke dalam berbagai gerakan revolusioner rakyat. Melalui proses yang di-manage secara sadar dari sebuah “pragmatisme terkendali”, al-Qaidah berhasil mengintegrasikan para pejuangnya ke dalam dinamika yang lebih luas. Terkadang melalui penundaan sementara penerapan hukum Hudud karena alasan situasional, dan secara terbuka menyerukan komitmen terhadap tindakan yang memihak kepentingan masyarakat dan bersifat multilateral dengan melibatkan banyak pihak, al-Qaidah telah memulai sosialisasi terhadap seluruh komunitas supaya bisa menerima peran mereka (al-Qaidah) di dalam gerakan revolusioner di masyarakat. Dengan akar dan dukungan yang kuat di wilayah-wilayah operasional – adz-Dzawahiri menyebutnya sebagai “basis-basis yang aman” (qoidah aminah) – al-Qaidah berharap suatu hari bisa memproklamasikan pemerintahan Islam yang kuat sebagai salah satu komponen dari Khilafah Islamiyah pada akhirnya.

Dukungan Yang Luas, Dukungan Yang Dalam

Di sisi lain, kelompok ISIS kemudian muncul sebagai adik kandung al-Qaidah yang gaduh dan brutal. Kelompok al-Baghdadi ini kemudian mengejar hasil-hasil secara cepat dan konkrit, karena ISIS sedikit khawatir apabila terlalu lama mereka akan gagal memenangkan pengaruh untuk bisa diterima oleh publik/masyarakat Muslim. Untuk itu pula, mereka berusaha mengontrol suatu wilayah meskipun harus menggunakan kekuatan dan intimidasi psikologis. Sebagai sebuah organisasi yang memiliki kapasitas mumpuni di bidang kemiliteran dan juga administrasi yang bagus, ISIS berhasil mendapatkan sejengkal wilayah di sebagian Iraq dan Suriah, seperti Raqqah, Deiruz Zour, dan Mosul. Akan tetapi, capaian maksimal mereka dinilai bahwa  di setiap wilayah yang mereka kuasai di kedua negara itu mereka memiliki akar dukungan yang tidak begitu kuat dan dangkal. Sehingga, dengan memanfaatkan sekutu lokal yang efektif dan representatif, kemungkinan besar koalisi pimpinan AS akan mampu mengambil alih kembali wilayah ISIS, meski sejauh ini terbukti kemajuan tersebut berjalan lambat.

Sementara itu, ISIS telah mengembangkan akar & dukungan strategis yang sangat bernilai di seluruh dunia, melalui pengakuan afiliasi – atau “negara” tambahan bagi kekhilafah versi mereka – di Yaman, Aljazair, Mesir, Afghanistan, Pakistan, Nigeria, dan Rusia. Meskipun mereka akan berjuang untuk memperluas wilayah melebihi apa yang ada sekarang ini, urgensi kehadiran ISIS yang terus berkembang terutama di Libya, Mesir, dan Afghanistan-Pakistan akan membuat gerakan tersebut mampu menghadapi tekanan di Suriah dan Iraq.

Ketika tekanan menguat, ISIS akan mendelegasikan sejumlah elit mereka ke kelompok-kelompok afiliasi internasionalnya, pada saat yang sama terus mendorong serangan-serangan balasan , baik yang dikendalikan secara langsung maupun sekedar menginspirasi terhadap target Barat berprofil tinggi. Ketidakstabilan memberikan peluang bagi kelompok-kelompok semacam ISIS, maka sebaiknya juga harus dilihat kemungkinan mereka akan mengeksploitasi fenomena arus pengungsi dari Suriah menuju Eropa pada tahun 2016, yang secara dramatis akan jauh melebihi dari yang terjadi pada tahun 2015.

Membuat Langkah Baru?

Bahwa dunia hari ini sekarang tengah menghadapi ancaman dari dua gerakan jihadis transnasional yang secara jelas masing-masing menggunakan strategi yang berbeda menjadikan upaya kontra-terorisme pimpinan Barat menjadi jauh lebih sulit. Ekspansi dramatis kelompok ISIS dan daya tarik mereka dari sorotan media-media dunia telah menciptakan sebuah obsesi – atas inisiasi Amerika –  tentang sebuah organisasi yang hanya memiliki sedikit dukungan di tengah masyarakat yang dilanda konflik.  Sementara itu, Barat menjadi bingung dan mengalami disorientasi dengan musuh lama mereka al-Qaidah, di mana saat ini al-Qaidah telah berkembang dan memiliki akar dukungan yang kuat di wilayah-wilayah seperti Suriah dan Yaman. Al-Qaidah memang belum mati, dan juga belum terkalahkan. Dan Barat terus menggunakan kebijakan dan kacamata yang timpang semacam ini di saat mereka tengah  menghadapi bahaya.

Dalam berbagai kesempatan diskusi dengan sumber-sumber Islamis di Suriah, bahwa al-Qaidah nampaknya semakin jauh melakukan adaptasi terkait strategi jangka panjang mereka. Meski tidak secara berkala, JN beberapa kali terlibat selama enam pekan pembicaraan rahasia dengan sedikitnya delapan kelompok oposisi moderat. Hal itu dilakukan setelah JN mengusulkan sebuah merger besar dengan pihak-pihak mana saja yang berkepentingan pada awal Januari lalu. Meskipun pembicaraan pada pertengahan Januari dengan singkat mulai menyinggung tentang isu pelik terkait kesetiaan/loyalitas JN kepada al-Qaidah, pemimpin JN Abu Muhammad al-Jaulani saat ini berhasil menjadikan ikatan loyalitas dengan al-Qaidah itu sebagai sebuah isu di meja perundingan.

