... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Masa Depan Al-Qaidah & ISIS: Persepsi Ketidakpastian Analis Barat (Bag. 2)

Foto: Jihadis 2

Tulisan ini sambungan dari halaman sebelumnya.

Dua organisasi jihadis al-Qaidah & ISIS yang tampil dominan di berbagai wilayah di dunia Islam, dianggap oleh sejumlah pihak bahwa mereka sama-sama telah mengambil keuntungan dari situasi kekacauan di bidang sosial, politik, dan keamanan akibat gerakan revolusi rakyat Arab-Springs, namun dengan mengambil jalan atau garis perjuangan yang berbeda. Akankah kedua strategi yang berbeda itu akan bisa saling bertemu, ataukah sebaliknya akan tetap terus bergesekan dan saling bersaing? Strategi mana di antara keduanya yang lebih baik saat ini? Dan juga, perubahan politik apa yang kira-kira bakal terjadi dalam tahun-tahun mendatang yang akan mempengaruhi peta persaingan mereka dalam kepemimpinan jihad global?

Seorang peneliti pada Institut Riset Kebijakan Luar Negeri (FPRI), Clint Watts menyarankan untuk menghindari asumsi-asumsi keliru yang selama ini menyebabkan kesalahan dalam memprediksi terkait kebijakan kontra-terorisme yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir ini. Sebelumnya Clint Watts juga pernah berdinas sebagai perwira pasukan infantri AS, agen khusus FBI pada unit gabungan anti-terorisme (JTTF), juga seorang executive officer di pusat anti-terorisme di West Point. Sayangnya, berbagai pandangan Watts berujung pada perspektif pragmatisme yang cenderung melihat sepak terjang para jihadis dari sudut pandang kepentingan jangka pendek dengan mengabaikan aspek ideologi. Padahal ideologi sendiri merupakan aspek inti, paling tidak bagi mayoritas “konstituen” jihadis dan para pemainnya baik yang memilih jalan kolektif maupun the lone-fighter.

Clint Watts mengatakan, dua tahun yang lalu prediksi kontraterorisme berfokus pada kebangkitan kembali al-Qaidah. Perdebatan mengenahi apakah al-Qaidah kembali menjadi pemenang dalam perang terhadap teror kembali mencuat seminggu sebelum ISIS menyerbu kota Mosul. Pada saat perdebatan mengenahi al-Qaidah di Washington mulai mereda pada tahun 2013, organisasi al-Qaidah di bawah pimpinan Dr. Aiman adz-Dzawahiri mengalami masalah penentangan internal yang belum pernah terjadi sebelumnya, dari bekas organisasi afiliasi mereka, yaitu al-Qaidah di Iraq (AQI). Sejauh ini langkah kontraterorisme Barat yang diprediksi dua tahun yang lalu terbukti melenceng. Selanjutnya apakah kita juga harus mencoba antisipasi apa yang akan terjadi dua tahun ke depan terkait dengan al-Qaidah & ISIS?

Daripada membuat prakiraan/prediksi tentang bagaimana puluhan kelompok ekstrimis yang beroperasi di empat benua akan melakukan aksi mereka di masa depan, para analis justru lebih tertarik untuk meninjau kembali sejumlah asumsi sebelumnya yang salah tentang fenomena strategis yang ditandai dengan munculnya kelompok ISIS. Berikut ini sejumlah wawasan  mengenahi perubahan & dinamika di kalangan jihadis selama periode satu dasawarsa sebelumnya yang harus dipertimbangkan ketika akan membuat prediksi satu dekade ke depan mengenahi masa depan al-Qaidah dan ISIS.

Loyalitas adalah sementara, (sementara) kepentingan pribadi bersifat selamanya. Para analis yang tidak menduga akan kemunculan ISIS sebelumnya berasumsi bahwa mereka yang telah bersumpah setia kepada al-Qaidah akan tetap setia selamanya. Tetapi loyalitas bisa berubah meski sudah diikat dengan sumpah. Abu Bakar al-Baghdadi dan para pemimpin ISIS lainnya menggunakan istilah-istilah teknis (technicalities) untuk membatalkan komitmen mereka kepada al-Qaidah. Boko Haram dengan begitu cepat keluar dari al-Qaidah dan segera mewujudkan mimpinya menjadi ISIS.

Pendek kata, sumpah setia di kalangan kelompok jihadis sebaiknya tidak dilihat sebagai sesuatu yang mengikat atau bersifat permanen, tetapi sumpah setia mereka itu sifatnya sementara. Ketika sebuah kelompok jihadis terlihat/dianggap melemah atau terjadi pergantian pemimpin, kesetiaan/sumpah akan dengan cepat berubah/beralih ke kelompok jihadis atau ke apa saja yang terbukti paling menguntungkan bagi kelompok dan pemimpinnya. Prestis, uang, jumlah pengikut/anggota, dan hal-hal semacam itulah yang mempengaruhi sumpah/kesetiaan, bukan ideologi.

Al-Qaidah dan ISIS tidak hanya berfikir semata-semata untuk menghancurkan/menyerang AS dan sekutu-sekutu Barat lainnya. Meskipun kelompok-kelompok jihad global selalu menyerukan aksi serangan terhadap Barat, mereka ternyata juga tidak selalu melakukan aksi untuk mewujudkannya. Bisa jadi karena mereka tidak mampu, atau juga karena ada prioritas lain, misalnya operasi serangan terhadap musuh yang lebih dekat. Jadi, propaganda para jihadis itu sendiri tidak cukup dijadikan acuan tunggal tentang bagaimana dan apa rencana mereka ke depan.

Sebagai contoh, pemimpin al-Qaidah Dr. Aiman adz-Dzawahiri pernah secara terbuka menyerukan kelompok-kelompok afiliasi al-Qaidah untuk melancarkan serangan-serangan terhadap Barat. Tetapi, secara diam-diam ia menginstruksikan cabang organisasinya di Suriah untuk menahan diri. Dan menurut sebagian besar catatan, ISIS lebih banyak berfokus pada serangan-serangan terhadap musuh dekatnya di Timur Tengah daripada musuh-musuh mereka yang berada jauh di seberang lautan, meski berulangkali bersumpah akan menyerang Amerika. Kedua kelompok jihadis tersebut akan memanfaatkan peluang apa saja yang memudahkan mereka untuk menyerang AS. Namun demikian, terus membatasi prediksi masa depan dengan hanya menggunakan kacamata Amerika-sentris saja akan menyebabkan analisa yang keliru serta mengundang pertanyaan.

Al-Qaidah dan ISIS tidak mengendalikan semua aksi organisasi-organisasi atau kelompok afiliasi mereka. Sejumlah headline berita sepintas akan menyebabkan para pembaca meyakini bahwa al-Qaidah dan ISIS memberikan komando serta mengendalikan jaringan yang sangat luas yang beroperasi di bawah satu kesatuan rencana strategis. Tetapi setahun yang lalu, serangan terhadap markas Charlie Hebdo di Paris mengungkap bahwa secara mengejutkan AQAP (al-Qaida in the Arabian Peninsula ) bertanggung jawab penuh, meskipun salah satu penyerang secara eksplisit menyatakan bahwa mereka dikirim oleh AQAP. Demikian juga dengan gelombang serangan yang dilancarkan oleh AQIM (Al-Qaeda in the Islamic Maghreb) di Mali dan Burkina Faso yang nampaknya juga dilancarkan secara independen dari pengaruh langsung kepemimpinan pusat al-Qaidah. Dalam kasus ISIS, secara jelas kelompok eks al-Qaidah ini memobilisasi jaringannya dan menginspirasi yang lain untuk melakukan serangan-serangan internasional berskala luas. Kepemimpinan pusat kelompok ini di Iraq dan Suriah ternyata hanya mengendalikan secara langsung beberapa atau sedikit dari rencana-rencana tersebut.

Menurut pandangan Clint Watts, belum pernah terjadi sejak kelahirannya, al-Qaidah mendorong organisasi-organisasi dan jaringan afiliasinya beroperasi sedemikian independen. Sejak kematian Usamah Bin Ladin, kelompok-kelompok afiliasi al-Qaidah di Yaman, Afrika Barat & Utara, Somalia, dan Suriah semuanya secara agresif ingin mendirikan negara, sebuah strategi yang Bin ladin sendiri tidak menyarankannya. Pemilihan target dan langkah cepat dalam perencanaan serangan oleh para militan kedua jaringan tersebut menunjukkan dinamika lokal lebih berpengaruh daripada kohesifitas kelompok maupun grand strategi global organisasi induk dalam mengarahkan jihad hari ini.  Oleh karena itu, untuk secara akurat mengantisipasi kompetisi dan peluang kerjasama di antara berbagai kelompok-kelompok afiliasi jihadis secara luas dengan sumpah setia dan loyalitas mereka yang tumpang tindih terhadap kedua kelompok tersebut – ISIS & al-Qaidah – , diperlukan penelitian oleh tim analis dengan beragam keahlian dan multi-disiplin, bukan dilakukan oleh hanya seorang ahli saja.

Kedua organisasi jihadis (al-Qaidah & ISIS) dan afiliasi-afiliasinya akan semakin tergoda untuk beraliansi dengan para sponsor negara, dan pemain-pemain baik non-jihadi maupun non-negara lainnya. Semakin banyak uang yang dimiliki oleh al-Qaidah maupun ISIS, semakin besar pula pengaruh mereka terhadap kelompok-kelompok afiliasi. Namun ketika sumber keuangan mulai mengering – seperti dalam kasus al-Qaidah dan juga nantinya akan terjadi pada ISIS – kelompok-kelompok afiliasi tersebut akan berpaling dan mencari yang lain yang bisa menopang keberlangsungan mereka. Kelompok-kelompok afiliasi yang berada di tempat yang jauh akan mencari induk yang baru atau bahkan akan membuat organisasi yang baru.

Dan pasti, beberapa kelompok afiliasi akan berpaling kepada negara-negara yang bersedia mendanai mereka dalam perang proksi melawan musuh bersama mereka. Iran, meskipun di Suriah mereka memerangi ISIS, kemungkinan tergoda untuk mendukung aksi terorisme ISIS di dalam wilayah perbatasan Arab Saudi. Arab Saudi juga bisa saja dengan mudah memanfaatkan AQAP sebagai sekutu melawan Syiah Hutsi dukungan Iran di Yaman. Negara-negara Afrika barangkali akan lebih mudah dan memilih membayar kelompok-kelompok jihadis yang mengancam negara-negara mereka daripada menghadapi serangan-serangan yang menyebabkan ketidakstabilan di kota-kota mereka. Jika uang sudah menjadi barang langka, kelompok-kelompok afiliasi al-Qaidah maupun ISIS tidak lagi ada hambatan berarti untuk menerima uang dari musuh-musuh ideologis mereka terutama saat memiliki kepentingan bersama dalam jangka pendek.

Dalam resumenya, jika Barat dan sekutu-sekutunya ingin memprediksi masa depan ke mana arah al-Qaidah dan ISIS, Clint Watts merekomendasikan untuk menghindari asumsi-asumsi yang salah seperti di atas. Sebaliknya, ia memberi tiga masukan sebagai berikut:

