... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Masa Depan Al-Qaidah & ISIS: Daya Tahan dan Kelemahan Masing-Masing (Bag. 1)

Foto: Jihadis

KIBLAT.NET – Dua organisasi jihadis al-Qaidah & ISIS yang tampil dominan di berbagai wilayah di dunia Islam, dianggap oleh sejumlah pihak bahwa mereka sama-sama telah mengambil keuntungan dari situasi kekacauan di bidang sosial, politik, dan keamanan akibat gerakan revolusi rakyat Arab-Springs, namun dengan mengambil jalan atau garis perjuangan yang berbeda. Akankah kedua strategi yang berbeda itu akan bisa saling bertemu, ataukah sebaliknya akan tetap terus bergesekan dan saling bersaing? Strategi mana di antara keduanya yang lebih baik saat ini? Dan juga, perubahan politik apa yang kira-kira bakal terjadi dalam tahun-tahun mendatang yang akan mempengaruhi peta persaingan mereka dalam kepemimpinan jihad global?

Seorang professor ilmu politik di Haverford College sekaligus peneliti senior di Institut Riset Kebijakan Luar Negeri (FPRI), Barak Mendelsohn mengatakan bahwa ketika al-Qaidah menyerang daratan Amerika Serikat pada peristiwa 11/9, mereka tidak mempersiapkan diri untuk  menghadapi konskuensinya. Di sana ada jarak atau kesenjangan yang cukup jauh antara kemampuan al-Qaidah dengan tujuan strategis mereka yaitu menjatuhkan AS dan membawa perubahan politik di Timur Tengah. Untuk menjembatani kesenjangan tersebut, Usamah Bin Ladin secara mudah dan tidak realistis berasumsi bahwa serangan terhadap AS akan mendorong masyarakat Muslim secara umum dan seluruh kekuatan Islam bersenjata lainnya bergabung dengan visi perjuangan kelompoknya. Jatuhnya pemerintahan Taliban pasca invasi AS tahun 2001, dan menyusutnya kekuatan di barisan al-Qaidah tidak lama setelah itu dengan segera membuktikan bahwa asumsi Bin Ladin salah.

Namun kemudian setelah empat belas tahun berlalu ternyata al-Qaidah masih tetap eksis dan semakin kuat. Meskipun visi politik mereka tidak realistis menurut mayoritas Muslim kebanyakan, dan juga sempat mengalami penyusutan kekuatan secara signifikan, terlebih dengan kemunculan ISIS yang menekan dan mengancam ketahanan mereka, ternyata mereka (al-Qaidah) semakin berkembang dengan eksisnya cabang-cabang baru di Afrika Utara, Semenanjung Arabia, Tanah Syam, Asia Tengah, Asia Selatan & anak benua India, dan di Tanduk Afrika.

Al-Qaidah, Sempat Jatuh Namun Tetap Eksis

Dua faktor yang bisa menjelaskan mengapa al-Qaida tetap mampu bertahan adalah, perubahan lingkungan akibat revolusi Arab dan kemampuan kelompok tersebut dalam memanfaatkan berbagai peluang baru sebagai hasil pembelajaran dari kesalahan di masa lalu. Kebangkitan atau revolusi Arab memang pada mulanya melemahkan klaim awal al-Qaidah bahwa perubahan di negeri-negeri Muslim tidak bisa dilakukan dengan cara damai, atau tidak bisa dilakukan tanpa dengan melemahkan superpower AS terlebih dahulu. Meski demikian, kebijakan represif  tangan besi para rezim diktator terhadap rakyat mereka sendiri di Suriah, Libya, dan beberapa tempat lainnya telah menciptakan banyak peluang baru bagi al-Qaidah untuk menunjukkan relevansinya. Lebih jauh, banyaknya masyarakat yang terlibat dalam proses untuk menentukan masa depan mereka memberi sebuah peluang baru bagi al-Qaidah untuk melakukan rekrutmen.

Tetapi kondisi yang menguntungkan itu tidak cukup membantu al-Qaidah untuk bisa bertahan tanpa adanya perubahan-perubahan yang dilakukan oleh al-Qaidah sendiri. Belajar dari pengalaman pahit mereka di Iraq, al-Qaidah telah memilih dengan mengambil sejumlah langkah moderat. Mereka menanam agen-agen mereka di berbagai gerakan-gerakan perlawanan berbasis rakyat  di Suriah dan Yaman, kemudian mengambil peran yang konstruktif, sangat memperhatikan kebutuhan masyarakat, serta kooperatif dengan berbagai lapisan kelompok-kelompok pejuang lainnya. Setelah berhasil menjadi bagian dari sebuah gerakan yang lebih luas, afiliasi-afiliasi al-Qaidah di negara-negara itu juga berhasil membangun sistem & mekanisme pertahanan dari ancaman musuh-musuh eksternal karena enggan menghadapi aliansi baru kelompok tersebut.

Saat ini ancaman terbesar al-Qaidah bukan Amerika Serikat atau rezim-rezim negara Arab, melainkan sebuah kelompok bekas afiliasi mereka di Iraq, yaitu ISIS. Kelompok al-Baghdadi ini berusaha menekan dan mengintimidasi para anggota/pendukung al-Qaidah untuk membelot. Sejauh ini usaha tersebut telah gagal, sehingga ISIS kemudian mencoba membuat perpecahan di internal cabang-cabang al-Qaidah serta membujuk para anggota al-Qaidah di cabang-cabang untuk menyeberang ke “khilafah” al-Baghdadi. Seandainya al-Qaidah mampu mengatasi masalah yang datang dari ISIS ini, dalam jangka panjang mereka masih harus menghadapi masalah fundamental yang tidak mungkin berubah, yaitu bahwa, meskipun telah menunjukkan sejumlah langkah moderat, proyek al-Qaidah masih dianggap terlalu ekstrim bagi mayoritas Muslim.

ISIS, Sempat Muncul Namun Tidak Akan Selamanya

Di tengah kebijakan AS mengurangi operasi militer untuk penghematan anggaran, dan di saat rezim-rezim di Timur Tengah sedang melemah, kelompok Negara Islam (ISIS) tampil dominan dalam situasi & kondisi yang lebih mendukung dan dengan menerapkan strategi yang berbeda. Daripada harus terlebih dahulu menghabiskan energi dengan memerangi Amerika, ISIS memilih langsung mendirikan Khilafah di tengah kehancuran dan disintegrasi negara-negara di Timur Tengah. Mereka terus berkembang di tengah situasi kekacauan/chaos akibat pemberontakan di negara-negara Arab. Namun sebaliknya, al-Qaidah tampil dengan memberikan perlindungan kepada kaum Muslim (Sunni) yang tertindas dengan menyampaikan pesan-pesan positif  berupa harapan, kepercayaan, dan harga diri. Sementara ISIS tidak hanya memberdayakan para pejuang Muslim membela diri dari serangan-serangan terhadap kehidupan, harta, dan kehormatan mereka, bahkan mereka menawarkan kepada para pendukung mereka kesempatan bersejarah dengan mendirikan pemerintahan impian dan membangun kembali imperium Islam atau Khilafah Islamiyah.

Para pemimpin ISIS berspekulasi dengan mengambil resiko antara keterampilan perang mereka, kelemahan lawan-lawan mereka, dan keengganan Amerika berperang lagi secara langsung di wilayah lain di Timur Tengah, bahwa hal itu akan memungkinkan kelompok mereka menaklukkan suatu wilayah dan mendirikan pemerintahan di atasnya. Spekulasi itu akhirnya terbayar. ISIS bukan hanya berhasil mengontrol wilayah yang sangat luas, termasuk kota-kota seperti Raqqah dan Mosul. Lambannya respon negara-negara terhadap munculnya kelompok al-Baghdadi ini,  memungkinkan mesin-mesin propaganda ISIS memiliki kesempatan membangun narasi bahwa perjuangan mereka tak terkalahkan dan merupakan suatu keniscayaan. Efeknya, dapat meningkatkan daya tarik bagi para rekrutan baru serta memfasilitasi ekspansi lebih jauh.

Dalam perkembangannya, prospek keberhasilan ISIS berjalan lambat. Kesalahan mereka dalam berhitung telah mengancam segala keberhasilan yang sudah mereka raih dan berpeluang membalik keadaan seperti semula. Langkah-langkah mereka yang prematur dan tidak perlu telah memprovokasi intervensi Amerika, melalui berbagai kampanye militer dan operasi bombardemen lewat udara , serta munculnya para pejuang Kurdi sebagai proksi Amerika di darat telah menguras kemampuan ISIS untuk berekspansi, (bahkan) termasuk untuk meraih kembali sejumlah capaian mereka yang hilang.

ISIS mampu melakukan konsolidasi kekhilafahannya di wilayah yang saat ini mereka kuasai, tetapi keangkuhan dan semangat mesianis mereka menjadikan mereka bahkan tidak mampu meraih tujuan-tujuan terbatas tersebut. Organisasi al-Baghdadi ini bertekad melakukan ekspansi militer, sekaligus atau bersamaan dengan proyek mendirikan sebuah negara. Tekad atau komitmen yang kaku untuk meraih dua tujuan yang saling tidak kompatibel ini barangkali merupakan kelemahan terbesar bagi ISIS.

Bukannya membuat sebuah rencana ekonomi yang nantinya akan bisa menjamin keberlangsungan kekhilafahan, ISIS malah mengaitkan kelangsungan ekonomi mereka dengan ekspansi militer. Saat ini, ISIS mengandalkan pajak dari penduduk yang tinggal di wilayahnya, dan dari penjualan minyak untuk men-support ekonominya yang sudah tidak menentu. Namun sumber-sumber ekonomi tadi tidak lagi mampu menopang sebuah negara, terutama saat terjadi pertempuran di berbagai front dengan menghadapi banyak musuh secara bersamaan. Ironisnya, bukannya melunakkan aspirasi mereka, ISIS justru melihat penaklukan sebagai cara satu-satunya mempromosikan tujuan-tujuan didirikannya negara. Rencana membangun kekuatan ekonomi ISIS berbasis pada ekstraksi sumber daya melalui ekspansi militer. Sementara rencana semacam ini bisa berjalan dengan baik pada mulanya, yaitu ketika musuh-musuh ISIS lemah, namun kini tidak lagi menjadi sebuah solusi yang efektif pada saat “khilafah” ISIS tidak lagi mampu berekspansi secara cepat untuk memenuhi kebutuhannya. Konskuensinya, strategi ini justru melemahkan ISIS, bukan memperkuat.

Namun banyak pihak masih khawatir, meskipun seandainya ISIS gagal meraih tujuan jangka panjang mereka tentang eksistensi sebuah negara, kelompok al-Baghdadi ini masih memiliki banyak waktu untuk melampiaskan kekerasan di negara-negara tetangga sekitar. Dan meskipun kemampuan mereka untuk menyelenggarakan pemerintahan menurun, namun serangan-serangan seperti yang terjadi di Paris, Beirut, dan Sinai menunjukkan bahwa ke depan ISIS masih memiliki kemampuan untuk melakukan serangan-serangan jangka panjang.

Ingin membaca tulisan berikutnya, klik di sini!

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Stigmatisasi Teroris Adalah Bentuk Perendahan Martabat Manusia

KIBLAT.NET, Jakarta – Direktur An-Nasr Institute, Munarman menyatakan, stigmatisasi atau pelabelan seseorang sebagai teroris merupakan bentuk...

Sabtu, 19/03/2016 19:15 0

News

Polisi Sebut Bela Siyono Sama Juga Bela Teroris, Munarman: Itu Kesesatan Berpikir!

KIBLAT.NET, Jakarta – Besarnya antusiasme masyarakat yang menggelar aksi solidaritas atas kematian Siyono, mendorong Kadiv Humas Mabes...

Sabtu, 19/03/2016 18:44 2

Iran

Iran Berencana Kirim Pasukan Sniper ke Iraq dan Suriah

KIBLAT.NET, Teheran – Wakil Kepala Angkatan Darat Iran, Jenderal Ali Arasteh, mengumumkan bahwa Teheran berencan...

Sabtu, 19/03/2016 16:40 0

Indonesia

Aksi Tuntut Pembubaran Densus 88 Juga Diramaikan Mahasiswa Medan

KIBLAT.NET, Medan – Puluhan massa mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa (Gema) Pembebasan Sumatera Utara‎,...

Sabtu, 19/03/2016 16:08 0

News

Jabhah Nusrah dan Brigade 13 Sepakat Menghadap Pengadilan Syariat

KIBLAT.NET, Idlib – Gerakan Jabhah Nusrah (JN) dan Brigade 13 sepakat menyelesaikan perselisihan di hadapan...

Sabtu, 19/03/2016 15:50 0

Indonesia

Diduga Anggota Santoso, Mayat Tak Dikenal Ditemukan Warga Poso

KIBLAT.NET, Poso – Satuan aparat operasi Tinombala 2016 mengevakuasi jenazah seorang pria dalam kondisi membusuk...

Sabtu, 19/03/2016 14:30 0

News

Mahasiswa Bandung Gelar Aksi Tuntut Pembubaran Densus 88

KIBLAT.NET, Bandung – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Pembebasan (GEMA Pembebasan) kota Bandung...

Sabtu, 19/03/2016 14:00 0

Indonesia

Komisi I DPR: Penjara Khusus Teroris Bukan Tipikal Indonesia

KIBLAT.NET, Jakarta – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Irjen Polisi Tito Karnavian menginginkan dibuatnya penjara...

Sabtu, 19/03/2016 13:00 0

Suriah

Oposisi Suriah: Deklarasi Negera Federal Kurdi Sama dengan Deklarasi “Khilafah” ISIS

KIBLAT.NET, Beirut – Sekitar tujuh puluh faksi oposisi Suriah mengecam deklarasi wilayah federal di Suriah bagian...

Sabtu, 19/03/2016 12:30 0

Yaman

Koalisi Saudi: Operasi Militer di Yaman Hampir Selesai

KIBLAT.NET, Riyadh – Koalisi pimpinan Saudi mengungkapkan akan mengakhiri operasi militer di Yaman. Pengumuman ini...

Sabtu, 19/03/2016 11:31 0

Close