... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Titian

Beginilah Cara Penjajah Salibis Barat Menelikung Revolusi Umat (Bag. 1)

Foto: Pembagian wilayah sesuai Perjanjian Sykes-Picot

KIBLAT.NET – Perjalanan sejarah modern membuktikan bahwa setiap kali umat Islam dan bangsa-bangsa muslim bangkit melakukan perlawanan untuk meraih kemerdekaan dari penjajah salibis Barat, maka penjajah salibis Barat mendahului langkah mereka.

Hasilnya? Penjajah salibis Barat sukses mengembalikan realita bangsa muslim, membuat negara-negara kecil, menetapkan batas-batas geografinya, memaksakan rezim-rezim baru, dan memilih raja-raja boneka. Pola ini senantiasa diulang oleh penjajah salibis Barat setiap kali umat Islam bangkit melawan mereka. Demikian ditegaskan oleh Dr. Hakim Al-Mathiri dalam artikelnya yang berjudul Adawat al-Ihtilal al-Gharbi as-Shalibi li-Muwajahat Tsaurat al-Ummah.

Contoh pertama dari hal itu adalah pertarungan antara Nasionalisme Turki VS Nasionalisme Arab yang mengatas namakan Khilafah Islamiyah.

Dalam Perang Dunia Pertama 1333 – 1337 H (1914-1918 M), penjajah salibis Inggris sukses membenturkan bangsa Turki dengan bangsa Arab. Inggris menawarkan “kerjasama” dengan pemimpin bangsa Arab, yaitu mengusung proyek pengembalian Khilafah Islamiyah ke tanah Arab dan bangsa Arab.

Pada saat itu, kebijakan Daulah Utsmaniyah disetir oleh Hizbul Ittihad wa At-Taraqqi (Partai Persatuan dan Kemajuan) yang beraliran nasionalis – sekuler. Partai ini menang telak dalam pemilu tahun 1330 H (1910 M). Hizbul Ittihad wa At-Taraqqi menyetir Daulah Utsmaniyah kepada nasionalisme ke-Turki-an (Turanisme). Sultan Muhammad Rasyad (Muhammad V) praktis menjadi boneka yang tidak memiliki kekuasaan apapun.

Nasionalisme Turki tersebut menimbulkan banyak kezaliman terhadap bangsa Arab. Saat Perang Dunia I terjadi, Hizbul Ittihad wa At-Taraqqi mengarahkan Daulah Utsmaniyah untuk berperang di Blok Jerman – Swiss. Hal itu menyebabkan Daulah Utsmaniyah terlibat peperangan besar melawan blok Sekutu yaitu Inggris, Perancis, Rusia, Italia, dan Amerika Serikat.

Ilustrasi Daulah Islamiyah

Ilustrasi Daulah Islamiyah

Di tengah kecamuk perang besar tersebut, penjajah salibis Inggris membujuk pemimpin bangsa Arab sekaligus penguasa kota Makkah, Syarif Husain, untuk memimpin perlawanan bersenjata melawan Daulah Utsmaniyah. Jika Syarif Husain bersedia memimpin pasukan Arab melawan pasukan Turki Utsmani, maka Inggris menjanjikan kemerdekaan bangsa Arab dari “penjajahan” Turki Utsmani. Inggris akan mengakui Syarif Husain sebagai khalifah kaum muslimin, dengan wilayah kekuasaan yang meliputi Hijaz (Makkah, Madinah, Thaif), Jazirah Arab, Irak, dan Syam.

Prosesnya dimulai secara resmi oleh Inggris dengan menggelar Konferensi Kuwait pada akhir 1916 M dan awal 1917 M. Konferensi itu dihadiri oleh 200 kepala suku di wilayah Jazirah Arab dan kawasan Teluk. Para peserta konferensi berdiskusi tentang program pengembalian khilafah ke tangan bangsa Arab.

Pangeran Jabir Al-Mubarak menegaskan ia akan mendukung orang yang dipilih oleh umat Islam sebagai khalifah. Pangeran Abdul Aziz bin Sa’ud (saat itu adalah penguasa Riyadh dan Nejed, pemimpin politik  gerakan dakwah tauhid Nejed) menegaskan dirinya tidak memiliki keinginan untuk menjadi khalifah. Akhirnya, seluruh peserta konferensi secara bulat menyatakan dukungan mereka kepada revolusi dan khilafah yang akan diperjuangkan oleh Syarif Husain.

Syarif Husain memulai revolusi Arab pada musim panas tahun 1335 H dengan mengepung kota Madinah dan merebutnya dari kekuasaan Daulah Utsmaniyah. Lalu putranya, Faishal bin Syarif Husain memimpin peperangan pasukan Arab melawan pasukan Turki Utsmani di perbatasan wilayah Palestina. Pasukan berkuda Arab dikenal luas sebagai pasukan yang sangat berani, lincah, dan tangkas berperang. Mereka berhasil mengobrak-abrik pertahanan pasukan Turki Utsmani.

Pasukan Turki Utsmani sendiri pada saat itu dilanda kelaparan hebat dan kehabisan amunisi. Sebab, sebelum itu delapan divisi mereka tiga kali berturut-turut melakukan perjalanan darat dari Palestina, menyeberangi gurun pasir Sinai, untuk merebut Terusan Suez dari tangan Inggris. Sebelum berperang melawan pasukan Inggris di Terusan Suez, mereka berjalan kaki selama 15 hari di padang pasir, menempuh jarak 225 kilometer (jalur Rafah – Qantarah)  dan 325 kilometer (jalur Ma’an – Suez).

BACA JUGA  Sehari Pasca Reuni 212, Ada Ledakan Granat Menyasar Prajurit TNI di Monas

Serangan pertama pasukan Turki Utsmani dilakukan pada musim dingin tahun 1333 H / 1914 M, namun menemui kegagalan. Pasukan Turki Utsmani melakukan serangan kedua dua bulan setelahnya, juga menemui kegagalan. Serangan ketiga dilakukan pasukan Turki Utsmani tiga bulan kemudian, dan kembali mereka mengalami kegagalan.

Syarif Hussein

Syarif Hussein

Setelah tiga kali gagal, pasukan Turki Utsmani kehabisan amunisi, sehingga mereka ditarik mundur ke wilayah Gaza dan Ma’an di Palestina. Pada saat itu pasukan Turki Utsmani di wilayah Palestina, Yordania, Lebanon, dan Suriah terbagi menjadi tiga divisi:

  • Divisi IV berkedudukan di kota Balqa’, Yordania.
  • Divisi VII berkedudukan di wilayah tengah, Palestina. Panglimanya adalah Musthafa Kamal Pasha (agen Yahudi Donma yang di kemudian hari meruntuhkan Daulah Utsmaniyah dan mendirikan negara nasionalis-sekuler Republik Turki)
  • Divisi VIII berkedudukan di wilayah barat, menjaga wilayah pantai Palestina dan Lebanon.

Pasukan berkuda Arab dipimpin oleh Pangeran Faishal bin Syarif Husain dan agen intelijen Inggris, Lawrence of Arabia, menyerbu pasukan Turki Utsmani di wilayah Jabal Druz, Baklabak, dan Ma’an. Musthafa Kamal Pasha, Panglima Pasukan Divisi VII Turki Utsmani, telah menjalin kesepakatan rahasia dengan Inggris.

Musthafa Kamal Pasha menarik mundur pasukannya tanpa menembakkan sebutir peluru pun terhadap pasukan musuh. Atas pengkhianatannya itu, Inggris menjanjikan Musthafa Kamal Pasha sebagai calon penguasa Turki Utsmani.

Pengkhianatan Musthafa Kamal Pasha membuat pasukan Turki Utsmani yang kelaparan dan kehabisan amunisi di kota Gaza dan Ma’an kewalahan menghadapi serbuan pasukan Arab. Pasukan Turki Utsmani terpaksa ditarik mundur, sehingga kota Gaza dan Ma’an jatuh ke tangan pasukan Arab.

Kemenangan pasukan Arab itu merupakan sebuah kesuksesan besar bagi pasukan Inggris dan Sekutu. Sebab, Palestina jatuh ke tangan pasukan Inggris dan Sekutu tanpa tewasnya seorang pun tentara mereka dalam perang melawan pasukan Turki Utsmani.

Dengan mudah dan tanpa perjuangan apapun, Jendral Allenby membawa pasukan Inggris memasuki kota Al-Quds pada tanggal 11 Desember 1917 M (1336 H). Dengan congkak, ia mengeluarkan pernyataannya yang tercatat dalam sejarah “Sekarang telah berakhir perang Salib!”.

Minsk-Juden

Migrasi besar-besaran Yahudi ke Palestina

Kekalahan demi kekalahan yang dialami pasukan Turki Utsmani di negeri Syam dan Irak akhirnya memaksa Daulah Utsmaniyah untuk menyerah kepada pasukan Inggris dan Sekutu.

Di luar sepengetahuan Syarif Husain dan bangsa Arab, pada bulan Maret 1916 M penjajah Inggris, Perancis, dan Rusia mengadakan pertemuan rahasia untuk membagi-bagi bekas wilayah Turki Utsmani dan mendukung pendirian negara Yahudi di Palestina.

Pada tanggal 16 Mei 1916 Inggris dan Perancis menanda tangani Perjanjian Sykes-Picot. Perancis diwakili oleh diplomatnya, Francois George Picot, dan Inggris diwakili oleh diplomatnya, Sir Mark Sykes. Pada bulan Oktober 1917, Rusia menarik diri dari perjanjian itu karena harus menghadapi Revolusi Bolshevik.

Berdasarkan perjanjian tersebut, wilayah kekuasaan Daulah Utsmaniyah pasca berakhirnya Perang Dunia Pertama akan dibagi-bagi di antara negara sekutu:

  1. Irak dan Yordania akan menjadi wilayah jajahan Inggris.
  2. Suriah dan Lebanon akan menjadi wilayah jajahan Perancis.
  3. Palestina akan berada di bawah mandat Inggris sebagai persiapan pembentukan negara Yahudi.
BACA JUGA  Pengamanan Reuni 212 Tahun Ini Lebih Ketat, Ada Metal Detector di Setiap Pintu Masuk Monas

Pada tanggal 2 November 1917 M, Menteri Luar Negeri Inggris, Lord Balfour, atas nama Kerajaan Inggris menjanjikan usaha sekuat-kuatnya Kerajaan Inggris untuk membangunkan tanah air Yahudi (Jewish National Home) bagi bangsa Yahudi. Kerajaan Inggris lantas mengangkat Sir Herbert Samuel (tokoh Yahudi Inggris) sebagai Komisaris Tinggi Inggris yang pertama di Palestina.

Dukungan resmi Inggris bagi pendirian negara Yahudi di Palestina itu disetujui oleh Perancis dan Italia pada bulan Februari 1918 M, dan oleh Amerika Serikat pada bulan Oktober 1918 M. Sejak saat itu gelombang imigrasi besar-besaran penduduk Yahudi dari seluruh dunia mengalir ke Palestina.

Syarif Husain dan bangsa Arab yang telah terbuai oleh mimpi penegakan Khilafah Islamiyah di Makkah akhirnya harus gigit jari. Mereka baru mengetahui bahwa selama ini mereka telah diperalat oleh Inggris, untuk kepentingan Inggris dan Yahudi. Syarif Husain dan bangsa Arab baru mengetahui hal itu setelah isi Perjanjian Sykes-Picot dibocorkan dan dipublikasikan oleh pejuang revolusi komunis Bolshevick, Oktober 1917.

Pertemuan Partai Bolshevick

Pertemuan Partai Bolshevick

Menteri Penjajahan Inggris, Churchil, pada tahun 1921 M menggelar Konferensi Kairo. Melalui konferensi tersebut, Inggris mendirikan sejumlah negara dan menentukan raja-rajanya:

  • Khilafah Islamiyah atau Khilafah Arab berkedudukan di Makkah, dengan khalifahnya Syarif Husain.
  • Kerajaan Mesir, dengan rajanya Fuad.
  • Kerajaan Irak, dengan rajanya Faishal bin Syarif Husain.

Inggris tidak membiarkan Syarif Husain menikmati sedikit kue empuk hasil kerja kerasnya. Inggris secara diam-diam juga menjalin kesepakatan dengan penguasa Riyadh dan pemimpin politik gerakan dakwah tauhid Nejed, Pangeran Abdul Aziz bin Abdurrahman Al-Saud.

Pada tahun 1337 H, pasukan Syarif Husain mengalami kekalahan telak dalam pertempuran di wilayah Turbah melawan pasukan Abdul Aziz bin Abdurrahman Al-Saud. Dengan dukungan Inggris, pasukan Abdul Aziz bin Abdurrahman Al-Saud mengalahkan pasukan Syarif Husain pada perang tahun 1343 H. Syarif Husain akhirnya lengser dan menyerahkan tahta kerajaannya kepada putranya, Syarif Ali bin Syarif Husain.

Namun, kekalahan perang telah mengakibatkan kota Makkah jatuh ke tangan Abdul Aziz bin Abdurrahman Al-Saud. Hal itu berarti Khilafah Arabiyah Makkah tumbang. Syarif Ali bin Syarif Husain mundur ke kota Jeddah. Namun pasukan Abdul Aziz mengejarnya dan mengepung kota Jeddah selama satu tahun penuh. Selain itu, pasukan pemimpin Nejed itu juga menyerang dan mengepung kota Madinah.

Madinah menyerah sepenuhnya ke tangan Abdul Aziz bin Abdurrahman Al-Saud setelah dikepung selama 10 bulan. Begitupula dengan Jeddah, takluk setelah tercapai pengepungan setahun penuh. Berdasar kesepakatan kedua belah pihak, Jeddah menjadi wilayah kekuasaan Abdul Aziz bin Abdurrahman Al-Saud, sementara Syarif Ali dan keluarganya diberi jaminan untuk bergabung dengan saudaranya, Syarif Faishal bin Syarif Husain di Irak.

