... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Fokus

Kontemplasi Barat Tentang Kebijakan Negaranya

Foto: menyesal

KIBLAT.NET – Satu hal yang jarang atau belum banyak dibahas adalah tentang fakta bahwa yang paling banyak, mayoritas yang paling banyak menjadi korban ‘ekstrimisme Islam’ adalah orang-orang Muslim itu sendiri, dan kehidupan di negara-negara mayoritas Muslim. Pada 2012, Pusat Kontra Terorisme Nasional AS melaporkan temuan bahwa 82 s/d 97 persen dari korban serangan teroris bermotif agama selama lima tahun terakhir adalah Muslim.

Seringnya Barat bertindak seolah-olah mereka adalah korban utama, padahal korban utama sesungguhnya bukan mereka.

Barat juga tidak pernah ditanyai atau diinterogasi mengapa begitu banyak pengungsi pergi meninggalkan Timur Tengah dan Afrika Utara. Tidak seperti jutaan orang (lainnya) yang ingin meninggalkan rumah dan keluarga mereka untuk suatu alasan tertentu, namun mereka ingin menyelamatkan diri dari situasi kekerasan dan kekacauan di mana situasi kekerasan dan kekacauan tersebut terjadi hampir selalu karena akibat intervensi militer Barat.

Negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat, secara langsung bertanggung jawab atas kekerasan dan kehancuran yang terjadi di berbagai tempat termasuk di Iraq, Afghanistan, Libya, dan Yaman di mana jutaan orang berasal dari negara-negara tersebut mengungsi:

  • Invasi militer tidak sah atau ilegal pimpinan AS ke Iraq menyebabkan kematian setidaknya satu juta orang, menimbulkan ketidakstabilan di seluruh kawasan, menciptakan kondisi ekstrim sehingga kelompok-kelompok militan semacam al-Qaidah menyebar sangat cepat seperti api, dan yang akhirnya mendorong munculnya ISIS.
  • Di Afghanistan, perang dan pendudukan pimpinan AS yang hingga kini masih terus berlangsung – sejak era Bush lalu diperpanjang hingga dua periode masa pemerintahan Obama, telah menyebabkan sekitar seperempat juta orang tewas dan jutaan lainnya terusir/mengungsi meninggalkan rumah-rumah mereka di Afghanistan.
  • Intervensi NATO pimpinan AS yang berbuah petaka di Libya telah menghancurkan tata pemerintahan, mengubah negara yang tadinya aman tenteram menjadi lahan yang subur bagi berkembangnya ekstrimisme dan menjadikan kelompok-kelompok seperti ISIS menyebar ke bagian barat Afrika Utara. Ribuan rakyat Libya terbunuh, sementara ratusan ribu lainnya mengungsi.
  • Di Yaman, AS dan negara-negara Barat lainnya mempersenjatai dan mendukung koalisi pimpinan Arab Saudi yang menghujani bom, termasuk menggunakan amunisi yang dilarang “bom cluster” ke area-area yang dihuni warga sipil, menghancurkan negara termiskin di Timur Tengah. Dan sekali lagi, – akibat/peristiwa selanjutnya sangat mudah diketahui – ribuan orang tewas dan ratusan ribu lainnya terusir dari rumah-rumah mereka.
  • Kasus Suriah agak lebih rumit. Banyak pengungsi di negara tersebut telah mengalami tekanan dan kekerasan selama lima tahun peperangan akibat kebijakan represif brutal pemerintahan Assad. Meski demikian, negara-negara Barat dan sekutu-sekutunya, patut disalahkan. Sekutu-sekutu mereka seperti Turki dan Arab Saudi sangat berperan dalam memperbesar konflik dengan memberikan dukungan terhadap kelompok-kelompok militant seperti JN yang berafiliasi al-Qaidah.
BACA JUGA  Omnibus Law: Pesta Oligarki di Tengah Pandemi

Dan semua harus berlanjut dengan tanpa mengatakan bahwa jutaan pengungsi Suriah saat ini sedang menyelamatkan diri dari teror yang sama di tangan ISIS yang diduga juga mereka lakukan di Paris. Dengan menekan para pengungsi Suriah dan Iraq yang melarikan diri dari kekejaman/kekerasan kelompok ekstrimis tersebut, Perancis dan negara-negara Barat lainnya hanya akan semakin menambahkan jumlah korban yang sudah ada yang jumlahnya sangat mengagetkan.

Tuduhan Barat Salah Alamat

Ketika Amerika dan sekutu-sekutunya beberapa kali mengebom pesta perkawinan dan rumah sakit di Yaman dan Afghanistan, menewaskan ratusan warga sipil, orang-orang Amerika tidak serta merta bersimpati melalui trending Twitter secara global. Sementara ketika orang-orang di Paris baru diduga “dibunuh” oleh “ekstrimisme Islam”, orang-orang Muslim spontan ikut bersimpati termasuk melalui trending medsos yang ada.

Imperialis Barat selalu mencoba menyalahkan pihak lain. Bahwa yang salah selalu orang asing, yaitu orang-orang non-Barat, kesalahan selalu ada di pihak Lain, sementara Barat yang sudah “tercerahkan” tidak pernah salah.
Islam dan Muslim telah dianggap menjadi kambing hitam baru. Kebijakan-kebijakan imperialisme Barat diberlakukan di semua bangsa, dengan cara menopang para penguasa diktator yang represif terhadap rakyatnya, dan “mendukung” kelompok-kelompok ekstrimis telah menjadi hal yang begitu mudah dilupakan.

Barat tidak mampu mengakui kekerasan yang dihasilkan akibat kebijakan imperialismenya sendiri. Sebaliknya, mereka malah menunjuk dengan jari jemari atau tangan mereka yang berlumuran darah kepada dunia Islam serta menuduh 1,6 juta Muslim dengan mengatakan bahwa kekerasan itu identik dengan mereka.

Sayangnya, berbagai tragedi seperti yang kita saksikan di Paris tersebut merupakan tragedi “kejadian” sehari-hari di banyak tempat di Timur Tengah, tidak peduli dengan kebijakan pemerintah Perancis, AS, Inggris, atau yang lainnya. Serangan-serangan teroris yang brutal dan tidak bisa dibenarkan yang jarang terjadi di (dunia) kita di Barat, merupakan realitas sehari-hari bagi mereka di wilayah-wilayah dunia di mana pemerintah kita melakukan kebrutalan di sana.

Tidak berarti kita tidak boleh berduka cita atas peristiwa serangan di Paris, hal itu sangat mengerikan, dan terhadap para korban kita layak bersedih dan harus bersedih. Demikian juga sebaliknya, kita harus memastikan bahwa para korban kejahatan pemerintahan kita juga harus kita berikan simpati dan perasaan duka cita yang sama.
Jika kita benar-benar percaya bahwa semua nyawa manusia berharga, jika kita benar-benar yakin bahwa kelangsungan hidup orang Perancis tidak lebih berharga dari yang lain, maka kita harus menangisi semua kematian tanpa harus membeda-bedakan.

Kebiasaan Berbahaya

Bisa diduga, pemerintah akan menyerukan dilakukannya lebih banyak lagi intervensi militer Barat di Timur Tengah, dengan lebih banyak bom, dan lebih banyak senjata. Senator sayap kanan garis keras seperti Ted Cruz meminta dilakukannya serangan udara dengan toleransi yang lebih besar terhadap korban sipil. Secara natural, usulan solusi semacam itu akan mendorong dilakukannya kampanye terorisme oleh negara.

BACA JUGA  Omnibus Law: Pesta Oligarki di Tengah Pandemi

Di dalam negeri, mereka menyerukan dilakukannya lebih banyak lagi pembatasan, lebih banyak lagi polisi, dan pengawasan. Tidak lama setelah serangan Paris, Perancis menutup perbatasannya. Di Amerika, sesaat setelah terjadi serangan di Paris, kepolisian kota New York menjadi paling sibuk di dunia dengan melakukan militerisasi di beberapa bagian kota NY.

Hampir semua solusi yang dilakukan selalu menggunakan pendekatan yang lebih militeristik, baik di luar maupun di dalam negeri. Dan bahkan, militerisasi merupakan sebab masalah di tempat yang pertama (di luar negeri).

Saat terjadi serangan 11 September 2011, al-Qaidah pada mulanya merupakan sebuah kelompok yang relatif kecil dan terisolasi. Maka, perang dan pendudukan pimpinan AS di Iraq itulah yang kemudian mendorong terciptanya suatu kondisi kekerasan yang lebih ekstrim, putus asa, dan sektarian yang dikembangkan oleh al-Qaidah dan semakin menyebar ke seluruh dunia. Barat, yang sudah begitu kecanduan militerisme, sesungguhnya telah bermain mengikuti skenario para “ekstrimis”, dan hari ini kita melihat buah yang buruk sebagai efek dari kecanduan yang buruk. Dan hari ini, ISIS telah menjadi hantu menakutkan akibat imperialisme Barat.

Terlebih lagi, negara-negara Barat menopang sekutu-sekutu mereka negara-negara Teluk yang kaya minyak, di antaranya negara monarkhi theokratis ekstrimis seperti Saudi yang menjadi faktor utama penyebaran paham ekstrimis Sunni. Pemerintah Obama telah menyetujui kesepakatan (penjualan) senjata senilai lebih dari 100 juta USD dalam lima tahun terakhir, sementara Perancis terus meningkatkan kontrak militer yang cukup besar dengan negara-negara otoriter theokratis seperti Arab Saudi, UEA, dan Qatar.

