... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Kenapa Saudi Eksekusi Tokoh Syiah dan Ideolog Al-Qaidah Bersamaan?

Foto: Pendukung Syiah membawa poster Nimr al-Nimr yang telah dieksekusi di depan konsulat Saudi Arabia's di Istanbul, Turkey, 3 Januari 2016. REUTERS/Osman Orsal

KIBLAT.NET – Bagaimanapun juga eksekusi terhadap 47 orang tahanan di Arab Saudi masih menyisakan kebingungan bagi umat Islam. Dari komposisi 47 tahanan itu, hanya 4 di antaranya berasal dari kaum Syiah, sementara 43 sisanya adalah Muslim Sunni.

Para pengamat Timur Tengah menilai eksekusi yang dilakukan Arab Saudi terhadap ulama Syiah, Nimr al-Nimr jelas akan memicu kemarahan sektarian di Timur Tengah. Tetapi, dengan menempatkan puluhan tahanan mujahidin Al -Qaidah secara bersamaan juga dapat menyampaikan pesan yang kuat bahwa perlawanan yang datang dari Muslim Sunni juga tidak akan ditoleransi oleh pihak kerajaan.

Riyadh tahu betul eksekusi atas Nimr al-Nimr dan tiga penganut Syiah lainnya yang terlibat dalam pembunuhan polisi akan mendorong kemarahan dan protes di luar negeri, namun tampaknya mereka juga telah menghitung bahwa konsekuensi atas eksekusi itu masih akan terkendali. Setidaknya di dalam negeri Saudi sendiri. (Baca juga: Kantor Kedutaan Saudi di Teheran dan Mashad Diserang Warga Iran)

Di tengah meningkatnya gejolak regional dan serangkaian pengeboman dan penembakan yang menewaskan lebih dari 50 warga Saudi sejak akhir 2014, eksekusi Riyadh terhadap 43 jihadis adalah peringatan. Bahwa semua dukungan rakyat Saudi untuk kelompok mujahidin Sunni akan diberangus.

Syaikh Awadh al-Qarni, seorang ulama Sunni terkemuka yang mendukung pemerintah Saudi, berkicau di akun twitternya mengatakan bahwa eksekusi itu merupakan “pesan kepada dunia dan para penjahat; prinsip-prinsip kami tidak akan tergoyahkan dan tidak ada batasan dalam keamanan kami”.

Dilema Saudi

Di satu sisi, Dinasti Saud dan keluarga kerajaan mengkhawatirkan perluasan pengaruh Syiah Iran di Timur Tengah sebagai ancaman bagi keamanan mereka dan mengganggu ambisi mereka memainkan peran utama di antara negara-negara Arab.

BACA JUGA  Ribuan Anggota IJABI dan ABI Rayakan Hari Asyuro di Gelora Bung Karno

Di sisi lain, pihak kerajaan juga takut terhadap ancaman pemberontakan oleh Muslim Sunni mayoritas yang dianggap berbahaya bagi dinasti. Selama ini, pihak kerajaan mendasarkan pemerintahannya pada dukungan konservatif di dalam negeri dan kedekatan aliansinya dengan Barat.

Seluruh ancaman masa lalu Dinasti Saud, dari mulai pemberontakan suku-suku pada tahun 1920 hingga kerusuhan pada tahun 1960, pengepungan di Masjidil Haram Mekah pada tahun 1979 dan aksi protes pada 1990-an, disebabkan oleh kemarahan kaum Sunni konservatif terhadap kebijakan modernisasi atau hubungan Saudi yang semakin lekat dengan Barat.

Itulah sebabnya perlawanan semesta Al-Qaidah yang dimulai pada tahun 2003 -dan menyerang Dinasti Saud dengan memutarbalikkan branding ideologi konservatif Salafi Sunni Islam untuk melawan kerajaan itu sendiri- dianggap sebagai sinyal bahaya yang paling kuat. Kemunculan gerakan jihad semacam Daulah Islam (ISIS), juga dianggap sebagai masalah.

Warga Saudi mungkin tak banyak yang mendukung secara nyata kelompok Daulah Islam (ISIS), tapi mayoritas di antaranya mungkin bersimpati dengan tujuan mereka yang lebih luas; retorika anti Syiah dan anti Barat, serta kritik terhadap korupsi Dinasti Saud.

Dengan mengeksekusi sejumlah ideolog dan pejuang Al-Qaidah, Riyadh ingin menunjukkan tekadnya untuk menghancurkan akar dukungan yang bisa menimbulkan riak-riak perlawanan. Sekaligus mengeksekusi empat penganut Syiah, yang pasti akan menimbulkan kemarahan Iran. Saudi ingin meraih dukungan Muslim Sunni konservatif berada di pihak mereka. Selemparan batu, dua burung kena!

Arab Saudi juga percaya bahwa mereka tak hanya menghadapi ancaman fisik, tetapi pertempuran ideologi memperebutkan rivalitas interpretasi terhadap makna Salafi Islam. Hal ini semakin kentara jika kita melihat fokus media pemerintah Saudi terhadap sosok Syaikh Faris al-Shuwail al-Zahrani rahimahullah di antara ideolog Al-Qaidah yang dieksekusi.

BACA JUGA  Aliansi BEM-SI Kritisi Sikap Pemerintah Terkait Kebakaran Hutan Riau

Syaikh Faris al- Zahrani, yang dideskripsikan berjenggot, berkacamata, dan telah ditahan di penjara sejak tahun 2004, digambarkan oleh media Saudi sebagai ideolog utama Al-Qaidah yang dituding terlibat dalam serangkaian serangan terhadap pemukiman warga asing, kantor polisi dan fasilitas minyak menewaskan ratusan orang.

Syaikh Faris alZahrani

Syaikh Faris al-Zahrani

Kerajaan Saudi menuding Syaih Faris sebagai “salah satu biang perselisihan dan pengkhotbah takfiri”. Zahrani dituduh membantu mengartikulasikan pandangan jihad bahwa Dinasti Saud telah meninggalkan ajaran-ajaran Islam, dan bahwa itu adalah tugas umat Islam untuk membunuh mereka dan sekutu mereka.

Media resmi Saudi mempresentasikan Syaikh Zahrani dan tokoh Syiah Nimr al-Nimr dalam timbangan yang setara, bahwa keduanya dapat “menimbulkan dorongan kekerasan dan terorisme”. Kata itu yang dipilih oleh koran pagi Saudi pasca eksekusi untuk menggambarkan mereka berdua.

Tampaknya kerajaan Saudi tengah berupaya untuk meyakinkan Sunni konservatif bahwa eksekusi pada Sabtu lalu itu berarti Riyadh akan terus memimpin memperjuangkan sekte mereka terhadap agresi ideologi Syiah di Timur Tengah.

“Saya rasa eksekusi Syiah adalah upaya pencegahan yang sangat nyaman (dilakukan),” kata Bernard Haykel, seorang profesor dalam bidang studi Timur Tengah di Universitas Princeton.

Haykel menambahkan bahwa sementara ini Dinasti Saud tidak menganggap kematian beberapa tokoh Syiah sebagai ancaman seperti halnya kaum jihadis. “Eksekusi mati itu justru membantu mereka menggalang basis konservatif  mendukung penguasa,” pungkasnya.

 

Bahan artikel: Saudi mass execution driven by fear of Sunni militancy – Reuters
Penulis: Fajar Shadiq

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Wilayah Lain

Ikuti Langkah Saudi, Bahrain dan Sudan Akhiri Hubungan dengan Iran

KIBLAT.NET, Manama – Pemerintah Sudan dan Bahrain, Senin (04/12), memutus hubungan diplomatik dengan Iran menyusul...

Selasa, 05/01/2016 06:24 0

Indonesia

Sajadah Jadi Alas Tari Bali, Kepala Kanwil Kemenag DKI Jakarta Minta Maaf pada Umat Islam

KIBLAT.NET, Jakarta – Panitia Hari Amal Bhakti (HAB) ke-70 Kanwil Kementerian Agama DKI Jakarta menyampaikan...

Selasa, 05/01/2016 06:00 0

Indonesia

Ini Jawaban Kepala Kanwil Kemenag DKI Soal Tarian di Atas Sajadah

KIBLAT.NET, Jakarta – Kepala Kanwil Kemenag DKI Jakarta Abdurrahman berkilah bahwa sajadah yang digunakan untuk alas...

Selasa, 05/01/2016 05:52 0

Indonesia

BPS: Rokok adalah Penyumbang Terbesar Kemiskinan di Indonesia

KIBLAT.NET, Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) melansir bahwa rokok menjadi salah satu penyumbang terbesar...

Senin, 04/01/2016 22:30 0

Myanmar

Meski dengan Fasilitas Terbatas, Anak-Anak Rohingya Tetap Bisa Bersekolah

Tulisan ini adalah lanjutan dari halaman sebelumnya. KIBLAT.NET – Proses KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) anak-anak...

Senin, 04/01/2016 21:20 0

Myanmar

Cerita Anak-Anak Rohingya di Negeri Jiran Malaysia

KIBLAT.NET, Kuala Lumpur – Nur Kaidah Nur Alam sangat ingin membuka toko roti. Ketika ditanya...

Senin, 04/01/2016 21:14 0

Irak

11 Pembom Bunuh Diri ISIS Serang Markas Pelatihan Polisi Iraq di Ninawa

KIBLAT.NET, Tikrit – Sekelompok pembom bunuh diri ISIS telah meledakkan diri di sebuah pangkalan militer...

Senin, 04/01/2016 19:03 0

Prancis

Pengamanan Ketat Akan Kawal Peringatan Serangan Charlie Hebdo

KIBLAT.NET, Paris – Di bawah pengamanan ketat, pekan ini Perancis akan menggelar upacara untuk memperingati...

Senin, 04/01/2016 19:00 0

Lebanon

Ini Tanggapan Pemimpin Syiah Lebanon atas Eksekusi Namr Al-Namr oleh Saudi

KIBLAT.NET, Beirut – Pemimpin organisasi militan Syiah Hizbullah Lebanon, Hasan Nasrullah pada Ahad (04/01) melalui...

Senin, 04/01/2016 18:30 0

Suriah

Oposisi “Politik” Suriah Dukung Saudi Putus Hubungan dengan Iran

KIBLAT.NET, Damaskus – Koalisi Nasional untuk Oposisi Suriah (SNC) mendukung sikap Saudi memutus hubungan deplomatik...

Senin, 04/01/2016 18:00 0

Close