Fakta bahwa masalah sensitif semacam itu sekarang sudah mulai secara terbuka didiskusikan merupakan indikator penting seberapa jauh JN ingin mengintegrasikan para pejuangnya ke dalam dinamika revolusioner rakyat Suriah. Namun demikian, pemimpin JN, Abu Muhammad al-Jaulani adalah seorang loyalis al-Qaidah yang cukup lama dan bukan tipe orang yang bisa begitu saja merusak baiat (sumpah keagamaan) semata-mata hanya untuk meraih kekuasaan oportunis belaka. Karena itu menjadi cukup menarik bahwa perdebatan rahasia ini mengemuka di dalam wilayah Suriah di tengah desas-desus di kalangan Salafi-jihadi dan lingkaran-lingkaran pro-al-Qaidah bahwa adz-Dzawahiri  sedang mempertimbangkan untuk “melepas” hubungan dengan kelompok afiliasinya tersebut terkait sumpah/kesetiaan dalam rangka mentransformasi al-Qaidah ke dalam sebuah jaringan organik gerakan inspirasi lokal yang didasarkan dan diikat secara longgar pada gagasan strategis secara menyeluruh. Dalam sejumlah wawancara al-Jaulani dengan media yang dirilis secara publik mengkonfirmasi bahwa spekulasi tersebut keliru.

Apakah al-Qaidah dan organisasi/kelompok afiliasi-afiliasi mereka pada akhirnya akan betul-betul bertransformasi seperti gagasan strategis di atas atau tidak, potensi ancaman mereka bagi keamanan lokal, regional, maupun internasional sudah sangat jelas. Apabila potensi ancaman mereka itu digabungkan dengan ambisi ISIS untuk terus berekspansi dan melancarkan lebih banyak serangan-serangan mematikan di luar wilayah mereka, maka bisa disimpulkan bahwa militansi para pejuang jihadis bisa dianggap sebagai sebuah ancaman/bahaya tiada henti pada tahun-tahun mendatang. Tentu saja ancaman & bahaya ini sangat serius bagi Amerika & dunia Barat beserta sekutu-sekutu lokal mereka di dunia Islam.

Sumber: Brookings.edu
Penulis: Yasin Muslim

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Afrika

Militer Kenya Klaim Tewaskan 34 Pejuang Al-Shabab

KIBLAT.NET, Mogadishu – Pemerintah Kenya mengklaim bahwa pasukannya telah menewaskan 34 pejuang Al-Shabab dalam dua...

Senin, 21/03/2016 15:30 0

Indonesia

Meski Heli TNI Jatuh, Operasi Tinombala Tetap Berlanjut

KIBLAT.NET, Poso – Setelah peristiwa jatuhnya Helikopter Bell 412 EP milik TNI AD yang jatuh...

Senin, 21/03/2016 15:00 0

Rohah

“Saya Membeli Dien Islam dari Anda…”

KIBLAT.NET – Inilah kisah zaman sekarang, Setelah memilih bahan makanan di supermarket, ada seorang gadis...

Senin, 21/03/2016 14:58 0

Opini

Logiskah Tuntutan Pembubaran Densus 88 yang Marak di Sejumlah Kota di Indonesia?

KIBLAT.NET – Aksi tuntutan pembubaran Densus 88 semakin marak digelar di berbagai kota. Mulai dari...

Senin, 21/03/2016 14:27 0

Indonesia

Ansharus Syariah Semarang: Pahamkan Masyarakat Siapa Pelaku Teror Sebenarnya

KIBLAT.NET, Semarang – Sariyah Dakwah Jamaah Anshorus Syariah Semarang, Abu Filah, atau yang sering disapa...

Senin, 21/03/2016 13:59 0

Indonesia

Panglima TNI Akan Hadiri Olah TKP, Lokasi Jatuh Helikopter Disterilkan

KIBLAT.NET, Poso – Kondisi terakhir di tempat kejadian jatuhnya helikopter TNI, pada saat ini, Senin,...

Senin, 21/03/2016 13:14 0

Indonesia

Ibu Mertua Kuswanto Korban Densus 88 di Pamulang: Dia Tidak Terbukti Teroris, Mengapa Masih Dipenjara?

KIBLAT.NET, Pamulang – Aparat dari Detasemen Khusus (Densus) 88 berulang kali melakukan salah tangkap dalam mencari...

Senin, 21/03/2016 12:35 0

Irak

Ulama Iraq: Koalisi AS Targetkan Sipil

KIBLAT.NET, Mosul – Asosiasi Ulama Muslim Iraq menuduh koalisi internasional anti ISIS pimpinan Amerika Serikat...

Senin, 21/03/2016 10:54 0

Yaman

35 Militan Syiah Hutsi Tewas dalam Pertempuran di Taiz

KIBLAT.NET, Sana’a – Sekitar 35 militan Syiah Hutsi dikabarkan tewas dalam bentrokan dengan pasukan pemerintah...

Senin, 21/03/2016 10:00 0

Indonesia

Solidaritas Korban Densus 88, Masjid MUI Surakarta Gelar Qunut Nazilah

KIBLAT.NET, Surakarta — Aksi kecaman terhadap kezaliman Densus 88 terus berlanjut. Tak hanya demonstrasi dengan...

Senin, 21/03/2016 09:34 0

Close