... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

[Wawancara] Mustofa Nahra: BNPT Ingin Ada Efek Jera pada Pesantren

Foto: Mustofa Nahrawardaya (kiri).

KIBLAT.NET – Terkait berbagai kejadian yang beberapa pekan ini menjadi isu nasional, Kiblat.net berkesempatan mewawancara khusus Mustofa Nahrawardaya, seorang tokoh muda nasional yang juga sebagai pengamat terorisme dan dunia Islam.

Wawancara ini dilakukan sesaat setelah diadakan coffee morning dengan pengurus Muhammadiyah Sulawesi Tengah di Masjid Nurul Iman, Jl. Ramba, Palu, belum lama ini. Berikut petikan isi wawancara Kiblat.net.

Kiblat.net: Baru-baru ini BNPT menyebut 19 pondok pesantren yang dituduh mengajarkan radikalisme, sebenarnya kemana arah opini akan dibangun?

Mustofa: Jadi tampaknya, BNPT ingin membuat efek jera kepada pesantren-pesantren lain yang selama ini masih jauh dari opini kedekatan mereka dengan terorisme. Dengan cara apa? Yaitu dengan cara mendekatkan isu terorisme kepada pesantren-pesantren yang selama ini pernah diinapi atau pernah ditempati sebagai santri oleh para terduga teroris yang telah ditangkap ataupun yang telah dipenjara dan yang sudah mati.

Nah, dengan cara itu, maka pesantren-pesantren lain yang selama ini hingga saat ini belum disebut terkait itu akan memperbaiki diri setidaknya akan melakukan perbaikan-perbaikan. Maksudnya, merapikan diri melakukan deradikalisasi mandiri kepada santri-santrinya supaya tidak terjerumus kepada pesantren-pesantren yang radikal.

Memang secara yuridis, tidak benar BNPT melakukan dengan cara begini karena terbukti setelah diperiksa oleh Kemenag tidak ada pesantren sebenarnya secara kurikulum secara kelembagaan yang terlibat dengan terorisme.
Sekali lagi secara kelembagaan tidak ada pesantren yang terlibat dengan terorisme, sebagian besar yang terlibat itu adalah oknumnya. Orang-orang yang mungkin pernah nyantri di situ mondok disitu, atau yang pernah berkaitan dengan pondok di situ. Tetapi semua orang mengakui, ada yang benar pernah mondok di situ tapi juga ada yang mengaku pernah mondok pernah ngaji, pernah mampir, pernah sholat sehingga semua dipukul rata seolah-olah yang nama pesantrennya itu disebut-sebut oleh para terduga, disebut-sebut oleh para ‘teroris’ kemudian digeneralisir sebagai pesantren yang terlibat dalam terorisme.

Itulah pola pikir yang dibangun oleh BNPT. Karena saya pernah melihat pada beberapa pesantren misalnya Wahdah Islamiyah, sudah ditulis oleh Metro TV. Kemudian, disebut-sebut oleh beberapa anggota BNPT ternyata dibantah juga oleh anggota BNPT divisi yang lain karena dia tahu betul Wahdah Islamiyah yang sebenarnya.

Sementara, labeling yang diberikan terhadap pesantren berideologi teroris itu sumbernya dari mana? Apakah dari penelitian BNPT secara resmi, dari riset atau informasi intelejen atau hanya sebatas dari data orang-orang yang ditangkap oleh aparat terkait dengan kegiatan terorisme. Dari tiga ini yang mana menjadi sumber kesimpulan mereka seperti itu.

Kalau hanya dari informasi intelejen atau orang-orang yang pernah mondok di situ kemudian disimpulkan, tentunya sangat sumir. Karena yang intelejen, kita tidak pernah tau siapa intelejennya, mau diaudit kita tidak tahu siapa orangnya yang memberi informasi, kalau misalnya dari orang-orang yang mengaku itu apakah sudah pernah diteliti betul bahwa dia benar pernah berasal dari pondok itu.

Tapi meskipun dia berasal dari pondok itu, semua orang yang sudah keluar dari pondok tentu bukan lagi tanggung jawab pondok pesantren artinya tidak ada kaitan, apalagi mereka sama sekali sudah lama nggak nyantri lagi tentu sudah tidak boleh lagi dikait-kaitkan.

BACA JUGA  [Wawancara] Pemimpin Kafir dalam Islam, Adakah Dalilnya?

Saya sudah beberapa kali bilang kok kenapa hanya teroris yang dikaitkan dengan alumnusnya, nah kalau koruptor kan nggak ya.. Pernah kuliah di UGM, pernah kuliah di UI, pernah kuliah di UMS nggak pernah disebut. Tapi kalau kasus terorisme kenapa dirunut-runut sampai sekolahnya di mana? Kuliahnya dimana? Kuliah nggak ya itu biasa pondok pesantrennya yang dilihat.

Jadi ini sebenarnya tidak elok, tidak adil bagi saya karena saya selalu mengamati karena kasusnya sama-sama extra ordinary crime kejahatan tingkat tinggi tapi kenapa ini dianak tirikan gitu.. Jadi yang narkotik dan koruptorkan nggak pernahkan disebut-sebut. Jadi ini sesuatu yang aneh bin ajaib karena terlalu memaksa tanpa penelitian yang lebih mendalam. Kalau sesuai riset dan risetnya itu polanya benar masih bisa kita terima tapi itu harus transparan karena hasil riset itu akan mempengaruhi semua pondok pesantren.

Nah, BNPT sebaiknya tidak menyebut nama pondok pesantren sebut saja lembaga pendidikan agama karena kalau disebut nama pondok pesantren berarti pesantren-pesantren yang lain juga kena dampaknya. Jangan-jangan pesantren yang disebut itu hanyalah yang mengaku-ngaku sebagai orang pesantren. Pesantren itukan modelnya sama berbadan hukum sekarang kalau hanya sekelompok orang mengaku mendirikan pesantren terus dia berbuat teror apakah kemudian dia kita akui sebagai orang pesantren. Inikan merugikan sekali.

Jadi sangat tidak elok dan tidak elegan jika kemudian menyebut nama pesantren sebagai terkait teroris karena pesantren ini kontribusinya terhadap bangsa dan negara sudah sangat banyak. Sehingga saya khawatir ini ada tujuan di balik ini untuk meredupkan perkembangan pesantren kemudian menjatuhkan wibawa pesantren ujung-ujungnya adalah ada pihak yang tidak suka di Indonesia berdiri pesantren. Tetapi ujung yang lebih besar lagi adalah kemungkinan ada pihak yang tidak ingin jika pemimpin-pemimpin indonesia itu dilahirkan dari rahim pesantren karena faktanya tokoh-tokoh nasional kita itu berasal dari pesantren.

Kiblat.net: Apakah ini termasuk semacam konspirasi memerangi umat Islam?

Mustofa: Oh iya, karena pesantren ini adalah salah satu unsur penopang perkembangan Islam di Indonesia khususnya dan di seluruh dunia pada umumnya. Sehingga, propaganda internasional untuk menghambat sejarah kembalinya dunia diatur dengan peradaban Islam itu dengan cara membungkam pesantren.

Jadi seandainya dibungkam otomatis kan setidaknya seperti tadi yang saya sebut seperti lahirnya pemimpin Islam akan berkurang, dakwah Islam dicitrakan jelek oleh terorisme, pesantren sudah dicitra burukkan dengan radikalisme, ormas Islam dicitraburukan dengan kejadian-kejadian yang tidak pancasilais dan seterusnya.

Sehingga, semua kegiatan-kegiatan yang terkait dengan islam itu semua distigma seperti itu. Kalau sudah seperti itu kita-kita ini harapannnya sudah tidak percaya diri dan kalau sudah tidak percaya diri jadinya tidak ada semangat lagi. Jadi ini adalah perang global melawan Islam.

BACA JUGA  [Wawancara] Jika Diajak Bahas ISIS Bareng BNPT Lagi, Abu Tholut: Saya Lihat-lihat Dulu

Apalagi media Islam diblokir akhirnya umat Islam nggak punya pilihan lagi dan hanya membaca media mainstream. Padahal selama ini media Islam itu dipakai penyeimbang dengan media mainstream. Kalau media Islam sudah diblokir, pesantren sudah dicitrakan buruk, ormas Islam dicitrakan tidak baik, partai Islam dicitrakan tidak bersih. Nah, kalau begini sudah kita tidak memiliki apapun hanya agama dan KTP saja, akhirnya menjadi hanya sebagai buih kita. Mudah sekali dihancurkan dan diombang-ambing, karena dasar penopang kita sudah dirusak.

Kiblat.net: Belakangan isu LGBT juga tengah menjadi sorotan masyarakat. Apa tanggapan Anda?

Mustofa: Hampir semua agama menolak LGBT, apalagi Islam. Sayangnya, yang menolak LGBT yang saya lihat hanya tokoh Islam saja. Sehingga, menurut saya, gerakan untuk melawan LGBT ini tergolong gagal di Indonesia karena tidak didukung semua agama. Sementara orang Islam sendiri ada kepentingan lain yang mengharuskan dia tidak melawan secara terbuka.

Itu yang pertama, tidak ada persatuan untuk melawan LGBT. Yang kedua, kegiatan LGBT ini kan didanai oleh lembaga internasional khusunya di Asia. Sehingga dengan besarnya dana ini menyebabkan banyak pihak yang masuk angin, karena dengan mendukung LGBT maka dia mendapat anggaran mendapat uang dari proyek ini. Yang ketiga, media sosial. Khususnya Facebook, yang telah berpihak dengan alasan komunitas mereka terganggu. Maka kemudian siapapun khususnya yang berfollower besar yang memiliki pengaruh melakukan gerakan anti LGBT dia akan diblokir selama 24 jam, kemudian 2 hari, dan jika masih melakukan maka akan diblokir secara permanen.

Kiblat.net: Apakah LGBT juga termasuk bagian dari perang terhadap Islam?

Mustofa: Ya, ini adalah bagian. Karena mengurangi populasi umat Islam kalau semua sudah lesbi dan homo kan nggak ada orang melahirkan keturunan. Sekaligus melanggar aturan agama dengan berzina sesama jenis, sekaligus mengurangi populasi Islam dan menghambat sejarah supaya tidak segera terganti peradaban tadi.

Kiblat.net: Jadi dari rangkaian kasus yang menimpa umat Islam ini, kira-kira apa yang menjadi jalan keluar bagi umat Islam?

Mustofa: Kita menjadi umat yang robbani, robbani itu apa? Yaitu mengembalikan semua aktifitas di masjid sehingga nanti semua kegiatan kita itu didasari, didorong dan disemangati oleh Al-Quran. Selama ini, mungkin kita sudah lari kemana-mana, bercerai-berai kemana-mana. Jadi kita kembali menjadi generasi rabbani dengan kembali ke masjid berkumpul di masjid, rapat di masjid, pengajian di masjid, bazaar di masjid, olahraga di sekitar masjid kembali ke masjid aktifitas.

Sehingga nanti masyarakat madani akan tercipta tertib sekali dengan aturan hukum yang berdasarkan Al-Quran dan Al-Hadits. Boleh kita digoda dengan kepentingan-kepentingan yang lain, tapi setiap kegiatan kita mulai dari masjid insyaAllah kembali ke Al-Quran dan Hadist, dan kita basicnya adalah kembali ke Islam.

 

Reporter: Ahmad Sutedjo (Poso)
Editor: Fajar Shadiq

... shares
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Video Kajian

[Audio Book] Karena Akhlaklah Nabi Diutus

KIBLAT.NET – Banyak orang memeluk islam karena terpesona dengan akhlak seorang muslim. Sebut saja Suraqah,...

Rabu, 17/02/2016 08:47 0

Suriah

Tak Ada Tindakan, Oposisi Suriah Kecam Konferensi Munich

KIBLAT.NET, Istanbul – Oposisi Suriah mengecam perjanjian gencatan senjata di Munich beberapa waktu lalu. Perjanjuian...

Rabu, 17/02/2016 08:31 0

Turki

Turki Desak Koalisi AS Lancarkan Operasi Darat di Suriah

KIBLAT.NET, Istanbul – Pemerintah Turki secara resmi menyatakan bahwa pihaknya meminta koalisi Internasional yang dipimpin...

Rabu, 17/02/2016 07:14 0

Indonesia

Ada Paradoks dalam Revisi UU Terorisme, Kata Abu Rusydan

Tulisan ini merupakan halaman lanjutan | Baca tulisan sebelumnya KIBLAT.NET, Jakarta – Abu Rusydan pun...

Rabu, 17/02/2016 05:05 0

News

Dendam Santoso, Kekerasan Aparat dan Arah Revisi UU Terorisme

KIBLAT.NET, Jakarta – Desakan revisi UU No 15 Tahun 2003 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme...

Rabu, 17/02/2016 04:37 0

Indonesia

Komnas HAM Soroti Kucuran Dana APBN Rp 1,9 Trilyun untuk Densus 88

KIBLAT.NET, Jakarta – Komisioner Komnas HAM, Siane Andriani menilai bahwa suntikan dana APBN sebesar Rp...

Rabu, 17/02/2016 01:54 0

Indonesia

Wow, Densus 88 Dapat Gelontoran Dana APBN Sebesar 1,9 Trilyun

KIBLAT.NET, Jakarta – Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), Luhut Binsar Panjaitan menegaskan...

Rabu, 17/02/2016 00:05 0

Indonesia

Munarman: Ada Perluasan Kriminalisasi dalam Rencana Revisi UU Terorisme

KIBLAT.NET, Jakarta – Direktur An-Nashr Institute, Munarman menyatakan revisi Undang-Undang No 15 Tahun 2003 Tentang...

Selasa, 16/02/2016 23:41 0

Indonesia

Aksi Teror Bukan Bagian dari Pesantren

KIBLAT.NET, Jakarta – Aliansi Indonesia Damai (AIDA) menegaskan bahwa aparat harus hati-hati dalam mengeluarkan pernyataan...

Selasa, 16/02/2016 20:00 0

Analisis

Kelompok Islamis sebagai Penghalang Rusia di Suriah

Tulisan ini lanjutan halaman sebelumnya. Lebih jauh Barat mendefinisikan, para ahli harus mengerti bahwa tidak...

Selasa, 16/02/2016 19:30 0