... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Bahaya Laten Densus 88 di Klaten: Konspirasi Kain Kafan

Foto: Para pelayat melantunkan doa kepada Siyono (rahimahullah) di pembaringan terakhirnya.

Tulisan bersambung | baca halaman sebelumnya

KIBLAT.NET – Sejak Jumat siang, kabar kematian Siyono sudah menyebar di media sosial. Entah darimana asalnya, informasi itu dengan cepat mengalir deras dari satu gadget ke gadget lainnya. Maka, ketika kabar itu terkonfirmasi oleh sejumlah media pada hari Sabtu, malam itu juga, rumah Siyono didatangi ribuan pelayat. Mereka adalah sanak famili terdekat, keluarga jauh, teman-teman, maupun aktivis Islam yang simpati atas kematian Siyono.

Sebelumnya, Kiblat.net mendapatkan kiriman surat elektronik terkait berita penggerebekan Densus 88 di rumah Siyono dari seseorang tak dikenal. Setelah berkomunikasi via surat elektronik, akhirnya orang tersebut bersedia menjadi informan dan mengantarkan Kiblat.net ke rumah Siyono.

Tiba di Klaten pada malam Ahad, (12/03), Kiblat.net segera meluncur ke kediaman Siyono di RT 11 RW 05, Dusun Brengkungan, Desa Pogung, Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten. Jalanan sepanjang arah rumah Siyono sejak pukul 21.00 malam sudah dipenuhi banyak orang. Masjid Muniroh, di samping rumah Siyono mendadak sesak dipenuhi tamu yang datang dari berbagai daerah. Semakin malam, tamu dan pelayat semakin berdatangan, bukannya malah berkurang.

Kematian yang begitu mendadak, apalagi dalam kondisi di bawah pemeriksaan polisi jelas membuat keluarga curiga. Beredar kabar, pihak kepolisian meminta agar keluarga segera menyalati dan menguburkan jenazah Siyono sesampainya di Klaten.

Ayah Siyono, Marso Diyono jelas berkeberatan. Sejatinya, permintaan Marso pun bukan hal yang besar. Ia tak meminta jasad anaknya diotopsi ulang atau divisum oleh dokter independen. Ia hanya ingin agar kain kafan anaknya diganti dengan kain kafan yang sudah dibelikan keluarga.

“Seperti halnya orang mau sholat, pakaian kita harus suci. Meskipun gak kita cuci, kita tanggalkan dan ganti yang baru. Kalau kain kafan dari polisi itu ikut kekubur, tapi dia menghadap Allah SWT pakai kainnya sendiri. Kita kan tidak tahu kainnya polisi itu belinya pakai uang dari mana,” kata Marso kepada Kiblat.net menjelang Siyono dimakamkan.

Baca juga: Jenazah Siyono Tiba di Klaten Dini Hari, Kain Kafannya Langsung Diganti

Namun, permintaan Marso bukannya tak mendapat penentangan dari sebagian keluarga besar. Ada beberapa paman Siyono yang enggan jenazah dibuka. Entah karena ada tekanan dari pihak-pihak tertentu atau memang karena alasan lain. Kiblat.net mendapatkan informasi ada keluarga yang ditekan oleh aparat berpakaian preman agar keluarga segera menguburkan jenazah secepatnya. “Kalau ada apa-apa nanti kami tidak bertanggung jawab,” kata mereka setengah mengancam.

Setelah mendapatkan izin dari pihak keluarga, akhirnya Kiblat.net diberi kesempatan untuk mengambil gambar secara eksklusif di kediaman Siyono. Sejak pukul 02.00 WIB, Kiblat.net menunggu di ruang belakang rumah Siyono bersama beberapa kerabat laki-laki. Padahal, sebagaimana diceritakan di awal, tempat itu lebih banyak dihuni keluarga, terutama perempuan dan anak-anak.

Berbeda dengan situasi di dalam rumah Siyono yang lebih tenang, suasana di luar rumah sedikit menegang. Menjelang kedatangan ambulans yang membawa jenazah Siyono, tiba-tiba satu peleton Dalmas Polres Klaten datang menutup jalan. Dipimpin oleh Kapolres Klaten AKBP Faizal, mereka bersiaga dengan senjata laras panjang siap tembak dan tameng fiberglass.

Aparat kepolisian berjaga dengan tangan siaga memegang senjata

Aparat kepolisian berjaga dengan tangan siaga memegang senjata

Sontak, sejumlah orang pelayat jenazah yang berasal dari berbagai golongan itu ada yang tersulut emosinya. Mereka menganggap pengamanan ini terlalu berlebihan. Yang lainnya menduga, kedatangan Dalmas tersebut berniat memaksakan agar jenazah Siyono langsung dikuburkan tanpa sempat dilihat oleh pihak keluarga.

BACA JUGA  Penggunaan Istilah Persekusi yang Sesat dari Lembaga "HAM Defender" Hingga Kapolri

Salah seorang aktifis lainnya berkesimpulan, ”penjagaan ini justru bertujuan untuk menakut-nakuti warga sekitar. Seolah Siyono adalah teroris, sehingga pemakamannya dijaga polisi. Padahal para pelayat yang datang hanya ingin menjenguk korban,” kata Ahmad, yang mengaku berasal dari wilayah Klaten.

Tepat pukul 02.30, Ahad dini hari, ambulans yang membawa jenazah Siyono tiba di rumah duka. Jenazah dibawa ke ruang tengah. Selain pihak keluarga diminta keluar. Akhirnya, kain kafan Siyono diganti oleh keluarga.

Yang paling pertama dibuka adalah kain kafan bagian kepala. Kiblat.net yang berada di ruangan tersebut melihat wajah Siyono. Bagian mata sebelah kanan tampak biru akibat luka lebam. Wagiyono, kakak Siyono menjadi orang pertama yang mencium jasad Siyono, disusul kemudian oleh Marso Diyono. Belakangan, Marso bercerita kepada Kiblat.net, sewaktu mencium Siyono, Marso yakin tulang hidung anaknya patah.

Jenazah Siyono, terlihat matanya juga memar akibat pukulan benda keras

Jenazah Siyono, terlihat matanya juga memar akibat pukulan benda keras

Keempat putra-putri Siyono pun turut melihat wajah ayah mereka untuk yang terakhir kalinya. Fatimah (12 tahun), putri pertama Siyono tampak sedih. Yang paling bungsu, Abdul Hakim (3 tahun) hanya diam terpaku. Abdul Hakim turut diajak oleh Suratmi ke Jakarta untuk mengambil jenazah ayahnya. Cerita ibunya, sepanjang perjalanan Abdul Hakim tak pernah rewel apalagi menangis. “Subhanallah, sepanjang jalan dia anteng saja,” kata Suratmi.

Selain luka memar di wajah, salah seorang kerabat Siyono menuturkan bahwa jasad Siyono masih mengalirkan darah segar. “Sewaktu saya angkat kepalanya, di bagian belakang banyak sekali kapas berwarna merah terang. Tapi tak sempat keambil gambarnya karena keburu ditutup yang lain,” kata Fadli, yang enggan disebutkan nama sebenarnya.

Di bagian kaki Siyono, pihak keluarga juga mendapati adanya luka memar. Sayangnya, keluarga tak sempat mengganti seluruh kain kafan Siyono. Terutama di bagian badan jenazah Siyono yang penuh dengan kapas. Seorang pria berambut putih terlihat sangat agresif ‘menjaga’ bagian tengah tubuh Siyono. Saat hendak diusir oleh seorang ipar Siyono, pria itu mengaku, “Saya dari TPM, TPM!”

Karena mengira pria itu dari Tim Pembela Muslim (TPM) Achmad Michdan yang kerap mengadvokasi aktifis Islam, maka pria berambut putih itu dibiarkan saja. Pria yang diketahui bernama Nurlan itu ternyata bagian dari tim pengacara yang sering ditunjuk oleh Densus 88 dalam kasus terorisme. Ia merupakan anggota TPM bentukan Asludin. Nurlan, menurut keluarga, bahkan sampai menyikut orang-orang yang hendak mendekat ke jenazah untuk mengganti kain kafan. Ia juga menghalangi aktivis Islam yang hendak mengambil gambar jenazah Siyono.

Nurlan, anggota TPM Asludin tampak turut dalam barisan keluarga saat proses penggantian kain kafan.

Nurlan, anggota TPM Asludin tampak turut dalam barisan keluarga saat proses penggantian kain kafan.

Setelah kain kafan diganti seadanya, jenazah Siyono dibungkus ulang dan digotong beramai-ramai ke Masjid. Di dalam masjid, ia dishalati oleh para pengunjung yang hadir. Ribuan pelayat membuat Masjid Muniroh yang berukuran 10×10 meter itu penuh sesak. Sebanyak dua gelombang pelayat bergantian menyalati jenazah Siyono.
Begitu jenazah Siyono usai dishalatkan, ada permintaan dari sejumlah aktivis Islam untuk membuka kembali kain kafan Siyono. Namun permintaan itu tak diluluskan keluarga.

BACA JUGA  Abaikan Label Terorisme, Qatar Charity Biayai Proyek Kemanusiaan di Suriah

Akhirnya, jenazah langsung dibawa ke liang kubur yang sudah disiapkan. Kuburan untuk Siyono memang sudah dipersiapkan sejak siang hari. Letaknya hanya sekira 300 meter dari kediaman Siyono. “Karena kuburan itu masih campur (Muslim-Kristen), kuburan untuk beliau kita gali di paling pojok,” kata salah seorang keponakan Siyono. Malam itu juga, Siyono dimakamkan. Saat proses pemakaman berlangsung, aparat kepolisian dan Dalmas Polres Klaten berangsur-angsur menarik diri.

Di sepertiga malam itu, misteri penyebab kematian Siyono terkubur bersama jasad dirinya.

Bahaya Laten Densus 88
Sementara itu, Kadiv Humas Mabes Polri Anton Charliyan kepada sejumlah awak media menegaskan kematian Siyono disebabkan oleh pukulan benda tumpul di bagian belakang kepala. Pernyataan ini bertolak belakang dengan ucapan Karo Penmas Brigjen Agus Rianto yang memberikan alasan ganjil.

“Dia meninggal karena pukulan benda tumpul di belakang kepala” ujar Anton saat konferensi pers di Mabes Polri pada Senin (14/03).

Anton menjelaskan kejadian itu terjadi ketika Siyono diminta untuk menunjukkan teman yang terkait dengan kelompoknya. Pada awalnya Siyono kooperatif dengan Densus, sehingga pengawalan diturunkan. Siyono dalam pencarian itu hanya dikawal seorang anggota Densus dan seorang petugas yang menjadi supir. Namun, kemudian, Siyono disebut-sebut melakukan perlawanan dan berkelahi denganseorang anggota Densus.

Sebelumnya, Agus Rianto menyampaikan pada media bahwa Siyono tewas akibat lemas dan lelah setelah mencoba melawan aparat yang membawanya. Karuan saja penjelasan ini membuat anggota Komisi III DPR-RI Nasir Jamil keheranan dan tak habis pikir. Bagaimana mungkin seseorang yang diborgol dan dikawal ketat bisa melawan aparat yang jumlahnya berlipat dibanding korban. Apalagi, kuasa hukum keluarga Siyono menemukan bekas luka fisik pada jasad almarhum.

Komnas HAM, yang melakukan investigasi pada kasus Siyono, menyatakan keraguannya secara terbuka atas penjelasan polisi terkait kematian Siyono.

“Kita meragukan Densus (Detasemen Khusus 88 Antiterori Mabes Polri), karena 90 persen terduga teroris mengalami penyiksaan,” kata Komisioner Komnas HAM, Siane Indriyani seperti dilansir dari Viva.co.id pada Ahad (13/03).

Komnas HAM menuntut polisi mengautopsi jenazah Siyono dan mengumumkan secara terbuka kepada publik hasilnya, agar masyarakat mengetahui pasti penyebab kematiannya. “Jika tidak, Densus berarti harus bertanggung jawab atas kematian Siyono. Kenapa takut lakukan autopsi, jika kematian Siyono wajar,” kata Siane.

