... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Jibril dan Kaum Liberal yang Hipokrit: Informasi Jibril Repotkan Siapa?

Foto: Pelaku bom Sarinah.

Artikel ini merupakan lanjutan dari halaman sebelumnya

KIBLAT.NET – Jibril ragu melihat kapabilitas Bahrun Naim dalam melakukan perencanaan plot serangan. Jibril di sejumlah media juga meragukan motivasi Bahrun Naim yang disebut-sebut menginginkan kekuasaan sebagai pemimpin ‘Katibah Nusantara’, konon ini merupakan sebuah kelompok pejuang Daulah Islam (IS) di Iraq dan Suriah yang berasal dari Indonesia.

“Kalaupun seandainya menunjukkan eksistensi sebagai calon pemimpin, bukan seperti teror Sarinah caranya. Itu justru akan dianggap sebagai kebodohan dan kelemahan karena serangan tidak rapi,” kata Jibril seperti dimuat di laman Tempo.co.

Dengan pergaulannya yang cukup intensif selama di masa penahanan, mungkin Jibril lebih mengenal sosok Bahrun Naim dibanding para pengamat terorisme lainnya.

Jibril juga yang pertama kali mengidentifikasi dan menyebut sosok penyerang berkaus hitam dan bertopi yang menembak anggota polisi. Afif alias Sunakim, disebut oleh media massa secara perdana lewat mulut Jibril. Jibril mengenal Afif, juga semasa dalam tahanan.

“Afif adalah tukang urut Aman Abdurahman. Dia pernah dipenjara karena kasus teror di Aceh selama tujuh tahun di LP Cipinang,” kata Jibriel kepada CNNIndonesia.com, Kamis (14/1).

Agaknya, ada sejumlah pihak yang merasa kerepotan dengan informasi yang disampaikan Jibril. Sehingga, CNN Indonesia yang mula-mula menampilkan sosok dikenal flamboyan ini langsung dihujani serangan bertubi-tubi.

Pemberitaan Terorisme dan Kaum Liberal yang Hipokrit
Sejak kasus Bom Bali I dan II, media di Indonesia menaruh perhatian besar pada isu terorisme. Apalagi selama sepuluh tahun terakhir, aksi pengeboman terus terjadi dalam skala yang berbeda dan wilayah yang beragam. Terorisme menjadi isu yang menarik untuk diliput. Media televisi malah menghadirkan banyak tayangan dialog membahas terorisme.

BACA JUGA  Haluan Ekonomi Masyumi

Menjadi kewajiban jurnalis untuk memberikan informasi akurat dan berimbang kepada publik. Tapi pada praktiknya, ada kecenderungan pergeseran. Informasi yang dihidangkan relatif kering dan searah. Keterbatasan akses, begitu alasannya. Jurnalis umumnya hanya mendapatkan informasi dari kepolisian, itu pun pejabat humas atau penerangan. Walhasil, jurnalis mendapatkan informasi satu arah.

Akibatnya, liputan media acapkali tergelincir menjadi corong pihak kepolisian semata. Padahal, jurnalis mestinya paham media bisa dijadikan alat propaganda oleh kelompok tertentu. Terkait hal itu, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) pernah menerbitkan buku “Panduan Jurnalis Meliput Terorisme”. Menurut AJI, ada sejumlah dosa yang kerap dilakukan para jurnalis dalam meliput terorisme.

Dosa pertama, jurnalis acapkali mengandalkan satu narasumber resmi. Kedua, lalai dalam melakukan verifikasi. Ketiga, malas menggali informasi di lapangan. Keempat, lalai memahami konteks. Kelima, terlalu mendramatisasi peristiwa. Keenam, tidak berempati pada narasumber. Ketujuh, menonjolkan kekerasan. Kedelapan, tidak memperhatikan keamanan dan keselamatan diri. Dan kesembilan, menyiarkan berita bohong.

Dalam kasus bom Sarinah, sayangnya para jurnalis media-media arus utama mengulangi kembali dosa-dosa ini. Kehadiran Jibril sebagai mantan terorisme dipertanyakan segelintir pihak, tapi pada saat yang sama mereka tak keberatan jika mantan teroris seperti Ali Fauzi, Nasir Abbas dan Abdurrahman Ayyub dijadikan narasumber.

Pemberitaan yang menonjolkan kekerasan dan mendramatisasi peristiwa juga sekali lagi terjadi. Komisi Penyiaran Indonesia sampai harus menyemprot para pengelola media akibat pemberitaan bom Sarinah yang over-exposure. (Baca juga: Pemberitaan Tidak Akurat, KPI Tegur 7 Televisi dan 1 Radio)

BACA JUGA  Haluan Ekonomi Masyumi

Dandhy Laksono, Jurnalis senior yang juga menulis buku “Jurnalisme Investigasi”, turut mengkritik media arus utama terkait glorifikasi narasumber. “Di lapangan, ‘NKRI Harga Mati’ itu sama menakutkannya dengan ‘kafir halal darahnya’. Dan jangan tanya glorifikasi media pada yang pertama,” kata Dandhy.

Kicauan jurnalis senior Dandhy Laksono.

Kicauan jurnalis senior Dandhy Laksono.

Dandhy mengkritik para praktisi media yang bersifat hipokrit. Sebab, media arus utama kerap mengglorifikasi para pengusung semangat nasionalisme dengan slogan NKRI Harga Mati. Bagi jurnalis senior macam Dandhy, slogan semacam itu dianggap salah, jikalau memaksakan batas tanah airnya pada orang lain yang merasa tak sebangsa.

Walhasil, dari sini nampak terlihat betapa hipokritnya para pengusung ide-ide liberal. Mereka kerap meneriakkan kebebasan berekspresi dan berpendapat, tapi sering kesurupan ketika ideologi yang mereka asongkan mendapatkan rival yang sepadan.

Fitrahnya, manusia itu kerap bertarung dalam hatinya ketika mendengar bisikan dari malaikat yang mendorong kebaikan, juga dari setan yang menjerumuskan manusia pada jurang kesalahan. Agaknya, ‘bisikan’ Jibril, semacam bisikan yang membuat para setan kejang-kejang.

Artikel ini merupakan lanjutan dari halaman sebelumnya

 

Ditulis oleh: Fajar Shadiq, anggota Jurnalis Islam Bersatu, redaktur pelaksana di media Kiblat.net


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

News

Ini Rekomendasi Komnas HAM Soal Revisi UU Terorisme

KIBLAT.NET, Jakarta – Kejadian pengeboman yang diikuti penembakan Kamis (14/01) lalu di kawasan Sarinah, Thamrin,...

Selasa, 19/01/2016 21:00 0

Analisis

Kolaborasi Jihadis Afrika Utara (Bag. 2-Habis): Hambatan dan Peluang

Tulisan ini adalah sambungan dari halaman sebelumnya. Jalur Utama yang Diperebutkan Rute penyelundupan yang disisir...

Selasa, 19/01/2016 20:00 0

Indonesia

Manager Nasution: Hati-Hati dalam Merevisi UU Terorisme

KIBLAT.NET, Jakarta – Wacana revisi Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang terorisme terus bergulir. Hari...

Selasa, 19/01/2016 19:07 0

Afrika

Hendak Membantu, Tentara AS Malah Diserang Sekutu Sendiri di Libya

KIBLAT.NET, Libya – Kali ini Amerika Serikat dibuat frustasi oleh sekutunya di Libya. Pada Kamis,...

Selasa, 19/01/2016 18:30 0

Indonesia

CIIA: Revisi UU Terorisme Bukan Solusi Atasi Gerakan Radikal

KIBLAT.NET, Jakarta – Direktur The Community of Ideological Islamic Analisyst (CIIA) Harist Abu Ulya mengungkapkan...

Selasa, 19/01/2016 18:00 0

Indonesia

Kehabisan Akal Tangkap Bahrun Naim, Kapolri: Satu-satunya Cara Tunggu Bahrun Pulang Sendiri

KIBLAT.NET, Jakarta – Kapolri Jenderal Badrodin Haiti mengatakan rencana polisi untuk mencari keberadaan Muhammad Bahrunnaim...

Selasa, 19/01/2016 17:36 0

Indonesia

Setara: Revisi UU Terorisme Dinilai Bertentangan dengan Sistem Penegakan Hukum

KIBLAT.NET, Jakarta – Direktur Riset Setara Institute, Ismail Hasani menyatakan bahwa pihaknya tidak setuju adanya...

Selasa, 19/01/2016 17:09 0

Rohah

Mau Tahu Tips Menjaga Persahabatan Ala Imam Syafi’i?

KIBLAT.NET – Sahabat adalah seseorang yang dekat dengan kita. Kehilangannya adalah sesuatu yang tidak kita...

Selasa, 19/01/2016 16:30 0

Afghanistan

Kekuatan Internasional Undang Taliban Negosiasi di Kabul

KIBLAT.NET, Kabul – Para pejabat Afghanistan, Pakistan, Cina dan Amerika Serikat, Senin kemarin (18/01), menutup...

Selasa, 19/01/2016 16:26 0

Suriah

Pekan Lalu, Lima Warga Kembali Meninggal Kelaparan di Madaya

KIBLAT.NET, Damaskus – Menurut laporan PBB yang dikeluarakan pada hari Ahad (17/01), bahwa minggu lalu...

Selasa, 19/01/2016 15:45 0

Close