... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Titian

Serangan di Masjid, Bolehkah?

Foto: Masjid di Damaskus yang dibom tentara Bashar Assad

KIBLAT.NET – Kita semua tahu bahwa masjid merupakan tempat beribadah kepada Allah SWT. Tempat yang senantiasa digunakan hamba untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Shalat, zikir, dan doa menjadi rutinitas  yang selalu menghiasinya. Orang-orang shalih saling bertemu, syiar-syiar Islam pun ditegakkan. Pintunya selalu terbuka dan dikunjungi oleh siapa pun yang hendak merasakan ketenteraman jiwa. Kemuliaannya semakin tinggi ketika ia menjadi tempat yang paling Allah cintai. Nabi SAW bersabda,

أَحَبُ البِلَادِ إِلىَ اللهِ مَسَاجِدُهَا وَ أَبْغَضُ البِلَادِ إِلَى اللهِ أَسْوَاقُهَا

“Tempat yang paling dicintai Allah adalah masjid-masjidnya, dan yang paling dibenci Allah adalah pasar-pasarnya.” (HR. Muslim)

Atas dasar itulah, Rasulullah SAW mengingatkan para sahabatnya untuk senantiasa menghormati kesucian masjid. Jangankan membuang kotoran atau meludah di dalam masjid, bau mulut saja menjadi perhatian serius Rasulullah SAW. Beliau selalu mengingatkan umatnya untuk tidak mendatangi masjid jika mulutnya masih menyisakan bau bawang. Semua itu tidak lain agar ketenteraman jamaah tetap terjaga, serta tidak mengganggu para malaikat yang hadir di dalamnya. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ أَكَلَ مِنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ – يَعْنِي الثُّوْمَ – فَلاَ يَغْشَانَا فِي مَسْجِدِنَا

“Barangsiapa memakan tanaman ini -yakni bawang putih- hendaknya jangan mendekati masjid kami.” (HR. Bukhari)

Masjid juga menjadi tempat yang cukup efektif dalam membangun pribadi umat. Dari tempat inilah pengajaran dan manhaj Islam disebarkan. Betapa banyak orang-orang yang dahulu tersesat akhirnya mendapatkan petunjuk karena masjid. Betapa banyak para ulama dan orang-orang berilmu kini bermunculan karena mereka dididik di masjid. Dan betapa banyak mujahid yang gagah berani dan orang-orang dermawan fi sabilillah bermunculan juga karena peran masjid.

Bicara keutamaannya pun juga bukan suatu hal yang asing lagi di telinga kaum muslimin. Terdapat banyak sekali ayat dan hadits yang menyebutkan keutamaan-keutamaan masjid, mulai dari membangunnya, memakmurkannya, hingga kepada penjagaan kesuciannya. Demikian juga dengan keagungan dan kewajiban untuk menghormatinya, semua umat Islam pasti telah memahami hakikat tersebut. Allah SWT berfirman:

ذَلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ

“Demikianlah (perintah Allah), dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (Al-Hajj: 32)

Imam As-Sa’di berkata, “Mengagungkan syiar-syiar Allah muncul dari ketakwaan hati. Orang yang mengagungkannya membuktikan ketakwaan dirinya dan kebenaran imannya. Karena, mengagungkan syiar-syiar Allah sama dengan mengagungkan Allah Azza wa Jalla.” (Lihat Tafsir As-Sa’di, hal. 336)

Dalam ayat lain, Allah SWT juga berfirman:

فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ

“Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang.” (An-Nuur: 36)

Dalam tulisan yang diberi judul ‘Tahzirul Mujahid Min Tafjiril Masajid’, Syaikh Abu Mundzir As-Syinqiti menjelaskan bahwa maksud dari ayat di atas adalah masjid harus diagungkan dengan rohani dan jasmani, dengan meninggikan kedudukannya di dalam hati, dan lebih mengistimewakannya dibandingkan tempat lain di muka bumi, sehingga ia menjadi tempat paling suci bagi manusia.

Shalat Jumat di Masjid Baitul Mukarram

Shalat Jumat di Masjid Baitul Mukarram

Menjadikan Tempat Ibadah sebagai Target dalam Operasi Perang

Menjadikan tempat ibadah sebagai target operasi perang jelas sebuah pelanggaran besar. Dalam standar hukum perang internasional (Hukum Humaniter Internasional-red), semua sepakat bahwa di antara bentuk kejahatan perang adalah menyasar tempat ibadah dalam melakukan operasi atau membunuh para jamaah yang ada di dalamnya, sekalipun dalam kondisi perang.

Demikian juga dalam hukum Islam, salah satu bentuk pelanggaran dalam jihad adalah menghancurkan tempat ibadah dan orang yang berada di dalamnya. Tidak hanya larangan untuk menyasar masjid, Islam juga melarang umatnya agar tidak menjadikan tempat ibadah ahluz dzimmah (orang yang mendapat jaminan keamanan, red) sebagai target operasi. Bahkan, salah satu hikmah disyariatkan jihad adalah agar tempat-tempat ibadah bisa terjaga dengan baik, tidak menjadi target operasi perang sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang zalim.

Allah SWT berfirman:

أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا وَإِنَّ اللَّهَ عَلَى نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ، الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ بِغَيْرِ حَقٍّ إِلَّا أَنْ يَقُولُوا رَبُّنَا اللَّهُ وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَهُدِّمَتْ صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَصَلَوَاتٌ وَمَسَاجِدُ يُذْكَرُ فِيهَا اسْمُ اللَّهِ كَثِيرًا وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu. (Yaitu) orang-orang yang diusir dari kampung halamannya tanpa alasan yang benar, hanya karena mereka berkata, “Tuhan kami adalah Allah.” Dan sekiranya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Dan sungguh Allah akan menolong orang yang mau menolong (agama)Nya, sesungguhnya Allah itu Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (Al-Hajj: 39-40)

Ayat di asas merupakan ayat jihad yang pertama kali diturunkan oleh Allah, yaitu kebolehan bagi kaum muslimin untuk melakukan jihad dalam rangka menolak kezaliman yang menimpa pada diri dan masjid-masjid mereka. Selain itu, ayat ini juga mengandung makna perintah untuk mencegah kezaliman yang menimpa rumah-rumah ibadah orang kafir ahlu dzimmah. Ayat ini menunjukkan sebuah bentuk keadilan yang terdapat dalam syariat jihad, yaitu sebuah keadilan yang dirasakan oleh seluruh manusia.

Ketika menafsirkan ayat di atas, Ibnu Jarir At-Thabari berkata, “Makna ayat di atas adalah larangan untuk menghancurkan rumah-rumah ibadah (ahli kitab) karena di sana terdapat para biarawan, orang-orang Nasrani yang berdoa, dan kaum Yahudi yang melakukan shalat-shalat mereka, begitu pula masjid-masjid yang di dalamnya banyak disebut nama Allah.” (Lihat Tafsir At-Thabari, 16/586)

As-Sa’di berkata, “Ini menunjukkan bahwa negeri yang di dalamnya terdapat kedamaian terwujud dengan adanya peribadatan kepada Allah, memakmurkan masjid, dan menegakkan syiar-syiar Islam seluruhnya. Dan dengan fadhilah dan barakah mujahidin, Allah telah menolak (kejahatan) orang-orang kafir.” (Lihat Tafsir As-Sa’di, hal: 539)

Demikian juga dalam  sunnah Nabi SAW, beliau juga memerintahkan untuk membiarkan  serta tidak mengusik para biarawan yang sedang menunaikan ibadah. Karena pada saat itu mereka tidak boleh dibunuh.

Ibnu Abbas mengatakan, “Adalah Rasulullah SAW setiap kali mengutus bala tentaranya, maka beliau berpesan: ‘Berangkatlah dengan Nama Allah, perangilah orang-orang yang kufur kepada Allah. Dan janganlah kalian curang, jangan mencuri harta rampasan, dan jangan membunuh orang-orang yang berada di dalam gereja.” (Hadits Hasan li Ghairihi, diriwayatkan oleh Ahmad, At-Thabrani dalam Al-Kabir dan Al-Bizar, dan Ibnu Abi Syaibah dan lainnya)

Dalam kitab Al-Muwatha’, Imam Malik meriwayatkan dari Yahya bin Sa’id ia berkata, “Abu Bakar As-Siddhiq telah mengutus pasukan ke negeri Syam, maka ia keluar untuk bertemu dengan Yazid bin Abi Sufyan yang merupakan salah satu amir dari empat orang amir. Abu Bakar berkata padanya: Engkau akan mendatangi suatu kaum (Nasrani) yang mengklaim bahwa mereka sedang bertapa (di biara) karena Allah, maka biarkanlah mereka dengan apa yang mereka klaim itu.”

Masjid di Tripoli, Lebanon yang mendapat serangan bom

Masjid di Tripoli, Lebanon yang mendapat serangan bom

Apa yang disebutkan oleh para ulama tafsir di atas menunjukkan bahwa ayat tersebut menjelaskan tentang sebab dibolehkannya hukum jihad serta hikmah yang didapatkan dalam amal jihad fi sabilillah. Yaitu agar tidak terjadi kezaliman dan fitnah terhadap agama. Sebagaimana redaksi pada awal ayat tersebut “telah dibolehkan kepada mereka untuk berperang karena dizalimi…”

Masih dalam ayat tersebut, Allah SWT menyebutkan dengan jelas bahwa sebab awal dibolehkannya kaum muslimin berperang adalah karena keadaan mereka yang terzalimi. Kemudian berikutnya, Allah menjelaskan hikmah dan tujuan dibalik syariat jihad, yaitu tercapainya keamanan bagi para penganut agama samawi serta tidak ada kezaliman satu sama lain. Semua itu agar semua manusia bisa merasakan keadilan di bawah keadilan Islam.

Oleh karena itu, Nabi SAW menulis kepada penduduk Yaman, “Dan barang siapa yang masuk ke dalam  agama Islam, dari orang Yahudi atau Nasrani, maka ia bagian dari kaum muslimin, segala hak dan kewajiban berlaku padanya. Sedangkan mereka yang tetap atas agama Yahudi atau Nasrani, maka dia tidak boleh diganggu.” (Lihat Kitabul Amwal, Abu Ubaid, 1/29, Sunan Qubra, Al-Baihaqi, 9/194)

Menurut Thahir Ibnu ‘Asyur, “Ayat pembolehan jihad di atas juga mengandung makna bahwa pembelaan yang dilakukan dalam amal jihad adalah pembelaan atas nama kebenaran dan agama samawi. Hikmahnya bisa dirasakan oleh seluruh penganut agama tauhid, yaitu dari Yahudi, Nasrani, Islam. Jadi, pembolehan jihad bukan hanya pembelaan yang bermanfaat bagi kaum muslimin semata.” (Lihat AtTahri Wa Tanwir, 17/200)

Setelah menukil beberapa tafsir dari para ulama seputar ayat di atas, Abu Mundzir Asy-Syinqiti menyimpulkan, “Larangan membunuh para biarawan di dalam gereja menunjukkan bahwa membunuh orang yang sedang shalat, rukuk dan sujud di masjid adalah lebih sangat terlarang! Motif larangan membunuh biarawan di gereja adalah karena adanya ibadah di sana, maka seyogyanya ibadah yang dilaksanakan di masjid lebih utama untuk menjadikannya terlarang untuk diserang.

Bahkan, beliau dengan tegas menyatakan bahwa membunuh orang-orang yang sedang melakukan shalat, rukuk dan sujud bukanlah perkara hebat dan berani. Namun, itu hanyalah sebuah bentuk kepengecutan, pengkhianatan dan kekerdilan diri!

Tidak ada riwayat satu pun dari Nabi SAW dan para sahabatnya yang menyebutkan tindakan pembunuhan orang-orang musyrik saat mereka melakukan ibadah. Melakukan aksi pembunuhan di dalam masjid tidak lain hanyalah bentuk perbuatan orang-orang Khawarij dan Majusi.

Syaikh Hani As-Siba’i berkata, “Tidak pernah ada dalam sejarah ahlus sunnah yang membunuh orang yang sedang melakukan shalat di dalam masjid. Bahkan mengacungkan pedang saja tidak diperbolehkan. Sehingga bisa dipastikan perbuatan tersebut adalah salah satu ciri perbuatan kelompok Khawarij. Haram hukumnya menghancurkan tempat ibadah, walaupun itu tempat ibadah orang Nasrani (gereja). Pembunuhan yang dilakukan di dalam masjid tidak lain hanyalah sunnah dari perbuatan orang Majusi dan Khawarij. Umar bin Khattab dibunuh di dalam masjid oleh orang Majusi, yaitu Abu Lu’luah. Demikian juga Ali bin Abi Thalib yang dibunuh di dalam masjid oleh orang Khawarij, yaitu Abdurrahman Ibnu Muljam.”

Bom di masjid Syiah di Irak

Bom di masjid Syiah di Irak

Sebaliknya, mewujudkan keamanan di tempat-tempat ibadah dan memberikan ketenteraman bagi orang-orang yang menjalankan ibadah adalah perkara yang dituntut dalam syariat, sebagaimana firman Allah SWT:

وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا

“Barang siapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia.” (Ali Imran: 97)

Dan firman Allah SWT:

وَلَا تُقَاتِلُوهُمْ عِنْدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ حَتَّىٰ يُقَاتِلُوكُمْ فِيهِ

“Dan janganlah kalian memerangi mereka di Masjidil Haram sehingga mereka memerangi kalian (terlebih dahulu).” (Al-Baqarah: 191)

Kemudian dalam haditsnya, Nabi SAW memberikan ketegasan dalam perkara ini dengan bersabda pada hari Fathu Makkah:

وَمَنْ دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَهُوَ آمِنٌ

“Barang siapa yang masuk ke dalam Masjid maka ia aman.”

Syaikh Abu Mundzir Asy-Syinqiti menyebutkan, “Untuk mewujudkan tujuan syariat tersebut dituntut untuk menetralkan dan menjauhkan masjid dari segala perseteruan dan fitnah. Tidak dibolehkan dalam segala kondisi untuk membiarkan aksi penyerangan atau pembunuhan terjadi di dalam masjid, walaupun orang yang menjadi objek penyerangan wajib dibunuh menurut syariat, tetapi tidak berarti pembunuhannya boleh dilakukan di dalam masjid.”

Oleh karena itu, Imam Adz-Dzahabi mengkritik langkah Abdullah bin Zubair yang berlindung di Masjidil Haram, karena langkah tersebut telah menyebabkan kehormatan Ka’bah dikotori oleh serangan Al-Hajjaj yang membabi buta. (Lihat Siyar A’lam An-Nubala’, 3/378)

Penargetan Masjid Syiah

Dalam beberapa kasus di Irak, Suriah, maupun Yaman, milisi-milisi Syiah berulang kali menargetkan masjid-masjid milik Ahlus Sunnah. Hal ini secara tidak langsung mendapat timbal balik dari kelompok Daulah Islamiyah yang juga menyasar masjid milik Syiah. Alasan yang dikemukakan Daulah karena masjid-masjid Syiah tersebut tak ubahnya seperti masjid dhirar yang dibangun oleh orang-orang munafik untuk memecah belah barisan kaum muslimin. Atas dasar itulah Rasulullah SAW menghancurkannya.

Lebih daripada itu, masjid-masjid yang menjadi target Daulah ini dinilai lebih parah dari yang ada di zaman Rasulullah SAW. Tujuannya bukan hanya untuk memecah belah persatuan kaum Muslimin, tetapi juga dijadikan sebagai tempat ritual-ritual kemusyrikan. Statusnya lebih parah dari masjid dhirar itu sendiri. Dengan demikian, bukankah masjid-masjid seperti itu lebih layak untuk dihancurkan.

Masjid Uppsala di Swedia mendapat serangan

Masjid Uppsala di Swedia mendapat serangan

Dalam hal ini Syaikh Abu Mundzir Asy-Syinqiti tidak sepakat dengan analogi tersebut. Ketika mereka menganalogikan aksi tersebut dengan masjid dhirar, maka secara tidak langsung hujjah tersebut justru mematahkan argumentasi mereka sendiri. Karena sedari awal, masjid dhirar sebenarnya tidak diharapkan untuk dibangun. Masjid dhirar dibangun bukan untuk melaksanakan ibadah kepada Allah, akan tetapi tujuan awal pembangunan masjid tersebut murni untuk membahayakan kaum muslimin dan membuat makar atas mereka. Sebagaimana firman Allah SWT:

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مَسْجِداً ضِرَاراً وَكُفْراً وَتَفْرِيقاً بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ وَإِرْصَادَاً لِمَنْ حَارَبَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ مِنْ قَبْلُ

“Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang beriman), untuk kekufuran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu.” (At-Taubah: 107)

Maka, tidak benar jika masjid yang dibangun di atas landasan syariat yang benar dianalogikan sebagai masjid dhirar! Kita sendiri mengetahui bahwa banyak masjid yang dikuasai Syiah hari ini merupakan peninggalan bersejarah masa-masa kejayaan Islam dahulu.

Senada dengan kritikan di atas, Syaikh Abu Muhammad Al-Maqdisi ketika memberikan pengantar terhadap tulisan Syaikh Abu Mundhir Asy-Syinqiti dengan jawaban ringan, “Seandainya kita mau menanggapi argumen mereka bahwa masjid-masjid yang telah mereka serang adalah ‘masjid dhirar’, maka kita cukup bertanya pada mereka, ‘Apakah Rasulullah SAW membakar dan meruntuhkan masjid dhirar sekaligus beserta para penghuninya, atau beliau hanya membakar bangunannya saja?”

Kemudian, bagaimana dengan anggapan bahwa masjid-masjid Syiah tersebut dijadikan tempat kemusyrikan?

Secara bahasa, masjid adalah tempat untuk bersujud. Yaitu suatu tempat yang dibangun dengan tujuan dasar sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Selama masjid digunakan untuk mengingat Allah, maka wajib bagi kaum muslimin untuk menjaga kehormatan dan kemuliaannya. Walaupun di dalam masjid tersebut ada orang-orang tertentu yang mencampuradukkan antara ibadah kepada Allah dengan perbuatan-perbuatan syirik.

Kesimpulan di atas sesuai dengan tanggapan yang dihadirkan oleh Syaikh Hakim Al-Muthairi. Dalam tulisannya yang berjudul “Ma’ziraatan ila Rabbikum wa La’allahum Yattaquun”, beliau mengungkapkan, “Kelompok Daulah membenarkan para pengikutnya untuk melakukan pengeboman di masjid-masjid Syiah, karena di dalamnya banyak dilakukan kemusyrikan. Padahal dalam Al-Qur’an, Allah SWT sendiri telah menyebutkan Baitul Haram sebagai Masjid, meskipun ketika itu Baitul Haram berada dalam kekuasaan kafir Quraisy.”

Selain itu, dalam Al-Qur’an ada sekitar enam puluh satu ayat yang memerintahkan kaum muslimin untuk menghormati Masjid Haram, walaupun ketika itu di sekitarnya ada tiga ratus berhala yang disembah oleh kafir Quraisy. Allah SWT berfirman:

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Isra’: 1)

Demikian juga sunnah dari Rasulullah SAW. Pada tahun ke-7 Hijriah, beliau bersama para sahabatnya melakukan Umrah Qadha serta melakukan thawaf di Ka’bah, padahal saat itu Ka’bah masih dikelilingi oleh ratusan berhala kaum musyrikin. Dalam peristiwa tersebut, beliau tidak menghancurkannya, tidak juga membunuh orang yang bersujud di hadapannya, dan beliau juga tidak lantas kemudian menamakan Masjid Haram sebagai tempat ibadah kaum musyrikin. Hingga pada akhirnya beliau berhasil menghancurkan semua berhala tersebut pada saat Fathul Makkah, yaitu tahun ke-8 Hijriah.

Masjid di Suriah yang mendapat serangan birmil Bashar Assad

Masjid di Suriah yang mendapat serangan birmil Bashar Assad

Jadi, masjid merupakan tempat yang memiliki kedudukan yang tinggi dan agung di sisi Allah SWT. Kedudukan itu tidak dinilai berdasarkan kualitas para penghuninya, namun lebih kepada status masjid itu sendiri. Karena pada dasarnya, masjid dibangun untuk tempat umum bagi kaum muslimin menunaikan ibadah. Di dalamnya semua manusia berkumpul dengan berbagai latar belakang. Ada orang yang shalih, orang awam, serta pendosa dan zalim.

Maka dari itu, haram hukumnya menumpahkan darah yang ma’shum di dalam masjid walaupun dengan motif menumpahkan darah yang halal. Jika nyawa Ahlu Kitab saja tidak boleh diserang saat mereka sedang beribadah, tentunya menyerang orang yang sedang melakukan shalat di masjid jauh lebih besar dosanya.

Masjid untuk Mengatur Strategi Militer

Mungkin, sebagian orang ada yang mengklaim bahwa masjid yang diserang itu tidak lain karena fungsinya telah berubah. Tidak hanya digunakan untuk beribadah, namun juga sering dipakai untuk kajian militer. Tak ubahnya seperi markas militer sendiri, dari situ para musuh mengatur strategi, saling bermusyawarah dan membuat makar untuk menghancurkan kaum muslimin.

Hal tersebut memang bisa menjadi alasan penyerangan masjid. Status haramnya menghancurkan tempat ibadah bisa berubah ketika tempat tersebut telah dialihfungsikan untuk kegiatan militer, atau digunakan untuk berlindung para tentara dan dijadikan sebagai pusat kajian strategi untuk memerangi kaum muslimin. Dalam hal ini, sebagian para ulama ada yang memperbolehkan untuk menyerang tempat tersebut demi sebuah strategi dalam perperangan.

Abu Bashir Ath-Tharthushi ketika ditanya hukum menyerang tempat ibadah orang Nasrani menjawab, “Tidak boleh menyerang gereja karena ia merupakan tempat ibadah bagi orang Nasrani, kecuali jika tempat tersebut telah berubah fungsi. Misalnya digunakan sebagai benteng pertahanan musuh, atau dijadikan sebagai penjara bagi tawanan kaum muslimin, menjadi tempat penyiksaan dan penindasan untuk memurtadkan kaum muslimin. Maka, ketika itu statusnya sebagai gereja telah berubah menjadi tempat gedung yang biasa digunakan musuh sebagai tempat benteng pertempuran.”

Kaitannya dengan penyerangan masjid Syiah yang mungkin dianalogikan seperti kasus gereja di atas —dari yang semula berstatus haram kemudian berubah status ketika dialihfungsikan sebagai pusat kajian militer untuk menyerang kaum muslimin— dalam hal ini perlu ada beberapa pandangan lain yang harus diperhatikan lebih lanjut. Terutama ketika masjid yang ditargetkan tersebut tidak berada di wilayah perang, ataupun para jamaah di dalamnya tidak semuanya orang Syiah, sebagaimana dalam kasus pengeboman di Kuwait, Riyadh dan Yaman. Wallahu ‘alam bish shawab

Penulis: Fahrudin

Editor: Agus Abdullah

... shares
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Ketua PP Muhammadiyah: Aliansi Anti-Sunni Bangkitkan Macan Tidur

KIBLAT.NET, Jakarta – Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Yunahar Ilyas, MA mempersilakan aktivis Syiah...

Rabu, 04/11/2015 15:30 0

Suriah

Mujahidin Raih Kemajuan Penting di Hama Utara

KIBLAT.NET, Hama – Mujahidin Suriah mengontrol sejumlah daerah penting, Selasa malam (03/10), di pedesaan Hama...

Rabu, 04/11/2015 14:20 0

Indonesia

MUI Akan Kaji Surat Edaran Kapolri Tentang “Hate Speech”

KIBLAT.NET, Jakarta – Wakil Ketua MUI Pusat, Prof. Dr. Yunahar Ilyas, MA menyatakan lembaganya akan...

Rabu, 04/11/2015 13:30 0

Indonesia

Polri Akui Surat Edaran Soal Hate Speech Dipicu Tragedi Tolikara dan Singkil

KIBLAT.NET, Jakarta – Kapolri Jenderal Badrodin Haiti menandatangani Surat Edaran (SE) ujaran kebencian atau hate...

Rabu, 04/11/2015 13:00 0

Iran

Lagi, Media Iran Lapor Dua Perwiranya Tewas di Suriah

KIBLAT.NET, Teheran – Media Iran kembali melaporkan dua perwira Garda Revolusi Iran tewas dalam pertempuran...

Rabu, 04/11/2015 12:37 0

Wilayah Lain

Bocorkan Skandal Vatikan, Uskup Spanyol dan Wanita Italia Ditangkap

KIBLAT.NET, Vatikan – Otoritas Vatikan menangkap seorang uskup Spanyol dan tokoh wanita ahli media sosial...

Rabu, 04/11/2015 12:00 0

Iran

Kritik Pemimpin Syiah Ali Khamenei, 2 Wartawan Iran Ditangkap

KIBLAT.NET, Teheran – Pihak berwenang Iran telah menangkap dua wartawan pro-reformasi, lapor kantor berita ILNA. Salah...

Rabu, 04/11/2015 11:19 0

Suriah

Pejabat Suriah Bersikeras Tolak Assad Lengser

KIBLAT.NET, Teheran – Seorang pejabat senior Suriah pada Selasa, (03/11) menolak gagasan “masa transisi” yang mengarah...

Rabu, 04/11/2015 11:01 0

Suriah

Hizbullah Iraq Tampakkan Diri di Front Aleppo

KIBLAT.NET, Aleppo – Brigade Syiah Kataib Hizbullah Iraq untuk pertama kali menampakkan diri secara terang-terangan...

Rabu, 04/11/2015 10:51 0

Iran

Iran Tangkap Pria Amerika-Lebanon Karena Diduga Mata-mata

KIBLAT.NET, Teheran – Pemerintah Iran telah menangkap seorang pria Amerika-Lebanon yang mereka tuding terkait dengan militer...

Rabu, 04/11/2015 10:10 0