Rahasia di Balik Shalat Gerhana

KIBLAT.NET – Tidak lama lagi gerhana matahari akan segera menyapa. Rabu, tanggal 9 Maret 2016, beberapa wilayah di Indonesia diprediksi kuat akan mengalami fenomena alam gerhana matahari total (GMT). Fenomena serupa sebenarnya pernah terjadi pada 11 Juni 1983. Namun terdapat perbedaan yang cukup mencolok, pada waktu itu masyarakat merasa panik dan takut terhadap kejadian itu. Bahkan pemerintah juga melarang masyarakat melihat GMT karena ada kekhawatiran menyebabkan kebutaan pada mata.

Tapi saat ini, seiring berkembangnya teknologi, masyarakat menjadi lebih paham tentang fenomena alam yang jarang tersebut. Pemerintah sendiri juga mengajak kepada semuanya agar tidak melewatkan momen langka ini. Bahkan di bererapa daerah yang dilewati GMT, berbagai fasilitas disediakan oleh pemerintah setempat untuk menyambutnya.

Sebenarnya ketika kita merujuk kepada sejarah Nabi SAW, rasa takut dan khawatir juga pernah dialami oleh kaum Muslimin ketika itu. Tentunya bukan karena mitos tertentu, tapi lebih kepada ketakutan mereka terhadap peristiwa Hari Kiamat. Atas dasar ini pula, Rasulullah SAW mengajak para sahabatnya untuk menunaikan shalat dan memperbanyak amal shalih.

Sebagaimana yang dituturkan oleh Abu Musa Al Asy’ari RA bahwa, ”Pernah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi lantas berdiri takut karena khawatir akan terjadi hari kiamat, sehingga beliau pun mendatangi masjid kemudian beliau mengerjakan shalat dengan berdiri, ruku’ dan sujud yang lama. Aku belum pernah melihat beliau melakukan shalat sedemikian rupa…” (HR. Muslim)

Lalu sebagian orang pun bertanya, bagaimana dengan kondisi sekarang ini, dimana dengan perkembangan teknologi, masyarakat menjadi tahu kalau gerhana itu hanyalah fenomena alam biasa yang terjadi di dunia ini. Lalu apakah masih diperintahkan untuk shalat?

Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid menjelaskan, ketika terjadi gerhana pada masa Nabi SAW, beliau serukan para sahabat untuk mengerjakan shalat dengan seruan ash-shalatul jami’ah. Kemudian beliau shalat bersama mereka lalu berdiri menyampaikan khutbah. Di dalam khutbahnya beliau menjelaskan hikmah di balik gerhana dan himbauan untuk mengingkari kepercayaan jahiliyah. Nabi SAW juga menganjurkan kaum Muslimin untuk senantiasa mengerjakan shalat, berdo’a dan bersedekah.

BACA JUGA  Dari Pembubaran ke Pembaruan

Rasulullah SAW bersabda:,

 …إِنَّ الشَّمْسَ وَالقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللهِ لاَيَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ فَإِذا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوْااللهَ وَكَبِّرُوْا وَصَلُّوْا وَتَصَدَّقُوْا

“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah bukti tanda-tanda kekuasaan Allah. Sesungguhnya keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang, dan tidak pula karena hidupnya seseorang. Oleh karena itu, bila kalian melihatnya, maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalat dan bersedekahlah…” (HR. Bukhari Muslim)

Petuah Nabi SAW tersebut benar-benar tertanam dalam diri para sahabat. Adanya fenomena gerhana menjadikan mereka ingat kepada Allah, bertafakkur dan membayangkan bagaimana seandainya gerhana itu menjadi tanda terjadinya kiamat yang mereka alami. Mereka khawatir jika gerhana itu menjadi sebuah peringatan dari Allah akan turunnya bala, sehingga mereka pun kembali kepada Allah dengan berdoa agar segala kemungkinan buruk tidak menimpa mereka.

Imam An-Nawawi menjelaskan alasan Nabi SAW takut, khawatir terjadi hari kiamat. An-Nawawi memaparkan beberapa alasan, di antaranya, “Gerhana tersebut merupakan tanda yang muncul sebelum tanda-tanda kiamat seperti terbitnya matahari dari barat atau keluarnya Dajjal. Atau mungkin gerhana tersebut merupakan sebagian dari tanda kiamat.“ ( Syarh Muslim, 3/322)

Syaikh Abdurrahman Al-Barrak menambahkan, “Gerhana bulan atau matahari merupakan tanda-tanda alam yang Allah perlihatkan kepada manusia. Agar dengan itu, mereka takut dan ingat akan fenomena yang terjadi pada hari kiamat. Dimana Allah ta’ala menggambarkan dalam Al-Qur’an, ‘Yaitu apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan, maka apabila mata terbelalak keluar (ketakutan, dan bulan pun telah hilang cahayanya, lalu matahari dan bulan dikumpulkan.

BACA JUGA  Dari Pembubaran ke Pembaruan

Semua itu adalah bentuk peringatan Allah agar manusia takut. Dan Nabi SAW adalah sosok yang paling takut kepada Allah ta’ala. Ketika terjadi gerhana, rasa takut itu langsung muncul karena terbayang dengan kegoncangan pada hari kiamat.

Sementara itu, kita sering melupakan hal itu. Sehingga ketika muncul gerhana, tidak ada yang terbayang dalam benak kita kecuali hanya fenomena alam semata. Bahkan kita merasa senang ketika bisa menyaksikannya secara langsung, tanpa ada rasa khawatir sekalipun. Sebagian masyarakat kita terlihat lebih sibuk membawa kamera dan berfoto ria pada momen-momen tersebut.

Semuanya kita pandang lewat kacamata kajian ilmiyah tanpa mau tahu peristiwa yang bakal terjadi pada hari kiamat. Inilah salah satu bentuk tanda hati yang keras dan jarang memikirkan akhirat. Rasa takut kepada peritiwa hari kiamat jarang terbayang dalam jiwa, dan tidak mengetahui tujuan ditetapkannya syariat serta bagaimana kekhawatiran Nabi SAW saat mengalami peristiwa tersebut.

Rasulullah SAW dan para sahabatnya menghadapi kekhawatiran itu dengan mengerjakan shalat. Dengan harapan, jika hal itu berujung kepada terjadinya hari kiamat, maka mereka mengakhiri hidupnya dalam ketaatan kepada Allah. Namun apabila tidak, maka shalat itu tidak membuat diri mereka rugi, bahkan mendapatkan pahala yang besar dan menjadikan mereka tergolong bersama dengan orang-orang yang takut kepada Allah.

Dengan demikian para ulama menjelaskan, meskipun dengan perkembangan teknologinya manusia dapat mengetahui apa, serta kapan terjadinya gerhana, namun itu semua tidak merubah hukum asalnya, yaitu perintah menegakkan shalat serta memperbanyak amal shaleh. Sebab, illah atau alasan adanya hukum tersebut adalah karena munculnya gerhana, bukan karena ada rasa takut dengan kejadian tersebut.

Sehingga kewajiban seorang Muslim ketika menyaksikan gerhana adalah tunduk kepadap hukum Allah dan mengamalkan setiap syariat yang diperintahkan-Nya. Wallahu a’lam bis shawab!

Penulis: Fahrudin
Sumber: Islamqa

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat