... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Suara Pembaca

Logiskah Tuntutan Pembubaran Densus 88 yang Marak di Sejumlah Kota di Indonesia?

Foto: Demo pembubaran Densus 88 di Surabaya.

KIBLAT.NET – Aksi tuntutan pembubaran Densus 88 semakin marak digelar di berbagai kota. Mulai dari Aceh, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Sumatera Utara, Surakarta, Solo, Semarang, Makasar, dan kota besar lainnya. Di Sumatera Utara gelar aksi dilakukan oleh Gema Pembebasan Sumatera Utara di Bundaran Gatot Subroto, Medan (19/03). Dalam orasinya, para mahasiswa menuntut agar pemerintah membubarkan Densus 88.

“Mereka –Densus 88– adalah teroris sebenarnya. Kawan-kawan bisa lihat sendiri betapa arogan dan pongahnya mereka. Padahal orang-orang yang mereka tangkap itu, belum tentu bersalah. Beberapa kali mereka juga terbukti salah tangkap kan,?” kata koordinator aksi, Andika Mirza (Okezone.com)

Di Solo, Ketua Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS), Edi Lukito menyatakan bahwa saat ini Densus 88 sudah tidak memiliki aturan main. “Penganiayaan-penganiayaan dimana-mana terus dilakukan oleh Densus 88 sejak 2004-2016,” kata Edi (18/02).

Sebelumnya, sejumlah tokoh Ormas Islam (PP Muhammadiyah, MUI Pusat, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, PP Dewan Masjid Indonesia, DPP Hizbut Tahrir Indonesia, IKADI, Hidayatullah, MIUMI, BKPRMI, ICMI, PP Parmusi, PP Muslimat NU, PP Wanita Islam, DPP Syarikat Islam Indonesia dan PP Al-Itihadiyah) mendesak pemerintah agar mengevaluasi kinerja Densus 88, yang saat ini menjadi sorotan, atas pelanggaran HAM berat.

“Kami mendesak pemerintah agar Densus 88 dievaluasi dan diaudit kinerja mereka (termasuk keuangan), bahkan kalau perlu dibubarkan” ujar Din Syamsuddin saat Silaturahmi Ormas Lembaga Islam (SOLI) ke 6, Kamis (7/3) di Kantor PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta.

Menanggapai gelombang tuntutan pembubaran Densus 88 tersebut Tito Karnavian (Kepala BNPT saat ini) menyatakan: “Kalo Densus dibubarkan, ya kelompok-kelompok radikal ini nanti tambah bebas. Sekarang saja ditekan masih bebas. Kalau dibubarkan, siapa yang kerjakan dan mau “start” dari nol lagi. Ini akan berat,” ucap Tito kepada wartawan.

Masih dari pihak kepolisian, dengan arogan dan logika berpikir sempit, Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Pol Anton Chaliyan mengatakan pembela Siyono sama dengan pembela teroris. “Yang meninggal pentolan kelompok teroris. Barangsiapa yang membela artinya membela teroris,” tegas Anton Charliyan.

Apa yang diungkapkan Tito dan Anton sungguh menunjukkan bahwa kepolisian salah memahami inti persoalan, sekaligus menambah bukti arogansi Densus dan BNPT dalam persoalan kontra terorisme ini.

Ungkapan Anton Chaliyan ini sangat berbahaya dan terlalu menyederhanakan persoalan. Ungkapan tersebut seolah siapa saja yang tidak setuju dengan cara-cara kepolisian dalam memberantas terorisme adalah teroris. Logika menyesatkan. Ungkapan ini tidak jauh beda dengan ungkapan George Bush dalam “war on terrorism”: “Anda bersama kami, atau dengan terorisme”.

Menurut Munarman, mantan Ketua YLBHI, perkataan Anton Charliyan merupakan bentuk kesesatan berpikir aparat kepolisian. “Perkataan Anton Charliyan ini memiliki kekeliruan, ada sesat pikir di situ. Sesat pikir yang menganggap orang yang sudah dituduh teroris maka boleh dibunuh tanpa proses hukum. Bahkan, orang yang menyuarakan pembelaan atas seseorang yang dibunuh tanpa bukti ini dikatakan tidak boleh membela, maka kacaulah negeri ini nanti,” kata Munarman seperti dikutip dari Kiblat.net.

