... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Berkiblat kepada Amerika Serikat, Cina Merancang UU Anti-Terorisme Baru

Foto: Cina

KIBLAT.NET, Beijing – Cina mengaku mempelajari undang-undang AS untuk menyusun undang-undang anti-terorisme baru yang kontroversial, Rabu (23/12), di tengah kekhawatiran Washington bahwa ketentuan RUU mungkin akan memperketat kontrol media dan mengancam kekayaan intelektual perusahaan teknologi asing.

Undang-Undang anti-teror pertama di negara itu merupakan kompensasi kampanye kontroversial Beijing untuk membasmi kekerasan etnis di wilayah Turkistan Timur dan berfungsi untuk memperketat kontrol pada perbedaan pendapat politik secara online di sana.

Tanah air etnis minoritas Muslim Uighur telah diganggu oleh kerusuhan dalam beberapa tahun terakhir, sehingga Cina meluncurkan tindakan keras dari kepolisian terhadap etnis Uighur yang tertuduh sebagai “teroris” yang berada di balik kekerasan.

Sebagai upaya untuk mengendalikan komunikasi online, yang diklaim pemerintah telah memberikan kontribusi pada kekerasan, draft hukum telah memasukkan ketentuan agar perusahaan teknologi menginstal “backdoors” dalam produknya atau menyerahkan kunci enkripsi ke Beijing, Kebijakan itu berpotensi mengancam kebebasan berekspresi dan kekayaan intelektual.

AS telah menyatakan keprihatinan berulang kali terhadap Rancangan Undang-Undang (RUU) itu, hingga Presiden AS Barack Obama mengaku langsung mengangkat masalah ini dengan Presiden Xi Jinping selama perjalanan September ke Washington.

Juru bicara kementerian luar negeri, Hong Lei kepada wartawan pada Rabu (23/12), mengatakan RUU itu mencerminkan pelajaran yang didapat Beijing saat mempelajari legislator AS dalam menuntaskan rancangan undang-undang mereka sendiri. RUU AS dengan beberapa ketentuan yang dikecam kelompok-kelompok HAM karena melanggar privasi dan melalaikan proses hukum.

“Ketika merumuskan undang-undang terorisme, kami belajar dari legislatif di negara-negara lain, termasuk Amerika Serikat,” katanya, dia menambahkan bahwa beberapa ketentuan RUU mirip dengan undang-undang telekomunikasi Amerika.

Kritik Washington, lanjut Hong, menunjukkan “standar ganda” terorisme, seperti pada keluhan China tentang reaksi internasional terhadap kekerasan oleh Uighur. Reaksi Internasional itu, menurut beberapa analis adalah ekspresi yang tak terelakkan dari kemarahan terhadap kebijakan represif oleh Beijing.

Menyikapi kekhawatiran terhadap undang-undang itu, Hong mengatakan “tidak akan memiliki pembatasan pada kegiatan legal perusahaan. Undang-undang ini tidak akan meninggalkan backdoors, dan itu tidak akan menghambat kebebasan berekspresi di online atau hak kekayaan intelektual perusahaan”.

RUU terbaru akan melarang individu melaporkan “rincian kegiatan teroris untuk mencegah tindakan itu ditiru”, demikian layanan berita Xinhua melaporkan, Senin (21/12), RUU itu juga “direvisi khusus untuk membatasi penyebaran informasi terkait terorisme” di media sosial.

Draft ketiga sejak diperkenalkan, juga mengubah definisi “terorisme” dengan memasukkan kegiatan bermotif politik dan ideologi, kata laporan itu.

Draft saat ini “cukup matang”, katanya, Xin Hua menambahkan bahwa komite legalisasi Kongres Rakyat Nasional merekomendasikan draft itu untuk mendapat persetujuan.

Sejumlah kritik muncul sehari setelah pengadilan Cina menjatuhkan hukuman tiga tahun penjara kepada pengacara hak-hak sipil Pu Zhiqiang karena memposting di akun media sosialnya dengan tuduhan “menghasut kebencian etnis”.

Sumber: Worldbulletin
Penulis: Qathrunnada

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Aliansi Solidaritas Muslim Tojo Una-una Ajak Warga Bantu Muslim Suriah dan Palestina

KIBLAT.NET, Tojo Una-una – Sejumlah aktivis muslim beserta tokoh masyarakat Ampana, Kabupaten Tojo Una-una didaulat untuk menjadi...

Kamis, 24/12/2015 13:00 0

Wilayah Lain

Masjid di Kanada Berikan Bantuan Musim Dingin bagi Tunawisma

KIBLAT.NET, Kanada – Musim dingin kali ini di Sacramento, Kanada, 100 lebih tunawisma menghabiskan malam...

Kamis, 24/12/2015 12:45 0

Indonesia

Galang Dana untuk Suriah, Warga Tojo Una-una Adakan Long March Sejauh 10 Kilometer

KIBLAT.NET, Tojo Una-una – Sejumlah warga Ampana, Kabupaten Tojo Una-una pada Ahad, (20/12)  mengadakan aksi...

Kamis, 24/12/2015 12:35 0

Artikel

Ternyata Natal Tidak Ada Dalam Alkitab

KIBLAT.NET – Beberapa hari menjelang tanggal 25 Desember sudah mulai terlihat persiapan perayaan Natal di...

Kamis, 24/12/2015 11:31 4

Turki

Protes Natal di Turki: Orang Islam Tidak Merayakan Natal

KIBLAT.NET, Ankara – Masyarakat Turki melakukan unjuk rasa atas keberadaan pohon Natal di alun-alun. Mereka...

Kamis, 24/12/2015 10:22 0

Artikel

Apakah Mereka Lupa dengan Surat Al-Kafirun?

KIBLAT.NET – Beberapa hari lagi umat kristiani di Indonesia menghelat perayaan Natal. Seperti tahun-tahun sebelumnya,...

Kamis, 24/12/2015 08:00 0

Indonesia

Ceramah Maulid di Hadapan Pejabat Negara, KH. Hasyim Muzadi: Banyak yang Mengaku Muslim Tapi Tidak Meneladani Rasulullah SAW

KIBLAT.NET, Jakarta – Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla beserta sedpresideneret menteri Kabinet Kerja memperingati...

Kamis, 24/12/2015 07:00 0

Indonesia

Densus 88 Tangkap Satu Orang di Bekasi, Warga Dilarang Ambil Gambar

KIBLAT.NET, Jakarta – Detasemen Khsusus (Densus) 88 Antiteror Mabel Polri pada Rabu (23/12) kembali menangkap...

Kamis, 24/12/2015 06:04 0

Indonesia

MUI Sumbar: Kerukunan Umat Beragama Harus Dijaga, Tapi…

Padang – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Barat, mengimbau masyarakat untuk menjauhi tasyabbuh, meniru gaya...

Kamis, 24/12/2015 05:27 0

Turki

Setelah Tiga Tahun, Jerman Tarik Rudal Patriot dari Turki

KIBLAT.NET, Ankara – Pemerintah Jerman telah menarik sistem pertahanan rudal Patriot dari Ankara, setelah sekitar...

Rabu, 23/12/2015 19:30 0

Close