... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Bahaya Laten Densus 88 di Klaten: Kabar Kematian Siyono

Foto: Jasad Siyono, korban Densus 88, saat hendak dibawa ke pemakaman.

KIBLAT.NET – Di ruangan 10 x 4 meter itu sejumlah orang tampak hilir mudik. Ruang belakang yang berfungsi sebagai dapur sekaligus tempat makan keluarga itu hanya dipenuhi perempuan dan anak balita. Kaum lelaki lebih banyak berada di ruang tamu dan pekarangan depan rumah, mereka sibuk menyambut tamu yang terus datang.

Jam dinding sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Anak-anak kecil yang sudah mengantuk tergeletak lelap begitu saja di bangku panjang yang terbuat dari bambu. Gelas-gelas kaca berisi teh tubruk tampak berjejer di sebuah meja kecil berkelir hitam. Sebagiannya sudah diminum.

Malam itu, malam Ahad (12/03) keluarga besar Marso Diyono (62 tahun) tengah menunggu kedatangan putranya Siyono (35 tahun) yang sudah tak bernyawa.

Kartu tanda penduduk milik Siyono.

Kartu tanda penduduk milik Siyono.

Kematian Siyono begitu mendadak. Seluruh keluarga besar Marso Diyono, juga para tetangga tak ada satu pun yang menyangka kejadian itu bakal terjadi. Semua orang malam itu jadi kalang kabut. Bahkan, sapi satu-satunya peliharaan Marso pun sampai lupa dikasih makan. “Sapine mbengak-mbengok, urung dike’i pakan (sapinya terus berteriak, belum dikasih makan,red)” sergah Marso ketika sapinya melenguh panjang. Semua perhatian tertuju pada Siyono. Tak ada yang lain.

Lima hari sebelumnya, Siyono ditangkap orang tak dikenal. Pada Selasa, (08/03), Siyono masih mengimami warga untuk Shalat Magrib berjamaah di Masjid Muniroh, Dukuh Brengkungan, Desa Pogung, Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten.

Masjid yang baru dua tahun dibangun itu berdiri gagah bersebelahan dengan kediaman Marso. Masjid itu terletak di atas tanah wakaf Marso Diyono. Putranya, Siyono, sedikit banyak turut membantu pembangunan masjid itu dengan hasil keringatnya sebagai penjual obat herbal keliling.

Usai Shalat Magrib, Siyono pun berzikir sejenak. Sebagian jamaah sudah ada yang kembali ke rumah masing-masing. Marso yang masih berada di masjid melihat ada tiga pria asing di masjid tersebut. Salah satu pria asing itu kemudian kentut dengan suara besar dan membuat jamaah yang tersisa tertawa.

“Orang yang kentut itu berjalan ke arah ke belakang, para jamaah masjid mengira ia akan ambil wudhu, tapi ada jamaah ibu-ibu yang mendengar orang itu menelpon seseorang,” kata Marso kepada Kiblat.net.

Tak lama, Siyono pun dibawa oleh ketiga orang itu ke dalam sebuah mobil berwarna hitam. Siyono yang masih mengenakan sarung tak bisa berbuat banyak, sebab salah seorang pria tampak menodongkan pistol lewat balik ketiaknya.

“Gak apa-apa, pak! Ini cuma urusan utang piutang,” kata salah seorang pria yang membawa Siyono. Malam itu Siyono ‘diculik’ dan tak pernah berkabar pada keluarga.

Densus Datang, Murid TK Tunggang Langgang
Dua hari setelah Siyono diculik, Suratmi, (30 tahun) istri Siyono, masih dihantui rasa khawatir. Ia bingung dimana suaminya kini berada, siapa gerangan pria misterius yang menculiknya?

Namun, rasa penasaran itu tak mampu terjawab. Ia tahu betul suaminya orang baik. Tak pernah sekalipun menyakiti sanak famili atau para tetangganya. Siyono juga merupakan ayah yang baik kepada anak-anaknya. Di kampung, ia dikenal sebagai sosok yang ramah dan aktif menghidupkan pengajian. Terutama setelah Masjid Muniroh berdiri.

BACA JUGA  Donald Trump Resmi Larang Warga 7 Negara Muslim Masuk Amerika

Karena tak mengerti apa yang sedang terjadi, Suratmi pun tetap melanjutkan aktivitasnya seperti biasa. Rumah Siyono pada pagi hari kerap dijadikan tempat belajar sementara untuk menampung kegiatan belajar Raudhatul Atfal (TK) Amanah Ummah. Bangunan asli TK tersebut untuk sementara sedang diperbaharui. Sebanyak 62 siswa-siswi dari wilayah sekitar Kecamatan Cawas ikut belajar di rumah Siyono.

Sinar mentari baru naik sepenggalah pada Kamis, (10/03). Siswa-siswi TK Amanah Ummah tengah asyik belajar dan bermain dengan para ustazah. Suratmi meminta izin untuk keluar sebentar kepada keluarga karena hendak menjemput salah seorang anaknya pulang sekolah.

Polisi di depan rumah Siyono

Aparat kepolisian saat melakukan penggeledahan di depan rumah Siyono pada Kamis, (10/03)

Sekonyong-konyong datang pasukan berbaju hitam-hitam. Mereka memasuki desa yang terpencil dan jauh aksesnya dari jalan raya itu secara bergerombol. Atraksi penebar ketakutan itu semakin naik tensinya ketika pasukan berbaju siap tempur itu menodongkan senjata laras panjang ke arah anak-anak sambil berteriak, “BUBARR.. BUBARR!”

Sontak seluruh walimurid dan murid TK tanpa dosa itu pun kaget bukan kepalang. Tanpa sanggup mengerti apa yang terjadi mereka semua lari tunggang langgang.

“Jangankan anak-anak, walimurid saja menangis histeris karena ketakutan,” ujar salah seorang walimurid kepada Kiblat.net menggambarkan suasana penggerebekan itu pada Ahad siang (13/03) di Masjid Muniroh. Ia berulangkali minta agar Kiblat.net tidak memfoto dan mengutip namanya demi alasan keamanan.

Anak-anak didampingi walimurid lantas secepat mungkin segera kembali ke rumah. Sumber anonim Kiblat.net menyebutkan, pada saat pasukan hitam-hitam itu datang, ada salah seorang wali murid perempuan yang tak kuasa menyalakan motornya, saking gemetar ketakutan. Sampai rumahnya, tangan sang ibu masih gemetar tak sanggup menahan rasa takut di dalam dada.

Pihak keluarga belakangan baru mengetahui bahwa pasukan yang datang adalah Densus 88 Mabes Polri. Tanpa surat penggeledahan, juga tanpa koordinasi dengan pihak aparat desa, mereka membubarkan kegiatan belajar. Kemudian, mereka masuk ke rumah Siyono dengan dalih mencari barang bukti.

“Awalnya, Densus mau mengambil uang sebanyak Rp4juta dan laptop. Tapi dijelaskan bahwa itu punya TK bukan barang kepunyaan Siyono,” kata Fadli (bukan nama sebenarnya), salah seorang kerabat dekat Siyono.

Setelah mengobrak-abrik seisi rumah, akhirnya Densus 88 hanya mengambil potongan-potongan kertas dan sebuah sepeda motor milik Siyono.

Kabar Kematian
Esoknya, Jumat (11/03), Sadiman, Kepala Dusun Brengkungan datang ke kediaman Siyono. Ia mengabarkan pada keluarga, polisi mengizinkan keluarga untuk menjenguk Siyono. Sebagian keluarga mengernyitkan dahi, apalagi setelah mengetahui Densus 88 terlibat dalam urusan Siyono.

Sebuah perkara yang tak lazim. Biasanya, polisi baru mengizinkan keluarga menjenguk seseorang yang ditangkap Densus di atas waktu pemeriksaan pertama selama 7×24 jam. Yang sering terjadi, malah lebih lama dari itu. Tapi kali ini kurang dari sepekan, Densus 88 mengizinkan keluarga Siyono menjenguk sang korban.

BACA JUGA  Laporan Eksklusif: Gelora Api Jihad di Arakan

“Keluarga bisa jenguk, tapi hanya hari ini, hari lainnya sudah tidak bisa lagi,” kata Sadiman menyampaikan pesan dari aparat kepolisian kepada keluarga Siyono.

Akhirnya, pihak keluarga memutuskan Wagiyono (kakak Siyono) dan Suratmi (istri Siyono) yang berangkat ke Jakarta. Sadiman, sebagai aparat desa juga diminta turut ke Jakarta. Sekitar pukul 14.30 WIB, mereka bertiga dibawa oleh tiga mobil Densus 88.

Setelah menempuh perjalanan selama 12 jam, ketiganya langsung dibawa ke sebuah hotel di bilangan Jakarta Timur untuk beristirahat. Pagi harinya, Sabtu, (12/03), Suratmi baru diberi tahu oleh seorang polwan bernama Ayu, bahwa suaminya telah tiada.

“Suami ibu terkait dengan kepemilikan senjata api, ia mau dipertemukan dengan Awang di Wonogiri. tapi Siyono shock terus melawan polisi. Dalam perjalanan mau diobati ke rumah sakit, tapi akhirnya meninggal di perjalanan,” kata Suratmi menirukan ucapan Ayu kepadanya.

Suratmi diberi kabar bahwa suaminya meninggal pada Jumat, (11/03). Namun, saat di hotel ia disuruh menandatangani dua berkas. Yang pertama adalah surat penangkapan, yang kedua adalah sertifikat medis penyebab kematian. Dalam sertifikat tersebut dijelaskan bahwa Siyono telah meninggal sejak Kamis, (10/03). Pemeriksa jenazahnya adalah Dr Arif Wahyono, Sp.F. Tak ada penjelasan apa penyebab kematian Siyono dalam sertifikat itu.

Sertifikat penyebab kematian Almarhum Siyono.

Sertifikat penyebab kematian Almarhum Siyono.

Terkait surat penangkapan, Suratmi pun hanya diperlihatkan dan disuruh menandatanganinya saja. Ia tidak diberikan salinannya. Adapun surat penahanan dan surat penggeledahan sama sekali tidak pernah ia terima, ataupun ia lihat. Begitu selesai menandatangani berkas-berkas tersebut, Suratmi pun dibawa ke RS Polri Kramat Jati.

“Saya lihat suami di RS Polri sudah dikafani, itu pun cuma lihat mukanya saja. Saya cium dia, pipinya terlihat memar. Di bagian kepala masih ada darah merah segar,” kata Suratmi kepada Kiblat.net. Tak ada intonasi melemah dalam nada suaranya. Suratmi terlihat tegar.

Saat itu Suratmi kembali diyakinkan oleh aparat bahwa suaminya adalah orang baik. Sehingga polisi tidak memborgol Siyono. Sebuah pesan yang ditangkap aneh oleh Suratmi. Sementara kasus-kasus salah tangkap selama ini terjadi, baik yang dibawa maupun yang disimpan di Polsek saja selalu dalam keadaan tangan terikat dan mata tertutup. (Baca juga: Operasi Akhir Tahun: Begini Kesaksian Korban Salah Tangkap Densus 88 di Surakarta)

“Suami ibu itu baik, gak berontak. Jadi diperlakukan dengan baik, tidak diborgol. Saya salut sekali sama suami ibu,” ujar sang polwan. Suratmi sadar, polwan tersebut berniat mengambil hati Suratmi.

Sore itu juga, Suratmi menemani Siyono yang sudah terbujur kaku dipulangkan ke Klaten dengan menggunakan mobil ambulans. Sebanyak dua mobil lain mengiringi ambulans yang berisi sepasang suami-istri nan malang itu.

 

Bersambung ke halaman selanjutnya

... shares
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Palestina

Pemuka Agama Yahudi Anjurkan Membunuh Orang Palestina

KIBLAT.NET, Yerusalem – Seorang Rabi Yahudi di Israel pada Ahad kemarin (13/03), mengeluarkan pernyataan kontroversial....

Selasa, 15/03/2016 15:00 0

Foto

Umat Islam Surakarta Tuntut Jokowi Bubarkan Densus 88

KIBLAT.NET – Sejumlah elemen umat Islam se-Solo Raya pada siang ini, Selasa (15/03) menggelar aksi damai...

Selasa, 15/03/2016 14:58 0

Indonesia

Desak Kapolri Usut Tuntas Kematian Siyono, KontraS Minta Jenazah Diotopsi

KIBLAT.NET, Jakarta – Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) mendesak Kapolri untuk...

Selasa, 15/03/2016 14:45 0

Suriah

Oposisi Ragukan Pengumuman Rusia Tarik Pasukan dari Suriah

KIBLAT.NET, Damaskus – Oposisi Suriah masih meragukan niat Rusia menarik sebagian pasukan tempurnya dari Suriah....

Selasa, 15/03/2016 14:40 0

Indonesia

Luhut: Penggeledahan Densus 88 di Taman Kanak-Kanak Sesuai SOP

KIBLAT.NET, Jakarta – Tim Detasemen Khusus 88 dengan senjata laras panjang pada Kamis (10.03) pagi...

Selasa, 15/03/2016 14:10 0

Suriah

Militer Suriah Serbu Pejuang di Latakia, Pertempuran Meletus

KIBLAT.NET, Latakia – Pasukan rezim Assad, Senin (14/03), kembali menargetkan desa Jabal Akrad di pegunungan...

Selasa, 15/03/2016 11:00 0

Palestina

Diduga Ingin Masuki Wilayah Israel, Tiga Pemuda Ini Ditembaki Sampai Mati

KIBLAT.NET, Yerussalem – Tentara Israel, Senin (14/03), kembali menghilangkan nyawa tiga pemuda Palestina dari daerah...

Selasa, 15/03/2016 10:40 0

Suriah

Rusia Umumkan Tarik Sebagian Pasukannya dari Suriah

KIBLAT.NET, Damaskus – Pemerintah Rusia mengumumkan, Senin (14/03), Presiden Valdimir Putin dan Bashar Assad sepakat...

Selasa, 15/03/2016 09:30 0

Suriah

PBB: Jika Negosiasi Jenewa Kembali Gagal, Pilihannya Hanya Perang

KIBLAT.NET, Jenewa – Utusan PBB untuk Suriah menegaskan bahwa jika pembicaran Jenewea kembali gagal, satu-satunya...

Selasa, 15/03/2016 09:00 0

Video Kajian

Islamisasi Nusantara: Menelisik Masuknya Risalah Islam ke Indonesia [Dr. Tiar Anwar]

KIBLAT.NET – Seperti dikenalkan dalam buku-buku sejarah Indonesia dari produk zaman Orde Baru, dikenalkan bahwa asal...

Selasa, 15/03/2016 08:43 0