Komnas HAM juga menyebutkan data yang dikumpulkan dari pengaduan masyarakat, kasus pembunuhan di luar pengadilan (extra judicial killing) yang dilakukan Densus 88 terhadap sejumlah orang yang dituduh sebagai teroris jumlahnya mencapai 118 orang. Angka ini belum ditambah dengan kasus kematian Siyono.

Kasus pelanggaran HAM berat yang dilakukan Densus 88 memang sudah sering menjadi sorotan masyarakat. Tingginya jumlah korban yang tewas akibat penyiksaan, korban salah tangkap, korban tembak di tempat hingga kasus orang hilang tak pernah membuat jera aparat. Atas nama perang melawan terorisme, semua aturan dasar hukum dilanggar. Tak ayal, kasus Klaten ini merupakan bahaya laten yang dilakukan aparat negara terhadap warganya sendiri.

Tulisan ini merupakan sambungan dari halaman sebelumnya

Reportase: Fajar Shadiq
Fotografer: Ahmad Subari
Editor: Alamsyah

... shares
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Palestina

Dianggap sebagai Ancaman, Netanyahu Bersikeras Tutup Satelit Palestina

KIBLAT.NET, Yerusalem – Perdana Menteri Israel berjanji akan menutup saluran satelit Palestina, menyusul adanya tuduhan...

Selasa, 15/03/2016 17:30 0

Indonesia

KontraS: Penjelasan Polri Terkait Kematian Siyono Sulit Dipercaya

KIBLAT.NET, Jakarta – Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) menilai keterangan polisi...

Selasa, 15/03/2016 17:00 0

Suriah

Syiah Hizbullah Dikabarkan Tarik Pasukan dari Suriah

KIBLAT.NET, Damaskus – Milisi Syiah Hizbullah Lebanon dikabarkan mulai menarik ratusan pasukannya dari Suriah sejak...

Selasa, 15/03/2016 16:30 0

Indonesia

Gerebek Taman Kanak-Kanak, KPAI: Kinerja Densus 88 Harus Dievaluasi

KIBLAT.NET, Jakarta – Tim Densus 88 menggerebek rumah Siyono di Klaten pada Kamis (10/03) yang...

Selasa, 15/03/2016 16:01 0

Palestina

Pemuka Agama Yahudi Anjurkan Membunuh Orang Palestina

KIBLAT.NET, Yerusalem – Seorang Rabi Yahudi di Israel pada Ahad kemarin (13/03), mengeluarkan pernyataan kontroversial....

Selasa, 15/03/2016 15:00 0

Foto

Umat Islam Surakarta Tuntut Jokowi Bubarkan Densus 88

KIBLAT.NET – Sejumlah elemen umat Islam se-Solo Raya pada siang ini, Selasa (15/03) menggelar aksi damai...

Selasa, 15/03/2016 14:58 0

Indonesia

Desak Kapolri Usut Tuntas Kematian Siyono, KontraS Minta Jenazah Diotopsi

KIBLAT.NET, Jakarta – Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) mendesak Kapolri untuk...

Selasa, 15/03/2016 14:45 0

Suriah

Oposisi Ragukan Pengumuman Rusia Tarik Pasukan dari Suriah

KIBLAT.NET, Damaskus – Oposisi Suriah masih meragukan niat Rusia menarik sebagian pasukan tempurnya dari Suriah....

Selasa, 15/03/2016 14:40 0

Indonesia

Luhut: Penggeledahan Densus 88 di Taman Kanak-Kanak Sesuai SOP

KIBLAT.NET, Jakarta – Tim Detasemen Khusus 88 dengan senjata laras panjang pada Kamis (10.03) pagi...

Selasa, 15/03/2016 14:10 0

Suriah

Militer Suriah Serbu Pejuang di Latakia, Pertempuran Meletus

KIBLAT.NET, Latakia – Pasukan rezim Assad, Senin (14/03), kembali menargetkan desa Jabal Akrad di pegunungan...

Selasa, 15/03/2016 11:00 0