Tanggapi Gencatan Senjata, Rakyat Suriah: Revolusi Kami Masih Berlanjut!!!

KIBLAT.NET, Damaskus – Penduduk sipil di daerah oposisi pada Jum’at kemarin (04/03) turun ke jalan memprotes gencatan senjata Suriah. Dalam aksinya, para pengunjuk rasa mengangkat slogan “Jum’at revolusi kami masih berlanjut”.

Gencatan senjata yang sudah berlangsung selama sepekan, sengaja dimanfaatkan rakyat sipil untuk melakukan aksi unjuk rasa. Setelah lebih dari tiga tahun, aksi damai tersebut vakum di permukaan Suriah.

Saksi mengatakan aksi damai itu diadakan serentak di lima kota, di antaranya Idlib, Aleppo, Homs, Daraa dan Damaskus. Para peserta aksi menuntut agar rezim Bashar Assad segera turun dari kursi kepresidenannya, seraya bersorak semboyan “Merdeka dan Bermartabat”.

Di Aleppo, para pengunjuk rasa selain memamerkan spanduk besar bertuliskan “Hidup Suriah-Lengserkan Assad”, mereka juga meneriakkan slogan “Kemerdekaan di Depan Mata”.

Sementara itu, AFP melaporkan bahwa ketika massa melintasi perbatasan yang berdekatan dengan wilayah Rezim, mereka dihujani serangan dari sniper Rezim. Namun dikabarkan tidak ada korban jatuh dalam serangan itu.

Abu Nadim salah peserta unjuk rasa di Aleppo, menuturkan, “Aksi damai berlangsung untuk sementara waktu, dengan diadakannya gencatan senjata kami berkesempatan untuk mengekspresikan alasan kami turun ke jalanan. Yaitu untuk melengserkan rezim. Serta memperlihatkan kepada dunia bahwa kami bukanlah pemberontak bersenjata, tetapi kami hanyalah orang-orang yang menuntut kemerdekaan dan turunnya penguasa Rezim.”

Unjuk rasa juga berlangsung di Kota Busra Al-Hariri di Daraa. Dalam aksinya, mereka mengecam keras agresi Rusia. Pengunjuk rasa mengangkat spanduk berisikan tuntutan pencabutan blokade oleh pasukan Rezim. Lalu mendesak pendistribusian bantuan, dan sarana medis sesegera mungkin. Spanduk juga bertuliskan penolakan rencana pembagian wilayah Suriah. Massa dengan tegas menyatakan bahwa Suriah merupakan kesatuan antara rakyat dan negerinya.

Sementara itu di Douma, Damaskus, usai shalat Jum’at puluhan massa dari rakyat Suriah juga mengelar aksi serupa menyatakan bahwa revolusi masih berlanjut. Massa juga menolak keberadaan Rezim. Serta menuntut agar blokade di Ghoutah timur yang sudah berlangsung selama tiga tahun segera dicabut.

BACA JUGA  Setahun Terakhir, Israel Hancurkan 1.196 Rumah Warga Palestina

Di Idlib, aksi serupa juga dimulai usai shalat Jum’at. Massa yang tergabung dalam aksi damai tersebut menuntut turunnya Rezim dari tampuk kekuasaan. Massa juga mengecam sikap diam Internasional terhadap konflik dan pembantaian yang dilakukan rezim terhadap rakyatnya.

Sedangkan di Homs, rakyat yang terlibat dalam aksi damai berkumpul di kota Rastan, Homs Utara. Dalam aksinya, massa menyerukan perbaikan kelangsungan hidup bagi rakyat. Pengepungan kota telah menyababkan minimnya makanan pokok terutama gandum. Sedangkan dewan pertahanan sipil tidak mampu untuk menyediakan.

Hassan Abu Nuh, seoarang aktivis dari Homs menuturan bahwa, “Aksi massa terakhir kali di kota ini, berlangsung pada pertengahan 2012 silam. Dimana saat itu, serangan udara dan darat dimulai menghalau semua orang yang berada di jalanan.”

“Saat itu suka dan duka bercampur aduk, orang-orang menangis. Banyak massa yang ikut dalam unjuk rasa berakhir dalam keadaan tewas. Tiga tahun setelah itu, kami tidak turun lagi ke jalan,” lanjutnya.

Sejak Maret 2011, penduduk sipil telah menyerukan agar tahta kepresidenan yang dipegang keluarga Assad, selama lebih 44 tahun, agar segera diakhiri. Namun sayang, seruan sipil justru dibalas oleh Assad dengan cara militer. Pemerintahnya mendorong militer Suriah untuk menghentikan dengan cara kekerasan. Cara itu pada akhirnya pecah menjadi konflik berkepanjangan hingga saat ini.

Sumber: Al-Jazeera
Penulis: Syafi’i Iskandar

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat