... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

An-Nasr Institute: UU Anti Penyiksaan Ibarat Macan Ompong

Foto: UU Anti penyiksaan

KIBLAT.NET, Jakarta – Densus 88 Antiteror Mabes Polri kerap kali melakukan penyiksaan hingga pembunuhan di luar pengadilan terhadap para terduga teroris. Tercatat, sekitar 120 umat Islam yang disiksa hingga dibunuh. Yang paling terbaru adalah kasus terbunuhnya Siyono, seorang imam masjid di Klaten.

Melihat hal tersebut, Direktur An-Nasr Institute, Munarman, mengatakan metode penyiksaan termasuk hal yang dilarang baik dalam hukum di Indonesia maupun secara universal.

Wabil khusus, dalam hukum di Indonesia telah tertuang dalam UU No 5 Tahun 1998, pengesahan Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Hukuman Lain yang Kejam, Tidak Manusiawi, dan Merendahkan Martabat Manusia.

“UU anti penyiksaan tersebut merupakan ratifikasi atau mengadopsi dari konfrensi PBB. Konvensi anti penyiksaan (Convention Against Torture) yakni merupakan larangan yang dikhusukan bagi aparat negara. Sehingga prinsip utamanya dalam UU tersebut, aparat negara tidak boleh dalam menggali informasi melalui metode penyiksaan baik berupa penyiksaan psikis maupun fisik,” ujar Munarman saat dihubungi Kiblat.net, belum lama ini.

Dahulu, kata Munarman, aparat negara sendiri sebenarnya sudah berupaya meneken nota kesepahaman pencegahan penyiksaan, namun nyatanya hal ini kembali terjadi. Sehingga, muncullah kecurigaan apakah kemudian artinya kasus ini merupakan kesalahan oknum personal atau mungkin perjanjian ini belum dijalankan khususnya dalam kasus terorisme.

“UU ini ibarat macan ompong, apalagi jika melihat fakta di lapangan bahwa aparat negara dalam hal ini Densus 88 sering kali melakukan penyiksaan sebelum adanya proses hukum,” tegasnya.

BACA JUGA  Hidayat Nur Wahid Kritik Pengangkatan Eks Kontributor Playboy Jadi Dirut TVRI

Munarman mencatat, sebenarnya perjanjian kerjasama internasional anti penyiksaan dengan bentuk penandatanganan yang baru saja diteken oleh Menkumham dan sejumlah lembaga negara pada akhir Februari 2-016 ini merupakan tingkat di level yang paling bawah.

“Perlu diketahui, Indonesia telah mengadopsi UU ini, sehingga tidak boleh diberlakukannya definisi-definisi kejahatan yang berat itu, sebab merupakan tindak kejahatan HAM berat yakni termasuk kejahatan terhadap kemanusian,” tutur mantan Ketua YLBHI ini.

Walaupun, dalam UU Terorisme terdapat pengecualian, namun dalam hal metode penyiksaan ini tidak tercantum dalam pengecualian antara UU tindak pidana biasa dengan UU tindak pidana Terorisme tersebut.

Munarman menegaskan, tidak boleh seseorang menyatakan “kan dia teroris melakukan pelanggaran HAM, dia menindas orang lain nanti anda terkena bom juga,” tetap tidak boleh untuk melakukan metode penyiksaan tersebut. Sebab, metode penyiksaan itu termasuk hal yang dilarang baik dalam hukum di Indonesia maupun secara universal.

“Hal itu merupakan pelanggaran HAM berat, jadi jikalau aparat melakukan penyiksaan tersebut maka mereka sebenarnya merupakan pelanggar HAM yang berat yakni extra ordinary crime,” pungkasnya.
Reporter: Bunyanun Marsus/Hafidz
Editor: Fajar Shadiq


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Suriah

Lima Tahun Revolusi Suriah, Jabhah Nushrah Rilis “The Heirs of Glory” Season 2

KIBLAT.NET, Damaskus – Setelah merilis The Heirs of Glory (para pewaris kemulian) season pertama pada...

Ahad, 20/03/2016 08:30 1

Turki

Lagi, Turki Dilanda Serangan Bom Bunuh Diri

KIBLAT.NET, Ankara – Sebanyak lima orang termasuk seorang pelaku bom bunuh diri meninggal dunia dan 36...

Ahad, 20/03/2016 06:00 0

Analisis

Masa Depan Al-Qaidah & ISIS: Daya Tahan dan Kelemahan Masing-Masing (Bag. 1)

KIBLAT.NET – Dua organisasi jihadis al-Qaidah & ISIS yang tampil dominan di berbagai wilayah di...

Sabtu, 19/03/2016 19:30 0

News

Polisi Sebut Bela Siyono Sama Juga Bela Teroris, Munarman: Itu Kesesatan Berpikir!

KIBLAT.NET, Jakarta – Besarnya antusiasme masyarakat yang menggelar aksi solidaritas atas kematian Siyono, mendorong Kadiv Humas Mabes...

Sabtu, 19/03/2016 18:44 2

Iran

Iran Berencana Kirim Pasukan Sniper ke Iraq dan Suriah

KIBLAT.NET, Teheran – Wakil Kepala Angkatan Darat Iran, Jenderal Ali Arasteh, mengumumkan bahwa Teheran berencan...

Sabtu, 19/03/2016 16:40 0

News

Jabhah Nusrah dan Brigade 13 Sepakat Menghadap Pengadilan Syariat

KIBLAT.NET, Idlib – Gerakan Jabhah Nusrah (JN) dan Brigade 13 sepakat menyelesaikan perselisihan di hadapan...

Sabtu, 19/03/2016 15:50 0

News

Mahasiswa Bandung Gelar Aksi Tuntut Pembubaran Densus 88

KIBLAT.NET, Bandung – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Pembebasan (GEMA Pembebasan) kota Bandung...

Sabtu, 19/03/2016 14:00 0

Suriah

Oposisi Suriah: Deklarasi Negera Federal Kurdi Sama dengan Deklarasi “Khilafah” ISIS

KIBLAT.NET, Beirut – Sekitar tujuh puluh faksi oposisi Suriah mengecam deklarasi wilayah federal di Suriah bagian...

Sabtu, 19/03/2016 12:30 0

Yaman

Koalisi Saudi: Operasi Militer di Yaman Hampir Selesai

KIBLAT.NET, Riyadh – Koalisi pimpinan Saudi mengungkapkan akan mengakhiri operasi militer di Yaman. Pengumuman ini...

Sabtu, 19/03/2016 11:31 0

Rusia

Putin: Kami Bisa Kembali ke Suriah Dalam Hitungan Jam

KIBLAT.NET, Moscow – Tiga hari pasca penarikan sebagian angkatan udara Rusia, Presiden Rusia Vladimir Putin...

Sabtu, 19/03/2016 09:10 0

Close