Meski dengan Fasilitas Terbatas, Anak-Anak Rohingya Tetap Bisa Bersekolah

Tulisan ini adalah lanjutan dari halaman sebelumnya.

KIBLAT.NET – Proses KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) anak-anak Rohingya berjalan sebuah tempat sewaan semacam flat atau rumah toko yang dijadikan kelas. Biasanya, ruangan itu memang penuh dan sesak karena kekurangan fasilitas dasar belajar.

Meskipun sumber daya yang terbatas, anak-anak masih mendapatkan kesempatan untuk belajar membaca, menulis dan berhitung di berbagai pusat pembelajaran.

Untuk memungkinkan mereka bersosialisasi secara normal dalam masyarakat, mereka diajarkan keterampilan sosial dan merangkul nilai-nilai seperti kerjasama, toleransi dan penerimaan.

Untuk mempersiapkan masa depan mereka, UNHCR dan LSM yang ada selalu mencari para pengungsi untuk diajari keterampilan kejuruan.

“Namun, peluang anak-anak pengungsi untuk melanjutkan pendidikan mereka tetap menantang. UNHCR dan berbagai LSM selalu mencari kesempatan bagi para pemuda untuk belajar keterampilan kejuruan yang memungkinkan untuk menghadapi masa depan,” kata Yante.

Bahkan, UNHCR telah menandatangani nota kerja sama dengan Universitas Nottingham Malaysia, Limkokwing University of Creative Technology dan Universitas Malaya-Internasional Wales dalam penerimaan 42 pemuda pengungsi yang tengah mengambil program sarjana di institusi yang bersangkutan.

Seorang gurui di PIMA Muslim Aid, Nurul Jannah Oyong menjelaskan bahwa, mereka semua merupakan murid-murid yang rajin, pekerja keras dan disiplin.

Alumni Universitas Malaysia di Sabah ini mengatakan bahwa, anak-anak Rohingya yang telah diajarnya sangat menyadari betapa pentingnya pendidikan dan orang tua mereka juga telah mengambil minat dalam kemajuan bangsa mereka.

PIMA sendiri memberlakukan dua waktu belajar, yang dilakukan dari 08:00 sampai siang, dan selanjutnya adalah dari siang sampai pukul 03:00 .

Anak-anak yang berusia antara enam sampai 13 tahun, diajarkan pelajaran Bahasa Malaysia, Bahasa Inggris, Matematika, Ilmu Pengetahuan, belajar Al-Qur’an dan mata pelajaran lain yang relevan dengan silabus pendidikan Malaysia.

“Kami mencoba untuk menjaga mereka di lingkungan ‘sekolah’ semampu kami. Mungkin apa yang kita lakukan bukan sebuah hiburan, tapi itu sangat berarti bagi masyarakat Rohingya,” kata Ketua Muslim Aid Malaysia, Siti Habsah Marjuni.

Meskipun Malaysia hanya menawarkan tempat penampungan pengungsi sementara, Siti Habsah yakin bahwa pendidikan informal yang diterima anak-anak memungkinkan mereka untuk menjadi lebih siap dalam membangun kembali pemukiman Rohingya di Negara Ketiga.

Selain membebaskan biaya pendaftaran, PIMA juga tidak membebankan biaya lainnya. Siti Habsah menambahkan bahwa kelas yang diadakan di aula telah disewa oleh Muslim Aid. Organisasi itu juga mengurus gaji guru dan pembelian alat tulis, buku dan peralatan untuk seni dan kegiatan lainnya.

Ketika PIMA dibuka pada dua tahun lalu, ada sekitar 95 siswa dari anak-anak pengungsi yang masuk. Pusat PIMA saat ini memiliki 85 siswa, termasuk beberapa yang telah tiba di negara tersebut pada beberapa bulan yang lalu.

Sumber: Rohingyablogger
Penulis: Dio Alifullah

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat