... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Titian

Syaikh Yusuf Al-Ayiri, Sosok “Sahabat” yang Muncul di Abad Ini (1/2)

KIBLAT.NET – Ibarat satu jiwa yang mampu meneladani beberapa akhlak para sahabat Rasulullah SAW, generasi terbaik umat ini. Mujahid ini memiliki keluasan ilmu layaknya Abdullah bin Mas’ud, sabar terhadap siksaan seperti Bilal bin Rabah, bersikap tawadhu’ layaknya Abu Bakar Ash-Shiddiq, zuhud meninggalkan kemewahan seperti Mush’ab bin Umair, dan akhirnya, syahid dengan penuh kebanggaan seperti Ashim bin Tsabit yang lebih memilih mati daripada menjadi tawanan musuh.

Untaian kata-kata terakhirnya sebelum dijemput syahid, seolah menggetarkan jiwa bagi setiap orang yang merenunginya.

ولست أبالي حين أقتل مسلما

Aku tidak peduli ketika aku terbunuh sebagai seorang muslim

على أي جنب كان في الله مصرعي

Dalam kondisi apapun saat aku tersungkur di jalan Allah

وذلك في ذات الإله وإن يشأ

Itu semua hanya untuk Dzat Allah, dan jika Dia kehendaki

يبارك على أوصال شلو ممزع

Niscaya, persendian-persendian tubuh yang terpotong-potong akan diberkati

Kisah kehidupannya mengundang decak kagum, ia ibarat sosok generasi shahabat yang terlahir kembali di abad ini. Kepribadiannya begitu menakjubkan. Ulama sekaligus mujahid asal Arab ini adalah seorang yang ulet, sabar, berhati lembut dan mudah mengalirkan air mata dalam rangka beribadah kepada Allah SWT.

Gemerlap dunia tidak menjadikannya silap mata. Seandainya dia menginginkan hidup bergelimang harta di dunia, maka itu adalah hal yang mudah. Namun, semua itu ia tinggalkan demi menjemput kehidupan yang hakiki di akhirat nanti. Seperti sahabat Mush’ab bin Umair yang lebih memilih bersama Rasulullah meninggalkan dunia dan berakhir menjadi syuhada Uhud.

Siapakah tokoh besar ini? Dia adalah Syaikh Yusuf Al-Ayiri, mujahid pemberani yang selalu merindukan kesyahidan. Ia kejar kesyahidan hingga Afghanistan, Bosnia, Chechnya,  Somalia, Kosovo, dan Filipina. Hingga akhirnya, ia syahid di tanah airnya sendiri, Arab Saudi.

Awal Kehidupan Syaikh Yusuf Al-Ayiri

Nama lengkapnya adalah Yusuf bin Shalih bin Fahd Al-Ayiri. Ia adalah seorang hafidz, ulama dan mujahid fi sabilillah. Seorang Arab yang lahir di daerah Dammam, pada hari Senin, 1 Rabiul Tsani 1394 H. Keluarganya adalah kalangan “berada”. Ayahnya seorang saudagar kaya yang diberi kemudahan Allah dalam hal rezeki. Namun, kondisi ini tidak membuat Yusuf lalai dan terbuai. Ia lebih memilih jalan jihad dan meraih kemuliaan hakiki dengan kesyahidannya.

news.174395

Gedung SMP tempat Yusuf belajar di Damam

Ayah Yusuf adalah seorang bijaksana. Dia tidak pernah memaksakan kehendak anak. Sebaliknya, ia sangat mendukung dan ridha dengan pilihan hidup anaknya sendiri. Terlebih lagi ibunda Yusuf, tak bosannya memberi motivasi keteguhan, pengukuhan hati dan nasihat kepada anak tercintanya.  Sungguh demi Allah, ia adalah seorang ibu mulia yang melahirkan seorang pahlawan gagah berani yang tidak takut mati.

Informasi tentang pendidikannya tidak terlalu mendetail. Yusuf hanya diketahui menamatkan jenjang mutawasithah dan tsanawiyah selama tiga bulan. Setelah itu, hatinya terpanggil dengan seruan jihad dari Afghanistan. Ya, di usia sebelia itu –sekitar 18 tahun—kesadaran hati Yusuf terhadap jihad sudah tumbuh. Kesadaran itu pun segera ia amalkan dengan hijrah ke bumi jihad Afghanistan.

Kehidupan di Afghanistan

Di umur yang masih belia, Yusuf hijrah ke Afghanistan untuk bergabung dengan para mujahid di sana. Di Afghan, Yusuf langsung ikut berbaur di barisan mujahidin dan menetap di kamp Al-Faruq. Karena keuletan dan kecerdasannya, ia diangkat sebagai salah satu pelatih di kamp itu pada masa perang pertama melawan Uni Soviet. Subhanallah, seperti Usamah bin Zaid yang diberi kepercayaan Rasul memimpin pasukan para sahabat, Yusuf pun di usia belia sudah dipercaya menjadi pelatih di kamp Al-Faruq.

Salah satu bentuk pelatihan yang ia ajarkan adalah tentang keuletan dan kesungguhan. Suatu hari saat latihan, Yusuf mengatakan pada mujahidin lain, “Saya akan mengadakan sebuah latihan yang tidak akan ada seorangpun mampu mengikuti dan menyelesaikannya selain orang-orang yang memiliki tekad kuat. Dalam training tersebut saya akan mulai dengan latihan senjata-senjata berat dan akan diakhiri dengan senjata-senjata ringan.”

Benar, pelatihan itu dimulai dengan tata cara mengendarai tank dan berjalan selama empat bulan. Setelah itu dilanjutkan dengan latihan menggunakan pistol. Sedikit sekali pemuda yang bertahan dalam latihan berat itu.

BACA JUGA  Mau Refund Dana Haji? Begini Prosedurnya

Salah satu alasan kenapa Yusuf dipilih menjadi pelatih dalam kamp adalah karena hafalannya yang luar biasa. Ia mampu menghafal berbagai persenjataan dan data-data yang sangat mendetail mengenai senjata-senjata tersebut. Di samping itu, Yusuf juga mempunyai kesabaran yang mengagumkan saat menghadapi berbagai kesulitan dalam perjuangan.

Pada tahun 1994, Yusuf dipercaya menjadi pengawal pribadi Syaikh Usamah bin Ladin Rahimahullah saat bepergian menuju Sudan. Karena kebersamaannya bersama Yusuf inilah, akhirnya Syaikh Usamah mengenal pribadi Yusuf. Amir Al-Qaidah ini mengagumi berbagai kemampuan dan kecemerlangan berfikir Yusuf Al-Ayiri, sehingga Syaikh Usamah menceritakan kepadanya beberapa urusan-urusan penting.

Mujahidin yang tengah berlatih dalam kamp pelatihan

Begitu pula bagi Yusuf, pengalaman ini membuatnya benar-benar tahu bagaimana kepribadian Syaikh Usamah yang begitu santun. Hingga saat-saat tidak lagi bersama Syaikh Usamah membuat Yusuf merasa rindu untuk bersama beliau kembali. Yusuf juga berkesempatan bertemu dengan Syaikh Abu Hafs Al-Masri, besan Syaikh Usamah. Dia begitu mengagumi Syaikh Abu Hafs karena berbagai operasi serangan yang dipimpinnya saat di Somalia.

Yusuf juga berkesempatan ikut dalam lawatan ke berbagai negara yang menjadi bumi jihad. Ia ikut dalam peperangan yang berkecamuk di Somalia melawan pasukan Amerika. Mujahid Arab ini termasuk orang yang memiliki peran penting dalam mengusir dan mengalahkan pasukan Amerika, dimana pada saat itu para pemuda Islam seusianya tengah lalai dengan kondisi umat.

Yusuf pun menyempatkan diri untuk berkunjung ke Saudi dan bertemu beberapa ulama ternama saat itu. Secara khusus, Yusuf bertemu dengan Syaikh Salman Al-Audah untuk membicarakan beberapa proyek dan pekerjaan. Syaikh Salman berkata pada Yusuf, “Sungguh menjadi kehormatan bagiku menjadi salah satu tentara dari Abu Abdullah (Syaikh Usamah).

Ketika terjadi tragedi Bosnia, Yusuf segera berangkat dan membantu ikhwah di sana. Begitu pula krisis yang terjadi di Kosovo, ia berperan sebagai pengumpul dana dan memberikan bantuan kepada muslim Kosovo dengan harta pribadinya. Yusuf juga membuat sebuah program selama dua pekan bagi siapa saja yang ingin pergi ke Bosnia. Program itu berupa latihan fisik dan lain-lain yang dibutuhkan sebelum sampai ke bumi Bosnia.

Pengakuan yang Tak Diinginkan Saat di Penjara

Pada tahun 1996, terjadi ledakan pada pangkalan AS di Kobar, Saudi. Yusuf dituduh sebagai dalang dari operasi tersebut, ia pun dijebloskan ke dalam penjara reserse umum. Yusuf disiksa dengan siksaan yang keji dan interogasi yang keras. Salah satu saksi mata mengatakan, “Kami lihat Syaikh diangkut memakai usungan setiap kali selesai interogasi, lantaran berbagai siksaan berat yang ia alami. Syaikh Yusuf dicambuk dengan keras, dicabuti jenggot beliau yang suci dan berbagai siksaan lainnya. Akhirnya hal itu menyebabkan Syaikh Yusuf mengaku kepada anjing-anjing reserse Saudi bahwa dialah yang melakukan peledakan.”

Yusuf Al-Ayiri pun menyebutkan alasan mengapa ia mengaku sebagai pelaku pemboman. Ia menceritakan, “Setelah beberapa hari kulalui dalam penjara, dalam penyidikan dan penyiksaan yang luar biasa, saya meminta kepada polisi untuk bertemu dengan pimpinan penjara karena ingin menyampaikan kepadanya informasi penting. Benar, saat itu permintaanku dikabulkan. Saya pun dipanggil dari sel dan didudukkan di atas sofa yang sangat mewah pada sebuah ruangan. Kemudian mereka membawaku ke kantor pimpiman tertinggi yang di sekelilingnya para polisi yang telah siap dengan pena dan buku tulis di tangan yang akan menulis semua pengakuan yang akan kusampaikan kepada mereka. Ketika mereka mendudukkanku dalam keadaan dirantai, sipir penjara itu mengatakan kepadaku, ‘Informasi apa yang kamu miliki? Silahkan sampaikan pengakuanmu’.”

“Maka dengan nada dingin saya katakan kepada mereka, ‘Saya tahu bahwa kalian malu tidak mendapatkan informasi tentang orang yang melakukan peledakan itu. Akan tetapi saya akan merelakan diriku untuk kalian. Saya akan memberikan pengakuan bahwa dirikulah yang melakukan peledakan itu dan siap menebus tanggung jawab itu dengan nyawaku’.” kata Yusuf.

105_2015_khobar38201_c0-875-1412-1698_s561x327

Seorang tentara AS berdiri di dekat reruntuhan bangunan di Kobar, Arab Saudi. Bom Kobar dilakukan oleh orang Syiah yang berafiliasi dengan Hizbullah.

Yusuf pun melanjutkan, “Demi Allah kami tidak sanggup merasakan penyiksaan. Iman kami hampir-hampir rusak karenanya. Maka kematian itu lebih ringan bagi kami daripada penyiksaan.”

“ Maka, ketika saya selesai berbicara sipir penjara langsung melemparkan asbak kaca ke wajahku, dan mengatakan,’ Keluarkan dan beri pelajaran padanya!!!’.” ujarnya menirukan.

Siksaan pun terus berlanjut dan justru lebih dahsyat. Sampai suatu saat Allah menyingkap siapa sebenarnya aktor dari peledakan itu. Yusuf pun kembali bercerita, “Suatu hari saya dibawa menghadap kepada polisi. Lalu dengan bisik-bisik dia mengatakan kepadaku, ‘Kusampaikan kabar gembira kepadamu. Kami telah mengetahui aktor peledakan yang sebenarnya. Dia bukan dari kelompokmu akan tetapi dari kalangan Rafidhah (Syiah) akan tetapi jangan kamu beritahukan kepada siapapun!!’.”

Yusuf melanjutkan, “Kemudian mereka mengembalikanku ke dalam sel. Mulai saat itu penyiksaan kepada para pemuda mujahidin berhenti, khususnya yang terkait dalam kasus peledakan. Kemudian pimpinan penjara mengumpulkan semua petugas dan mengatakan kepada mereka, ‘Berikan kepada masing-masing tersangka peledakan tuduhan lain yang dapat menjerat mereka secara hukum!!’. Akhirnya, masing-masing ikhwah diberikan satu tuduhan baik berupa takfir (suka mengkafirkan orang Islam) atau yang lainnya. Kemudian mereka dijatuhi hukuman oleh pengadilan syariat Saudi.”

Setelah tuduhan peledakan bom tidak terbukti, Yusuf masih mendekam di penjara. Pada suatu waktu, Yusuf dikumpulkan dengan orang-orang Rafidhah, diantara mereka ada yang setingkat ayatullah atau sayyid. Di sana, Yusuf berdialog dan berdiskusi dengan orang Syiah sampai-sampai ayatullah mereka melarang orang-orang Rafidhah lainnya untuk mendekati atau bergaul dengannya.

BACA JUGA  Bom Diledakkan di Masjid Kabul, Tewaskan Imam Rawatib

“Pernah suatu saat saya pura-pura tidur. Lalu ayatullah mereka mulai berbicara dan menyampaikan ceramah kepada Rafidhah lainnya. Lalu saya dengarkan ceramahnya, sampai ketika mendapatkan kesempatan yang tepat aku bangun dan membantah ceramah-ceramahnya.” jelas Yusuf. Mendengar penuturan bantahan yang begitu jelas dan lugas darinya, membuat para ayatullah heran dan kagum.

Setelah itu, Yusuf dipindahkan ke penjara umum bersama kalangan Ahlusunnah. Beberapa saat kemudian, Yusuf melakukan mogok makan karena ingin dipindahkan ke sel individu agar dapat menggunakan waktu secara maksimal untuk bertaqarrub pada Allah. Maka, permintaannya pun dipenuhi, ia dapat tinggal dalam sel pribadi selama satu setengah tahun lebih. Setelah itu, Yusuf Al-Ayiri bebas.

khatam_al_quran_1

Kehidupan Yusuf di Sel Individu

“Demi Allah aku tidak memiliki waktu untuk mandi kecuali mandi janabat, dan aku tidak tidur kecuali sedikit. Aku berpacu dengan waktu!!” ujar Yusuf.  Waktu-waktu Yusuf digunakan untuk menghafal dan membaca buku-buku ilmiah. Dari situlah Yusuf berhasil menghafal Al-Qur’an secara lancar dan tepat, hafal Shahih Bukhari dan Muslim, juga dapat konsentrasi untuk membaca dan mentelaah kitab-kitab para ulama.

“Demi Allah, aku kasihan dengan kondisimu.” tukas salah satu sipir penjara.

Yusuf menjawab, “Demi Allah, justru dirikulah yang kasihan dengan kondisimu. Hendaknya kamu tahu bahwa seandainya ditawarkan kepadaku bahwa sehari itu diperpanjang menjadi 28 jam, pasti saya menyanggupinya karena saat ini aku tengah mencari waktu, wahai orang yang malang!!”

Hal inilah yang membuat sipir itu merasa heran dengan kondisi syaikh Yusuf dalam membaca dan menelaah. Yusuf tidak akan keluar untuk berjemur atau untuk yang lainnya kecuali untuk kepentingan yang mendesak. Keinginannya kuat, Yusuf pun memanfaatkan waktu secara maksimal dan anti membuang waktu untuk hal yang sia-sia.