Syarif Husain sendiri dibuang ke Cyprus sebagai tahanan politik dan meninggal di pembuangan pada tahun 1350 H. Makkah, Madinah, Jeddah, dan Riyadh disatukan oleh Abdul Aziz bin Abdurrahman Al-Saud, lalu ia mendirikan Kerajaan Alu Sa’ud.

Revolusi Arab yang dipimpin Syarif Husain pada akhirnya berperan menjatuhkan Palestina ke tangan Inggris dan Yahudi. Syarif Husain sendiri terlibat perebutan wilayah dan pengaruh dengan Abdul Aziz bin Abdurrahman Al-Saud. Wallahu a’lam bish-shawab.

Penulis: Fauzan

Referensi:

Dr. Jamil Abdullah Muhammad Al-Mishri, Hadhiru Al-Alam Al-Islami wa Qadhayahu Al-Mu’ashirah, Makkah: Universitas Ummul Qura, t.t.

Dr. Ali Juraisyah, Hadhiru Al-Alam Al-Islami, Jeddah: Darul Mujtama’, cet. 4, 1410 H.

Mahmud Syakir, At-Tarikh Al-Islami VIII: Al-‘Ahdu Al-Utsmani, Beirut: Al-Maktab Al-Islami, cet. 4, 1421 H.

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Afghanistan

Taliban Bantah Ada Perpecahan Internal

KIBLAT.NET, Zabul – Imarah Islam Afghanistan (Taliban) memberikan klarifikasi terkait pertempuran dengan kelompok pendukung Daulah...

Sabtu, 14/11/2015 09:17 0

Prancis

140 Tewas dalam Serangan Paris, Prancis Umumkan Keadaan Darurat

KIBLAT.NET, Paris – Kantor berita Al-Jazeera menghimpun dari kantor berita Prancis dan laporan kepolisian melaporkan...

Sabtu, 14/11/2015 08:54 0

Indonesia

Aliansi Tarik Mandat: SE Larangan Hate Speech Bentuk Ketakutan Pemerintah terhadap People Power

KIBLAT.NET, Jakarta – Ketua Presidium Aliansi Tarik Mandat (ATM), Beni Pramula mengatakan Surat Edaran Kepala...

Jum'at, 13/11/2015 20:05 0

Indonesia

Komnas HAM Kutuk Teror terhadap Masjid Asy-Syuhada Bitung

KIBLAT.NET, Jakarta – Komisi Nasional untuk Hak Azasi Manusia (Komnas HAM) mengecam keras tindakan intoleransi...

Jum'at, 13/11/2015 19:44 0

Indonesia

Mahasiswa dan Pemuda Islam Protes Keras Isi Ceramah Maulana ‘Jamaah O Jamaah’

KIBLAT.NET, Jakarta – Ceramah M. Nur Maulana di sebuah stasiun televisi, Senin (9/11/) lalu menuai banyak...

Jum'at, 13/11/2015 19:20 0

Indonesia

Datangkan Ketua Komunitas Gay, Seminar LGBT di Kampus Undip Semarang Dibubarkan

KIBLAT.NET, Semarang – Aksi protes dari puluhan Laskar Jamaah Ansharusy Syariah Semarang berujung pada dibubarkannya acara...

Jum'at, 13/11/2015 19:09 0

Indonesia

Didatangi Jamaah Ansharusy Syariah Semarang, Seminar LGBT Bubar

KIBLAT.NET, Semarang – Puluhan anggota Jamaah Ansharusy Syariah (JAS) mendatangi Kampus Universitas Diponegoro yang beralamat di...

Jum'at, 13/11/2015 18:58 0

Manhaj

Kenapa Harus Mengangkat Pemimpin Muslim?

KIBLAT.NET – Dalam ceramahnya di sebuah stasiun TV swasta nasional, seorang ustadz kondang kembali membuat...

Jum'at, 13/11/2015 15:39 0

Info Event

Hadirilah! Tabligh Akbar Bantu Suriah Pertahankan Al-Aqsha di Masjid Al-Furqon Kudus

KIBLAT.NET – Hadirilah!! Tabligh Akbar “Bantu Suriah Pertahankan Al-Aqsha” Pada hari Ahad 15 November 2015...

Jum'at, 13/11/2015 14:40 0

Suriah

Komandan Liwa Fathimiyun Dikabarkan Tewas di Aleppo

KIBLAT.NET, Aleppo – Komandan milisi Syiah Liwa Fathimiyun dikabarkan tewas dalam pertempuran di Aleppo. Kabar...

Jum'at, 13/11/2015 14:24 0

Close