BACA JUGA  Baru! Tradisi Ngambek dalam Dunia Literasi Indonesia

Dia menilai, hukum itu mengandung dua unsur. Unsur impersonalitas dan imparsialitas. Artinya, hukum itu tidak boleh memandang latar belakang ideologi seseorang, tidak boleh memberi label tertentu kepada seseorang. Kemudian, hukum itu juga harus imparsial (tidak memihak), sehingga penegak hukum tidak boleh berpihak kepada ideologi tertentu.

“Apa yang dikatakan oleh aparat penegak hukum yang diwakili oleh Kadiv Humas Mabes Polri Anton Charliyan yakni masyarakat jangan membela teroris, berarti dia telah melanggar prinsip impersonalitas dan imparsialitas. Sehingga hukum itu tidak lagi netral artinya, bukan lagi menghukumi perbuatan melainkan hukum tersebut menghukumi atau menghakimi dan menindak hanya kepada kelompok tertentu.”

Masyarakat sesungguhnya setuju dan perang melawan terorisme. Namun persoalan inti adalah ketidakprofesionalan dari Densus dalam penanganan ini. Mulai dari pendefinisian radikal dan terorisme, BNPT selalu tidak jelas. Dan sepertinya memang sengaja dibuat tidak jelas. Kejelasannya justru ada pada moncong persoalan, yang selalu dialamatkan kepada Islam. Target operasi Densus sebagian besar –jika tidak dikatakan100%– adalah ulama dan aktivis masjid. Beberapa bulan yang lalu, BNPT menyebut bahwa ada 19 pesantren terindikasi sarat dengan radikalisme.

Ketidakprofesionalan Densus ini sesungguhnya yang menjadi sorotan masyarakat. Tindakan Densus 88 melakukan pengeledahan di Taman Kanak-kanak (TK) yang bernama Raudatul Athfal Terpadu (RAT) Amanah Ummah membuat para anak didik di TK itu histeris ketakutan saat penggeledahan. Banyak kalangan yang menilai aksi Densus ini terlalu anarkis.

Aktivis sekaligus penulis buku, Jonru, mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh Densus 88 sejatinya adalah aksi terorisme. “Kita semua anti teroris. Namun jika begini caranya, mungkin Densus88-lah the real terorist. Bubarkan!”

Rekam jejak dari Densus 88 selama ini juga sangat buruk. Anggota Komnas HAM Maneger Nasution menyebut tindakan Densus yang selalu menembak mati terduga teroris dalam setiap operasi penggerebekan justru tidak akan pernah efektif menghentikan terorisme.

“Densus 88 jangan menjadi lembaga pencabut nyawa. Aksi kekerasan yang dipentaskan Densus 88 dengan menembak mati terduga teroris terbukti tidak efektif memberantas terorisme. Hanya mampu menjawab persoalan sesaat,” ujar Maneger.

Berdasarkan catatan An-Nasr Institute,ada sekitar 120 umat Islam yang hilangkan nyawanya secara paksa oleh Densus 88 di luar pengadilan. Jumlah itu belum termasuk korban yang disiksa (tortured), namun masih hidup. Bahkan, dari seribuan orang lebih telah ditangkap sejak tahun 2002 hingga saat ini. Komnas HAM mencatat bahwa terdapat 118 orang yang telah meninggal dunia di tangan Densus. Kita tidak yakin bahwa terbunuhnya Siyono adalah yang terakhir kali jika penangan terorisme di negeri ini seperti yang dilakukan Densus 88.

BACA JUGA  Saat Kampus Terpenjara Isu Radikalisme

Keterlibatan Asing dari sisi pendanaan dan pelatihan semakin menjadi tanda tanya besar kemana sebenarnya arah kontra terorisme ini. Kantor berita Reuters mengutip dokumentasi Deplu AS bahwa; “… Sejak tahun 2003 negara itu aktif membiayai program kontraterorisme di sejumlah negara lewat Antiterorism Assistance Program (ATA). Dalam laporannya ke Kongres AS pada 2005, misalnya, ATA mengucurkan dana 5,4 juta dolar AS untuk Densus 88…”

Dana dari Australia saja sekitar 16 juta dolar AS. Bahkan sejak 2004 melipat gandakan bantuannya menjadi 20 juta dolar AS per tahun, terutama untuk program kontraterorisme. Itu belum Amerika yang melatih detasemen khusus dengan biaya mereka. Amerika menurunkan pasukan elitenya, CIA, dan FBI untuk melatih anggota Densus 88 itu. Tiap tahun pun Amerika menyumbang untuk detasemen yang anggotanya berjumlah 400 orang…”

Mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyaad Mbai malah mengungkap: “Operasi Tangkap Mati itu adalah tak lebih sebagai pengalihan isu demi Amerika dan penguasa RI. Tujuannya adalah agar saudara muslim yang aktif di dunia pergerakan dakwah dan jihad fii sabilillah terus menerus dimandulkan dengan isu deradikaliasi terorisme ala BNPT dan Densus 88. Perbandingan 80 persen dan 20 persen. 20 Persennya yang pengalihan isu, grebekan terduga teroris sudah di-set up sejak lama, disulut semangatnya, dijebak, didanai, dan diprovokasi untuk membuat makar dan akhirnya lalu ditangkap. Penggerebekan teroris adalah berita seksi yang bisa digunakan untuk mengalihkan isu..”

‘Ala kulli haal, logika berfikir yang jelas untuk persoalan Densus 88 saat ini adalah, “Jika Densus tidak dibubarkan, siapa yang akan menjamin darah kaum muslimin tidak kembali tertumpah dengan sia-sia?”. Sampai kapan Densus berhenti membunuh jiwa yang Allah haramkan atasnya? Firman Allah SWT:

 مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًاَ

“Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain , atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, Maka seakan-akan Dia telah membunuh manusia seluruhnya.” (Al Maidah 32).

 

Penuli: H. Luthfi H., pengamat berita-berita Islam

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Ansharus Syariah Semarang: Pahamkan Masyarakat Siapa Pelaku Teror Sebenarnya

KIBLAT.NET, Semarang – Sariyah Dakwah Jamaah Anshorus Syariah Semarang, Abu Filah, atau yang sering disapa...

Senin, 21/03/2016 13:59 0

Indonesia

Panglima TNI Akan Hadiri Olah TKP, Lokasi Jatuh Helikopter Disterilkan

KIBLAT.NET, Poso – Kondisi terakhir di tempat kejadian jatuhnya helikopter TNI, pada saat ini, Senin,...

Senin, 21/03/2016 13:14 0

Indonesia

Ibu Mertua Kuswanto Korban Densus 88 di Pamulang: Dia Tidak Terbukti Teroris, Mengapa Masih Dipenjara?

KIBLAT.NET, Pamulang – Aparat dari Detasemen Khusus (Densus) 88 berulang kali melakukan salah tangkap dalam mencari...

Senin, 21/03/2016 12:35 0

Irak

Ulama Iraq: Koalisi AS Targetkan Sipil

KIBLAT.NET, Mosul – Asosiasi Ulama Muslim Iraq menuduh koalisi internasional anti ISIS pimpinan Amerika Serikat...

Senin, 21/03/2016 10:54 0

Yaman

35 Militan Syiah Hutsi Tewas dalam Pertempuran di Taiz

KIBLAT.NET, Sana’a – Sekitar 35 militan Syiah Hutsi dikabarkan tewas dalam bentrokan dengan pasukan pemerintah...

Senin, 21/03/2016 10:00 0

Indonesia

Solidaritas Korban Densus 88, Masjid MUI Surakarta Gelar Qunut Nazilah

KIBLAT.NET, Surakarta — Aksi kecaman terhadap kezaliman Densus 88 terus berlanjut. Tak hanya demonstrasi dengan...

Senin, 21/03/2016 09:34 0

Irak

AS Kirim Pasukan Elit ke Iraq

KIBLAT.NET, Washington – Departemen Dalam Negeri Amerika Serikat (Pentagon) mengumumkan pasukan Korps Marinirnya tiba di...

Senin, 21/03/2016 09:13 0

Indonesia

Heli TNI Jatuh di Poso, 13 Penumpang Tewas

KIBLAT.NET, Poso — Ahad, 20/03/2016 sekitar pukul 18.00 WITA sebua helikopter milik TNI AD terjatuh...

Ahad, 20/03/2016 23:40 0

Analisis

Masa Depan Al-Qaidah & ISIS: Persepsi Ketidakpastian Analis Barat (Bag. 2)

Tulisan ini sambungan dari halaman sebelumnya. Dua organisasi jihadis al-Qaidah & ISIS yang tampil dominan...

Ahad, 20/03/2016 09:30 0

Indonesia

An-Nasr Institute: UU Anti Penyiksaan Ibarat Macan Ompong

KIBLAT.NET, Jakarta – Densus 88 Antiteror Mabes Polri kerap kali melakukan penyiksaan hingga pembunuhan di luar...

Ahad, 20/03/2016 08:38 0

Close