... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Sebelum Yang Tercinta Wafat

KIBLAT.NET – Lima hari menjelang dipanggil Allah, sakit Beliau SAW semakin parah. Demamnya makin tinggi hingga kadang beliau pingsan tak sadarkan diri.

Beliau SAW mengatakan, “Guyurkan kepadaku tujuh kantung air yang diambil dari berbagai sumur. Aku ingin keluar menemui orang-orang dan mengikat janji atas mereka.” Maka para sahabat mendudukkan beliau di pojok kamar dan mengguyurkan air kepadanya hingga beliau berkata, “Cukup… cukup…”

Setelah merasa agak sehat, beliau bangkit menuju masjid sambil berkemul dengan selembar selimut di pundaknya, dan sebuah ikatan kencang melilit kepala beliau guna menahan rasa pening.

Begitu duduk di mimbar, beliau mengucapkan hamdalah dan puji-pujian kepada Allah lalu mengatakan, “Saudaraku sekalian, kemarilah…” Maka serentak para sahabat mengerumuni beliau.

Kemudian beliau mulai berpesan yang di antaranya mengatakan, “Semoga Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nasrani. Mereka menjadikan kuburan para nabi sebagai masjid,” kemudian mengatakan, “Janganlah kalian jadikan kuburku sebagai masjid.”

Beliau pun merelakan dirinya untuk diqishash seraya berkata, “Siapa saja yang pernah kudera punggungnya, maka inilah punggungku, silakan ia menderanya. Dan siapa saja yang pernah kucela kehormatannya, maka inilah kehormatanku, silakan ia mencelanya.”

Kemudian beliau mengatakan, “Sesungguhnya seorang hamba diberi pilihan oleh Allah antara menikmati dunia sesukanya, atau memilih apa yang ada di sisi-Nya, maka ia pun memilih apa yang ada di sisi Allah”.

Abu Sa’id al-Khudri menuturkan, “Usai mendengarnya, Abu Bakar langsung menangis, ia mengatakan, “Kami tebus engkau dengan ayah dan ibu kami, wahai Rasulullah…!!” Kami pun heran terhadapnya dan orang-orang mengatakan, “Lihatlah Pak Tua (Abu Bakar) itu.

Rasulullah SAW mengabarkan tentang seorang hamba yang diberi pilihan antara kenikmatan dunia dengan apa yang ada di sisi Allah, tapi dia malah mengatakan, “Kami tebus engkau dengan ayah dan ibu kami??”

Ternyata Rasulullah-lah orang yang dimaksud, dan Abu Bakar memang yang paling alim di antara kita.

Hari Kamis, empat hari menjelang kematian, beliau bersabda, “Kemarilah, akan kutuliskan sebuah kitab untuk kalian, agar kalian tidak tersesat setelahnya.” Saat itu di rumah beliau ada beberapa tokoh sahabat, di antaranya Umar ra. Maka Umar berkata, “Nampaknya rasa sakit telah menguasai beliau. Al-Qurân ada di sisi kalian, cukuplah kitabullah bagi kalian”. Akan tetapi penghuni rumah berselisih akan hal ini, di antara mereka ada yang mengatakan, “Biarkanlah Rasulullah SAW menulis kitab untuk kalian,” namun ada juga yang berpendapat seperti pendapat Umar. Perdebatanpun makin sengit hingga beliau menyuruh mereka keluar.

Meski sakitnya cukup parah, Nabi SAW tetap melaksanakan shalat lima waktu bersama para sahabatnya sampai hari itu, yaitu empat hari sebelum beliau wafat. Hari itu beliau masih sempat shalat maghrib membaca surat al-Mursalât.

Menjelang isya’, sakitnya makin parah hingga beliau tak sanggup lagi ke masjid. Aisyah menuturkan, “Apakah orang-orang sudah shalat?” tanya Rasulullah. “Belum, ya Rasulullah, mereka sedang menunggumu,” jawab kami.“Siapkan bagiku seember air di pojok,” pinta beliau.

BACA JUGA  Momen Hari Bhayangkara, KontraS: 287 Warga Tewas Ditembak Dalam Setahun

Maka kami pun menyiapkannya, lalu beliau mandi. Usai mandi, beliau berusaha bangkit dengan susah payah namun tiba-tiba pingsan. Setelah siuman beliau bertanya lagi, “Apa orang-orang sudah shalat…?” dan seterusnya hingga kejadian pertama terulang dua atau tiga kali. Akhirnya beliau mengutus seseorang untuk menyuruh Abu Bakar mengimami mereka.

Tiga hari menjelang kematian, Jabir bin Abdillah ra mendengar bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Ingatlah, jangan sampai kalian mati melainkan dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah.”

Keesokan harinya atau lusa, Nabi SAW merasa bahwa sakitnya agak berkurang. Beliau pun keluar sambil dipapah dua orang untuk shalat dhuhur. Saat itu Abu Bakar sedang mengimami orang-orang, namun begitu melihat Rasulullah SAW, beliau langsung mundur.

Rasulullah SAW mengisyaratkan agar ia tetap ditempat, dan memerintahkan kedua orang yang memapahnya agar mendudukkannya di samping Abu Bakar. Maka Abu Bakar bermakmum dengan Rasulullah  dan mengangkat suaranya mengikuti takbir Rasulullah SAW.

Anas bin Malik mengisahkan, tatkala kaum muslimin shalat subuh bersama Abu Bakar, mereka dikejutkan dengan wajah Rasulullah SAW yang tiba-tiba muncul di balik tirai kamar dan menatap mereka. Beliau melihat bagaimana mereka berbaris rapi bershaf-shaf kemudian tersenyum lebar.

Alangkah berbunganya hati para sahabat melihat kekasih mereka tersenyum ketika itu. Orang yang selama ini mereka cintai sepenuh hati, mereka bela dengan jiwa dan raga, dan mereka nanti-nantikan kesembuhannya, kini ia mulai tersenyum. Secercah harapan akan kesembuhan Rasulullah segera terbersit di hati para sahabat. Hampir saja senyuman beliau tadi mengacaukan shalat mereka.

Abu Bakar pun mundur selangkah masuk ke shaf pertama. Ia mengira bahwa Rasulullah akan shalat bersama mereka. Anas mengatakan, “Kaum muslimin benar-benar gelisah dalam shalat mereka, tak kuasa menahan luapan rasa bahagia melihat Rasulullah, akan tetapi beliau mengisyaratkan agar mereka menyempurnakan shalatnya lalu beliau masuk kembali ke biliknya dan menutup tirai. Semenjak itu, Rasulullah tak pernah lagi menyaksikan kami shalat.”

Saat matahari mulai meninggi, Rasulullah memanggil puteri tercintanya Fatimah radhiyallahu anha.

Beliau berbisik kepadanya hingga Fatimah menangis, kemudian berbisik lagi kedua kalinya hingga ia tertawa. Melihat kejadian aneh tersebut, Aisyah menanyakannya di kemudian hari. Ternyata Nabi SAW mengatakan bahwa dirinya akan menghadap Allah dalam sakitnya ini, maka Fatimah pun menangis. Kemudian beliau mengabarkan bahwa Fatimahlah orang pertama dari keluarganya yang akan menyusulnya, maka ia tertawa. Nabi juga mengabarkan bahwa Fatimah adalah penghulu sekalian wanita di dunia.

Melihat ayahnya yang kesakitan, Fatimah mengatakan, “Alangkah beratnya penderitaanmu wahai Ayah…!” Namun Rasulullah  bersabda, “Ayahmu takkan menderita lagi setelah hari ini.”

BACA JUGA  Haluan Ekonomi Masyumi

Lalu beliau memanggil al-Hasan dan al-Husain dan mencium keduanya. Kemudian berpesan agar keduanya diperlakukan dengan baik. Lalu memanggil isteri-isteri beliau dan menasehati mereka.

Sakit pun tiba-tiba memuncak dan bertambah, pengaruh racun yang termakan di Khaibar benar-benar nyata saat itu, sampai-sampai beliau mengatakan,

“Hai Aisyah, aku masih merasa sakit akibat makanan yang kumakan di Khaibar. Sekarang aku merasa urat nadiku akan putus karena racun itu.”

Beliau meletakkan sehelai kain di wajahnya, dan bila merasa sesak beliau menyingkapnya.

Di saat-saat seperti itu beliau sempat mengatakan, “Semoga Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nasrani. Mereka menjadikan kuburan para nabi sebagai masjid” -memperingatkan jeleknya perbuatan mereka -, kemudian mengatakan, “Tidak boleh ada dua agama yang menetap di bumi Arab.”

Beliau berpesan kepada orang-orang dengan mengatakan, “Jagalah shalat dan perhatikanlah budak-budak kalian,” sembari mengulanginya berkali-kali.

Saat-saat terakhir…

Menjelang sekarat, Aisyah menyandarkan kepala beliau ke dadanya. Konon Aisyah mengatakan,

“Sesungguhnya, di antara karunia Allah yang besar kepadaku ialah membiarkan Rasulullah SAW wafat di rumahku, pada hariku dan di antara dagu dan dadaku. Allah menakdirkan air ludahku bercampur dengan ludah beliau saat kematiannya.

Ketika itu Abdurrahman bin Abu Bakar datang menjenguk dan di tangannya ada sebatang siwak, sedangkan kepala Rasulullah tersandar padaku. Kulihat beliau menatap siwak tersebut, dan kutahu bahwa beliau memang menyukai siwak, maka aku bertanya, “Engkau mau kuambilkan?” Beliau pun menganggukkan kepalanya. Maka kuambil siwak tersebut, akan tetapi ia terlalu kaku bagi beliau. “Engkau ingin aku melunakkannya?” tanyaku.

Beliau pun menganggukkan kepalanya lagi. Maka kukunyah siwak tersebut hingga lunak dan kusodorkan kepadanya. Beliau pun mulai bersiwak dan belum pernah kulihat beliau bersiwak sebaik itu sebelumnya.

Saat itu di depan beliau ada semangkuk air, beliau mencelupkan tangannya ke dalam mangkuk dan mengusap wajahnya seraya berkata, “Lâ ilâha illallâh, sesungguhnya kematian itu ada sekaratnya.”
Begitu selesai bersiwak, beliau mengangkat telunjuknya dan melayangkan pandangan ke atap rumah sembari kedua bibir beliau komat-kamit. Aisyah pun berusaha mendengar apa yang beliau ucapkan, maka terdengar beliau mengatakan,

“Bersama orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka; dari para nabi, para shiddîqîn, para syuhadâ’ dan para shâlihîn. Ya Allah, ampunilah aku, rahmatilah aku dan ikutkanlah aku dengan teman-teman yang tinggi disana, Ya Allah, ar-Rafîq al-A’lâ…” Beliau mengulangi kalimat yang terakhir ini tiga kali, kemudian tangannya terkulai dan beliau wafat.

Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji’ûn..!!

Kami mencintaimu ya Rasul…dan ingin brtemu dengan rona indah wajahmu

 

Sumber: Kitab Rohiqul Makhtum
Penulis: Ustadz Oemar Mitha, pendakwah tinggal di Jakarta


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Mesir

Dampak Jatuhnya Pesawat Rusia, Dalam Sebulan Mesir Terancam Rugi Rp3,8 Triliun

KIBLAT.NET, Kairo – Mesir diperkirakan akan mengalami kerugian hingga 280 juta dolar atau sekitar 3,8...

Kamis, 12/11/2015 19:01 0

Indonesia

Alfian Tanjung: Pengadilan Rakyat di Den Haag Pengkhianatan Terhadap Bangsa

KIBLAT.NET, Jakarta – Pimpinan Taruna Muslim, Alfian Tanjung mengatakan pengadilan rakyat atau International People Tribunal...

Kamis, 12/11/2015 18:28 0

Investigasi

Lho Kok Penjual Miras Tasikmalaya Berani Tantang Aparat dan Ormas Islam?

KIBLAT.NET, Tasikmalaya – Sejak Ahad pagi, (08/11), aktivis Islam Kota Santri, Ustad Qushoy meringkuk dalam...

Kamis, 12/11/2015 18:05 0

Yaman

Dibantu AQAP Saat Hujan Badai Melanda, Warga Yaman Sampaikan Ungkapan Syukur

KIBLAT.NET, Hadramaut – Pujian dan ucapan terima kasih mengalir ke Al Qaidah Yaman (AQAP) dari...

Kamis, 12/11/2015 17:44 0

Indonesia

Dikriminalisasi Aparat, Aktivis Islam Tasik: Jangan Diam Terhadap Kemungkaran

KIBLAT.NET, Tasikmalaya – Ustad Iwan Qushoy atau biasa dipanggil Ustad Kusoi, aktivis nahi munkar Kota...

Kamis, 12/11/2015 17:32 0

Amerika

AS Tawarkan Hadiah Rp366 Miliar Bagi Informan Komandan Al-Shabab

KIBLAT.NET, Washington – Amerika Serikat kembali menawarkan hadiah total $27 juta atau sekitar 366 miliar...

Kamis, 12/11/2015 17:19 0

Investigasi

Warga: Kios Jamu Penjual Miras Sudah Berkali-kali Digerebek Aparat Tetapi Masih Bisa Berjualan

KIBLAT.NET, Tasikmalaya – Asep (45 tahun), warga Jalan BKR Kota Tasikmalaya menceritakan warga setempat tak...

Kamis, 12/11/2015 17:00 0

Investigasi

Begini Kronologis Penangkapan Aktivis Islam dan Pembakaran Kios Miras di Tasikmalaya

KIBLAT.NET, Tasikmalaya – Seorang aktifis amar ma’ruf nahi munkar, Ustad Iwan Qushoy, diserang warga dan...

Kamis, 12/11/2015 16:26 0

Indonesia

Pesan untuk Maulana ‘Jamaah Oh Jamaah’, “Jika Tak Miliki Kompetensi Lebih Baik Diam”

KIBLAT.NET, Jakarta – Pernyataan Muhammad Nur Maulana bahwa kepemimpinan tidak berbicara agama dinilai sebagai pembodohan...

Kamis, 12/11/2015 14:56 0

Suriah

Kejam, Milisi Syiah Iraq Bakar Warga Sipil di Aleppo

KIBLAT.NET, Aleppo – Milisi Syiah Iraq, Hizbullah Nujaba, baru-baru ini membakar seorang warga Suriah di...

Kamis, 12/11/2015 09:07 1

Close