Dia kembali bertutur, “Demi Allah, saya pernah merasakan hidup dalam keimanan dan kenikmatan di dalam penjara, di mana tidak ada yang mengetahui kenikmatan tersebut kecuali Allah. Dan tatkala datang utusan yang menyampaikan kebebasanku dari penjara, tanpa sadar aku gertak dia, ‘Semoga Alloh tidak akan memberikan kabar gembira kepadamu!!’ Itu saya lakukan di luar kesadaranku, akan tetapi itu ku lakukan karena begitu besarnya kenikmatan dan ilmu yang kudapatkan dalam penjara.”

Kemudian, setelah syaikh Yusuf Al-Ayiri bebas dari penjara, apa saja yang akan dilakukannya? Apakah akan berhenti dari jalan jihad atau tetap bersemangat? Tunggu kelanjutannya pada seri kedua!

Penulis: Dhani El_Ashim


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Suriah

Rusia Gunakan Bom Fosfor di Idlib

KIBLAT.NET, Idlib – Rusia menggunakan bom fosfor dalam serangan ke pedesaan Idlib pada Kamis (12/11)....

Jum'at, 13/11/2015 10:30 0

Palestina

Palestina: Israel Bertanggung Jawab Atas Kematian Yasser Arafat

KIBLAT.NET, Ramallah – Ketua tim pencari fakta Palestina terkait kematian Yasser Arafat menyatakan bahwa Israel...

Jum'at, 13/11/2015 10:00 0

Indonesia

Mahasiswa Muhammadiyah Kecam Pengadilan Rakyat Bela PKI

KIBLAT.NET, Jakarta – Ketua DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Beni Pramula mengecam digelarnya Pengadilan Rakyat...

Jum'at, 13/11/2015 09:30 0

Lebanon

Lagi, Bom Guncang Kampung Halaman Syiah Hizbullah Lebanon

KIBLAT.NET, Beirut – Serangan bom kembali mengguncang kampung halaman Syiah Hizbullah di Lebanon. Dilaporkan lebih...

Jum'at, 13/11/2015 08:57 0

Indonesia

IMM: Pernyataan Maulana “Jamah Oh Jamaah” Sesat dan Menyesatkan

KIBLAT.NET, Jakarta – Ketua DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Beni Pramula, mengatakan bahwa pernyataan Muhammad...

Jum'at, 13/11/2015 08:26 0

Video Kajian

Wawancara : Nubuwat Di Akhir Zaman Dalam Invasi Rusia Ke Bumi Syam bersama Ust. Abu Rusydan

KIBLAT.NET – Invasi Rusia ke bumi Syam (Suriah) menegaskan bumi tersebut benar-benar menjadi ajang peperangan...

Jum'at, 13/11/2015 08:08 0

Indonesia

Taruna Muslim: Maulana ‘Jamaah Oh Jamaah’ Bukan Salah Ucap, Tapi Salah Aqidah

KIBLAT.NET, Jakarta – Pimpinan Taruna Muslim, Alfian Tanjung mengatakan pernyataan Maulana Nur Muhammad pada tayangan...

Kamis, 12/11/2015 20:20 0

Artikel

Sebelum Yang Tercinta Wafat

KIBLAT.NET – Lima hari menjelang dipanggil Allah, sakit Beliau SAW semakin parah. Demamnya makin tinggi...

Kamis, 12/11/2015 19:37 0

Mesir

Dampak Jatuhnya Pesawat Rusia, Dalam Sebulan Mesir Terancam Rugi Rp3,8 Triliun

KIBLAT.NET, Kairo – Mesir diperkirakan akan mengalami kerugian hingga 280 juta dolar atau sekitar 3,8...

Kamis, 12/11/2015 19:01 0

Indonesia

Alfian Tanjung: Pengadilan Rakyat di Den Haag Pengkhianatan Terhadap Bangsa

KIBLAT.NET, Jakarta – Pimpinan Taruna Muslim, Alfian Tanjung mengatakan pengadilan rakyat atau International People Tribunal...

Kamis, 12/11/2015 18:28 0

Close