Jika kebijakan-kebijakan semacam ini terus dipertahankan oleh pemerintah kita, maka serangan-serangan seperti yang terjadi di Paris hanya tinggal menunggu waktu untuk terulang kembali.

Kelompok-kelompok sayap kanan ektrim akan terus berkembang. Neo-fasisme, fenomena yang paling berbahaya di dunia hari ini akan menjadi daya tarik. Dan orang-orang akan teradikalisasi.

Serangan di Paris yang begitu mengerikan, bisa menjadi momentum bagi kita untuk berfikir kritis tentang apa yang dilakukan oleh pemerintahan kita (di Barat) baik di luar negeri maupun di dalam negeri. Jika kita tidak bisa berfikir kritis seperti itu, jika kita tetap bertindak dengan penuh prasangka, dan kekerasan, maka luka akan semakin besar, dan pertumpahan darah akan semakin banyak.

Intinya bahwa, mereka-mereka yang mempromosikan kebijakan militeristik dan anti-Muslim dan fanatisme anti pengungsi dalam merespon serangan di Paris hanya akan semakin memperbesar propaganda kekerasan dan kebencian. Jika siklus politik seperti ini tidak diubah, maka siklus kekerasan akan terus berlanjut.

Penulis: Yasin Muslim

Sumber: SALON


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Suriah

Jabhah Nusrah Tembak Jatuh Dua Drone Rusia di Idlib

KIBLAT.NET, Idlib – Jabhah Nusrah mengumumkan menembak jatuh dua pesawat mata-mata Rusia di atas bandara...

Rabu, 18/11/2015 15:44 0

Arab Saudi

Saudi Akan Kumpulkan Para Komandan Oposisi Suriah

KIBLAT.NET, Riyadh – Harian berbahasa Arab, Al-Quds Al-Araby, Selasa (17/11), mengungkap bahwa pemerintah Arab Saudi...

Rabu, 18/11/2015 14:00 0

Suriah

Ini Empat Organisasi Militer yang Dihadapi Mujahidin di Aleppo

KIBLAT.NET, Idlib – DR. Abdullah Al-Muhaisini, ketua dewan Syariah operasi Jaisyul Fath, mengatakan bahwa mujahidin...

Rabu, 18/11/2015 13:15 0

Suriah

Syaikh Al-Muhaisini Siapkan Hadiah Jutaan Rupiah Bagi Mujahidin Aleppo

KIBLAT.NET, Aleppo – DR. Abdullah Al-Muhaisini yang saat ini menjabat hakim syariat tertinggi operasi Jaisyul...

Rabu, 18/11/2015 11:45 0

Prancis

Hacker Anonymous Nyatakan Perang Terhadap ISIS

KIBLAT.NET, Paris – Kelompok peretas Anonymous menyatakan perang terhadap Negara Islam (ISIS), Senin (16/11). Pernyataan hacker...

Rabu, 18/11/2015 11:23 0

Prancis

Kerry: Hitungan Pekan, Transisi Politik Besar-besaran Dilakukan di Suriah

KIBLAT.NET, Paris – Menteri Luar Negeri AS, John Kerry, Selasa (17/11), mengatakan bahwa akan dilakukan...

Rabu, 18/11/2015 10:21 0

News

Rusia dan Prancis Koordinasi Serang ISIS di Suriah

KIBLAT.NET, Moskow – Pasca serangan Paris yang menewaskan sebanyak 129 orang lebih, Prancis dan Rusia...

Rabu, 18/11/2015 09:48 0

Wilayah Lain

Peneliti Jerman: Strategi Gempur Jihadis Terbukti Gagal

KIBLAT.NET, Munich – Peneliti sekaligus jurnalis senior Jerman, Jurgen Todenhofor, menegaskan strategi menghadapi jihadis dengan...

Rabu, 18/11/2015 09:08 0

Indonesia

Innalillah, dr. Tunjung Soeharso Ahli Tulang Wafat

KIBLAT.NET, Solo – Kabar duka datang dari kota Solo. Dokter spesialis bedah tulang, dr. Tunjung...

Rabu, 18/11/2015 08:42 1

Amerika

Kerry Tegaskan Hubungan AS-Israel Sangat Kuat

KIBLAT.NET, Washington – Menteri Luar Negeri AS John Kerry mengatakan bahwa dukungan Washington dalam rangka...

Rabu, 18/11/2015 08:41 0

Close
CLOSE
CLOSE