  1. Pertama, melihat kepada prediksi terorisme regional yang memperjelas nuansa lokal di mana hal itu sering terabaikan dalam menilai al-Qaidah dan ISIS secara keseluruhan. Tergantung pada wilayah tersebut, baik al-Qaidah maupun ISIS barangkali akan mengambil peran dominan. Dan naiknya mereka akan lebih banyak ditopang oleh pasukan lokal daripada pasukan global.
  2. Kedua, perhatikan migrasi para pejuang asing yang masih ada di saat ISIS mengalami kemunduran di Iraq dan Suriah. Pergerakan dan tempat-tempat mereka mencari perlindungan akan menjadi sumber masalah di masa depan.
  3. Ketiga, jangan pernah mencoba mengantisipasi terlalu jauh ke depan. Sejak kematian Usamah Bin Ladin, landscape teroris menjadi sedemikian menyebar dan membaur, ingat bahwa setengah lusin kelompok-kelompok afiliasi telah bangkit dan jatuh. Dan juga, revolusi Arab Springs telah menjauh dari harapan besar akan demokrasi ke arah situasi yang lebih buruk & ketidakpastian yang berlarut-larut di seluruh Timur Tengah.

Gambaran terorisme hari ini masih sedemikian rumit/kompleks, cepat berubah, dan karut-marut. Tidak ada alasan untuk mempercayai bahwa esok semua itu akan berubah.

Ingin membaca tulisan berikutnya, klik di sini!

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

An-Nasr Institute: UU Anti Penyiksaan Ibarat Macan Ompong

KIBLAT.NET, Jakarta – Densus 88 Antiteror Mabes Polri kerap kali melakukan penyiksaan hingga pembunuhan di luar...

Ahad, 20/03/2016 08:38 0

Suriah

Lima Tahun Revolusi Suriah, Jabhah Nushrah Rilis “The Heirs of Glory” Season 2

KIBLAT.NET, Damaskus – Setelah merilis The Heirs of Glory (para pewaris kemulian) season pertama pada...

Ahad, 20/03/2016 08:30 1

Indonesia

Simpang Lima Semarang Diwarnai Aksi Tuntut Pembubaran Densus 88

KIBLAT.NET, Semarang – Umat Islam Semarang pagi ini melakukan aksi damai menuntut pembubaran Densus 88. Hal...

Ahad, 20/03/2016 07:42 0

Indonesia

Hina Lambang Negara, Pedangdut Zaskia Gotik Terancam Hukuman Berat

KIBLAT.NET, Jakarta – Polda Metro Jaya mulai melakukan penyelidikan atas laporan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)...

Ahad, 20/03/2016 07:29 1

Turki

Lagi, Turki Dilanda Serangan Bom Bunuh Diri

KIBLAT.NET, Ankara – Sebanyak lima orang termasuk seorang pelaku bom bunuh diri meninggal dunia dan 36...

Ahad, 20/03/2016 06:00 0

Indonesia

Posko Nasional Korban Densus 88 Segera Dibentuk

KIBLAT.NET, Jakarta – Tingginya jumlah korban pelanggaran HAM oleh Densus 88 Antiteror Mabes Polri mendorong...

Ahad, 20/03/2016 05:00 0

Indonesia

Meski Terorisme Dianggap Kejahatan Luar Biasa, Polisi Tak Boleh Menyiksa

KIBLAT.NET, Jakarta – Secara politik hukum negara, revisi UU Terorisme menyatakan bahwa tindak pidana terorisme...

Ahad, 20/03/2016 00:03 0

Indonesia

Stigmatisasi Teroris Adalah Bentuk Perendahan Martabat Manusia

KIBLAT.NET, Jakarta – Direktur An-Nasr Institute, Munarman menyatakan, stigmatisasi atau pelabelan seseorang sebagai teroris merupakan bentuk...

Sabtu, 19/03/2016 19:15 0

News

Polisi Sebut Bela Siyono Sama Juga Bela Teroris, Munarman: Itu Kesesatan Berpikir!

KIBLAT.NET, Jakarta – Besarnya antusiasme masyarakat yang menggelar aksi solidaritas atas kematian Siyono, mendorong Kadiv Humas Mabes...

Sabtu, 19/03/2016 18:44 2

Iran

Iran Berencana Kirim Pasukan Sniper ke Iraq dan Suriah

KIBLAT.NET, Teheran – Wakil Kepala Angkatan Darat Iran, Jenderal Ali Arasteh, mengumumkan bahwa Teheran berencan...

Sabtu, 19/03/2016 16:40 0

Close