“Aku Terlambat Shalat Subuh Karena Bacaan Imam yang Panjang”

KIBLAT.NET – Diriwayatkan dari Abu Mas’ud Al-Anshari, ia berkata, “Telah datang seorang lelaki menghadap Rasulullah SAW, ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, demi Allah aku telah mengakhirkan datang untuk shalat Subuh karena si Fulan memanjangkan shalat ketika (mengimami) kami’.”

Lalu Abu Mas’ud melanjutkan, “Aku tidak pernah melihat besarnya marah Nabi SAW dalam memberi nasihat selain pada saat itu. Beliau pun bersabda,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ مِنْكُمْ مُنَفِّرِينَ فَمَنْ صَلَّى بِالنَّاسِ فَلْيُوجِزْ ، فَإِنَّ فِيهِمُ الضَّعِيفَ وَالْكَبِيرَ وَذَا الْحَاجَةِ

‘Wahai manusia, sesungguhnya sebagian kalian ada yang membuat orang lain lari. Barangsiapa mengimami shalat orang-orang, maka hendaklah ia mempersingkat, karena di antara mereka ada orang tua, orang lemah, dan orang yang sedang punya hajat’.” (HR. Bukhari-Muslim)

Dalam hadits ini, beliau memerintahkan imam untuk meringankan shalat tanpa mengurangi sunnah dan hakekatnya. Jika ia shalat sendirian, maka untuk urusan panjang terserah baginya. Namun, kalau ia hendak memperpanjang shalat bersama dengan makmum, hendaklah ia memperpanjang di rukun-rukun yang boleh panjang saja, seperti berdiri, ruku’, sujud, dan tasyahud, tidak pada rukun i’tidal dan duduk di antara dua sujud.

Perkataan lelaki tersebut, “Demi Allah, aku mengakhirkan datang shalat Subuh karena si Fulan memanjangkan shalat ketika (mengimami) kami”, menunjukkan bolehnya terlambat dalam shalat jamaah, jika ia memang tahu kebiasaan imam yang sering memperpanjang shalat dengan tidak wajar. Kemudian hadist ini juga menunjukkan bolehnya menyebut nama seseorang (ghibah, -red) dalam pengaduan dan meminta fatwa.

BACA JUGA  Membaca Langkah Biden di Afghanistan

Perkataan Abu Mas’ud, “Aku tidak pernah melihat besarnya marah Nabi SAW selain pada hari itu.” Ini menunjukkan bolehnya marah jika ada perkara-perkara agama yang diingkari. Ini juga menunjukkan bolehnya marah ketika memberikan petuah dan nasihat-nasihat.

Demikianlah Islam mengatur syariat bagi para hambanya. Semuanya mudah dan terukur sesuai dengan batas kemampuan masing-masing manusia. Sama sekali tidak ada kesan untuk memberatkan mereka. Oleh karena itu, siapapun yang ditunjuk sebagai imam atau pemimpin apapun di dunia ini, maka dia harus memperhatikan keadaan orang yang dipimpinnya.

Penulis: Fahrudin

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat